
Hari yang ditunggu tiba. Pernikahan antara Edward dan Sarah. Tentu saja hal itu mengundang banyak wartawan sebab status Edward masih menjadi pengusaha ternama tahun ini. Dia masih menduduki juara bertahan dan belum ada yang menggeser. Ditambah lagi kepiawaian Edward dalam menutup seluruh masalah yang membelitnya bersama Sarah.
Selepas janji suci diucapkan bersama, pernikahan mereka telah sah. Hal itu disaksikan oleh banyak orang, bahkan disiarkan di salah satu stasiun televisi sebagai pernikahan paling fenomenal tahun ini. Terlebih Edward sempat memalsukan data Sarah yang diakui sebagai adik kandungnya yang hilang beberapa tahun lalu.
Berita pernikahan Edward menyebar begitu cepat. Tentu saja hal itu juga diketahui oleh Daniel yang kondisinya sudah membaik. Hanya saja patah tulang kaki membuat kesulitan bergerak.
Penyakit jantung mamanya juga sudah diatasi dengan baik. Helena sudah kembali tersadar. Itu pun berkat perawat yang mengatakan bahwa Sarah Victoria sudah menyerahkan sepenuhnya pada pihak rumah sakit. Sementara biaya pengobatan selalu disuplai dari rekening wanita itu. Tentunya atas izin dari Edward. Jika tidak, Sarah tidak akan melakukannya.
"Kau terlihat sangat bahagia, Catherine! Aku menyakitimu di masa lalu dan sekarang aku telah mendapatkan hukumannya. Aku tahu kalau akhirnya kau akan mengambil semua yang seharusnya menjadi milikmu. Kau benar. Perusahaan yang kudirikan juga berkat campur tangan orang tuamu. Usaha yang dirintis dari nol itu hampir tidak bisa bernapas tanpa bantuannya. Aku tahu setelah kita bertemu dan menikah," ujar Daniel mengakui kekalahannya.
Ketika dia sedang menyaksikan pernikahan Sarah dan Edward, perawat memindahkan ruang rawat Helena berada di kamar yang sama dengan Daniel. Wanita itu terlihat masih lemah, tetapi dia benar-benar ingin berbincang dengan putranya.
"Daniel?" ujar Helena pelan.
"Mama, bagaimana kondisimu? Aku tahu dari perawat kalau kau sakit jantung."
"Ya, Daniel. Aku berutang nyawa pada Catherine. Hanya saja, aku masih belum bisa memaafkannya . Dia sudah mengambil semuanya, Daniel. Kalaupun mereka menikah, aku tidak rela dan berharap pernikahan mereka tidak bahagia!"
Tampaknya dendam di dalam hati Helena tidak bisa dihapus begitu saja, sekalipun dengan nyawa yang sudah diselamatkan oleh Sarah sendiri. Helena tetap tidak bisa menerima jika perusahaan belum dikembalikan kepada Daniel.
"Mam, sudahlah! Itu bukan salahnya, tetapi salahku!"
__ADS_1
Mengingat siapa yang bersalah, Helena teringat akan ucapan Brenda yang mengatakan bahwa Daniel lah yang tidak sehat. Putranya mengalami masalah, yaitu oligospermia.
"Daniel, apalagi yang kau sembunyikan dariku?"
"Mama bicara apa? Aku tidak menyembunyikan apa pun. Semuanya sudah kau ketahui, Mam."
Helena menarik napas panjang kemudian menghembuskannya. Dia menoleh ke arah lain karena tidak ingin melihat putranya sedih.
"Bagaimana dengan check up yang kau lakukan bersama Brenda? Kau menyembunyikan hasilnya, bukan? Kenapa? Selama ini kita sudah menuduh Catherine, tetapi kenyataannya kau sendiri yang bermasalah."
Seketika Daniel membeku. Gara-gara kejadian itu, Daniel sangat kepikiran. Selain itu, Brenda juga sudah menolaknya dan meminta putus. Apa yang diharapkan dari pria cacat sepertinya?
