CROMULENT

CROMULENT
Bab 11. Bertemu Brenda


__ADS_3

Baru saja selesai ribut dengan Brenda dan beberapa menit yang lalu dia keluar dari ruangan Daniel. Ponsel di saku jasnya berdering. Walaupun ini sudah agak siang, tetapi Daniel belum memakan makanan sedikit pun.


Melihat siapa yang menelepon dengan kondisi seperti ini membuat Daniel malas. Dia membiarkan ponsel itu sampai nada deringnya berakhir. Dia bernapas lega, tetapi beberapa detik kemudian ponsel itu berbunyi kembali. Panggilan dari orang yang sama, yaitu mamanya.


"Ya, Mam?" Akhirnya, Daniel memutuskan untuk mengangkat panggilan itu daripada nada deringnya seakan mengajak bertengkar.


"Daniel, bisakah kamu bantu mama?"


Suara Helena sedikit berbisik, tetapi Daniel mendengarnya dengan cukup jelas. Mungkin mamanya berbicara dengan mengendap-endap dan takut orang lain mendengarnya.


"Ada apa, Mam? Aku sedikit sibuk di kantor."


"Aku dan Sarah ... kami berada di toko berlian, tetapi uang mama tidak cukup untuk membelikan hadiah untuknya."


Lagi-lagi dengan berbisik. Hampir saja Daniel lupa kalau hari ini mamanya memang sedang pergi bersama Sarah. Wanita yang beberapa jam lalu sudah mendengarkan ungkapan cinta kilatnya, cinta yang tumbuh dari pandangan pertama. Mungkin tanggapan Sarah adalah Daniel terobsesi padanya seperti para pria pada umumnya.


"Ck, kenapa bisa begitu, Mam? Memangnya apa yang ingin dia beli?"


"The heart of kingdom ruby."


"Oh, ya, ampun! Kali ini Daniel tidak bisa membantu Mama. Itu harganya sangat mahal sekali, Mam."


Ingatan Daniel kembali ke masa lalu di mana Catherine adalah sosok yang menerima apa adanya. Perhiasan yang dibelikan untuk wanita itu tidak pernah mewah, tetapi selalu diterimanya dengan senang hati. Dari ketiga wanita yang dikenalnya, Catherine-lah satu-satunya wanita yang tidak banyak menuntut. Sayangnya, Daniel silau akan harta sehingga mendepak wanita itu dengan sesuka hatinya. Berharap mendapatkan ganti Brenda yang bisa memahami hidupnya, tetapi dia salah besar.


"Daniel, jangan begitu! Bagaimana nasib mama? Mama merasa malu di hadapan Sarah. Tolong mama!"


Daniel pusing. Daripada mendengarkan ocehan mamanya, dia memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak. Dia menjauhkan ponsel dan mengubahnya menjadi mode silent.

__ADS_1


Daniel frustasi. Setelah hampir dua tahun berpisah, baru kali ini dia memikirkan Catherine. Tidak ada jejaknya yang tertinggal. Dia juga tidak tahu Catherine pergi ke mana tanpa membawa bekal apa pun. Tidak ada uang atau barang berharga. Kalaupun dia sampai bunuh diri, mungkin akan ada berita kematiannya.


Pikiran Daniel bukan ke arah itu lagi. Justru dia malah memikirkan perdagangan manusia yang melibatkan wanita. Mereka dipekerjakan sebagai seorang penghibur atau wanita malam yang akan memberikan kepuasan pada pria hidung belang.


"Tidak mungkin! Catherine anti dengan hal kotor seperti itu. Mungkin saja dia sudah tiada sekarang. Ah, entahlah! Mengapa cuma dia yang terlintas di benakku sekarang?" Daniel mengacak rambutnya frustasi.


Sementara itu, Helena harus rela menahan malu karena Daniel tidak bisa membantu membayar harga kalung itu.


"Sarah, Tante minta maaf, ya. Kamu pilih yang lain saja. Mungkin sebuah cincin. Itu pun kalau kamu mau?"


Sudah Sarah duga. Daniel pasti tidak mau. Dia memang pelit dan sombong. Harusnya dia beruntung memiliki istri seperti Catherine di masa lalu yang tidak pernah menuntut. Kalau sudah seperti ini, rasakan saja dan tahan malu itu. Sebentar lagi Sarah juga akan membuat Helena semakin pusing dan akhirnya mengajak keluar dari tempat itu.


