CROMULENT

CROMULENT
Bab 24. Target Misi


__ADS_3

Hari yang dinanti pun tiba. Helena tampak sedang bersiap untuk mengantarkan Daniel ke ballroom hotel. Pertunangan akan diselenggarakan hari ini. Rasanya Helena tidak sabar untuk mendapatkan sorotan kamera, melambaikan tangan, dan menunjukkan pada dunia bahwa Daniel, anaknya terkenal karena bertunangan dengan adik pengusaha kaya, Edward Harrison.


"Daniel, bagaimana persiapanmu? Mama gugup sekali."


Sama halnya dengan Daniel. Dia akan menjadi satu-satunya pria beruntung di negeri ini. Mendapatkan wanita yang cantik seperti kristal, adik tunggal pengusaha kaya yang berhasil ditemukan, mendapatkan beberapa persen saham, dan setelah ini pertunangan akan dilangsungkan. Ini sungguh kejutan yang luar biasa.


Daniel setelah memasang jas dan beberapa perlengkapan lainnya, yang paling terakhir adalah sarung tangan. Berulang kali bercermin, dia tampak seperti keluarga bangsawan yang sebenarnya. Dia sudah tidak sabar untuk memasang berlian di jari manis Sarah lalu mengecup punggung tangan wanita itu. Beberapa fotografer akan melakukan tugasnya mengabadikan momen tersebut.


"Daniel?" Helena menepuk pundaknya.


"Ah, Mama. Aku terkejut sekali. Ada apa?"


"Kamu terlihat melamun. Kenapa?"


"Aku tidak sabar untuk melewati acara demi acara sampai intinya aku memasang cincin itu pada jari lentik Sarah. Dia sangat cantik dan anggun dengan gaun pilihanku."


"Kupikir mama saja. Rupanya kamu juga sudah tidak sabar menantikan hari yang luar biasa ini. Bagaimana dengan sepasang cincin pertunangan itu? Biar mama yang membawanya."


Daniel meletakkan cincin itu di kamarnya. Ruangan di mana pernah menjadi saksi betapa hangatnya hubungan dengan Catherine di masa lalu. Kini tinggallah kenangan dan Daniel siap membuka lembaran baru dengan wanita lain, bukan dengan Brenda yang selama ini menemaninya.


Sementara itu, di mansion Edward, tepatnya di kamar Sarah. Seorang make up artist sedang membantu Sarah bersiap. Gaun yang digunakan bukan pilihan Daniel, melainkan Edward.


"Cantik sekali, Nona!" seru perias itu.


"Terima kasih. Itu juga berkat keajaiban tanganmu." Sarah selalu menghargai orang yang membantunya bersiap.

__ADS_1


"Aku sangat beruntung karena dipercaya Tuan Edward untuk melayani Anda, Nona. Sebuah kebanggaan bagi salon kami. Selain itu, gara-gara Tuan Edward, salon kami jadi dikenal banyak orang. Terima kasih, Nona."


"Jangan terlalu merendah! Itu juga berkat kerja kerasmu, bukan? Kakakku menyukai hasil akhirnya. Tidak terlalu mencolok, tetapi sedap dipandang mata." Sarah tidak suka kalau perias itu malah membuat dirinya sendiri tidak berharga di mata orang lain. Percaya diri itu penting agar tidak direndahkan seperti Catherine di masa lalu.


Pintu kamar yang diketuk, kemudian Edward masuk. Melihat Sarah selesai berhias dengan menggunakan gaun pilihannya, senyum mengembang di bibir Edward.


"Cantik! Terima kasih, ya!" ucap Edward pada perias itu.


"Sama-sama, Tuan. Kami langsung pamit, ya!"


Edward mengangguk. Tatapan matanya tidak bisa lepas dari wajah Sarah. Cantik dan sempurna. Matanya yang indah karena softlens, sengaja dipasang untuk menyamarkan warna mata coklat milik Catherine.


"Softlens itu hanya sementara sampai Daniel terjungkal. Hanya saja wajahmu tidak bisa dikembalikan lagi, Sarah. Apakah kamu tidak menyesalinya?"


"Keputusanku sudah bulat, Edward. Aku hanya butuh kamu untuk bisa menerimaku secara utuh. Bagaimana persiapanmu hari ini?"


"Maksudnya bagaimana?" Sarah sama sekali tidak paham soal undangan itu.


"Nanti kamu akan tahu sendiri."


