
Daniel mengatakan bahwa Sarah sangat sehat. Dia tidak perlu khawatir untuk tidak bisa hamil karena Daniel lah yang bermasalah. Rasanya tubuh Sarah bergetar hebat ketika mendengar penuturan Daniel. Itu artinya, perjuangan Edward semalam tidak sia-sia.
"Apakah aku perlu memberikan reward untuk pengakuanmu ini, Daniel?"
Mata Sarah berkaca-kaca sambil memegangi perutnya yang masih rata. Dia akan mewujudkan mimpi Edward yang diutarakan sebelum berangkat ke kantor pagi ini.
"Tidak perlu, Sarah. Aku hanya ingin meminta maaf atas namaku dan mama. Oh, ya, aku lupa. Selamat atas pernikahanmu! Kau layak mendapatkan kebahagiaan dari Edward. Kau pasti bahagia bisa memiliki anak nantinya."
Antara sedih dan senang bahwa dia akan mendapatkan anak dari pria yang amat sangat mencintainya. Begitu pun sebaliknya, Edward pasti akan bahagia bila mengetahui istrinya hamil. Namun, pengakuan Daniel tersebut tidak akan diberitahukan terlebih dahulu pada Edward sebelum itu nyata dan terbukti.
"Terima kasih."
Keduanya terdiam. Namun, beberapa menit kemudian, Sarah harus mengakhiri pertemuan tersebut. Terlebih hari ini ada meeting penting dengan klien.
"Daniel, aku minta maaf. Aku harus bertemu dengan klien. Bisakah kau tinggalkan aku sendirian?"
Secara tidak langsung, Sarah memang mengusir Daniel dengan caranya. Pria itu pun menyadari posisinya saat ini. Dia harus segera pergi sebelum Sarah benar-benar murka padanya.
Namun, ada hal yang menghentikan wanita itu untuk tetap menahan Daniel berada di dekatnya.
"Daniel, sebagai ucapan terima kasihku atas kejujuranmu hari ini, maukah kau menemaniku makan siang? Hanya sebagai ucapan terima kasih. Itu saja."
Daniel ragu. Sepertinya dia akan berhadapan dengan Edward apabila menyalahi aturan. Pria itu cukup kejam dengan memanipulasi Catherine menjadi seperti ini. Mungkinkah ini waktu yang tepat untuk membalas perbuatan pria itu?
"Bagaimana dengan Edward? Apakah dia tidak akan marah kalau istrinya makan siang bersama mantan suaminya?" Seketika Daniel merasa menang atas pria itu.
"Tentu saja tidak. Dia akan datang dan makan siang bersama denganku juga. Aku tidak ingin mengecewakan suamiku tentunya."
__ADS_1
Keinginan untuk berdua saja bersama Sarah tampaknya menjadi sesuatu yang mustahil. Daniel harus bersabar menunggu kedatangan Edward karena dia harus mengikuti meeting dulu dengan klien.
Daniel melihat perkembangan pesat yang dialami mantan istrinya. Tentunya berada di tangan yang tepat, Sarah atau Catherine berkembang begitu cepat.
Edward yang menerima pesan dari sang istri agak terkejut. Baru saja menikah, tiba-tiba sang istri memberikan kejutan dengan memintanya untuk makan siang bersama dengan Daniel.
"Apa sebenarnya yang direncanakan pria itu? Mengapa dia mendekati Sarah lagi?"
Ada gurat kecemasan di wajah Edward. Meeting penting yang baru saja dimulai harus diselesaikan dengan cepat. Jangan sampai istrinya terkena pengaruh Daniel sehingga mengembalikan apa yang sudah diambil dari pria itu.
Waktu bergerak begitu lambat hingga Edward mempercepat meeting dengan meminta para klien untuk membaca ulang berkas presentasi yang sudah diserahkan pada masing-masing orang. Sementara itu, Edward bergegas pergi ke kantor Sarah dengan membawa hadiah.
Dia tidak bisa mengabaikan pekerjaan sekaligus istri yang sangat dicintainya. Semakin mendengar nama Daniel, kecemburuan Edward meningkat tajam.
Sesampainya di sana, Edward dikejutkan dengan keberadaan Daniel yang sedang menunggu Sarah di ruang tunggu perusahaan. Kedua pria itu bertatap muka dengan pemikiran masing-masing.
