
Setelah berpisah dari Chaterine sekitar satu setengah tahun, suasana rumah selalu hening. Namun, tidak untuk kali ini.
Sejak pulang dari kantor, wajah Daniel terlihat semringah sekali. Dia juga bertanya kabar Helena. Biasanya diam membisu dan tidak ada perbincangan di antara mereka, kecuali hal-hal bersifat urgen.
"Mama rasa ada yang berbeda. Kenapa, Daniel? Apa ini gara-gara Brenda?"
Daniel langsung duduk tanpa memedulikan dirinya yang masih berkeringat. Rasanya tidak ingin mandi sebelum mengungkapkan semua yang dirasakan hari ini.
"Dia begitu cantik, Ma. Sangat cantik!"
Pujian ini tentunya bukan untuk Brenda. Helena bisa melihat mimik wajahnya yang membicarakan orang lain.
"Siapa? Apakah kamu bertemu seseorang?"
"Tidak hanya bertemu, Ma. Dia datang ke kantorku hari ini. Anggap saja ini pertemuan kedua kami. Mama tahu, kenapa aku bisa sebahagia itu?"
Helena menggeleng.
"Karena dia bisa minum kopi sama sepertiku. Aku baru menemukan sosok yang sempurna dan memiliki kebiasaan sama denganku. Mama harus bertemu dengannya. Mama pasti langsung suka."
"Iya, siapa? Apa mama mengenalnya?"
"Tidak. Dia baru datang dari luar negeri beberapa hari yang lalu. Mama tahu adiknya Edward Harrison? Pengusaha yang sukses beberapa tahun terakhir ini. Dia adiknya, Ma."
Tentu saja Helena penasaran. Nama Edward Harrison memang baru muncul akhir-akhir ini, tetapi Helena tidak tahu kalau ternyata dia mempunyai adik.
Secepatnya Helena mengambil ponsel lalu mengetikkan nama Edward Harrison di sana. Tentu saja itu akan memunculkan banyak gambar karena Edward sudah seperti selebritis papan atas.
"Apakah ini adiknya?" Helena menyodorkan ponselnya yang memuat foto Edward dan Sarah.
"Ya. Sarah Victoria. Cantik sekali, bukan?"
Helena berbinar. Dia merasa mendapatkan kebahagiaan yang baru. Tentang rencananya di masa lalu yang gagal, yaitu memiliki seorang cucu. Saat melihat Sarah, keinginannya tumbuh begitu saja.
Jika dibandingkan dengan Brenda, Sarah melebihi segalanya. Apalagi dia merupakan adik dari Edward. Tentunya Helena langsung membayangkan pernikahan mewah yang menjadi pusat perhatian orang seantero dunia. Mereka pasti akan mengelu-elukan keberuntungan putranya.
Daniel! Daniel! Daniel!
Seperti baru saja mendapatkan tropi kejuaraan. Mungkin seperti itu meriahnya pesta pernikahan impian dalam pikiran Helena.
__ADS_1
"Undang dia makan malam di rumah! Mama akan menyiapkan segalanya. Pastikan jangan sampai Brenda tahu."
Kali ini Daniel dan Helena sepemikiran. Dia setuju untuk menjemput Sarah ke mansionnya. Dia pun akan meminta izin baik-baik pada kakaknya.
Kalau melihat Edward sekilas, pria itu terlihat baik sekali. Dia rela membuat pesta penyambutan Sarah lalu memperkenalkan pada semua orang. Itu tidak akan membuat Daniel kesulitan mendapatkan izin.
Beberapa hari kemudian, Daniel benar-benar datang ke mansion Edward. Tentunya dia datang dengan membawa buah tangan.
"Maaf, Anda ingin bertemu dengan siapa, Tuan?" tanya maid yang menyambutnya.
"Apakah Tuan Edward ada di mansion?"
"Oh, sepertinya Anda kurang beruntung, Tuan. Harusnya Anda membuat janji dulu dengan Tuan Edward."
"Oh, jadi mereka tidak di sini, ya?"
"Tuan Edward sedang pergi mengantar Nona Sarah berlibur, Tuan."
Sepertinya ini adalah kesalahan fatal yang dibuat. Helena sudah menyiapkan makan malam istimewa, tetapi Sarah tidak ada di tempat.
Namun, sepertinya keberuntungan berpihak padanya. Sebuah mobil baru saja masuk. Sudah bisa dipastikan kalau itu adalah Sarah dan Edward.
