
Tadi pagi-pagi sekali Ririn sudah meneleponku. Dia memberitahuku jika dia jadi berangkat ke Lombok hari ini.
Ah..
Mungkin aku akan merasa kesepian selama seminggu ini.
Sebenarnya aku mempunyai lumayan banyak teman ketika kuliah hingga ditempat kerja ku yang terakhir sebelum di PHK.
Tapi mereka hanya teman biasa. Maksudku.. Itu hanya untuk obrolan yang umum saja.
Berbeda dengan Ririn. Aku bisa menceritakan apa saja padanya. Setiap apa yang aku alami, aku selalu menceritakannya. Bahkan semua keluh kesah dan juga rahasia. Meskipun tidak selalu mendapatkan solusi disetiap masalah, tapi itu cukup membuatku merasa lebih lega, dan tidak terbebani sendirian.
Ya! Aku sangat mempercayainya. Mungkin itu karena kami sudah berteman bahkan dari sebelum masuk sekolah taman kanak-kanak.
Dia selalu ada disaat aku membutuhkannya. Dan akupun selalu melakukan itu padanya. Kami saling melengkapi, dan kami selalu mendukung satu sama lain.
Apa aku sudah terlalu banyak bicara sekarang?
Tapi memang, mempunyai sahabat yang begitu setia itu, sangat menyenangkan.
Oh, ya! Hari ini aku akan bertemu dengan Mama. Ini membuatku bahagia, tapi disisi lain, tidak. Aku memang sangat merindukan Mama, dan aku sangat ingin bertemu Mama saat ini. Tapi itu dia, Mama ingin bertemu denganku, ingin membahas tentang perjodohanku dengan anaknya tante Riana. Itu membuatku kurang nyaman dan bahkan aku merasa sedikit malas.
Tadinya Mama akan menemuiku di kost-an, karena Mama ingin tahu seperti apa tempat tinggalku setelah meninggalkan rumah Mama. Itu layak atau tidak? dan Mama juga ingin memastikan kalau aku tetap menjaga pola makan dengan baik, istirahat yang cukup, dan menjaga pola hidup sehat.
Aku tahu Mama sangat khawatir denganku. Tapi aku merasa, sekarang belum waktunya untuk memberitahu tempat tinggalku pada Mama. Kau tahu? Mama akan mengunjungiku setiap hari jika Mama tahu tempat tinggalku. Dan aku akan merasa kurang nyaman dengan itu.
Aku kan mau mandiri.
Akhirnya kami memutuskan untuk bertemu di kafe, sambil sarapan. Karena ini masih pukul 8 pagi.
Aku melihat Mama melambaikan tangannya di teras kafe, sambil tersenyum ketika aku baru saja turun dari ojek online. Dan akupun menghampirinya.
"Assalamu'alaikum.." sapa ku, sambil mencium tangan Mama.
"Alaikumsalaam.." Mama memelukku. "Mama kangen banget sama kamu, kamu kangen gak sama Mama?"
__ADS_1
"ya kangen dong Ma,, kan baru kali ini kita berpisah untuk waktu yang cukup lama sejak aku lahir." Aku membalas pelukan Mama, dan Mama mengusap-usap punggungku.
"Mama kenapa belum masuk?" tanyaku sambil melepas pelukan.
"kan Mama nungguin kamu." Mama menggandeng tanganku. "yaudah, ayo masuk!"
Aku hanya mengangguk dan tersenyum.
Kami memilih duduk di kursi yang berada dipojok. Agar lebih terasa nyaman dan leluasa ketika membicarakan sesuatu yang cukup privasi.
Setelah memesan makanan, Mama langsung menanyaiku. Eh, tunggu! Ini lebih cocok disebut menginterogasiku. Ya, Mama meluncurkan begitu banyak pertanyaan tentang kehidupanku sekarang. Mama terlihat sangat khawatir bahwa aku tidak mendapatkan kehidupan yang cukup baik setelah meninggalkan rumah Mama. Tapi aku berusaha meyakinkan Mama untuk tidak terlalu mengkhawatirkanku.
"kamu pulang aja yuk, nak?" ajak Mama. "Mama janji gak akan ngelarang kamu berjualan, kalau kamu memang menyukai itu. Tetapi kamu tetap tinggal sama Mama. Mama cuma ingin memastikan kamu baik-baik aja.."
