
Terjadi perdebatan panjang antara Edward dan Sarah. Semula Sarah ingin menggunakan gaun terbuka, menampilkan belahan dada rendah, dan rok dengan belahan tinggi. High heels yang cukup tinggi akan menunjukkan betapa seksinya Sarah.
"Ganti gaunmu!"
Ya, untuk malam ini, Edward sengaja meminta pihak butik untuk memberikan pelayanan di mansionnya. Tidak sulit bagi butik menerima tawaran tersebut. Apalagi Edward adalah pengusaha kaya yang memiliki adik begitu cantik. Mereka memang cocok sebagai kakak beradik.
"Kak, ini sudah bagus!" Sarah membantah.
Mereka memainkan peran sebagai kakak beradik karena ada pelayanan dari butik dan juga seorang make up artist. Edward yang menyiapkan segalanya dan saat ini Sarah sedang berada di kamar Edward.
"Maaf, Tuan. Kombinasi hitam dan kalung ini memang begitu pas. Nona Sarah terlihat sangat memukau," puji make up artist tersebut.
"Aku tidak suka! Minta dia ganti gaun merah itu. Lalu, rapikan rambutnya! Jangan buat tergerai seperti itu! Menjijikkan!"
Edward terus saja melakukan komplain pada hal-hal yang tidak disukainya. Sebenarnya Sarah suka memakai gaun hitam, rambut tergerai, menggunakan kalung, gelang, dan riasannya yang begitu mencolok.
Sementara itu, untuk gaun merah, rambut Sarah harus semi tergelung, dengan anting yang begitu menawan, tetapi tidak menunjukkan bagian tubuh yang terlalu mencolok. Intinya, gaun merah tidak terlalu menunjukkan keseksian tubuh Sarah.
"Nah, begitukan cantik!" puji Edward akhirnya.
Tugas make up artist dan pelayan dari butik tersebut selesai. Edward juga sudah membayar semuanya. Jadi, mereka pergi begitu cepat dari mansion Edward.
Pintu kamar ditutup, dikunci, dan tidak membiarkan seorang pun masuk. Edward memandangi Sarah secara intens dari ujung rambut hingga ujung kaki. Cantik, cuma itu yang bisa diucapkan saat ini.
"Edward, aku gugup."
Sarah masih duduk di meja rias di kamar itu. Walaupun kamar Edward terkesan maskulin, tetapi ada satu meja rias yang sudah disiapkan sejak lama. Harapannya bahwa suatu hari nanti Catherine-lah yang duduk di sana.
"Sebenarnya aku pun sama, Sayang. Kurasa ini adalah waktu yang tepat, tetapi apa kamu yakin bisa mendapatkan tanda tangannya?"
"Tentu, Edward. Menukar berkas tipuan dengan berkas asli. Cuma itu, kan?"
Edward masih memikirkan cara juga. Bagaimana Daniel menandatangani berkas asli pengalihan harta dan perusahaan tanpa membaca ulang isi berkas tersebut.
__ADS_1
Edward maju. Dia sedikit berjongkok. Menggenggam erat tangan Sarah, mencium punggung tangan itu, dan berlama-lama melakukannya. Setidaknya itu untuk mengurai rasa gugup keduanya.
"Kita lakukan bersama, Sayang. Aku tidak mau membiarkanmu berjuang sendirian. Percayalah kalau aku akan selalu bersamamu. Mengenai gaun yang aku komplain, aku harap kamu mengerti. Aku tidak ingin Daniel mengenalimu dengan gaun itu. Maafkan aku."
Sarah mengangguk. Pandangan matanya beradu. Ternyata keajaiban cinta bertahan sejauh ini. Walaupun Sarah sudah tidak memiliki siapa pun di dunia ini, tetapi Edward adalah penyelamat baginya.
"Jam berapa mereka akan datang?"
"Seperti biasa. Jam makan malam kita, Sayang. Lakukan yang terbaik dan aku juga akan melakukannya." Edward beranjak dari tempat duduknya berniat untuk memberikan kecupan bibir, tetapi ditahan oleh Sarah.
"Bukan waktu yang tepat, Edward!"
Akhirnya, Edward hanya mengecup kening kekasihnya itu. Setelah itu, Sarah kembali ke kamarnya. Edward bersiap mengganti pakaiannya lalu menunggu tamunya dengan tenang.
Helena, wanita paruh baya yang beruntung itu sedang bersiap. Dia berulang kali mengganti gaunnya karena merasa tidak cocok dengan selera Sarah. Sampai Daniel mengetuk pintu kamar itu berulang kali.
"Mam, cepatlah! Nanti kita bisa terlambat!" Teriakan Daniel menggema sampai ke kamar Helena.
"Ya, tunggu sebentar! Sekitar 10 atau 15 menit lagi, Daniel. Tunggu, ya!"