"Ah, baiklah. Harusnya aku menghubungi kakakku saja." Memang benar. Edward adalah kebanggaan sekaligus cintanya. Ini masih pembalasan ringan, belum sampai level tinggi.


"Maaf, ya." Helena merendah.


Ternyata selera Sarah memang tinggi. Terlihat dari penampilannya saat ini yang memakai perhiasan mahal. Selain itu, pakaian yang digunakan juga dibuat dari perancang busana khusus. Edward benar-benar memanjakan adiknya dengan segala kemewahan yang dia miliki.


"Baiklah, Sarah. Tante minta maaf. Bagaimana kalau kita makan di restoran?" Sebenarnya Helena ingin bersama Sarah seharian ini. Mungkin saja dia akan bertemu dengan teman-teman sosialitanya dan bersama Sarah akan menaikkan levelnya di mata mereka.


"Tante tidak akan mampu membayar makanan yang kuinginkan. Kak Edward biasa memanjakan aku dengan makanan enak yang harganya fantastis. Kalau Tante mau, akan aku tunjukkan restoran mahal itu. Bagaimana?"


Sarah sengaja menggertak saja. Lagi pula, dia memang tidak ingin apa pun selain memainkan wanita itu. Salah siapa sudah membuat Catherine frustasi dan putus asa?


Beruntung karena Catherine menemukan pria kaya yang bisa memberikan segalanya. Hubungan mereka pun bukan dilandasi karena rasa putus asa dari masa lalu, tetapi dari cinta dan penyesalan takdir. Mengapa mereka harus terpisah dengan cara seperti itu? Sekarang tidak lagi. Tinggal menunggu kehancuran Daniel dan keluarganya, kemudian mereka akan mengumumkan pernikahannya di hadapan publik.


"Baiklah. Kalau begitu kita pergi ke mana? Tante akan meminta sopir mengantarmu."

__ADS_1


"Tidak perlu, Tante. Aku ada urusan lain. Sebaiknya kita berpisah di sini saja." Sarah menunjukkan wajah malas bersama dengan Helena.


"Baiklah. Tante minta maaf, ya." Pikiran Helena saat ini ingin langsung ke kantor Daniel lalu memaki anak tunggalnya itu. Dia sudah membuat Helena malu di hadapan Sarah. Terlihat dari penolakannya bahwa Sarah enggan pergi bersamanya.


Helena meminta sopir mengantarnya ke kantor Daniel. Dia kesal karena gagal berkunjung ke mansion Sarah. Selebihnya dia menyiapkan tenaga untuk memaki Daniel sampai puas.


Sarah segera mencari taksi. Walaupun Helena tidak tahu tujuannya, tetapi Sarah ingin pergi ke kantor Edward. Dia akan mampir ke restoran untuk membelikan makan siang mereka.


Di sinilah Sarah sekarang. Duduk di sebuah restoran menunggu makanan yang akan dibawa ke kantor Edward. Namun, saat dia berniat pergi ke toilet untuk merapikan riasannya, dia bertabrakan dengan Brenda.


"Aduh! Kalau jalan lihat-lihat!" pekik Brenda.


"Aku minta maaf," balas Sarah.


Saat mengetahui siapa wanita yang ditabraknya barusan, dia langsung ingat Daniel.


"Ah, kamu rupanya. Beruntung kita bertemu di sini. Aku ingin memperingatkan kamu, Sarah!"


"Ada apalagi, Brenda? Kita baru bertemu dan kamu selalu saja bersikap seperti itu padaku."


"Tentu saja karena kamu sudah mengacaukan segalanya. Daniel memutuskan aku karena wanita lain."


"Baguslah!" batin Sarah.


"Aku yakin kalau wanitanya itu adalah kamu. Menjauhlah dari Daniel!" lanjut Brenda.


"Wah, kamu siapa, Brenda? Kenapa mengatur kehidupanku? Mau dekat dengan siapa pun, itu bukan hakmu untuk mengaturku. Lagi pula, Daniel duda, sedangkan aku singel. Lalu, di mana letak salahnya? Kecuali kalau Daniel adalah suamimu, mungkin kamu bisa memperlakukan aku seperti ini. Sayangnya dia bukan siapa-siapa kamu, kan? Hanya sebatas kekasih!"

__ADS_1


__ADS_2