
Keesokan harinya giliran Daniel. Ya, Sarah menitipkan pesan pada Helena supaya datang ke mansion. Dia juga meminta pria itu untuk mengosongkan jadwal pekerjaannya dalam seharian penuh. Apalagi ini menyangkut persiapan pertunangan mereka.
Edward berniat untuk pergi ke kantor, tetapi dia mampir dulu ke kamar Sarah. Dia mengetuk pintu lalu masuk. Sarah baru saja keluar dari kamar mandi. Aroma sampo tercium sangat wangi sekali.
"Kupikir kamu sudah siap, Sayang."
"Belum, Sayang. Tikus itu akan datang ke sini sekitar jam 8. Jadi, aku masih memiliki beberapa menit lagi."
"Masih cukup panjang, Sayang. Bagaimana harimu?"
"Menyenangkan! Memberikan kebahagiaan selama seminggu, kemudian menghancurkannya dalam sehari. Oh, ya, mengapa kamu memutuskan pertunangan seminggu lagi, Sayang? Bukankah lebih cepat akan lebih baik?"
"Kemarilah!" Edward merentangkan kedua tangannya. Dia menerima Sarah yang masih menggunakan bathrobe dan menutupi rambut basahnya menggunakan handuk.
Edward menghirup aroma tubuh Sarah yang begitu wangi, membuatnya candu, dan rasanya sudah tidak sabar untuk memiliki tubuhnya secara utuh. Tinggal menunggu pertunangan lalu menikah. Setelah itu, Edward akan membawa Sarah pergi berbulan madu ke mana pun yang diinginkan.
"Kamu wangi sekali, Sayang. Aku sudah menahan diri selama 10 tahun. Aku sudah tidak sabar untuk hidup bersamamu dan kita akan berbahagia tanpa gangguan siapa pun."
"Bersabarlah sedikit lagi, Sayang. Aku pun menyesali takdir hidupku, tetapi aku sedikit tersenyum untuk itu. Ternyata uluran tangan Tuhan menyelamatkan aku melalui dirimu. Aku tidak tahu akhirnya akan seperti apa jika–"
Edward menutup bibir Sarah agar kekasihnya itu tidak bicara apa pun lagi. Dia ingin merasakan betapa hangatnya pelukan Sarah. Edward melepaskan pelukannya karena terburu-buru pergi ke kantor.
"Aku berangkat dulu. Ajak Daniel datang ke kantor dan kita akan pergi dari sana."
"Kamu melupakan sesuatu, Sayang."
"Apa?"
Sarah menunjuk bibirnya. Edward pun segera maju dan mengecup bibir itu kemudian pergi.
"Terima kasih. Sampai jumpa di kantor."
__ADS_1
"Hati-hati, Sayang!" Sarah melambaikan tangannya.
Sesampainya di kantor, Edward segera membuat list daftar tamu, tempat pertunangan, beberapa kebutuhan untuk menjamu para tamu, dan yang paling penting adalah video kejutan yang sudah disiapkan beberapa hari yang lalu. Dia tinggal menambahkan sedikit saja. Tidak lupa juga, dia mengundang pengacara yang sudah memegang surat perjanjian pengalihan harta kekayaan untuk Catherine.
Mengapa harus Edward yang mengerjakan? Mengapa bukan orang lain saja? Ya, Edward adalah sosok perfeksionis. Dia harus memastikan segalanya berjalan sesuai jalan pikirannya. Termasuk cinta dan hubungannya dengan Sarah. Dia bukan tipe pria yang suka mengekang, tetapi sangat fleksibel. Dia pun cukup royal.
Seperti dugaannya, Sarah dan Daniel datang tepat waktu. Sebelumnya, Daniel berusaha untuk menggandeng tangan Sarah. Namun, Sarah menolaknya dengan alasan takut pada Edward. Mereka baru boleh berpegangan tangan setelah resmi bertunangan dan Daniel pun berusaha tetap sabar.
"Halo, Kak. Apakah kamu sibuk?"
"Tidak, Sarah. Daniel, ayo, masuk! Duduk dulu. Kakak masih menyelesaikan beberapa daftar tamu untuk pertunangan kalian. Oh, ya, bagaimana denganmu, Daniel? Apa kamu sudah menyiapkannya? Jangan lupa bicarakan dulu dengan mamamu."
"Akan kukirim daftarnya esok hari ke email kantor, Tuan Edward." Daniel tidak memiliki akses langsung ke Sarah. Dia selalu lupa untuk memberikan nomor teleponnya.
