
Undangan pertunangan telah siap setelah melewati beberapa proses. Pemilihan orang-orang yang masuk ke dalam daftar undangan. Lalu, beberapa lagi menunggu kabar dari Daniel. Pria itu juga mengundang Brenda karena permintaan Edward dan Sarah.
"Harusnya undangan ini tertulis nama Edward dan Catherine," cibir Sarah setelah mengamati undangan bertuliskan nama Sarah dan Daniel.
Hari ini Sarah ikut ke kantor untuk menemani Edward menyiapkan undangan yang sudah dikirim ke kantor. Selain itu, baju Daniel yang terbawa di mobil beberapa hari yang lalu juga harus dikirimkan ke tempat Daniel.
"Itu sudah benar, Sarah. Jangan buka kartu sebelum semuanya terbongkar. Kamu adalah Sarah, calon tunangan Daniel. Sementara Catherine adalah calon tunanganku. Itu akan menjadi kejutan untuk Daniel dan Brenda nantinya."
"Kenapa harus Brenda?"
"Supaya dia tahu kalau Daniel tetap memilih masa lalunya ketimbang dirinya," ucap Edward dengan senyum mengembang di bibirnya.
"Kurasa itu tidak mudah, Sayang. Brenda mencintai Daniel. Dia akan berjuang untuk mendapatkannya."
Mata Edward menyipit. Dia tidak tahu kalau Sarah sudah mengamatinya sedetail itu. Namun, dia juga terlihat tidak cemburu saat membicarakan Daniel dan Brenda. Itu dikarenakan rasa benci Sarah sudah mengalahkan rasa cinta atau pedulinya di masa lalu.
"Kamu mengetahuinya?"
"Ya, beberapa hari yang lalu Brenda datang ke kantor. Dia meminta Daniel untuk mengubah keputusannya. Aku tidak tahu kalau Brenda ada di dalam. Lalu, aku masuk dan memanggil Daniel dengan panggilan menjijikkan itu."
"Menjijikkan?"
__ADS_1
"Ya. Aku harus berpura-pura peduli dengan memanggilnya sayang. Itu menyebalkan untukku!" Sarah kesal.
"Ya, setelah itu aku yang cemburu andaikan berada di tempat saat itu. Maaf, aku terlalu sensitif pada hal-hal yang berhubungan denganmu, Sayang." Edward mendesah sejenak.
Jika Sarah dan Edward sedang berbincang mesra, lain halnya dengan Daniel. Dia baru saja meletakkan ponselnya setelah memandangi foto Sarah di sana. Tanpa sepengetahuan gadis itu, Daniel mencuri fotonya tiba-tiba dan menggunakan sebagai wallpaper di ponselnya.
"Aku tidak sabar untuk menunggu pertunangan kita, Sayang. Aku heran, mengapa bisa cepat sekali berpindah hati dari Brenda lalu kepadamu? Kamu cantik dan sangat menarik. Aku menyukainya," gumam Daniel.
Pintu diketuk. Daniel pikir kalau itu adalah karyawannya atau mungkin Sarah yang datang. Ternyata itu adalah resepsionis yang mengantarkan kurir dengan beberapa barang di tangannya.
"Tuan, maaf kami langsung ke sini. Ini ada paket dari Nona Sarah dan beberapa box undangan," ucap resepsionis.
"Oh, ya, ampun. Aku lupa kalau pakaian ini tertinggal di sana. Terima kasih," ucap Daniel pada kurir dan resepsionis setelah membuka paketnya. Mereka langsung meninggalkan ruangan setelah itu. Rupanya ada pesan cinta yang disampaikan Sarah untuknya.
Ada gurat bahagia di dalam diri Daniel. Apalagi rencana untuk mempersunting Sarah terlihat begitu mudah. Namun, seketika lamunannya berakhir ketika pintu dibuka dan menampakkan wajah wanita lain yang berdiri di sana.
"Maaf, aku datang lagi, Daniel. Aku belum bisa menerima keputusan yang kamu buat tempo hari. Kenapa kamu lakukan itu padaku?" tanya Brenda.
Bukannya menjawab, Daniel malah sibuk membuka sebuah kotak berisi undangan. Penampilannya sangat rapi dan sesuai dengan list urutan yang sudah diberikan Daniel pada Edward.
