CROMULENT

CROMULENT
Bab 18. Tidak Peka


__ADS_3

Sarapan pagi yang menyenangkan. Menu makanan enak dan suasana hati terlihat bagus. Helena sudah mendengar semuanya semalam saat perjalanan pulang. Dia tidak bisa memikirkan sampai hari pertunangan itu tiba. Rasanya seperti sebuah mimpi yang benar-benar nyata.


"Akhirnya, Daniel, mama senang sekali. Ternyata Edward sangat menyayangi adiknya."


"Dia tidak akan pernah membiarkan adiknya lecet atau cedera sedikit pun." Daniel menambahkan.


"Kamu benar. Dia memang terlihat manja. Kamu tahu, apa yang mama pikirkan sekarang? Pertunangan kalian akan spektakuler! Para tamu undangan, wartawan, siaran langsung televisi, dan masih banyak kejutan lainnya."


Keduanya membayangkan sesuatu yang membahagiakan, indah, menarik, dan segala kesombongan lainnya. Sepertinya Daniel juga sudah melupakan Catherine, tetapi dia hanya mengingat Sarah dan beberapa saham yang akan didapatkan nanti.


Berniat untuk pergi ke kantor, rupanya Sarah datang. Dia sengaja datang pagi-pagi dengan membawa beberapa makanan kecil. Tentunya yang sangat disukai oleh Helena. Sarah tahu semuanya tanpa bertanya pada Helena.


"Selamat pagi! Apakah aku mengganggu kalian?"


Rona wajah Daniel terlihat senang sekali. Apalagi sepanjang malam dia terus memikirkannya. Pagi ini, wajah cantik itu muncul. Tentu saja ini adalah kebahagiaan yang sangat luar biasa.


"Tidak. Kemarilah! Ayo, kita sarapan bersama. Tante tidak menyangka kamu akan datang ke sini. Ingin bertemu dengan Daniel atau ada keperluan lain?" tanya Helena.


"Aku ke sini untuk mengajak Tante berbelanja, tetapi jangan salah paham dulu. Kakakku yang memintanya supaya aku dan Tante ... akrab. Mungkin seperti itu maksudnya."


Berbelanja adalah kegemaran Helena, tetapi untuk seminggu ini dia ingin berhemat karena untuk membeli gaun yang akan digunakan untuk pertunangan Daniel nanti. Selain itu, Daniel juga harus membeli sepasang cincin berlian.


"Tante, kenapa diam? Tidak suka, ya, dengan ajakanku? Oh, atau aku datang ke sini di saat yang tidak tepat," lanjut Sarah.


"Sarah, lanjutkan berbincang dengan Mama. Aku harus ke kantor sekarang. Seminggu lagi kita bertunangan. Aku tidak mau pekerjaan kantor terbengkalai. Aku pamit," ucap Daniel langsung keluar begitu saja.


"Hati-hati, Sayang!" balas Sarah.


"Kamu terlihat menyayangi putraku, Sarah," ucap Helena setelah melihat Daniel pergi.

__ADS_1


"Sangat mencintainya, Tante!" Sarah mempertegas ucapannya, tetapi itu dulu saat dia masih menjadi Catherine Eleanor. Sekarang, dialah Sarah Victoria, wanita palsu yang akan menghancurkan Daniel seminggu lagi.


"Sebenarnya tante ingin pergi bersamamu, tetapi tante harus sedikit berhemat." Helena menunjukkan jarinya bahwa kode berhemat adalah menyatukan ibu jari dan jari telunjuk yang diberikan sedikit ruang.


Sarah tersenyum. Dia merogoh tasnya untuk mencari dompet dan mengambil sesuatu dari sana. Ya, black card yang dipamerkan di hadapan Helena.


"Kita akan berbelanja menggunakan ini, Tante. Apakah Tante berkenan temani aku hari ini? Maksudku sebelum aku dan Daniel menikah. Oh, ya, ini juga makanan kesukaan Tante. Aku sering bertanya pada Daniel soal ini," jelas Sarah.


Siapa yang bisa menolak pesona black card itu? Helena saja langsung terpesona dan mengiyakan ajakan Sarah. Dia sempat melihat makanan yang dibawa Sarah dan Helena berseru gembira.


"Wow, ini pasti makanan buatan koki di mansionmu!"


"Iya, Tante. Maaf, ya, aku memang tidak pandai dalam hal memasak. Itu karena aku dan kakakku, kami baru bertemu beberapa tahun terakhir ini." Sarah tertunduk seolah menyiratkan kesedihan yang sangat mendalam.