"Ah, iya. Tidak apa-apa. Oh, ya, maaf kalau hari ini harus memintamu untuk ikut bersama kami. Ya, sebagai kakaknya, aku juga ikut campur pada pertunangan kalian. Sarah sudah menceritakan ke mana kita akan pergi, bukan?"
"Ya. Butik dan toko perhiasan. Mengenai ballroom hotel, Tuan Edward yang akan mengurus semuanya."
Waktu terasa begitu cepat sampai mereka tiba di sebuah toko perhiasan. Sesuai kesepakatan, Daniel akan membeli sepasang cincin berlian. Daniel sudah menemukan ukuran yang pas. Begitu pun dengan Sarah. Jadi, satu kotak cincin itu sudah sepasang dan berukiran sama.
Selain itu, Edward juga membeli sepasang cincin pertunangan. Hal itu membuat Sarah sedikit terkejut.
"Kak, kamu juga membeli cincin pertunangan? Untuk siapa? Siapa calonnya? Apakah aku mengenalnya?" Ya, Sarah cemburu.
"Adalah. Boleh kakak coba di jarimu? Kurasa calon kakak ukuran jarinya tidak jauh berbeda denganmu." Edward memasangkan cincin itu di jari manis Sarah dan Daniel tidak memiliki pikiran buruk tentang mereka.
Hanya sebuah keluarga yang saling mendukung satu sama lain. Ternyata cincin yang dibeli Edward adalah cincin pertunangan yang telah disiapkan, saat pertunangannya nanti bersama Sarah yang sebenarnya adalah Catherine, cinta pertamanya yang tidak pernah lekang oleh waktu.
"Kurasa akan ada Royal wedding sebentar lagi," ucap Daniel mencoba menggoda. "Kira-kira, siapa wanita beruntung itu?"
Edward tersenyum. "Nanti kamu dan Sarah juga akan tahu. Kuharap kalian bisa akur dengan istriku nanti."
__ADS_1
Sarah rasanya tersanjung diperebutkan dua pria di hadapannya. Satunya musuh dan satunya lagi adalah cinta pertama sekaligus malaikat penolongnya.
Setelah urusannya selesai, mereka segera pergi ke butik. Di sana, Edward meminta Sarah untuk memilih dua gaun. Tentunya itu yang akan dipakai dalam pertunangan nanti. Mengapa harus dua? Mari kita tunggu kejutan apa yang akan ditunjukkan Edward pada Daniel saat pertunangan mereka tiba.
"Itu sudah cukup cantik untukmu, Sarah," ucap Daniel.
Padahal Sarah tidak suka dengan modelnya. Terlalu tertutup sehingga kurang menarik. Namun, demi Daniel, dia pun menyetujuinya.
Sementara itu, pilihan satunya lagi memang sangat elegan dan Sarah menyukainya. Namun, ucapan Edward membuat Sarah semakin terlihat cemburu.
"Gaun itu untuk tunangan kakak. Jangan besar kepala dulu! Kakak sudah bicara kalau segera menyusulmu, Sarah. Kalau adiknya tunangan, kakaknya siap menyusul," canda Edward.
Sarah benar-benar cemburu. Dia keluar dari butik dan berniat untuk disusul oleh Daniel.
"Tunggu saja di sini! Kelakuannya memang seperti itu. Padahal dia yang mau bertunangan lebih dulu, tetapi malah kesal seperti itu. Tunggu sebentar! Aku akan mengejarnya."
Daniel melihat perhatian Edward begitu tulus pada adiknya. Rasa cinta dan kekhawatiran kepada saudaranya. Sungguh, Sarah beruntung memiliki kakak sepertinya.
Edward menarik tangan Sarah. "Kamu mau ke mana? Jangan bodoh, Catherine!"
Sarah terpaku saat Edward memangil namanya Catherine. Rasanya ingin memukul dada bidangnya yang setiap saat dirindukan, tetapi kali ini sudah membuatnya kesal.
"Kamu memanggilku apa?"
"Kamu pikir aku akan bertunangan dengan siapa? Jangan bodoh dan membuat Daniel curiga! Gaun yang kamu coba itu untuk pertunangan kita! Edward dan Catherine, bukan Daniel dan Sarah!" bisik Edward lembut di telinga Sarah. Dia memeluknya sangat erat.
"Aku minta maaf, Edward. Aku–"
"Cemburu yang tidak beralasan! Ingat, ya! Rencana kita tinggal selangkah lagi. Jangan ada drama memalukan seperti ini!"
Ya, Edward membawa Sarah kembali ke dalam butik. Dia menarik tangan wanita itu seperti pada anak kecil yang ketahuan membuat kesalahan.
__ADS_1