CROMULENT

CROMULENT
Bab 9. Ajakan Menikah


__ADS_3

Sarah baru saja naik ke ranjang setelah membersihkan diri. Semenjak pulang dari rumah Daniel, dia tidak melihat keberadaan Edward. Mungkin sedang di dalam ruang kerjanya atau ada keperluan penting dengan klien.


Ya, lebih tepatnya Sarah mencari karena merindukan pria itu. Beberapa saat yang lalu, Daniel mencoba merayunya. Mungkin lebih tepatnya memberikan cinta kilat padanya, tetapi Sarah sesegera mungkin menepis perasaan pria itu. Terlalu dini saja.


Seseorang masuk ke kamarnya setelah melihat knop pintu berputar. Terlihat wajah Edward yang sedikit kacau menurutnya.


"Baru pulang, Sarah?"


Sarah menggeleng. "Tidak. Beberapa menit yang lalu lebih tepatnya."


"Bagaimana? Apa dia kurang ajar padamu?"


"Tidak. Dia hanya–"


"Apa?"


"Menyatakan perasaannya saja."


"Ck, pantas saja. Dasar playboy cap kecoak! Memang harus dibasmi."


Sarah mengikik. Dia tidak bisa membayangkan kalau Edward benar-benar membasmi Daniel.


"Kenapa tertawa? Sepertinya kamu puas sekali setelah bertemu dengannya. Oh, ya, kalau boleh saran, aku ingin membeli perusahaannya saja secara langsung. Setidaknya dia akan pergi dari tempat ini."


Sekembalinya dari rumah Daniel, bukannya damai dan tenteram. Edward malah membuat kepalanya pusing.


"Daripada kamu marah-marah seperti itu, lebih baik kemarilah! Aku akan memanjakanmu." Benar-benar harus dibujuk.


"Aku tidak ingin apa pun, Sarah. Aku hanya menginginkan pernikahan kita."


Edward pria yang begitu baik. Walaupun Sarah sudah pernah menikah dengan Daniel, tetapi selama tinggal di kamar yang sama sekali pun, dia tidak pernah mengajak Sarah untuk tidur bersama. Hanya sebatas pelukan dan ciuman saja.


Edward naik ke atas ranjang. Meletakkan kepalanya di atas paha Sarah lalu dia menatap wajah wanita itu. Sempurna walaupun imitasi.


"Sayang, apa kamu menyukai wajahmu saat ini?"


"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Kita sudah sepakat untuk tidak membahasnya, bukan?"


"Tidak, Sarah. Aku merindukan sosok Catherine dalam dirimu."


"Sayangnya Catherine sudah mati sejak diceraikan secara sepihak oleh mantan suaminya!" jawab Sarah ketus.

__ADS_1


"Secinta itukah kamu pada Daniel?"


"Kurasa tidak, Edward. Aku hanya berusaha membuat orang tuaku yakin bahwa pernikahan kami bahagia. Perlahan aku terbiasa dengan keberadaannya dan tanggung jawabku sebagai seorang istri, tetapi–"


"Dia mengabaikanmu dan memilih Brenda."


"Lupakan itu, Sayang! Jangan buat aku bersedih. Bersamamu saja sudah membuatku kuat menjalani hari-hari. Andaikan kamu tidak lewat tepat di depanku, mungkin aku sudah tinggal nama sekarang."


"Hmm, pilihan yang bagus, Sayang. Kamu bunuh diri dan aku akan seperti ini selamanya."


Edward selalu manja. Walaupun jarak usia mereka lumayan jauh, sekitar 7 tahun. Tidak menjadikan sikap Edward dewasa. Bukan berarti dia juga manja saat mengurus pekerjaannya. Dia cenderung berkharisma saat berada di luar hubungannya dengan Sarah.


Sarah menutup mulut Edward dengan satu jarinya. Lalu dia menutup mata pria itu sejenak.


"Aku ada berita bagus untukmu, Sayang."


Edward membuka matanya. "Iyakah?"


"Tentu. Aku akan mulai merampok Helena dengan iming-iming hadiah yang diberikan padaku. Dia akan mengajakku pergi ke toko perhiasan. Aku akan berbelanja. Menurutmu bagaimana?"


"Tentu saja kamu bisa pergi. Gunakan gaya materialistismu. Bukankah kamu adalah adik dari Edward Harrison, pengusaha kaya raya yang nasib percintaannya mendapatkan kesempatan kedua?"


