CROMULENT

CROMULENT
Bab 21. Keram Kaki


__ADS_3

Terkadang kesempatan yang hilang, begitu kembali maka orang akan menggenggamnya sangat erat. Begitulah yang dilakukan Edward saat ini. Dia memang menyiapkan pertunangan Sarah dan Daniel, tetapi juga menyiapkan pertunangannya sendiri.


"Edward, kurasa baju Daniel terbawa di mobil kita. Bagaimana caraku mengantarkannya ke sana?" tanya Sarah ketika mereka baru sampai di kamar dan meletakkan tumpukan kotak itu.


"Kirim saja via kurir. Kenapa harus bingung? Oh, atau kamu suka datang ke sana?"


Sarah menggeleng. "Tidak. Aku malas kalau tidak begitu penting. Oh, ya, sampai acara itu tiba, aku benar-benar tidak ingin bertemu dengannya. Aku sudah melewatkan beberapa hari dengan meninggalkan kegemaran baruku, berenang sepanjang hari dan ditemani pria tampan sepertimu."


"Kamu mulai merayuku sekarang!"


"Bukan rayuan, Edward. Semacam ajakan kecil. Itu pun jika kamu berkenan."


Tentu saja Edward mau. Berenang dengan wanita yang dicintainya, bermain air, bercanda, dan menikmati makanan serta minuman buatan kokinya. Apalagi yang diperlukan selain kebahagiaan ini?


"Besok aku akan mengambil waktu seharian penuh berada di mansion."


"Edward, besok belum akhir pekan. Kenapa kamu tidak pergi ke kantor saja?"


"Lalu, Daniel akan datang ke sini dan mengajakmu pergi? Begitu?"


Sarah menggeleng. Buat apa mengharapkan kedatangannya? Kalau perlu, pertunangan itu langsung dihapuskan saja. Minta hotel membatalkan karena ada hal lain. Mungkin dia akan menyadarinya bahwa menggapai Sarah adalah hal yang mustahil.


Selama ini waktu mereka juga tersita untuk menyiapkan pembalasan yang akan dikenang Daniel seumur hidupnya. Bila dia tidak frustasi atau mengakhiri hidupnya. Itu kemungkinan terbesar, bukan?


Lalu, Helena akan menangis tersedu-sedu. Dia pasti langsung beringsut lalu bersimpuh di hadapan Sarah dan meminta maaf. Dia juga mengakui kesalahannya hanya untuk meminta Sarah mengembalikan keadaan seperti semula. Mungkin dia terbangun dalam keadaan bermimpi.


"Kamu selalu tidak percaya padaku, Edward. Apalagi yang perlu kubuktikan? Hidupku sudah bergantung padamu. Semuanya sudah kuserahkan."


Mungkin Sarah lupa. Edward hanya menyentuh bagian luar dirinya saja. Belum masuk seperti Daniel. Mantan suaminya sudah hafal setiap inci tubuhnya. Sekarang pun pasti dia masih ingat. Betapa mereka pernah berada di puncak kenikmatan bersama. Memadu kasih tanpa ada rasa ragu. Melakukannya penuh cinta dan sedikit rasa putus asa di akhir. Ya, itu karena Catherine mendengar kabar bahwa Daniel selingkuh.


Sejak saat itu, hasrat untuk bersentuhan dengan suaminya menipis. Sering kali Catherine mengurung diri di dalam kamar hanya untuk meyakinkan bahwa kabar itu adalah sebuah kebohongan. Sampai pada kisah di mana semuanya berakhir hanya dengan satu tanda tangan.

__ADS_1


Jarak keduanya kini begitu dekat. Setiap hembusan napasnya beradu. Beberapa centimeter saja sampai keduanya bersentuhan. Tubuh mereka serasa terbakar karena tersulut gairah.


"Edward, kamu menginginkannya?" tanya Sarah pelan.


Dorongan dari dalam diri Edward sendiri sangat ingin, tetapi ada hal lain yang membuatnya mundur beberapa langkah kemudian menghilang di balik pintu. Sarah bernapas lega.


"Maafkan aku, Daniel."


Daniel masuk ke kamarnya. Dia membuka pintu secara kasar lalu menutupnya kembali. Sebenarnya dia sangat ingin sekali melakukan itu, tetapi setiap melihat wajah Catherine sekarang, dia belum puas kalau belum menghancurkan Daniel. Dia tidak akan menikmati tubuh yang sedang menderita itu sebelum kemenangan berada di genggaman.


"Maafkan aku, Catherine." Edward mengepalkan tangan.