"Tuan Daniel?"
"Maaf, Tuan Edward. Kedatanganku sangat mendadak. Aku hampir saja berbalik arah, tetapi kalian akhirnya datang juga."
"Tolong bawa barang-barang kami ke kamar masing-masing. Jangan sampai salah meletakkan. Sarah, sebaiknya kamu masuk dulu!" perintah Edward.
Edward harus mengantisipasi agar Daniel tidak melihat Sarah begitu mendalam. Jangan sampai instingnya membaca bahwa Sarah adalah Catherine. Walaupun dari tinggi badan tidak bisa dipungkiri memiliki kesamaan.
"Ayo, masuk!" Kini giliran Edward mengajak Daniel masuk lalu mempersilakan duduk di ruang tamu. Sementara dia ke kamar atas sebentar untuk melihat Sarah. "Tunggu sebentar! Aku akan ke atas. Ada sesuatu yang kulupakan."
Edward tetap tenang. Dia berjalan perlahan menaiki tangga. Sebenarnya bisa saja menggunakan lift, tetapi akan lebih jauh lagi untuk berputar.
Edward mengetuk pintu Sarah lalu masuk. Baru saja menikmati liburan bersama yang sangat romantis, tetapi sekarang manusia menyebalkan itu sudah muncul.
"Edward, ada apa? Aku baru saja mau mengganti kausku."
"Daniel di bawah. Kurasa dia ingin mengatakan sesuatu. Bagaimana kalau dia akan mengajakmu pergi?"
__ADS_1
"Ck, jangan cemburu begitu! Kita sudah menghabiskan waktu bersama untuk pergi berlibur. Ini misiku, Edward. Aku yakin kalau dia tidak akan memiliki niat buruk padaku."
Edward meletakkan bibirnya tepat di bibir Sarah. Mengecupnya sebentar lalu mundur lagi.
"Kenapa bisa seyakin itu?"
"Selama lima tahun aku memahaminya, Edward. Dia takut denganmu, Sayang. Kamu adalah penguasanya. Jangan takut kalau mereka akan menyakitiku. Justru semakin cepat, kita akan terlepas dengan mudah."
Sejauh ini memang cepat berhasil. Sampai pada kisah Brenda beberapa hari yang lalu. Tinggal memberikan sedikit sentuhan, maka Daniel akan berpisah darinya.
"Kalau begitu, turunlah! Aku akan mengganti pakaianku dulu," ucap Edward kemudian menuju ke kamarnya.
Sesungguhnya rasa cemburu itu membuat hati Edward membara. Belum lagi perlakuan Daniel di masa lalu yang sengaja mengusir Catherine dari rumahnya.
Tatapan mata Daniel dan Sarah segera beradu saat dia menuruni anak tangga. Penampilan Sarah tidak diragukan lagi. Dia begitu cantik menggunakan baju apa pun.
"Maaf, sudah membuatmu menunggu. Kakakku mungkin kelelahan, makanya dia memutuskan untuk masuk ke kamar. Jadi, ada apa kamu ke sini?"
"Oh, aku hanya membawa sedikit oleh-oleh. Sudah kutitipkan pada maid."
"Lain kali jangan repot-repot. Kami tidak kekurangan apa pun."
Ucapan Sarah barusan sama sekali tidak membuat Daniel tersinggung. Justru dia senang karena Sarah mau bertemu dan berbicara dengannya.
"Jadi, begini–"
Daniel menggantung ucapannya sampai dia menemukan kata yang tepat untuk disampaikan. Serba salah kalau Sarah menanggapinya secara sepihak.
"Mamaku mengadakan makan malam hari ini. Dia ingin mengundangmu untuk datang ke sana. Jika kamu tidak keberatan."
Sarah menarik napas panjang lalu menghembuskannya. Dia baru saja pulang berlibur, pasti sangat lelah untuk pergi lagi. Namun, Edward selalu mengatakan padanya untuk secepatnya mengambil kesempatan saat kesempatan itu terbuka lebar.
Tidak akan ada kesempatan kedua setelah kesempatan pertama terlewatkan. Mungkin ini adalah saat yang tepat.
"Aku setuju, tetapi–"
Daniel terlihat cemas. Takut kalau Sarah menolaknya. Itu sama saja menghancurkan keinginan mamanya.
"Apa, Sarah?"
__ADS_1
"Aku akan meminta izin kakakku dulu. Aku mungkin setuju untuk ikut, tetapi persetujuannya juga penting, bukan?"