CROMULENT

CROMULENT
Bab 13. Terbawa Perasaan


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, saat hari libur tiba, Daniel datang ke mansion Edward. Dia berniat untuk mengajak Sarah pergi ke makam papanya. Mungkin juga dia akan mampir ke makam mantan mertuanya.


Tidak terlalu pagi, tetapi sudah memasuki jam sibuk. Walaupun hari libur, tidak ada salahnya mencoba datang lalu meminta maaf.


"Wah, tumben Tuan Daniel. Anda datang setelah kami baru saja selesai sarapan pagi," kata Edward.


Posisi Edward duduk bersebelahan dengan Sarah, tetapi tidak begitu dekat. Mungkin karena hubungan mereka adalah kakak beradik sehingga terlihat ada jarak.


"Maaf, kalau kedatanganku sangat mengganggu. Bolehkah aku mengajak Sarah ke suatu tempat? Ehm, maksudku ke makam orang tuaku. Sudah lama aku tidak berkunjung ke sana. Rasanya akan sangat aneh bila aku berkunjung sendirian."


Edward dan Sarah saling melihat. Sepertinya Edward adalah pembaca pikiran Sarah tercepat kali ini. Sepertinya keinginan untuk mengunjungi makam orang tuanya akan terkabul.


"Mengapa Anda harus mengajakku? Bukankah seharusnya Anda pergi dengan Brenda?" tanya Sarah.


Edward tersenyum. Sarah semakin luar biasa mempermainkan emosi Daniel. Pria itu terlihat tetap tenang di tempat duduknya saat ini.


Bagi Daniel, ini adalah usaha terakhirnya untuk mendekati Sarah. Dia tidak mungkin mengajak wanita itu ke restoran atau tempat-tempat mewah lainnya. Jangan sampai dia dipermalukan hanya karena uang dan tidak bisa membayar keinginan wanita itu.


"Hubungan kami berakhir."


"Kenapa bisa begitu? Bukankah Anda terlihat sangat mencintainya?" Sekali lagi Sarah mempermainkan hati Daniel.


"Ya, Sarah. Kamu benar, bahkan aku saja terlihat iri pada hubungan Tuan Daniel dan pasangannya," sahut Edward.


"Ah, lupakan saja, Tuan Edward. Apakah Anda mengizinkan Sarah untuk pergi bersamaku?"


Sebenarnya tidak ada alasan untuk menolaknya. Terlebih Sarah memiliki keinginan untuk mengunjungi makam orang tuanya. Mungkin juga masih di tempat yang sama sehingga dia bisa mampir ke sana sebentar.

__ADS_1


"Pergilah, Sarah! Jangan lupa untuk pulang tepat waktu. Sore hari kamu ingin pergi berenang, bukan?" Edward harus membatasi waktu bersama Daniel.


"Jadi, Nona Sarah hobi berenang?" Daniel ingin tahu, tetapi lebih pada rasa penasarannya.


Perbedaannya sangat mencolok sekali. Pantas saja Sarah memiliki tubuh yang indah dan menarik.


"Ya, tetapi kami tidak biasa pergi ke tempat umum. Di mansion sudah ada kolam renang dan pelatih akan datang ke sini," ucap Edward beralasan. Dia tidak mungkin mengizinkan Daniel melihat bentuk tubuh Sarah secara langsung. Mungkin saja dia segera menyadari bahwa itu adalah Catherine. Jika dia teliti. "Sarah, segera ganti pakaianmu. Ingat, jam 2 kamu harus segera kembali!"


"Baik, Kak."


Sarah masuk ke kamarnya. Dia juga sedang memikirkan untuk masuk menjadi bagian terpenting dari dalam hidup Daniel. Terasa lambat saat Sarah tidak berhasil menggulingkan Daniel begitu cepat. Jangan sampai dia kehabisan waktu dan terjebak dalam permainannya sendiri.


"Aku harus bergerak cepat. Jangan sampai Edward kecewa karena aku terkesan lambat. Baiklah, Daniel. Mari kita gunakan cara yang sama. Perjanjian pranikah dan aku akan membuatmu terjebak. Mungkin untuk sementara waktu aku bisa menerimamu, tetapi setelah aku mengelabuimu dengan perjanjian baru yang akan membuat seluruh hidupmu hancur. Mungkin dengan sedikit anggur dan ... rayuan maut. Maafkan aku, Edward. Aku terpaksa mencari cara yang instan, tetapi kamu tenang saja. Aku sudah membencinya!" gumam Sarah setelah menggunakan pakaian serba hitam.


