
Sarah melamun di dalam kamar. Rencananya untuk melakukan konferensi pers mendadak dibatalkan secara sepihak. Tidak untuk hari ini karena Sarah ingin mengumpulkan tenaga.
"Brenda lebih beruntung daripada aku," gumam Sarah sambil melihat ke luar jendela.
Semenjak rencananya untuk mengambil alih perusahaan dan rumah suaminya, Sarah tidak seperti ini. Dia terlihat kuat, tetapi hari ini ucapan Brenda mematahkan semangatnya.
Pintu kamarnya diketuk. Edward masuk membawa satu nampan berisi makanan favoritnya. Dia meletakkan makanan itu ke atas meja di dekat sofa.
"Maid bilang padaku kalau kamu belum makan sama sekali setelah pulang tadi. Ada apa?"
"Aku merasa menjadi wanita yang gagal, Edward. Aku juga merasa tidak pantas bersanding denganmu." Sarah menunduk.
"Hei, calon istriku ada apa? Apakah sesuatu terjadi di kantor?"
"Ya."
Sarah menceritakan kedatangan Brenda. Brenda juga meminta agar dirinya mengembalikan apa yang sudah diambil dari Daniel. Tentu saja dia juga memamerkan bahwa saat ini dia sedang hamil anak Daniel.
"Jangan khawatir! Itu hanya anak tidak sah dari Daniel maupun Brenda. Tidak berpengaruh apa pun pada rencanamu yang sudah berhasil mendapatkan perusahaan. Tinggal rumahnya yang belum kita ambil. Tunggu saja dari pihak pengacara dan Bank yang akan mengurus hak milik atas dirimu."
"Aku merasa tidak bisa menjadi wanita sempurna, Edward. Bagaimana nanti kalau kita tidak memiliki anak?"
Cinta memang rumit. Anak adalah sesuatu yang diinginkan setelah pernikahan. Bohong kalau Edward tidak menginginkan anak. Tentu saja dia juga ingin mendapatkan penerus perusahaannya.
Namun, cinta Edward pada Catherine mengubah pandangan hidupnya. Dia bahkan rela tidak menikah demi bisa bersama dengan Catherine di masa depan. Setelah mendapatkannya kembali, mana mungkin Edward menyia-nyiakannya.
Genggaman tangan Edward secara mendadak membuat Sarah menoleh. Tentu saja ini bukan yang pertama, tetapi Edward seperti sedang menyalurkan kekuatan padanya.
"Ada atau tidaknya anak di antara pernikahan kita, aku akan tetap menyayangimu, Sarah. Biarkan pernikahan kita berjalan sebagaimana mestinya. Lagi pula, kita juga belum bertemu dengan dokter. Mungkin ada sesuatu yang menghalangimu sehingga belum bisa hamil. Tunggu saja! Aku yakin kalau kita bisa melewatinya bersama-sama."
Benarkah cinta senyata itu? Atau itu hanyalah cara Edward membesarkan hatinya saja? Kalau itu benar, alangkah baiknya hubungan ini disudahi saja. Biarkan Edward menemukan sosok wanita yang tepat. Tentu saja yang bisa melahirkan keturunan untuknya.
__ADS_1
"Apakah itu sejalan dengan kenyataannya nanti?"
Edward tidak tahu. Namun, yang dia tahu hanyalah ingin hidup bersama Sarah ataupun Catherine. Dia tidak peduli lagi karena Edward benar-benar sudah dibutakan cinta.
"Kita belum mencobanya, Sarah. Sebaiknya kamu makan. Besok kita akan pergi ke rumah sakit. Jangan pikirkan apa pun yang akan terjadi. Setelah hasil kesehatan kita keluar, kupikir tidak ada gunanya lagi menunda-nunda pernikahan. Semakin lama, semuanya bisa memudar."
Edward benar. Selama ini dia tidak tahu kesehatan organ reproduksinya. Termasuk kondisi sel telur dan sebagainya. Terlebih saat mengetahui bahwa Brenda bisa hamil. Itu artinya Daniel sehat dan Catherine sebaliknya.
Sementara itu, Helena sudah berada di dalam kamarnya. Dia melihat seisi rumah itu seakan menjadi hari terakhirnya di sana.
"Daniel, bukankah rumah ini juga sudah diambil alih oleh Catherine?" tanya Helena.
"Ya, tapi kurasa dia sedang sibuk di perusahaan hari ini. Oh, ya, Brenda akan datang ke sini. Apa Mama mau bertemu dengannya? Dia yang membantuku untuk mengambil kembali perusahaan dari Sarah."