"Lalu, bagaimana denganku? Daniel pasti mengira aku salah menggunakan gaun. Apakah kamu bisa melakukannya untukku?"


Ya, Sarah benar. Daniel mengingat betul gaun pilihannya. Sementara yang dikenakan Sarah kali ini adalah gaun yang sengaja dibeli Edward untuk calon tunangannya, bukan adiknya.


"Kamu tenang saja. Daniel akan berada beberapa menit lebih dulu daripada kita. Setelah Master of Ceremony memanggil kita, maka dia akan terkejut. Namun, dia tidak akan melakukan protes karena berada di dalam pandangan kamera, siaran langsung, dan apa pun yang berhubungan dengan popularitas. Dia membutuhkan itu. Hany pengalihan sementara sampai dia mengetahui kenyataan bahwa Sarah adalah Catherine Eleanor."

__ADS_1


"Ya, semua orang akan menyoroti kita, Edward. Bagaimana dengan reputasi perusahaanmu? Apakah ini tidak akan bermasalah?"


Beberapa hari yang lalu, Sarah memikirkan masalah ini. Tentu saja pengaruhnya akan sangat luar biasa. Terlebih hubungan palsu yang sudah disiapkan Edward dengan sangat baik. Lalu, mendadak dia mengumumkan pertunangan dengan Sarah yang dikenal sebagai adiknya. Ternyata tidak lebih dari seorang penipu.


"Aku tahu ini sangat berat untuk kita, Sayang." Edward mengambil kedua tangan Sarah lalu mengangkatnya ke atas, memberikan kecupan singkat, dan menggenggamnya dengan erat. "Mereka bisa memahami posisimu, Sayang. Percayalah! Apalagi dengan tipu muslihat yang dilakukan Daniel di masa lalu."


"Edward," panggil Sarah, "aku begitu gugup, Sayang. Bagaimana ini akan terjadi nanti? Apakah semuanya akan lancar? Tidakkah ada kendala yang berarti?"


Sarah benar-benar tegang. Permainan ini tidak hanya melibatkan dirinya, tetapi juga hampir seluruh penduduk negeri di mana Edward berkuasa. Ini akan menjadi tontonan yang menarik bagi semua orang.


Kabar berita pasti akan menyoroti Edward yang berjuang untuk mendapatkan masa lalunya. Mungkin juga Edward akan menjadi sosok yang paling fenomenal tahun ini. Menghantam mantan suami kekasihnya demi sebuah balas dendam. Terdengar menggelitik, tetapi memang kenyataannya seperti itu.


"Terkadang kita harus mengatur mindset, Sarah. Kalau sejak awal di dalam otak kita berisi kegagalan, ketakutan untuk bertindak, dan keraguan. Hasilnya pasti sangat mengecewakan. Kalau sudah kita atur sedemikian rupa, positif thinking, dan yakin semuanya akan baik-baik saja. Kegagalan hanyalah penghalang kecil untuk mencapai kemenangan. Kamu percaya itu, kan? Anggap saja itu ucapan seorang pejuang cinta sepertiku."


Edward tertawa kecil. Bibirnya yang menarik itu membuat Sarah enggan memandang ke arah lain.


"Mari kita lakukan bersama! Balas dendammu berakhir hari ini dan semua keinginanmu akan terkabul. Menghukum Daniel dan kita akan bertunangan."


"Hari ini juga? Tidakkah kamu memilih hari yang lain? Maksudku, aku tidak mau pada hari kehancuran orang lain adalah hari kebahagiaan kita, Edward."


"Jangan terbawa perasaan, Sarah! Kita hanya bertunangan. Kurasa itu tidak masalah. Penentuan tanggal pernikahan yang akan menjadi acuan kita untuk melewati perayaan anniversary setiap tahunnya. Bukan begitu?"


Sarah mengangguk. Dia memercayakan diri pada pria itu sepenuhnya. Namun, saat mereka masih menikmati kebersamaan itu, ponsel Edward berdering. Ada pesan masuk kemudian dibaca oleh Edward.


"Target sudah berada di posisi, Sayang. Mari kita berangkat!" ajak Edward dengan menggandeng mesra Sarah untuk turun bersama-sama.

__ADS_1


Sarah memaksakan diri untuk tetap tersenyum. Walaupun dia berusaha menyembunyikan kegugupannya. Sebentar lagi Sarah akan kembali dikenal sebagai Catherine Eleanor, wanita yang pernah dibuang secara tidak hormat oleh Daniel Osvaldo.


__ADS_2