Sementara itu, Sarah benar-benar tegang. Dia memutuskan untuk pergi ke kolam renang. Dia tidak bisa tidur dalam kondisi seperti ini. Dia juga tidak tahu semarah apa Edward padanya.


Selama hampir dua tahun bersama, baru kali ini Edward menjaga jarak dengannya. Padahal Sarah merasa tidak melakukan sesuatu.


"Lebih baik aku berenang sekarang."


Berada sendirian di kolam renang membuat Sarah kesepian. Biasanya dia bisa tertawa bersama Edward, bercanda, dan saling memercikkan air.


Sarah berenang ke sana kemari dengan gayanya sendiri. Dia memang tidak bisa menirukan gaya atlet renang, asalkan dia tidak tenggelam di kolam itu saja sudah bagus.


Sepertinya Sarah kali ini kurang beruntung. Dia lupa melakukan pemanasan sejenak, tetapi langsung masuk ke dalam air. Kakinya terasa tidak bisa digerakkan. Dia seperti hampir tenggelam. Namun, satu nama yang dia teriakkan.


"Edward! Tolong aku! Edward!"


Edward memang berniat keluar, tetapi tidak untuk pergi ke kolam renang. Dia ingin pergi minum dengan beberapa koleganya, tetapi saat mendengar suara Sarah, dia langsung panik.


Edward merasa panggilan itu berasal dari kolam renang. Bergegas pergi ke sana karena salah satu maid mengatakan bahwa Sarah ada di sana.


Wanita itu sedang mencoba menepi, tetapi sepertinya ada sesuatu yang menghalanginya. Tanpa berpikir panjang, Edward langsung meluncur masuk ke dalam kolam renang. Berenang beberapa meter sampai bisa menjangkau Sarah.

__ADS_1


Kulitnya bersentuhan di dalam air. Ya, Edward berhasil menolong Sarah yang masih merasa kesakitan karena keram itu.


Edward mendorongnya untuk naik ke tepi kolam. Sementara dirinya masih berada di dalamnya. Dia ingin naik ke atas, tetapi mendengar suara Sarah mengaduh.


"Sakit, Edward." Sarah merintih.


"Lain kali jangan berenang sendirian. Kamu tidak tahu apa yang akan dihadapi. Bagaimana kalau aku tidak datang tepat waktu? Bagaimana kalau kamu tenggelam? Siapa yang akan kamu salahkan?" Bukannya mendengar Sarah, Edward malah mengomel sendiri.


"Kakiku hanya keram. Kenapa kamu semarah itu? Apa salahku?" Sarah mengeraskan suaranya.


"Kamu tidak salah, Sarah. Aku yang salah. Bagaimana kondisinya sekarang? Sudah membaik?"


Sarah hanya meluruskan kakinya. Mencoba menunggu rasa sakit itu mereda. Beberapa menit kemudian, kakinya bisa digerakkan lagi. Walaupun agak sedikit sakit, kemudian rasa itu benar-benar hilang.


"Kenapa kamu meninggalkanku?" Sarah berhak protes dengan kelakuan Edward sebelumnya.


"Aku hanya tidak ingin keterlaluan padamu, Sarah. Kita perlu ke rumah sakit sebelum melanjutkan hubungan itu."


Edward hanya ingin memastikan bahwa Sarah dan Edward sama-sama sehat. Kalaupun mereka pada akhirnya menikah, tidak akan ada lagi kesalahpahaman. Apalagi sampai menuduh Sarah mandul seperti tuduhan Helena padanya.


"Kamu ragu kepadaku?"


"Bukan seperti itu, Sayang. Helena ... kamu tahu bahwa dia sudah merendahkanmu, bukan? Kalau kenyataannya kamu sehat, itu artinya Daniel yang bermasalah."


Edward lagi-lagi menyebut nama bajingan itu. Rasanya otaknya kembali mendidih. Edward tidak tahan. Dia menarik Sarah untuk masuk ke kolam renang lalu memberikan ciuman yang begitu menggairahkan.


Sarah segera sadar. Jangan sampai ada maid yang melihatnya bahwa kakak beradik membuat skandal di mansionnya.


"Edward, jaga sikapmu!" tegur Sarah.


"Aku minta maaf, Sarah. Setiap kali aku menyebut namanya, rasanya ingin sekali merontokkan tulang-tulangnya."

__ADS_1


"Kamu mau ke mana?" Sarah memperhatikan kemeja Edward dan celana yang digunakan saat ini, semi formal.


"Klub malam."


__ADS_2