"Oh, maaf, tante sudah membuatmu sedih."


Tentu saja Helena akan memilih pergi dengan sopir. Apalagi dia sudah menyusun list belanjaan di dalam otaknya dengan rapi. Kalau soal uang, belanja, dan pergi seperti ini, Helena cepat tanggap.


Berada di dalam mobil, berdua dengan Helena rasanya sesak sekali. Namun, Sarah harus tetap sabar. Dia juga tidak tahu, mengapa Edward menentukan pertunangan mereka seminggu lagi? Mengapa bukan besok saja? Atau lusa? Ini sangat terasa lama sekali. Apalagi harus pergi bersama Helena seperti ini. Berinteraksi, berbincang, dan menunjukkan pada semua orang bahwa mereka terkesan baik-baik saja.


"Sarah, kita akan pergi ke mana dulu?" tanya Helena.


Sesuai perintah kakaknya, Sarah tidak boleh membantah apa pun ucapan Helena. Kalau dia bertanya, Sarah harus mengembalikan pertanyaan itu.


"Terserah Tante mau ke mana. Aku akan ikut," jawab Sarah tegas dan tidak dibuat-buat.


"Tante ingin membeli cincin atau gelang. Bolehkah?"


Apa pun akan dibelikan. Mau membeli seluruh isi supermarket di pusat kota pun, Sarah akan mengabulkannya. Namun, tidak seperti itu konsepnya. Baru di awal saja, Helena sudah meminta perhiasan. Itu bukan masalah karena dia akan mendapatkan sebagian kecil dari harta anaknya yang sudah diserahkan kepada Sarah.

__ADS_1


"Kak Edward mengajarkan padaku untuk tidak menolak permintaan orang tua. Tentu saja Tante bisa membeli cincin dan gelang. Satu set pun tidak masalah, tetapi Sarah hanya mengantar saja. Sarah baru akan berbelanja di butik, tetapi Tante jangan khawatir. Kita ke toko perhiasan dulu."


Helena sangat dimanjakan. Saat Sarah menunjukkan black card yang dimiliki atas nama Edward Harrison, mereka langsung memberikan ruang khusus untuk memilih perhiasannya. Helena terlihat sangat bahagia dan sampai bingung memilih.


"Nikmati saja, Nyonya Helena. Detik-detik kehancuranmu tinggal menghitung hari," batin Sarah.


Satu set perhiasan dengan harga yang lumayan besar, tetapi Sarah tidak protes. Dia tetap membayar tagihan itu menggunakan black card.


Setelah itu, mereka pergi ke sebuah butik. Helena ingin membeli gaun yang akan dipakai saat pertunangan nanti.


"Gaun pertunanganmu dan Daniel nanti akan seperti apa?"


"Kakakku yang akan menyiapkan. Lebih baik Tante fokus saja untuk membeli gaun. Aku juga akan membeli beberapa gaun, tetapi bukan untuk pertunangan. Mungkin kami akan pergi bersama Daniel nanti."


Betapa luar biasanya keluarga Edward. Apalagi sampai memerhatikan sedetail itu. Helena merasa tersanjung kemudian memisahkan diri. Lagi-lagi Helena dimanjakan dengan pelayanan prioritas. Ini sungguh pengalaman belanja yang luar biasa. Semua orang juga mengenal Sarah Victoria, adik dari Edward Harrison.


Setelah puas berbelanja, bagian akhir yang paling menyenangkan adalah makan. Sarah membawa Helena ke sebuah restoran berkelas yang biasanya didatangi oleh orang-orang kaya sekelas kakaknya, Edward.


"Nah, ini bagian yang paling penting. Hidup juga perlu makan, kan, Tante?"


"Ah, iya, Sarah. Tante bingung mau makan apa? Menunya juga setebal ini."


"Tante pilih saja makanan yang paling disukai. Kalau Tante salah pilih, pasti akan membuang makanan itu, bukan?" Sarah sengaja menyindir Helena dengan kata-kata yang tidak langsung, tetapi dia merasa kalau wanita itu sangat tidak peka.


"Ya, kamu benar, Sarah."


Seharian ini Sarah sangat memanjakan Helena ke mana pun yang disukainya. Edward tersenyum lebar saat melihat beberapa notifikasi penggunaan black card-nya.


"Semoga Anda puas, Nyonya!"

__ADS_1


__ADS_2