"maaf Ma.. Tapi kan aku mau mandiri. Sama aja bohong kalau aku tetap tinggal dirumah Mama." jawabku. " Udah, Mama gak usah terlalu khawatir, aku bisa jaga diri kok.. Aku kan udah besar Ma, udah bisa bedain mana yang baik dan mana yang tidak. Mama percaya kan sama aku?"
Akhirnya makanan datang juga. Aku sudah merasa sangat lapar.
Mama terlihat sedang berpikir. "begitu ya?" Aku mengangguk. "Ah.. tapi ini membuat Mama cukup lega.."
"kenapa Ma?"
Apa? Apa aku tidak salah dengar? Aku sudah melakukan sejauh ini untuk menghindari perjodohan itu. Tapi kenapa malah jadi begini?
Ternyata kamu salah strategi, Clara..
Ish..
"maksud Mama?"
"sekarang kamu sudah tumbuh menjadi dewasa, dan mungkin ini saat yang tepat untuk Mama melepaskan kamu menikah. Mama yakin, dengan pemikiran kamu yang cukup dewasa, kamu akan bisa menjadi istri dan ibu yang baik. Ini benar-benar membuat Mama tenang.."
Aku cukup merasa kebingungan dengan situasi ini. Aku harus menjawab apa sama Mama? Akhirnya, aku kembali fokus makan saja, karena perutku benar-benar merasa sangat lapar.
"Clara.. jadi gimana?"
__ADS_1
"hm?" aku mengangkat kedua alisku.
"tentang perjodohan kamu dengan anaknya tante Riana.. Apa kamu sudah memikirkannya? Tidak salah kan, jika kamu berkenalan dulu dengannya?"
"itu..mmm,, itu.. aku belum memimirkannya Ma.. Sepertinya aku memang belum siap.."
Mama menyodorkan sebuah foto, " kalau untuk sekedar melihat foto, kamu mau kan?" aku segera menahannya dengan tanganku dan mendorongnya tanpa melirik sedikit pun pada foto itu.
"untuk itu,, aku juga belum siap Ma.. Maafin Clara ya Ma.. Clara cuma mau fokus dulu jualan sekarang."
Aku melihat raut yang sangat kecewa di wajah Mama. Tapi aku benar-benar tidak menginginkannya saat ini.
Malah dipikiranku saat ini terlintas wajah Keisya. Bagaimana dengan anak itu? Apa dia baik-baik saja?
"yasudah kalau kamu memang belum siap. Mama tidak seegois itu. Mama ingin kamu bahagia dengan perjodohan ini dan tidak membuatmu merasa terpaksa. Jadi, lakukan saja semuanya dengan pelan-pelan, oke?"
Apa kata-kata Mama ini seolah sedang memaksaku secara halus? Maksudku,, Mama akan tetap menjodohkanku, cepat atau lambat. Tergantung dengan kesiapanku.
Lagi-lagi, aku hanya bisa mengangguk menjawab pertanyaan Mama, karena aku terlalu bingung untuk menjawab dengan kata-kata.
"hari ini kamu mau berjualan?"
Aku mengangguk lagi. "iya Ma.."
Meskipun ini sudah terlalu siang , yaitu pukul 10.30, tapi aku tetap ingin berjualan hari ini.
"kalo gitu Mama anter ya, Mama kan dateng kesini sama Pak Daud, supir baru Papa." ajak Mama.
"gak usah Ma, makasih.. tapi aku udah pesan ojek online, dan sekarang lagi on the way.. Mama duluan aja, hati-hati ya Ma.."
"iya,, kamu juga.. Bilangin sama abang ojek nya, jangan ngebut-ngebut!" kata Mama sambil mengecup keningku.
"iya Ma.."
Akhirnya Mama pergi. Tapi kata-kata Mama belum pergi dari pikiranku. Aku sangat bingung harus bersikap seperti apa? Dan aku harus menanggapinya bagaimana?
__ADS_1
Mamaku memang luar biasa. Sikap dan cara bicaranya memang lemah lembut, tapi dibalik itu menyimpan suatu pernyataan yang cukup tegas, yang membuatku tidak bisa berkutik.
Haish.. Mama..