"Maafkan aku, Ma. Aku hanya tidak ingin membuatmu sedih. Sejak aku kecelakaan dan terbaring di sini, aku selalu memikirkanmu. Apa pun yang kita alami sekarang, itu bentuk balasan yang sudah kita terima dari akibat masa lalu kita. Jadi,–"
Helena jelas memikirkan masa depan putranya. Kalau perusahaan itu kembali, setidaknya Daniel bisa bekerja di belakang layar. Sebagai CEO, dia tidak perlu menunjukkan dirinya sendiri di hadapan orang lain. Cukup memilih orang-orang penting yang bisa dipercaya untuk menjalankan bisnisnya. Selain itu, Brenda kemungkinan bisa kembali pada Daniel.
Sementara itu, sebuah pesta pernikahan tampak sangat megah. Pasangan pengantin terlihat sangat bahagia. Mereka terlihat sangat cocok satu sama lain. Selain itu, Edward dan Sarah memang saling mencintai.
"Akhirnya, aku tidak menyangka kalau kita akan menikah, Sayang," ujar Edward. "Tentunya aku cukup sabar karena menunggumu begitu lama. Andaikan hari itu aku tidak keluar, mungkin kita tidak akan bertemu."
"Terima kasih, Edward. Kau selalu ada ketika aku dirundung duka. Selain itu, kau juga yang membuat aku bangkit dan kuat hingga hari ini. Jika tidak, maka kau hanya akan menemukan makamku saja." Sarah meneteskan air mata.
__ADS_1
Edward tidak suka di hari bahagia mereka ada air mata. Dia segera menghapus air mata itu dari pipi Sarah.
"Please, jangan menangis! Ini hari bahagia kita. Jadi, tolong jangan buat semuanya menjadi sesuatu yang menyedihkan. Kita akan selalu berbahagia, Sayang!" ujar Edward meyakinkan Sarah.
Sarah pun tersenyum. Dukanya sudah berganti kebahagiaan yang selama ini diharapkan. Bisa menikah dengan pria yang dicintai dan mencintainya. Sungguh kombinasi yang menyenangkan.
"Jadi, mau pergi berbulan madu ke mana?" tanya Edward lagi.
"Entahlah, Sayang. Kupikir tidak perlu terburu-buru. Masih banyak masalah yang harus kita selesaikan di sini. Selain itu, aku juga memikirkan bahwa aku tidak akan lagi bekerja di perusahaan yang kuambil alih dari Daniel," ungkap Sarah.
Sepertinya pembicaraan ini tidak tepat sehingga Edward menghentikan ucapan Sarah. Mereka fokus pada fotografer yang ingin mengambil gambar mereka untuk dijadikan dalam satu album berisi foto pernikahan.
Beberapa kali melakukan sesi foto dengan berbagai gaya, mereka kemudian beralih ke dansa romantis yang dikhususkan untuk pasangan pengantin. Setelah itu, beberapa tamu undangan pun mengikuti mereka.
"Kau lihat, nuansa musik klasik mampu membangkitkan cinta di antara mereka. Banyak pasangan yang bangkit karena terluka di masa lalu. Jadi, mari kita berdansa dan buat pencapaian yang baru. Pembahasan yang tertunda akan kita lanjutkan di kamar pengantin. Sekarang berbahagialah, Sayang!" Edward kemudian mengecup bibir ranum istrinya sejenak lalu melanjutkan berdansa.
Pegangan tangan Edward yang begitu kokoh di pinggang Sarah membuktikan bahwa cintanya benar-benar murni dan tanpa syarat. Walaupun mereka sudah berpisah selama bertahun-tahun, takdir kembali berpihak.
Alunan musik itu membawa mereka pada puncak acara, yaitu pelemparan bunga buket pengantin yang tidak pernah lepas dari acara pernikahan seperti itu. Pada akhirnya, salah satu orang yang berhasil menangkap bunga tersebut sehingga semua orang bersorak pada keberuntungannya.
Berbeda dengan pasangan pengantin baru itu. Setelah acara hampir usai, mereka memilih untuk meninggalkan ballroom terlebih dahulu.
__ADS_1
"Edward, mengapa terburu-buru? Acaranya belum usai!" protes Sarah.
"Aku sudah menunggumu terlalu lama, Sarah. Bagaimanapun aku adalah pria normal. Jadi, mari kita lakukan!" ajak Edward.