
Senyuman mengembang di bibir Sarah setelah semalam keduanya bergelut di atas ranjang. Edward yang sudah menahan selama bertahun-tahun, akhirnya melepaskan semua. Pelepasan berulang kali dengan harapan bahwa sang istri bisa memiliki keturunan. Andaikan tidak pun, Edward masih mencintainya sampai kapan pun.
Hari ini bukan merupakan hari libur. Setelah pernikahan kemarin, pasangan suami istri itu harus kembali ke rutinitas masing-masing, yaitu mengurus pekerjaan di perusahaan. Belum ada rencana untuk berlibur ataupun berbulan madu.
"Sayang, bangun! Kita harus kembali ke mansion dan pergi ke perusahaan. Bukankah hari ini kau mengatakan ada meeting penting?"
Hampir saja Edward melupakan kebahagiaan yang bertahun-tahun ditunggu begitu lama. Sekarang tidak ada lagi jarak yang akan memisahkannya. Tentu saja karena dia sudah menyatu dengan cintanya.
"Aku minta maaf, Sayang. Harusnya kita mengambil cuti saja. Hanya saja, aku sudah terlanjur janji pada beberapa klien dan setelah pernikahan kita, aku akan mengadakan rapat."
"Nah, siapa yang salah di sini? Aku pun demikian, Sayang. Aku minta maaf. Mungkin lain waktu kita bisa menyusun ulang rencana bulan madu."
"Tentu!"
Edward segera turun menuju ke kamar mandi. Apalagi melihat Sarah yang sudah siap. Sepertinya wanita itu sangat telaten menjadi ibu rumah tangga di hari pertama pernikahan mereka.
Setelah menunggu lama, Edward pun keluar dengan tubuh yang terlihat segar dengan balutan jas dan perlengkapan lainnya. Dia terlihat seperti mendapatkan kejutan di pagi buta dari sang istri.
"Apakah ini rasanya menjadi seorang suami, Sarah?"
"Entahlah, Sayang. Kurasa aku tidak bisa membaca pikiranmu, tetapi aku hanya mencoba menyenangkan dirimu saja."
Sarah meminta Edward untuk segera kembali ke mansion setelah sarapan pagi berakhir. Setelah itu, mereka akan berpisah di sana untuk menuju ke kantor masing-masing.
"Sayang, kau yakin kalau kita bekerja hari ini? Ini hari pertama pernikahan kita, Sayang," ujar Edward.
Sarah yakin karena dia harus menyelesaikan beberapa pekerjaan sebelum mereka pergi berbulan madu. Setelah itu, mereka akan memiliki liburan yang cukup panjang.
Setelah sarapan pagi, Edward menarik beberapa koper miliknya sekaligus Sarah. Dia membawa koper itu untuk dimasukkan ke dalam mobil.
__ADS_1
"Jangan terlalu cepat mengemudikan mobilnya! Aku sedikit mengantuk, Edward."
Jelas saja. Setelah semalaman, Edward bisa tidur dengan nyenyak. Sementara Sarah, dia baru tenggelam dalam mimpinya ketika mendekati dini hari. Rasanya ingin menyerah, tetapi kenyataannya seperti itu.
"Sayang, lalu bagaimana caramu pergi ke kantor? Kau harus ditemani sopir. Oke?"
Edward tidak lagi bisa dibantah. Dia menurunkan beberapa koper ketika sampai di mansion. Setelah itu, dia memerintahkan sopir pribadi berikut beberapa bodyguard untuk mengamankan Sarah ketika bekerja.
"Sayang, cukup dengan satu sopir saja!"
Sarah merasa bahwa Edward terlalu berlebihan. Dia tidak tahu bahwa nantinya di perusahaan akan ada kejutan yang sama sekali tidak diduga.
"Ikuti saja permintaanku, Sayang! Aku tidak mau istri dan calon anakku terjadi sesuatu."
Seketika Sarah membeku. Dia tidak mungkin bisa memberikan hadiah terindah itu pada Edward. Tentunya akan ada luka di masa lalu yang berulang hingga masa kini. Bayangan rasa putus asa dengan hinaan yang bertubi-tubi akan datang dari orang lain.
Sarah pergi ke kantor tanpa pamit pada Edward. Hatinya benar-benar gundah ketika Edward berharap sesuatu yang sudah hilang dari pemikiran Sarah sendiri, yaitu tentang anak.
