
Kabar kecelakaan Daniel sampai ke telinga Edward. Mereka sedang mengurus persiapan pernikahan. Namun, bagaimanapun Catherine pernah menjadi mantan istrinya.
"Sayang, Daniel kecelakaan. Apa kamu tidak ingin pergi ke rumah sakit?"
"Kecelakaan? Memangnya kamu dapat kabar dari siapa?"
"Berita itu sudah menyebar, Sayang. Memangnya kamu tidak tahu?" tanya Edward.
Sarah menggeleng. "Aku tidak peduli, Edward."
Siapa pun orang yang pernah disakiti pasti mengatakan demikian. Mau bagaimana lagi? Kenyataannya seperti itu.
Kalaupun Sarah datang ke sana, apa jaminannya agar dia tidak bertemu dengan wanita tua yang cukup serakah itu? Dia pernah berada pada posisi dirampok dengan dalih surat perjanjian. Apa bedanya dengan yang dia lakukan saat ini?
"Datanglah saja, Sarah. Lagi pula, sebentar lagi kita juga akan menikah. Kurasa sekalian kamu pamit pada mereka untuk tidak mengusik kehidupanmu di masa mendatang. Selain itu, agar mereka juga tahu bahwa tidak memiliki apa-apa itu sangat menyakitkan."
Seperti yang dikatakan Edward, Sarah pun datang ke rumah sakit seorang diri. Dia melihat Helena duduk di depan ruangan emergency sambil sesekali menangisi keadaannya. Dia tidak boleh luluh hanya melihat wanita itu seperti kehilangan segalanya.
"Aku turut berduka atas kecelakaan yang menimpa putramu," ujar Sarah.
"Kamu? Apa yang kamu lakukan di sini, hah?" tanya Helena dengan suara yang cukup kasar.
"Aku?" Sarah tersenyum. "Hanya ingin memastikan kalau putramu baik-baik saja."
"Tidak perlu! Aku bisa sendiri."
Wajar saja kalau sikap Helena seperti itu. Terlebih dia juga tahu siapa Sarah di matanya. Dia tidak lain sebagai seorang wanita kejam yang diam-diam mencuri tanda tangan putranya. Tidak hanya itu, semua yang dimiliki Daniel telah jatuh ke tangannya.
"Nyonya, silakan urus administrasinya," ujar salah seorang petugas kesehatan yang memberikan beberapa berkas untuk diserahkan ke bagian administrasi.
__ADS_1
Helena menerima berkas tersebut, tetapi dia tidak tahu harus berbuat apa? Kebingungannya semakin jelas bahwa dia cukup syok menerima kabar tersebut.
"Bisakah aku mewakilinya?" tanya Sarah.
"Tentu, Nyonya. Kupikir juga demikian. Silakan berkasnya." Petugas tersebut beralih pada Sarah.
Sarah segera mengurus segalanya. Dia juga meninggalkan pembayaran 10 persen agar Daniel segera ditangani dengan baik.
Selepas urusannya di administrasi selesai, sebenarnya Sarah ingin melihat kondisi Daniel. Namun, dia urungkan karena takut mengulang kesalahan yang sama. Dia tidak ingin pria itu beranggapan lain bahwa Sarah masih peduli. Kalau bukan karena Edward, dia juga enggan untuk pergi ke sana.
"Kamu bisa melihat anakku." Sebuah suara mengejutkannya. "Aku tidak tahu apakah kamu masih cinta atau dendam kepadanya. Yang pasti, anakku memang bersalah."
"Maaf, aku tidak bisa melihatnya. Aku harus segera pergi. Kalau dokter atau siapa pun butuh berbicara denganku, jangan khawatir karena aku sudah meninggalkan nomor ponselku."
Sarah tidak mau terjebak dalam drama menyesakkan dada itu. Jangan sampai dia terbawa suasana sehingga sulit lepas dari mereka.
Sesegera mungkin dia kembali ke mansion milik kekasihnya. Sebentar lagi dia akan mengurus pernikahan dengan pria yang sudah memberikan kehidupan baru padanya. Sesampainya di sana, Sarah segera menghambur ke dalam pelukan pria tersebut.
"Tolong jangan paksa aku untuk melihatnya," ujar Sarah dengan suara serak.
"Hanya kemanusiaan, Sarah. Aku yakin kalau Daniel tidak punya apa-apa lagi sekarang. Kalau sampai dia tidak tertolong, sama saja usahamu sia-sia."
