
Edward mendapatkan cara, tetapi dia harus melibatkan keberadaan Helena di dalamnya. Mungkin agak sedikit aneh, tiba-tiba Sarah datang lalu merayu Helena untuk ikut dalam bagian rencana makan malam. Pastinya wanita itu tidak akan menenggak anggur atau sejenis alkohol tertentu.
Namun, Edward sudah memastikan bahwa cara ini adalah aman. Tanpa pertunangan asli dan pernikahan, Sarah akan mengambil segalanya dalam waktu cepat. Saat itulah hari yang sangat ditunggu-tunggu oleh semua orang.
"Edward, kamu yakin akan melibatkan publik? Bagaimana dengan hubungan kita?"
Sarah ragu. Bagaimana dunia menganggap mereka nanti? Apakah penipuan berkedok keluarga? Atau balas dendam cantik untuk mantan suaminya yang gila akan harta? Kemungkinan terburuk adalah mereka memiliki skandal, tetapi itu juga salah! Edward singel dan Sarah atau Catherine adalah janda cerai. Dia memiliki surat resmi perceraiannya. Jadi, apakah Sarah masih ragu dengan rencana Edward?
"Rencana pertunangan akan kita tentukan. Lalu, tanggal di mana kalian akan bertunangan akan menjadi kehancuran bagi Daniel. Kita bisa langsung memukul semuanya dalam satu waktu, Sayang. Tentu saja dengan tanda tangan pengalihan harta dan perusahaan."
"Berapa lembar surat pengalihan yang harus ditandatangani?" Sarah mencoba yakin pada keputusan Edward.
"Mungkin dua atau tiga lembar. Apa yang kamu inginkan?"
"Perusahaan dan rumah."
"Cuma itu?" Edward memastikan lagi.
"Kurasa itu cukup."
"Bagaimana dengan mobil? Kamu tidak memerlukannya?"
"Kurasa aku masih berbaik hati untuk memberikan sedikit kompensasi. Dia juga sudah menipuku dengan surat perjanjian pranikah itu juga, bukan? Setidaknya ini impas!"
Edward begitu mudah untuk melakukan semua ini. Kalaupun Daniel mengelak, dia akan menunjukkan semua bukti penipuan yang digunakan Daniel untuk membohongi Catherine kala itu.
"Sayang, tapi ... kamu yakin kita akan melakukan ini? Semua orang pasti menginginkan bagaimana kamu berubah?"
"Aku tahu dan aku siap untuk itu, Edward. Apa bedanya aku menipunya dengan dia menipuku? Demi bisa hidup dan membuatnya hancur, aku sudah merelakan diriku menjadi seperti ini. Itu juga tidak mudah karena aku butuh meyakinkan diri."
Sementara itu, Daniel menerima kedatangan Brenda. Wanita itu memohon pada Daniel untuk mempertimbangkan keputusannya lagi. Dia tidak mau berpisah dan ingin kembali lagi. Tentunya dengan hubungan yang lebih serius lagi.
"Daniel, aku tahu kalau sikapku ini lancang. Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak datang kemari. Aku butuh kamu. Butuh kepastian hubungan kita." Brenda masih mencoba.
__ADS_1
"Maaf, kurasa semuanya sudah terlambat. Aku akan bertunangan."
Seketika jantung Brenda berhenti berdetak. Mana mungkin secepat itu? Baru beberapa hari yang lalu Daniel mengajukan kata putus, tetapi sekarang dia akan bertunangan. Lelucon macam apa ini?
"Kamu pasti berselingkuh di belakangku!" tuduh Brenda.
"Tidak sama sekali, Brenda. Kami berhubungan setelah berpisah denganmu."
Brenda masih belum terima, tetapi setelah pintu terbuka dan sebuah suara sangat mereka kenali membuat Brenda terkejut.
"Sayang!" ucap Sarah begitu masuk tanpa mengetuk pintu.
Sebenarnya dia muak meneriakkan kata-kata malaikat dalam jiwa iblisnya saat ini. Namun, ini demi sebuah tanda tangan dan kehancuran Daniel.
"Sarah?" Brenda menoleh dan melihat kedatangan wanita itu.
Sarah tetap tenang. Dia mencoba untuk mengahadapi situasi seperti ini.
"Jadi, kamulah wanita itu? Tega sekali kamu!" maki Brenda.
Telinga Sarah agak risih dengan panggilan itu, tetapi drama ini harus dimainkan secara natural dan epic. Dia pun berjalan menuju ke tempat duduk Daniel dan berdiri di sebelahnya.