"Kurasa tidak perlu bicara apa-apa lagi, Brenda. Ini sudah cukup membuktikan semuanya bahwa hubungan kita sudah berakhir!" Daniel meletakkan satu undangan pertunangan atas nama mantan kekasihnya itu.
__ADS_1
Brenda mengambilnya lalu membuka isinya. Matanya membelalak ketika melihat tanggal pertunangan itu. Tiga hari dari hari ini. Brenda menutup kembali undangan itu lalu beralih pada wajah Daniel.
"Semudah itu kamu membangun komitmen dengan orang baru, Daniel? Tidakkah ini terlalu terburu-buru?" Sakit, cemburu, dan kecewa. Tentu saja itu tidak mudah bagi Brenda yang selama dua tahun ini malah terhempas dengan kedatangan wanita secantik Sarah. "Kamu tidak menyesal memberikan keputusan semudah ini? Kurasa keinginanmu untuk memiliki Sarah bukanlah sebuah cinta, tetapi obsesi. Ya, aku sadar diri bahwa Sarah lebih dari segalanya daripada aku, tetapi aku mencintaimu selama dua tahun belakangan ini, Daniel. Aku juga sudah mencoba untuk tetap bertahan walaupun kamu masih menduakan aku dengan Catherine saat itu."
Daniel menutup matanya sejenak. Bayangan Catherine mendadak muncul begitu saja. Tidak terlihat sedih, tetapi justru menertawakan dirinya sekarang. Seolah setiap senyum, tawa, dan suara-suara bising tentang wanita itu memperlihatkan betapa memalukan sikap Brenda saat ini. Memohon-mohon untuk mendapatkan kesempatan kedua.
"Tidak ada kesempatan kedua untuk hubungan kita, Brenda. Aku harap kamu bisa mengerti. Datanglah ke pesta pertunanganku karena di sana akan ada banyak wartawan yang meliputnya. Kalau kamu memang merasa kecewa, lebih baik menonton saja dari media elektronik. Mungkin itu jauh lebih baik ketimbang kamu datang atau berencana menghancurkan pertunangan impianku."
"Omong kosong! Kupikir kamu menyukaiku karena tulus, tetapi kamu ternyata gila akan popularitas. Semoga saja itu bukan sebatas mimpi karena Sarah menyukaimu. Tidak masalah aku akan datang dan jangan khawatir bahwa aku tidak akan mengganggumu. Namun, suatu hari nanti saat kamu benar-benar jatuh, orang pertama yang sebenarnya peduli adalah aku. Sekarang tidak lagi. Aku hanya berharap bahwa kehancuran akan menghampirimu!" Ungkapan rasa kesal pada Daniel membuat Brenda tidak bisa menahan diri. Pria yang dicintainya tidak lebih dari seorang penjahat.
"Kamu mengutukku?"
"Bukan sebuah kutukan, Daniel. Hanya doa wanita yang kamu sakiti. Itu saja. Aku juga tidak pernah merebutmu dari Catherine, tetapi kamulah yang memaksaku untuk masuk ke dalam pelukanmu. Tidak masalah. Kamu bebas melakukan itu pada orang lain, tetapi aku akan menjadi orang pertama yang akan tertawa atas penderitaanmu. Kamu pikir Edward akan memberikan adiknya secara cuma-cuma kepadamu?"
Merasa direndahkan, Daniel yang semula menutup rapat isi perjanjian pranikah dengan Sarah kemudian membongkarnya di hadapan Brenda.
"Itu tidak mungkin, Brenda! Edward memberikan aku saham setelah kami menikah. Setelah itu, aku harus memiliki dua orang anak karena keberadaan mereka sudah dijamin oleh Edward."
"Benarkah? Kurasa itu hanyalah sebuah mimpi, Daniel. Apa kamu lupa bahwa sesuatu yang didapatkan dengan mudah akan menimbulkan sesuatu yang mengerikan? Terkadang apa yang kita perjuangkan dan terlepas saja sudah membuat orang hampir gila. Bagaimana dengan kenikmatan sesaat? Anggap saja seperti sebuah mimpi. Jangan pedulikan apa pun ucapanku karena aku hanya ingin membuatmu berpikir bahwa ini hanyalah tipuan. Kuharap kamu segera sadar!"
Brenda bukan bermaksud menakuti Daniel, tetapi dia hanya ingin Daniel tersadar dan kembali pada kenyataan bahwa melepaskan dirinya demi orang lain adalah sebuah kesalahan.
__ADS_1