"Halo, Daniel! Apa kabar?" sapa Edward.
"Kabarku baik. Seperti yang kau lihat, aku seperti ini berkat istrimu juga. Dia yang memberikan pengobatan terbaik untukku dan mamaku. Kurasa dia tidak tega melihatku menderita."
Ada kata-kata yang membuat hati Edward tercabik sedemikian hebat, tetapi dia tidak boleh cemburu hanya dengan ucapan seperti itu. Sarah miliknya sekarang.
Hampir saja memanas, tetapi Sarah datang di waktu yang tepat. Dia melihat masa lalu dan masa kini yang berkumpul di ruangan yang sama.
"Sayang, kau datang juga. Aku merindukanmu!" Sarah menghambur ke pelukan sang suami kemudian memberikan kecupan bibir sebentar. Dia beralih menatap Daniel dengan posisi yang masih berpelukan dengan Edward. "Jadi, kita mau makan siang di mana?"
"Restoran X kurasa bukan pilihan yang buruk," ucap Edward meyakinkan.
__ADS_1
Restoran tersebut memang yang paling mewah dan hanya dihadiri kalangan menengah ke atas. Terlebih Edward adalah orang yang penting. Jadi, tidak sulit mereservasi atas namanya.
Tentu saja mereka sepakat karena Sarah berharap ini akan menjadi pertemuan terakhirnya dengan Daniel.
"Silakan pesan sendiri, Daniel! Kau bebas memilih makanan yang kau sukai. Kau pun bisa memesan makanan untuk diberikan pada mamamu," ujar Sarah ketika mereka sudah sampai di restoran.
"Kau jangan khawatir karena kami yang akan membayarnya," ujar Edward sedikit mengejek.
Daniel tidak peduli. Sudah lama dia menikmati makanan rumah sakit yang berbeda dari makanan restoran yang hendak dipesannya saat ini. Ketika dia hendak memesan, tiba-tiba Sarah pamit ke toilet. Inilah kesempatan Daniel untuk memanipulasi pria itu.
"Sayang, pesankan makanan untukku juga. Aku pamit ke toilet sebentar!" ujar Sarah.
"Hemm, pergilah! Jangan lama-lama karena aku takut kalau pria itu akan membuatku berada dalam kesulitan," canda Edward.
Ingatannya kembali pada cara Edward menjegal Daniel untuk membuat pria itu kalah dalam segala hal. Tidak menutup kemungkinan bahwa Daniel akan membalas perlakuannya.
"Jadi, apa kau ingin tahu apa yang kusampaikan pada Sarah hari ini?" tanya Daniel setelah pria itu memesan makanan.
"Kurasa itu tidak penting untukku. Kalau kau merasa itu penting untukku, mengapa kau tidak mengatakan langsung padaku? Mengapa harus melalui Sarah? Apa sebenarnya rencanamu, hah?"
Daniel tersenyum. Walaupun Edward belum mengikuti arus permainannya, itu bukan masalah. Daniel tahu betul siapa Sarah sehingga dia siap membalas kelakuan Edward juga.
"Sarah ... menurut laporan dokter bahwa aku baik-baik saja. Jadi, kemungkinan Sarah tidak akan bisa memiliki anak. Percuma kalau kau berjuang sekuat tenaga. Pada akhirnya, kau akan dikalahkan oleh takdir!" Ucapan Daniel benar-benar menohok.
Namun, Edward sama sekali tidak peduli. Jangan sampai gara-gara ucapan Daniel barusan membuat otaknya bekerja lebih keras lagi.
"Kau pikir aku akan terpengaruh ucapanmu, Daniel? Sama sekali tidak! Cintaku pada Sarah bukan hanya sekadar anak atau apa pun. Aku mencintainya begitu tulus. Ada atau tidaknya anak di antara kami, itu bukan menjadi masalah yang rumit. Jadi, jangan coba manipulasi aku dengan semua ucapanmu itu. Kupikir setelah kecelakaan kau akan sadar. Nyatanya tetap saja dan tidak pernah berubah. Aku tidak menyesal telah mendapatkan Sarah kembali. Justru aku sangat berterima kasih atas apa yang telah kau lakukan padanya sehingga kami semakin dekat," sanggah Edward.
__ADS_1