"Maksudmu?" Sarah mendongak.
"Kalau dia mati sekarang, itu artinya persiapanmu selama beberapa tahun ini sia-sia. Dia sama sekali tidak akan merasakan penderitaan apa pun seperti yang kamu alami. Kamu berjuang di meja operasi untuk mengubah wajahmu menjadi secantik itu. Lalu, sekarang dia kecelakaan dan langsung mati. Balas dendammu bukan kepada Helena, tetapi Daniel. Ingat itu!"
Sarah terkejut. Dia sampai tidak memikirkan ke arah sana. Dia pikir kedatangannya ke rumah sakit untuk memberikan kesembuhan pada hidup mantan suaminya. Kenyataannya dia malah membuat pria itu merasakan kehidupannya menjadi sebuah beban bagi orang lain.
"Mengapa tidak kamu jelaskan dari awal, Sayang? Apakah kamu sengaja membuatmu terjebak dalam perasaan seperti itu? Aku hampir merasa bersalah setelah mengambil semuanya, tetapi sekarang tidak lagi."
__ADS_1
Edward tersenyum lalu mengusap kepala Sarah. "Dendammu belum usai, Sayang. Buktinya Daniel masih bisa datang kemari lalu meminta segalanya diberikan padanya. Apa kamu lupa?"
Sarah menggeleng. "Jadi, apa yang akan kulakukan selanjutnya?"
"Tetap datang ke sana dan pastikan semua baik-baik saja. Oh, ya, persiapan pernikahan kita akan diselenggarakan dalam waktu dekat. Apa kamu sudah tidak sabar menantikan kabar baik itu?"
Wanita mana yang tidak akan berbahagia saat tahu pria yang mencintainya telah menyiapkan pernikahan. Dia berharap pernikahannya kali ini adalah untuk yang terakhir kalinya.
"Tentu, Edward. Hanya saja aku ragu dengan diriku sendiri. Apakah bisa memberikan kebahagiaan untukmu setelah apa yang aku alami selama ini?"
Edward memegangi dagu wanita yang dicintainya. Dia tidak ingin wanita itu merasa rendah diri di matanya. Dia berharap agar Sarah menjadi wanita yang kuat dan hebat. Terlebih saat ini wanita tersebut harus mengurus satu perusahaan yang diambil paksa dari mantan suaminya.
"Kamu harus kuat demi bisnis yang sudah kamu ambil alih. Kalau kamu bisa, jadikan Daniel orang yang bekerja di perusahaan. Semuanya terserah kamu. Mungkin dia akan menjadi pesuruhmu."
Sarah menggeleng. "Aku tidak akan menjadikan musuh ikut bagian dalam rencanaku. Dia bisa mengacaukan semuanya tanpa bisa kukendalikan."
"Bagus! Aku menyukai pemikiranmu. Jangan punya belas kasih lagi untuknya. Memberikan kehidupan kedua sudah sama dengan menyiksanya secara perlahan, bukan?"
Kalau boleh memberikan nilai, Edward patut memiliki nilai 9 dengan segala rencananya. Namun, Sarah harus mendapatkan nilai 10 untuk pemikirannya kali ini. Dia paling anti menggunakan musuh di dalam dunia kerjanya. Semakin dekat dengan orang tersebut, posisi Sarah akan semakin terancam.
Sementara itu, Helena yang sedari tadi menunggu tampak sedang kesal. Dokter belum memberikan kabar kesehatan Daniel dengan akurat. Mereka bilang sedang berusaha untuk mengobati Daniel. Sebenarnya apa yang dialami pria malang itu? Apakah kecelakaan itu membuat dokter bekerja cukup lama?
"Bagaimana kondisi putraku?" tanya Helena pada petugas kesehatan yang sedang lewat.
"Tunggu dokter saja, Nyonya. Aku harus segera mengambil obat-obatan yang diminta dokter. Aku minta maaf."
Satu orang pun tidak mampu menjelaskan apa yang terjadi di dalam sana. Bagaimana dengan putranya? Apakah selamat dari kecelakaan itu? Bagaimana kondisinya? Apakah dia baik-baik saja atau justru sebaliknya?
Beberapa menit kemudian, rupanya seorang dokter datang menemui Helena. Pria berjas putih dengan name tag di jasnya terlihat sama sekali tidak bersemangat.
__ADS_1
"Nyonya, kami sudah berusaha dengan keras, tetapi sesuatu yang buruk terjadi padanya," ujar Dokter tersebut.