
Sarah datang ke rumah sakit bersama Edward. Pria itu tidak tahu lagi harus bersikap bagaimana. Walaupun sudah menjadi mantan, tetapi keluarga Daniel agaknya menjadi lebih dekat dengan calon istrinya.
Awalnya, semua tampak biasa saja. Namun, semakin ke sini, Edward menyadari bahwa dia malah di nomor duakan.
"Apa yang terjadi?" tanya Edward setelah Sarah keluar dari ruangan dokter.
"Helena mengalami serangan jantung. Tidak seorang pun keluarganya yang datang. Hanya Daniel satu-satunya yang dia miliki saat ini."
Dokter juga meminta Sarah untuk menjenguk Daniel pada keesokan harinya. Terlebih hanya Helena yang sering kali keluar masuk kamar putranya.
"Kau sudah menyerahkan penjagaan pada perawat untuk malam ini? Tidak mungkinkan kalau kau yang menjaganya?"
Sarah menggeleng. Dia datang karena panggilan pihak rumah sakit. Sebatas kemanusiaan saja.
Rupanya awal kecemburuan Edward menjadikan pertengkaran hebat di antara keduanya. Sesampainya di rumah, wajah Edward yang semula banyak senyum, selalu memuja Sarah, dan mencintainya sepenuh hati. Maka lain halnya dengan malam ini.
Pria itu langsung masuk ke kamar tanpa berpamitan lagi pada Sarah. Dia mengunci kamar tersebut dan berpesan pada maid supaya Sarah tidak mengganggunya.
Sarah terduduk di ranjang kamar. Dia melihat pantulannya di cermin. Ada rasa sesak yang menjalar di dada saat Edward mengabaikannya. Rasanya sangat sakit sekali, tetapi Sarah tidak ingin larut dalam kesedihan.
Pernikahannya sudah ditentukan. Justru sekarang Sarah dan Edward saling mendiamkan tanpa ada kejelasan. Hal ini wajar terjadi. Namun, Edward tidak menyadarinya.
Sarah pun menyadari kekeliruannya tentang keterlibatan Sarah untuk mengurus keluarga Daniel. Harusnya dia tidak bertindak terlalu jauh. Cukup sampai bertanggung jawab pada Daniel saja. Selebihnya biar pihak rumah sakit yang mengurus.
"Aku harus minta maaf pada Edward," gumam Sarah.
Sebelumnya, dia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Rasanya sangat sesak sehingga dia membuat butiran air yang mengalir dari shower begitu deras dan sangat menyentuh kulitnya.
Setelah itu, dia mengganti pakaian lalu meriasnya dengan riasan natural. Setelah itu, dia keluar kamar. Semenjak pulang dari rumah sakit, Edward tidak lagi datang ke kamarnya.
__ADS_1
Sarah mencoba mengetuk pintu, tetapi tidak ada respon. Justru sangat hening seperti tidak berpenghuni. Ketika upayanya tidak berhasil, seorang maid lewat di dekatnya.
"Nona, maaf kalau aku lancang. Tuan Edward tidak ingin diganggu oleh siapa pun."
Seketika Sarah pun kecewa. Dia kembali ke kamarnya.
Pada keesokan harinya, Sarah tidak lagi melihat Edward di meja makan. Pria itu berangkat ke kantor lebih pagi setelah meneguk secangkir kopi. Setelah itu, Sarah juga harus ke kantor untuk mengurus pekerjaannya.
"Aku harus mengirim pesan pada Edward. Setidaknya ini upayaku untuk meminta maaf."
Sayang, pesan yang dikirim juga tidak kunjung direspon. Mungkin saja Edward benar-benar kesal padanya, padahal Sarah tidak bermaksud membuatnya kecewa.
Hari-hari Sarah rupanya terasa hampa ketika Edward tidak mendukungnya. Begitu pentingnya pria itu pada kehidupan kedua yang dimiliki Sarah.
"Kau mengabaikanku, Edward. Aku akan datang ke kantor untuk menemuimu."
Seharian berada di perusahaan Daniel membuat Sarah lelah. Setelah mengakuisisi perusahaan itu, tampaknya Sarah lebih banyak mengurus pekerjaan ketimbang dirinya sendiri. Sampai pada merenggangnya hubungan dengan Edward.
