
Gemerlap ballroom hotel disulap sedemikian rupa sehingga terlihat luar biasa. Semua itu berkat kekuatan Edward dan uangnya. Tentu saja itu bagian terpenting yang diharapkan oleh Daniel.
Pertama kali masuk, beberapa orang sudah membicarakan dirinya. Betapa beruntungnya akan menjadi keluarga pebisnis kaya raya yang memiliki adik secantik Sarah. Selain itu, sorotan kamera terus saja melambai padanya seakan menunjukkan betapa tenarnya Daniel.
"Ini yang paling mama tunggu, Daniel. Setiap kamera mengarah padamu. Belum lagi bagaimana mereka memandang kita. Seperti seseorang dari kalangan atas!" bisik Helena.
Ya, Daniel menggandeng tangan mamanya untuk menunggu Sarah di sebuah kursi yang telah disediakan. Mereka datang lebih cepat 10 menit dari jadwal yang sudah ditentukan.
"Mama sudah tidak sabar untuk mengumumkan tanggal pernikahan kalian. Oh, ya, cincin pertunangannya sudah mama bawa. Jadi, kamu tidak perlu khawatir lagi." Helena mencoba menenangkan. Walaupun ini bukan pertama kalinya Daniel bertunangan, tetapi ini seperti perhelatan besar.
Sebelum memasuki area ballroom, tertulis nama besar Sarah Victoria dan Daniel Osvaldo. Beberapa bunga segar dengan baunya yang sangat wangi juga terlihat di sana. Suasana ballroom juga didekorasi seperti pernikahan pada umumnya, padahal ini baru pertunangan saja.
Para tamu undangan tampak mulai hadir. Begitu juga dengan Brenda yang iri melihat kemegahan pertunangan itu. Dari segi keuangan, Brenda memang jauh. Namun, wanita itu masih mencintai Daniel dengan sepenuh hati. Dia juga masih berharap menjalani hubungan seperti sebelumnya.
Melihat Daniel sedang berbincang, dia pun segera menghampiri untuk menyapa. Apalagi di tempat seluas itu, Brenda tidak mengenal siapa pun.
"Halo, Tante! Daniel!" sapa Brenda.
"Halo, Brenda. Apa kabar?" tanya Helena ramah.
Jika boleh memilih, keputusan Daniel untuk memilih Sarah adalah tindakan yang tepat. Tidak ada gunanya mempertahankan hubungan dengan eks sektretaris seperti Brenda. Walaupun dia cantik, tetapi soal kekayaan, Sarah-lah juaranya.
"Sedikit tidak baik, Tante. Kupikir yang ada di dalam acara ini adalah aku dan Daniel." Brenda melirik Daniel lalu kembali fokus pada Helena. "Kurasa Daniel memang lebih pantas bersanding dengan Nona Sarah yang terhormat, ketimbang wanita sepertiku." Brenda sengaja merendahkan dirinya.
"Oh, maaf, Brenda. Aku sangat menyesalkan keputusan itu, tetapi mau bagaimana lagi? Semuanya berjalan begitu cepat sehingga kami merasa kewalahan menghadapi semua ini. Terkadang kami merasa seperti mimpi." Jelas saja karena kenyataan untuk menjadi bagian dari Edward Harrison baru beberapa menit yang akan datang.
__ADS_1
"Sama sepertiku, Tante. Tidak masalah. Semoga Daniel tidak menyesali keputusannya!" Brenda masih belum bisa menerima kenyataan ini, tetapi dia tidak mampu melawan. Dadanya bergemuruh hebat seakan ingin menangis.
Namun, pada menit penghabisan yang seharusnya calon tunangannya datang, belum terlihat sama sekali keberadaannya. Daniel merasa cemas. Tidak mungkin Edward sengaja mengulur waktu hanya untuk memberikan kejutan padanya.
"Mengapa mereka belum datang?" tanya Daniel.
"Sabar, Daniel. Mungkin sebentar lagi." Helena mencoba menenangkan.
Sementara Brenda berharap bahwa wanita itu tidak pernah datang. Apa pun yang akan terjadi, dia berharap pertunangan ini gagal. Mengapa demikian? Brenda tidak rela pria yang dicintai menjadi milik orang lain. Susah payah bertahan sejauh ini hanya untuk mendapatkan status sah sebagai istri Daniel Osvaldo. Tidak masalah walaupun dia seorang CEO yang belum terkenal seperti Edward, tetapi Daniel adalah sosok yang menyenangkan.
