
Ini adalah hari Senin. Entah kenapa aku merasa bahagia berjumpa dengan hari ini.
Apa aku benar-benar menunggu hari ini untuk mendapatkan informasi tentang pria itu? Apa aku benar-benar penasaran seperti apa dia?
Ahh,, tidak, tidak! Ini pasti karena aku ikut bahagia karena sahabat terbaikku mulai masuk kerja hari ini.
Iya! Pasti begitu..!
Setelah dipikir-pikir, ini setengah jam lagi sudah memasuki jam istirahat Ririn. Dan aku benar-benar membuat janji dengannya di jam makan siang Ririn.
Aku menuju kafe yang tidak jauh dari kantor nya Ririn dengan naik taksi.
Aku melihat seseorang melambaikan tangannya didalam kafe itu. Benar.. itu Ririn.
"Hai Clar.." Aku berpelukan sangat erat dengan Ririn seperti sudah sangat lama kita tidak bertemu..
"Hai Rin.. Gue kangen banget sama lo."
"kangen sama gue atau lo udah gak sabar denger info dari gue,heh?"
Aku melepaskan pelukan ku. "Ih.. udah pindah kerja, tapi lo tetep sama nyebelinnya!" Aku cemberut.
"baper banget sih lo? kan gue udah biasa bercanda kayak gitu.. kok hari ini lo jadi lebih sensi? Lagi dapet ya?"
"Udah, jangan banyak cingcong! Lo dapet info apaan?"
"Wahh.. Se-penasaran itu ya?" ledek Ririn.
"Cepetaaan.. ato gue mau balik aja kalo lo gak mau ngasih gue info itu!"
"Sabar napa sihh?" Ririn bergerak untuk mendapat posisi duduk yang lebih nyaman, dan dia berdehem. "jadi gini Clar.. Tadi itu pas gue baru turun dari taksi, gue lihat Pak Arman lagi ngejar anak kecil, terus anak kecil yang lagi lari itu nabrak gue. Gue lihat, anak itu lucu banget. Terus Pak Arman nyamperin gue sama anak kecil itu. Dan beliau minta maaf karena anak itu udah nabrak gue, lalu mereka masuk ke dalem kantor. Pas mereka udah masuk, gue tanya tuh ke security, siapa anak kecil itu?"
"terus?" Aku mengernyitkan dahiku karena penasaran, sambil terus menyimak dengan seksama cerita Ririn.
"tau nggak security itu bilang apa?"
"Apa?"
"Dia bilang, kalo itu cucu nya Pak Arman dari anak Pak Arman satu-satunya, dan ibunya sudah meninggal.."
"jadi maksud lo..?" aku dan Ririn saling bertatap dengan lekat.
"DIA DUDA..!" Kami berbicara dengan kompak.
Aku menepuk dahi ku.. Tidak tahu harus bagaimana menghadapi ini.
__ADS_1
Aku pulang dari kafe dengan tatapan kosong dan putaran pertanyaan di otakku.
Apa laki-laku itu betul-betul seoarang duda? Mama kok tega banget sih mau jodohin aku sama cowok yang status nya seorang duda? Apalagi punya anak. Aku kan belum siap punya anak, terlebih dia bukan anak kandungku.
Apa mama se-matre itu ya? Rela ngejodohin aku sama duda kaya?
Ya Tuhaaann,, aku bener-bener gak percaya, apa nasib ku se-malang ini?
Bahu ku terus bergidik, bahkan ketika aku tidak memerintahkannya.
****
"Clara, kamu sudah pulang?" Papa yang sedang membaca koran diteras rumah sambil minum kopi itu menyapaku.
Tapi aku hanya menoleh sebentar tanpa menjawab pertanyaan Papa.
Dan begitu masuk rumah, aku langsung masuk kamar tanpa menjawab pertanyaan serupa yang diajukan mama yang sedang merapikan taplak meja di ruang TV.
Aku langsung menjatuhkan tubuhku di kasur dengan cukup kasar. Dan beberapa kali mengusap wajahku dengan kasar juga.
Aku hanya bisa menatap langit-langit kamarku dengan putaran pertanyaan-pertanyaan yang terus terasa begitu menghantuiku.
Aku sudah memerintahkannya untuk berhenti, tetapi otakku sekarang benar-benar sedang kacau sepertinya. Semakin aku coba untuk tidak memikirkan itu, malah semakin keras otakku memikirkannya.