Izin Edward memang penting, tetapi lebih dari itu ada yang lebih penting lagi. Buket bunga. Lebih tepatnya untuk berkunjung ke makam kedua orang tuanya dan mantan mertua tentunya.


"Daniel, apa tidak sebaiknya kita mampir untuk membeli buket bunga?" tanya Sarah. Matanya mengiba dari balik kacamata hitamnya. Tentu saja Sarah harus mengantisipasi. Dia tidak mungkin menangis sesenggukan di makam orang tuanya sehingga membuat Daniel curiga.


Sarah harus cepat. Jangan sampai membuat Daniel mencurigainya. "Sebanyak makam yang akan kamu kunjungi. Memangnya ada berapa makam?"


"Tiga, Sarah. Ben Osvaldo, Felix Jackob, dan Beatrice Eleanor."


Dua nama terakhir yang disebutkan oleh Daniel adalah orang tuanya. Ya, lebih tepatnya orang tua Catherine Eleanor.


"Siapa mereka?" Sarah hanya berpura-pura ingin tahu.


"Ben adalah papaku. Sementara dua orang yang kusebutkan paling akhir adalah mertuaku. Maksudku adalah orang tua Catherine, mantan istriku."

__ADS_1


"Oh," jawab Sarah singkat. "Kamu begitu peduli pada mereka." Hanya sanjungan kecil untuk membuat Daniel tinggi hati. Sarah ingin melihat responnya.


"Tidak juga. Aku adalah menantu yang payah dan sedikit menyedihkan. Aku datang ke sana hanya ingin tahu. Mungkin saja mantan istriku masih ada di negara ini. Aku berharap dia masih berkunjung ke makam orang tuanya."


Sarah tercekat. Namun, dia segera menguasai dirinya. Insting Edward ternyata benar. Walaupun Sarah merasa ada penyesalan di wajah Daniel, itu mungkin hanya sebatas topeng untuk menarik perhatian Sarah.


"Aku tidak akan tertipu, Daniel!" batin Sarah.


Setelah melewati toko bunga dan mampir sebentar, mereka melanjutkan ke pemakaman. Sebenarnya ada banyak pertanyaan yang sengaja disiapkan Sarah, tetapi dia berusaha diam untuk tetap menahan diri. Setidaknya kali ini dia datang ke makam orang tuanya.


"Kita pergi ke makam papaku dulu, ya? Kebetulan mereka memang dimakamkan di pemakaman yang sama. Jadi, aku bisa datang ke tempat Papa lalu ke mertuaku. Maksudku mantan mertuaku."


Sebenarnya bukan hanya makam orang tuanya saja, tetapi juga makam mertuanya. Sarah dulu sering datang ke sini saat masih menjadi Catherine. Sekadar hanya untuk mencurahkan kerinduan dan ungkapan kegelisahannya saja.


Daniel meletakkan buket bunga pertama yang langsung diikuti oleh Sarah. Ya, mereka masing-masing membeli tiga buket bunga. Sarah hanya ikut-ikutan saja supaya dikira peduli.


Sekitar sepuluh menit, barulah Daniel mengajak Sarah pergi ke makam mantan mertuanya. Terlihat sekali bahwa tidak pernah ada yang mengunjungi. Tidak ada bekas bunga atau apa pun.


"Benar dugaanku. Catherine tidak pernah datang," ujar Daniel pelan. Seakan harapannya tidak akan pernah terwujud untuk bertemu wanita itu lagi.


"Maaf, Daniel. Kamu salah. Aku sudah datang sekarang. Terima kasih sudah mempermudah keinginanku," batin Sarah.


Dia sebenarnya tidak bisa menyembunyikan luka karena kehilangan kedua orang tuanya. Namun, di saat seperti ini, Sarah harus mawas diri. Dua tahun terakhir tidak pernah datang ke makam ini.


Sarah berjongkok sebentar untuk mengelus kedua nama di atas batu marmer. Ada namanya juga di sana. Dia beralih ke makam satunya.


"Sarah, kamu terlihat peduli pada kedua makam itu. Kenapa?"

__ADS_1


Sarah tersentak. Harusnya dia tidak terbawa perasaan, tetapi mau bagaimana lagi? Apakah dia harus mengakui bahwa ini adalah makam kedua orang tuanya?


"Aku hanya berusaha mengingat kematian, Daniel. Apa itu salah?" tanya Sarah beralasan.


__ADS_2