Tentu saja Helena mau bertemu dengan siapa pun yang berada di pihak putranya. Setelah mengetahui bahwa Sarah adalah Catherine, penyesalan terbesarnya adalah karena silau pada harta dan kedudukan yang dimiliki Edward saat ini. Helena cemburu pada pencapaian pria itu.
"Tentu saja. Mama mau minta maaf sudah membuatnya tidak nyaman. Kalau dipikir-pikir, Brenda memang cocok denganmu, Daniel."
Itu sudah dipikirkan Daniel sejak beberapa tahun yang lalu. Tidak salah kalau dia jatuh cinta kepada sekretarisnya yang sangat luar biasa itu.
"Daniel, mengapa rumahmu sepi sekali?" tanya Brenda.
"Para maid sudah keluar dari rumah ini setelah mereka tahu bahwa aku bangkrut."
"Oh, astaga! Beritanya cepat sekali menyebar, ya!"
Daniel mengangguk. "Ayo, masuk! Mama ada di kamar."
"Kurasa kita perlu bicara di sini, Daniel. Aku sempat ke perusahaan untuk membuat Sarah berpikir ulang untuk mengambil alih perusahaan."
"Lalu, bagaimana tanggapannya?" Daniel penasaran.
__ADS_1
"Kurasa dia sedang berpikir ulang."
"Oh, ya? Memangnya apa yang kamu katakan padanya?"
Merasa tidak ingin ada yang mendengar, Brenda membisikkan sesuatu ke telinga Daniel. Beberapa detik kemudian Daniel tersenyum.
"Kamu berbohong?" tanya Daniel.
"Cuma itu yang kupikirkan, Daniel. Namun, mengapa aku juga tidak kunjung hamil?" Selidik Brenda.
Menilik kisah lama, harusnya kalau Daniel sehat, salah satu dari wanita yang pernah tidur dengannya harus hamil, bukan? Kalau Catherine saja tidak bisa hamil, begitu juga dengan Brenda. Yang patut dicurigai adalah kondisi kesehatan Daniel selama ini.
"Jangan katakan apa pun pada Mama soal ini. Lebih baik kita bicarakan hal lain saja. Akan kupikirkan selanjutnya harus bagaimana," ujar Daniel mencoba menghibur dirinya.
Ada hal yang lebih ditakutkan lagi, yaitu apabila Catherine menikah dengan Edward dan wanita itu bisa hamil. Itu artinya, yang bermasalah adalah Daniel sendiri.
"Halo, Tante! Apa kabar?" tanya Brenda ketika memasuki kamar Helena untuk pertama kalinya.
"Oh, Brenda, selamat datang! Tante minta maaf sudah berburuk sangka padamu. Kami tidak mengira bahwa semuanya akan seperti ini."
"Tidak masalah, Tante. Lagi pula, kita juga tidak pernah tahu bagaimana seluk-beluk keluarga Edward, bukan? Doakan Brenda supaya bisa mengambil kembali apa yang menjadi milik Daniel sebelumnya." Tentu saja ini yang harus dilakukan saat ini. Kalau sampai Daniel benar-benar miskin, Brenda juga akan memilih meninggalkannya lalu mencari pria kaya yang bisa membiayai seluruh hidupnya.
Kegagalan pertunangan Daniel dan Sarah membuat Helena berpikir ulang. Mungkin ada baiknya kalau Daniel bertunangan dengan Brenda terlebih dahulu sambil menunggu kembalinya perusahaan berikut rumah yang katanya akan diambil alih oleh pihak Catherine.
"Tante menyesal tidak peka terhadap sesuatu. Oh, ya, apakah kamu sangat mencintai Daniel?"
Helena bertanya seperti itu kemudian memandang ke arah Daniel dan bergantian pada Brenda. Agaknya mereka tidak menanggapi ucapan Helena barusan.
"Mam, jangan pikirkan itu dulu! Lebih baik kalian berbincang sebagai sesama wanita. Aku akan pergi ke dapur untuk mengambil minuman," ujar Daniel.
Pada dasarnya, Brenda hanya ingin bertunangan setelah Daniel kembali memegang perusahaan. Jika tidak, jangankan untuk kembali, cinta pun akan ditanggalkan saat ini juga. Kehidupan Brenda memang realistis. Ada uang, ada cinta. Tidak ada uang, tinggalkan Daniel!
__ADS_1
"Daniel benar, Tante. Kita bicarakan yang lain saja," ujar Brenda.