"Duduklah di sini!" Daniel menepuk pahanya.
Itu artinya, Sarah harus duduk di pangkuannya. Dia dalam dilema mengingat ucapan Edward kapan hari. Kalau sampai pria itu berlaku kurang ajar, maka Edward akan mematahkan hidungnya. Itu janjinya.
"Maaf, Daniel ... aku tidak terbiasa seperti itu. Kamu tahu bagaimana kakakku kalau tahu seperti ini, dia pasti membatalkan rencana pertunangan kita." Walaupun terlihat gugup, tetapi Sarah mengatakannya cukup jelas.
Brenda masih berada di sana. Dia memindai bergantian, dari Sarah kemudian Daniel. Begitu saja terus sampai Daniel menegurnya.
"Jadi, bisakah kamu keluar sekarang? Kurasa tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan, Brenda. Hubungan kita sudah selesai dan tidak ada lagi kata-kata manis untuk kembali ataupun menyelesaikan hubungan yang tertunda atau apa pun itu."
"Kupastikan kamu akan menyesal telah memilihnya, Daniel. Aku yakin itu. Jangan sampai kamu membuangku lalu memilihnya."
__ADS_1
Wajar kalau Brenda marah, kesal, tidak tertahankan untuk mengumpat, bahkan mengutuk mantan kekasihnya.
Pintu dibuka dengan kasar lalu ditutup dengan cara yang sama. Setelah itu, tersisa Daniel dan Sarah.
Sarah kembali ke hadapan Daniel, mengambil duduk di sana, dan mulai mengatur irama jantungnya. Oke, ini memang bukan yang pertama. Namun, Sarah tidak akan mengecewakan Edward untuk caranya. Semuanya harus berakhir dengan impas. Itulah tujuannya.
"Sayang, aku terkejut," ucap Daniel begitu manis.
Sebenarnya tidak pernah sekali pun Sarah mendengar panggilan itu di masa lalu. Hanya nama Catherine dan ocehannya yang tidak kunjung usai serta kebohongannya berbentuk hitam di atas putih.
"Aku juga." Ya, Sarah juga harus berpura-pura seperti itu.
"Oh, ya, tumben kamu datang. Ada apa?"
"Edward, maksudku kakakku ingin membicarakan rencana pertunangan kita. Itu pun jika kamu berkenan dipercepat."
Binar bola mata Daniel langsung terlihat jelas bahwa dia bahagia. Tidak menyangka akan secepat ini dia akan menjadi bagian dari Edward Harrison.
Pikirannya sekarang bukan tertuju pada pernikahan itu sendiri, tetapi bagaimana orang akan mengenalnya nanti. Daniel akan duduk di sebuah kursi bersebelahan dengan calon kakak ipar, calon istri, dan mamanya. Mereka akan mengumumkan pertunangan itu di depan publik. Ya, di depan wartawan yang selama ini selalu diimpikan oleh Daniel.
Setelah itu, kilatan cahaya akan memindai seluruh tubuhnya. Kemudian foto-foto wajahnya terpampang nyata di media massa. Wajahnya akan dilihat sebagai bagian terpenting dari Edward dan dia pasti akan mengikuti kesuksesan kakak iparnya.
"Daniel?" Sarah mengetuk meja beberapa kali untuk membangunkan pria itu dari lamunannya.
"Oh, maaf. Aku terlalu bahagia mendengarnya. Jadi, kapan aku bisa datang ke mansion?"
"Malam ini kurasa. Kakak tidak mengatakan apa pun, tetapi aku yakin kalau malam ini. Sampai aku diminta datang ke sini dan sebenarnya–"
"Kenapa?" Mata Daniel seolah menggoda.
Namun, Sarah malah jijik melihatnya. Mata itu ternyata lebih genit daripada yang dibayangkan saat itu. Pantas saja Brenda sampai bertekuk lutut padanya. Setelah mata, barulah rayuan untuk pergi ke ranjang bersama. Dasar brengsek!
"Maksudku, jangan lupa bawa mamamu. Kakakku juga ingin berbicara dengannya. Kamu tahukan kalau keluarga kami sedikit rumit."
__ADS_1
Tentu saja Daniel tahu. Edward pasti ingin membicarakan apa saja yang akan dilakukan saat pertunangan nanti. Mungkin mengenai tempat, gaun, tamu undangan, suvenir, dan segalanya yang berhubungan dengan acara penting itu.