Turun dari mobil dengan membawa buket bunga besar di tangan agaknya menjadi pemandangan tersendiri bagi karyawan Edward di kantor. Sarah terus melangkahkan kaki menuju ke ruangan Edward.
Sesampainya di sana, Sarah mengetuk pintu. Tidak lama, dia mendapatkan balasan dari dalam ruangan. Mungkin saja Edward tidak tahu kalau Sarah-lah yang datang.
"Surprise!" ucap Sarah dengan senyuman mengembang di bibir.
"Sarah?" Edward terkejut.
Rupanya upaya wanita itu untuk meminta maaf tidak main-main. Dia datang dengan beberapa hadiah di tangannya.
"Sayang, aku minta maaf."
__ADS_1
Sarah meletakkan satu buket bunga di atas meja kerja Edward. Pria itu tidak bisa berlama-lama untuk marah pada Sarah. Sebenarnya dia sangat mencintai, tetapi mendekati hari H pernikahan, kecemburuannya semakin meningkat.
"Kemarilah!" Edward menunjuk pangkuannya.
Sarah pun segera datang dan duduk di sana. Dia melingkarkan kedua tangannya di pundak Edward. Setelah itu, kecupan bibir langsung diberikan oleh wanita itu pada Edward.
"Aku minta maaf, Sayang!" ucapnya sekali lagi.
Edward tersenyum. "Kau paling tahu kalau aku tidak bisa marah terlalu lama padamu, Sayang. Aku juga minta maaf sudah mendiamkanmu semalaman. Jujur, aku juga sudah tidak tahan."
"Bersabarlah, Sayang. Aku berjanji untuk tidak lagi ikut campur urusan Daniel, tetapi apakah kau tetap mengizinkan kalau aku membiayai pengobatannya hingga mereka keluar dari rumah sakit? Aku janji tidak akan lagi datang ke sana karena aku akan meminta perawat mengurus mereka. Bagaimana?"
Bagaimanapun Edward juga tidak tega pada mereka. Sebagai wujud kemanusiaan, Edward sama sekali tidak menolak. Justru ini yang lebih baik.
"Oh, ya, apakah kau mau melihat persiapan pernikahan kita, Sayang?"
Selama ini Sarah sama sekali tidak fokus memikirkan pernikahan. Dia terus saja belajar banyak bisnis untuk menguasai kantor mantan suaminya. Walaupun Edward sudah mengajarkan banyak hal, tetapi masih ada beberapa hal lainnya yang perlu dipelajari.
"Tentu saja, Sayang. Aku minta maaf karena tidak becus mengurus persiapan pernikahan sendiri. Kau mau memaafkan aku, kan?"
"Tentu dan terima kasih hadiahnya."
Kunjungan pertama Sarah ke hotel yang akan menjadi saksi bersatunya cinta antara Catherine dan Edward. Sudah banyak persiapan dilakukan karena beberapa hari lagi mereka akan menikah.
"Aku sudah memikirkan semua konsep yang kau inginkan selama ini, Sayang. Kau pun akan menjadi Sarah Victoria. Kita akan menikah dengan identitas barumu. Jadi, apa pun yang terjadi di masa lalu sebagai Catherine, lupakan saja! Kita hidup di masa yang baru dengan orang-orang baru," jelas Edward.
Genggaman tangan Edward sangat erat sehingga Sarah tidak mampu lagi melepaskan. Pria itu sangat berjasa besar sebagai pelindung dan orang yang selalu mendukung di dalam segala situasi.
"Terima kasih, Sayang! Aku menghargai semua usahamu. Namun, bagaimana dengan rencana setelah pernikahan? Bagaimana kalau aku tidak bisa–"
__ADS_1
Edward tidak segan membungkam mulut Sarah dengan ciuman agar wanita itu tidak bicara lagi. Cintanya cukup rumit kalau sampai terpisah lagi. Apa pun kondisi Sarah, Edward akan menerima dengan lapang dada. Kalaupun mereka menginginkan anak, Edward bisa mengadopsi dari panti asuhan.
"Jangan bicara apa pun tentang masa depan, Sarah! Biarkan semua mengalir begitu saja dan kita akan mengarungi bahtera cinta bersama-sama. Aku siap menerima segala kekuranganmu!" tegas Edward.