"Apa yang telah aku lakukan? Aku merasa resah di hari pertama pernikahan kami. Wajar kalau Edward mengharap demikian, sedangkan aku bukanlah wanita yang bisa memberikan apa yang diinginkan suamiku. Apakah aku harus mengakhiri pernikahan untuk yang kedua kalinya?"
Sarah membuka tutup laptopnya berulang kali hingga suara ketukan pintu membuatnya tersadar bahwa dia berada di kantor.
"Masuk!" ucap Sarah.
Setelah pintu dibuka, tampak seorang pria dengan memakai kaus dan kruk ketiak menumpu beban tubuhnya. Patah tulang kaki yang membuatnya menjadi seperti itu.
"Daniel?" gumam Sarah ketika melihat mantan suaminya berdiri di sana.
Pria itu tampak terlihat sangat kurus setelah terakhir kalinya mereka bertemu. Dia berdiri di depan pintu karena Sarah belum menyuruhnya untuk duduk.
__ADS_1
"Kau tidak mempersilakan mantan suamimu untuk duduk, Sarah?"
Sarah tampak kikuk. Suaminya benar, tetapi mengapa para bodyguard tidak melarang Daniel masuk ke ruangannya? Apakah ini sebuah jebakan atau konspirasi yang telah disusun Edward untuk membuangnya kembali? Terlintas luka lama yang ditorehkan Daniel berputar di kepalanya.
"Oh, sorry, Daniel! Silakan duduk! Maaf, aku sangat keterlaluan membiarkanmu berdiri cukup lama. Bagaimana kabar mamamu?"
Sejak kejadian malam itu, Sarah tidak lagi muncul di rumah sakit. Dia hanya membayar biaya perawatan untuk kedua orang itu.
Daniel duduk di hadapan Sarah seperti seorang tamu. Biasanya dia yang duduk di kursi yang ditempati Sarah, tetapi kali ini kejutan berbanding terbalik.
"Kau cocok sekali menempati tempat duduk itu. Mengapa aku baru menyadarinya sekarang?"
Sarah menggeleng. "Entahlah!"
"Oh, ya, aku datang kemari karena ada hal penting yang ingin kusampaikan. Ini bukan karena aku saja, tetapi atas nama mamaku."
Sebenarnya Sarah tidak ingin mendengar apa pun. Apalagi sampai bertemu dengan Daniel setelah dia mempermainkan pria itu dengan acara balas dendamnya. Semua sudah diambil dari pria itu. Kesakitan, penyesalan, pemaksaan, dan segala bentuk hukuman sampai membuat Daniel kecelakaan.
"Apakah ini soal perusahaan?"
Daniel menggeleng. "Bukan. Aku berterima kasih karena kau sudah menolong mamaku. Andaikan kau tidak datang tepat waktu dan kebaikan hatimu, mungkin sekarang aku sudah hidup terlunta-lunta tanpa siapa pun."
Sarah beranjak dari tempat duduknya. Dia tidak ingin menerima sanjungan seperti itu karena Sarah tidak ingin mendengarkan apa pun. Dia sudah cukup membuat kehidupan Daniel dan keluarganya hancur seperti itu. Sekarang tidak lagi. Dia sudah bahagia dengan Edward dan kehidupan barunya.
"Kalau kau datang kemari hanya untuk memberikan pujian untukku, lebih baik kalau kau pergi sekarang!"
Sebenarnya bukan soal itu saja. Daniel ingin meminta maaf perihal tuduhan mamanya yang sama sekali tidak masuk akal. Dia juga tega berselingkuh dengan dalih bahwa Catherine lah yang mandul, tetapi kenyataannya yang bermasalah adalah Daniel. Sampai pada kecelakaan itu terjadi, Sarah tidak tahu bahwa itulah penyebabnya.
Kehilangan kepercayaan diri dan juga kehilangan Brenda dari sisinya membuat Daniel putus asa. Tidak hanya itu saja, perusahaan yang membuatnya sombong pun kini tinggallah kenangan. Bukan hancur lebur, tetapi ganti kepemilikan atas nama mantan istrinya.
__ADS_1
"Kau berhak mendapatkan ini, Sarah. Aku yang bodoh terlalu melukai hati dan tubuhmu. Aku juga telah jahat berselingkuh di belakangmu demi mewujudkan keinginan mama. Namun, setelah aku sadar bahwa itu adalah kesalahan. Makanya aku datang ke sini untuk membeberkan fakta yang sebenarnya."
"Apa maksudmu, Daniel?" tanya Sarah terheran.