Sekali lagi Sarah dibuat tertawa dengan kelakuan pria itu. Sarah menunduk memberikan kecupan singkat di bibir pria itu. Itulah caranya untuk mengekspresikan cintanya saat ini.


"Menyambung hubungan lama kita, Sayang. Aku tidak tahu bahwa di luaran sana banyak gadis cantik, tetapi hatiku sudah tertaut padamu sejak lama. Sekali pun kamu meninggalkan aku, sampai sekarang pun aku masih mencintaimu."


Rayuan macam apa ini? Semakin ke sini, Sarah terikat secara emosional dengan Edward. Tidak hanya itu, penopang tunggal kehidupannya saat ini hanyalah pria di depannya yang sedang bermanja-manja itu.


"Mungkin aku terlihat jelek di matamu, Edward."


"Ah, lupakan saja, Sayang. Sekarang kamu menjadi primadona. Sebentar lagi akan banyak lamaran masuk untukmu, tetapi mereka tidak tahu bahwa kamu adalah calon istriku."


"Kamu benar. Pada saat mereka tahu kenyataannya, kamu akan menjadi orang pertama yang akan mereka habisi." Sarah mencolek hidung Edward.


"Kamu takut mereka akan menghabisi kita? Justru mereka akan berterima kasih padamu karena telah memberikan pelajaran berharga pada Daniel dan semua orang yang membuatmu terluka. Saat itu adalah kemenangan kita."


Edward benar. Demi memberikan pelajaran berharga dan mengambil apa yang menjadi hak, dia rela mengubah seluruh wajahnya.


"Edward, pergilah tidur! Ini sudah malam. Besok pagi kamu harus ke kantor dan aku mungkin akan pergi bersama Helena."


"Aku belum bisa tidur."

__ADS_1


"Kalau begitu pergilah ke kamarmu!"


Selama berada di mansion Edward, pria itu memang melarangnya masuk ke kamar pribadinya. Entah, di sana ada apa?


Justru Edward-lah yang akan mendatangi kamarnya saat ingin bermanja-manja seperti ini. Setelah mendapatkan peringatan, Edward memutuskan untuk turun dari ranjang. Dia memang perlu beristirahat karena jam sudah menunjukkan pukul 11 malam.


"Selamat beristirahat, Sayang!"


"Kamu juga, Edward."


"Aku mencintaimu."


"Aku juga mencintaimu."


Terkadang sikap seseorang berubah karena ponsel. Hal itu seperti yang dilakukan Brenda sepagi ini. Dia sudah menunggu Daniel di kantornya, padahal pria itu belum datang.


"Seharusnya kamu tidak mengabaikan aku, Daniel!" gumam Brenda.


Tidak lama, sebuah mobil berwarna merah yang selalu membuat jantung Brenda berdegup kencang kala itu. Kini terlihat biasa saja. Brenda butuh orangnya sekaligus penjelasan yang akan diberikan pria itu karena berani mengabaikan pesan dan telepon Brenda.


"Akhirnya, kamu datang juga, Sayang."


"Brenda, ada apa? Ini masih pagi dan aku belum sarapan. Mengapa kamu sudah berada di sini?"


"Kita bicarakan ini di ruanganmu. Aku tidak mau ribut di sini."


Benar saja. Rasanya Brenda sudah mendidih dan ingin memaki Daniel saat itu juga. Jika bukan karena Brenda masih menghargai kedudukannya sebagai bos di sana, mungkin dia juga akan mengungkit masa lalu mereka.


"Oke, duduklah! Mari kita bicara."


"Mengapa kamu mengabaikan aku seharian kemarin?"


"Aku sibuk dan banyak pekerjaan."


"Bohong! Kamu pasti bertemu dengannya, bukan? Sarah. Ya, Sarah Victoria. Wanita yang memiliki wajah kristal dan seperti bidadari itu. Mengaku saja, Daniel!"


"Ck, kurasa semakin ke sini kamu malah tidak bisa percaya padaku, Brenda."


Harusnya Daniel yang belajar mengerti Brenda. Selama dua tahun ini, Brenda-lah yang berjuang untuk bisa memahami Daniel. Walaupun pria itu belum memberikan status, Brenda masih sabar menunggu. Namun, tidak untuk hari ini. Brenda ingin keputusan terbaik dari Daniel.


"Kalau begitu, menikahlah denganku, Daniel!"

__ADS_1


Kejutan apalagi ini? Saat Daniel baru saja mengungkapkan perasaannya pada Sarah, pagi ini dia diminta menikah.


"Aku tidak bisa!"


__ADS_2