"Kurasa mama perlu gaun baru untuk pertunangan kalian nanti."
"Mama bisa pergi berbelanja dengan Sarah kalau mau. Nanti aku akan bicara padanya."
Mengingat kenangan buruk dengan Sarah, sepertinya Helena tidak mau lagi pergi dengannya. Akan lebih baik kalau dia pergi sendiri saja. Mungkin dengan tambahan sedikit uang untuk mendapatkan gaun yang lebih mahal dari yang biasanya dibeli.
"Tidak perlu. Mama akan pergi sendiri saja."
Mereka pergi ke rumah Edward, bukan pada akhir pekan. Jadi, jalanan pun terbilang lancar. Undangan makan malam jam tujuh, tetapi setengah tujuh malam mereka telah sampai.
Edward lebih dulu menyambut kedatangan mereka. Memang sengaja supaya Daniel bertemu dengan Sarah berdua saja. Ya, untuk memuluskan tanda tangan itu.
"Selamat datang, Tuan Daniel, Nyonya Helena!" sapa Edward.
__ADS_1
"Terima kasih, Tuan," jawab mereka.
"Panggil Daniel saja, Tuan Edward. Tinggal beberapa langkah lagi, Anda akan menjadi kakak iparku, bukan?"
Edward tersenyum. "Jangan berbangga hati dulu, Daniel. Keputusan ada di tangan adikku, bukan di tanganku."
Ya, Edward sengaja membuat Daniel gugup. Setidaknya itu akan impas dengan apa yang dirasakan Edward dan Sarah saat ini.
"Ah, baiklah. Aku menunggu keputusannya. Di mana Sarah?"
"Ck, sabar dulu, Daniel! Mungkin dia sedang bersiap, ya, Tuan Edward?" sahut Helena.
"Iya, Nyonya. Mari silakan masuk!" Edward membimbing mereka langsung ke meja makan saja. Apalagi acaranya hanya makan-makan biasa, tetapi sambil membicarakan acara pertunangan itu. "Silakan duduk! Anggap saja seperti berada di rumah sendiri." Edward perlu sedikit basa-basi.
Terlihat sekali bahwa hidangan di meja itu sangat mewah. Beberapa hidangan lainnya baru saja dikeluarkan. Tentu saja masih panas dan menggugah selera. Apalagi dapur mansion Edward dilengkapi dengan koki handal dari sebuah hotel bintang lima. Edward berani membayar mahal jika dia selera dan tentunya tidak pelit seperti Daniel.
"Terima kasih, Tuan." Kali ini hanya Helena yang menjawabnya.
Tidak lama, terdengar suara high heels. Walaupun tidak terlalu nyaring, tetapi keanggunan Sarah begitu terlihat. Gaun merah, make up yang luar biasa, kulitnya yang lembut, memesona, dan menarik. Begitu banyak pujian yang terlontar di dalam hati Daniel dan dia sangat beruntung bisa beristrikan Sarah.
Sarah tersenyum pada semua orang. Lalu, Daniel berdiri untuk menarik satu kursi dan mempersilahkan dia duduk.
"Terima kasih," ucap Sarah dengan suaranya yang lembut dan selalu dirindukan Daniel.
Setelah terlihat hidangan lengkap, Edward pun segera meminta mereka untuk langsung menikmatinya. Helena begitu antusias karena semua hidangan di hadapannya sungguh nikmat dan bercita rasa tinggi.
Mereka tidak banyak bicara sampai makan malam itu terasa begitu cepat berakhir, bahkan dessert buatan koki sampai habis tidak tersisa.
"Jamuan makan malam ini sangat luar biasa, Tuan Edward. Mungkin lain kali kita bisa melakukannya lagi," puji Helena.
"Terima kasih, Nyonya. Oh, ya, Sarah. Kamu bilang ada yang ingin dibicarakan dengan Daniel dan Nyonya Helena. Ayo, katakan saja! Kita juga akan membicarakan rencana pertunangan kalian, bukan?" tanya Edward.
"Ah, iya. Aku hampir saja lupa. Oh, ya, Daniel. Sebelum kita menentukan tanggal pertunangan itu, sebenarnya aku ingin membuat perjanjian pranikah denganmu. Kalau kamu berkenan, maka kita bisa bicara di ruang kerja kakakku," ucap Sarah.
__ADS_1
Daniel agak terkejut. Perjanjian pranikah seperti apa yang sudah disiapkan Sarah kali ini? Apakah sangat menguntungkan baginya atau malah merugikan?
"Kenapa terlihat kaku seperti itu, Daniel? Jangan khawatir! Aku bukan ingin mengirimmu ke hukuman gantung atau apa. Perjanjian pranikah kita akan menguntungkan kamu. Tenang saja," ucap Sarah lembut.