Bagaimana ini?
****
Sudah selarut ini aku belum bisa memejamkan mataku sedikit pun.
Ya benar! karena aku masih memikirkan masalah itu. Bagus sekali!
Sepertinya aku benar-benar sudah kehilangan akal. Aku sudah kehilangan akal untuk menemukan cara supaya aku bisa menghindari perjodohan ini. Apa? Cara? Ahh.. benar. Seharusnya aku memikirkan itu saja.
Bagaimana caranya supaya mama gak jadi jodohin aku?
Kalo mama ngajakin aku buat ketemuan sama cowok 'duda' itu, aku harus memberi kesan yang gak baik, supaya dia jadi ilfeel sama aku. Benar! Begitu kan?
Tapi,, kalo kayak gitu, sama aja aku mempermalukan orang tuaku. Pasti kesan mereka jadi jelek juga sama mama dan papa.
Tapi siapa perduli? yang penting aku terbebas dari perjodohan ini, kan?
'Gak bisa Clara.. Kamu gak bisa egois gitu. Sampai-sampai ngorbanin reputasi keluargamu demi satu keinginanmu!' kali ini malaikat disebelah kanan ku yang berbisik begitu.
Terus aku harus gimana dong??
__ADS_1
Kost!
Benar!
Tiba-tiba aku kepikiran itu. Supaya dengan alasan aku mau mandiri dan mengejar cita-citaku bisa mengundur perjodohan ini, bahkan membatalkan nya secara perlahan..
Ya.. Setidaknya hanya itu yang terfikir di otakku yang sedang kacau ini.
Semoga rencana ini akan berhasil..
****
"Apa yang kamu katakan sayang..? Kamu mau nge-kost?" Tanya mama, terkaget dengan keputusanku yang tiba-tiba.
Papa yang biasanya tidak banyak komentar, sekarang ikut menanyaiku juga. " Kenapa kamu bisa memikirkan itu Clara..?" Papa beranjak berdiri dari duduknya dan menghampiriku. "Apa kamu yakin? Lalu bagaimana cara kamu menghidupi dirimu sendiri? Kamu kan belum dapat pekerjaan lagi.."
"Aku hanya mau merasakan mandiri, aku gak mau terus ngerepotin mama dan papa.." aku menunduk. "Aku bisa melamar kerja secepatnya, atau.."
"atau?" Mama dan papa kompak mengatakan itu.
"Atau.. aku mau usaha.. jualan mungkin?"
"Memangnya kamu mau jualan apa? Lagipula kamu itu tidak ada pengalaman dalam hal itu Clara.."
"iya bener kata papa kamu sayang.." Mama menghela napas. "Nak.. Kamu itu seharusny merasa beruntung dan bersyukur, karena kamu terlahir dengan kehidupan yang serba berkecukupan. Mama juga gak ngerasa direpotin kok, justru mama seneng bisa mengurus anak mama dengan baik. Lagipula kamu itu anak mama satu-satunya, kalo kamu pergi pasti rumah ini sepi banget sayang.."
"Ma, please..! Ijinin Clara sekali ini aja. Clara bakalan buktiin sama mama dan papa kalo Clara bisa hidup mandiri.."
"Papa mau tau, sebernya kamu mau usaha apa sih, kenapa kamu se-pede itu? Lagipula, memamgnya kamu punya modal untuk usaha?"
"ya.. apa kek, misalnya.. jualan sop buah gitu? Clara kan punya tabungan..!"
"Apa? Mama gak salah denger sayang? Kamu itu anak dari juraga perkebunan teh, masa kamu mau jualan sop buah?" Mama dan papa tertawa geli.
"ya memangnya kenapa? Aku gak malu kok jualan apa aja, yang penting halal kan?"
"Iya.. Tapi, coba deh kamu pikir lagi,, apa kamu akan bisa bertahan dengan kehidupan seperti itu?"
"Aku yakin, aku bisa! Jadi please ya,, ijinin Clara.."
"Yaudah deh Ma.. biarin aja kalo dia udah gak mau dengerin omongan kita. Papa mau lihat, dia akan jadi seperti apa kedepannya!"
Yesssss!!!
Gak apa-apa deh meskipun Papa ngijininnya sambil setengah marah..
__ADS_1
Yang penting.... Bye DUDA....!!!!!!