Seperti memahami situasinya, rupanya salah seorang pegawai hotel itu memberitahu jika Edward sedikit terlambat. Ada urusan mendadak. Informasi itu bukan hanya omong kosong, tetapi salah seorang kepercayaan Edward yang menyampaikan padanya.
"Maaf, Tuan Daniel. Tuan Edward memang sedikit terlambat. Tunggu sekitar 10 atau 20 menit lagi. Kuharap Anda bersabar karena hari bahagia ini akan datang."
Beberapa tamu undangan malah membuat heboh. Tidak biasanya Edward terlambat seperti ini. Sepanjang mereka mengenal Edward, ini pertama kalinya terjadi.
"Nah, Daniel, kurasa semesta tidak setuju kalau kamu bertunangan dengannya," cibir Brenda.
"Jangan menambah beban pikiranku, Brenda! Mereka hanya terlambat datang, bukan kabur!" balas Daniel kesal.
Mereka kembali hening. Daniel beberapa kali melihat jam di tangannya. Waktu seakan berjalan begitu lambat. Dia memutuskan untuk keluar ballroom dan memilih untuk menjemput Sarah. Ini sudah tidak wajar karena keterlambatannya. Namun, saat dia berniat untuk keluar, seseorang mencekalnya.
"Tuan, Anda mau ke mana? Beberapa menit lagi Tuan Edward dan Nona Sarah akan sampai. Silakan duduk dulu. Oh, ya, ada persembahan dari Nona Sarah untuk Anda. Dia sengaja menitipkan pada kami sebuah video. Selagi Anda menunggu, kami akan memutarnya bila Anda berkenan," ucap orang itu.
Daniel mempertimbangkan ucapan pria itu. Tidak berpikiran buruk, tetapi seolah dipermainkan seperti ini.
__ADS_1
"Daniel, sabar sebentar. Lebih baik kita nikmati saja apa yang dititipkan Sarah untukmu. Mungkin ini semacam hadiah pertunangan. Dia juga berharap agar kamu tetap tenang dan menunggu sampai mereka datang, bukan?"
Akhirnya, Helena berhasil membujuk Daniel. Para tamu undangan pun diminta untuk duduk di tempatnya masing-masing. Mereka juga sempat merasakan hal yang sama. Bosan karena menunggu.
Sebuah layar besar yang akan menyala dari proyektor LCD. Mereka juga penasaran tentang hadiah yang diberikan calon wanita untuk prianya. Memasuki cerita video tersebut, rupanya menceritakan kisah seorang pria dan wanita. Mereka berpisah karena perselingkuhan suaminya dengan wanita lain.
Film itu seolah menggambarkan kisah masa lalu Daniel dengan seseorang. Dia jelas tidak akan melupakan namanya, tetapi mengapa Sarah memberikan hadiah film seperti itu?
"Ma, film ini seolah menyindirku!" Daniel semakin kesal.
Sementara Brenda, dia juga merasa tersindir saat pemutaran film itu berlangsung. Namun, pada detik-detik terakhir film itu akan usai, tiba-tiba sebuah suara membuatnya semakin terkejut.
"Kamu menyukai kejutanku, Daniel?"
Ternyata itu suara Sarah, tetapi dia belum terlihat di mana keberadaannya. Jelas itu bukanlah rekaman, tetapi suara asli Sarah dari tempat di ballroom itu. Hanya saja Daniel tidak bisa menemukannya.
"Itu hanya sedikit gambaran kehidupan di masa lalu. Kurasa aku tidak perlu lagi menjelaskan itu masa lalu siapa."
Lagi-lagi suara itu membuat darah Daniel mendidih. Susah payah membuat dirinya lupa pada Catherine, suara itu malah mengingatkan kembali pada masa itu. Perselingkuhan, perceraian, merampok hak milik istrinya demi kejayaan diri sendiri dan keluarganya, dan yang paling akhir adalah pengusiran yang tidak manusiawi.
"Sarah, di mana kamu? Jangan bermain-main denganku! Itu hanya masa lalu!" teriak Daniel.
Dia tidak sadar kalau semua orang sedang memandang ke arahnya. Terlihat begitu buruk bahwa calon tunangan Sarah Victoria memiliki masa lalu yang kelam.
"Wow, Anda sangat emosional sekali, Sayang! Bagaimana kalau kita datangkan Nyonya Catherine Eleanor ke hadapan Anda?"
__ADS_1