
Drrrrrrrrrrrrrttt Drrrrrrrrrrrrrrrttt
'Assalamu'alaikum Ma?'
'Alaikumsalaam.. Kamu lagi apa nak?'
'ini aku lagi siap-siap mau berangkat jualan, emangnya kenapa Ma?'
'boleh gak Mama ajakin kamu ketemu sekarang? Sebentar aja..'
'Mmm.. ya udah boleh, dimana Ma?'
'di kost-an kamu boleh?'
Sepertinya, aku memang sudah harus memberitahu Mama dimana tempat tinggalku, karena aku tidak mau membuat Mama terus mengkhawatirkan ku.
'oke Ma.. gak apa-apa kalo Mama mau kesini.'
'ya udah kalau gitu Mama minta alamatnya ya..'
'iya Ma.. sekarang aku kirimin alamatnya.'
Mama datang setelah sekitar 20 menit aku memberikan alamat kost-an ku pada nya, dengan di antar oleh supir keluarga kami.
Aku yang sudah siap memilih untuk menunggu Mama di teras, biar bisa langsung menyambut Mama ketika datang.
Aku langsung berdiri setelah melihat Mama turun dari mobil tepat didepan pagar kost-an ku, lalu menghampirinya.
"Mama.." aku mencium tangan Mama dan Mama tersenyum.
Mama mengedarkan pandangan setelah aku membawanya masuk halaman dan menuju kamar kost ku. "jadi ini tempat tinggal kamu sekarang? Mmm.. lumayan bagus, tempatnya juga bersih."
"iya dong Ma.. aku kan memang harus bisa memilih tempat yang baik untuk aku."
"iya, ternyata kamu benar-benar sudah dewasa dan bisa menjaga diri kamu sendiri.. Mama bangga sama kamu.."
"gak usah berlebihan Mama, aku kan kayak gini atas didikan Mama dan Papa."
Mama tersenyum dan mengangguk. "terimakasih sayang."
"oh ya! Mama kesini bukan cuma mau lihat tempat tinggalku kan? Mama pasti mau bicara sesuatu. iya kan?"
Mama kembali tersenyum. "ternyata selain sudah dewasa, tetapi kamu juga sudah menjadi seorang peramal sekarang."
Aku hanya tertawa mendengar ucapan Mama dan mengajak Mama duduk di sofa didalam kamarku.
"ayo Ma, ngomongnya sambil duduk." lalu aku mengambilkan minuman dan cemilan.
"gak usah repot-repot, Mama kan bukan tamu."
"iya, tapi Mama lebih istimewa dibandingkan tamu."
Mama menghela napas. " Sayang, jadi gini. Mmmm.." Mama terlihat ragu ketika akan mengatakannya.
"ada apa Ma?"
"itu mmmm.. tante Riana mau ngajakin ketemuan sama kamu dan... anaknya.."
Aduh gimana ini? Apa aku bilang aja sama Mama kalau aku sudah punya pacar? Tapi, gimana kalau Mama kecewa sama aku?
__ADS_1
"aku.. aku bersedia Ma kalo cuma ketemu, tapi.."
"tapi apa?"
"kalo untuk perjodohan sepertinya aku gak bisa lanjutin, soalnya.."
Mama mengerutkan dahi. "kenapa sayang?"
Aku memejamkan mata sambil berbicara. "aku udah punya pacar!"
"oh ya? yang benar sayang?"
Aku mengangguk. "Mama marah gak sama aku?"
Mama tersenyum. "Mama mau lihat dulu orangnya seperti apa? Siapa sih pria yang sudah membuat anak Mama jatuh cinta?"
Aku tersenyum dengan ragu. "Mama beneran gak marah?"
"kenapa Mama harus marah?" Mama menggenggam tanganku. "tapi sebaiknya kamu temuin aja dulu tante Riana, dan kamu jelaskan semuanya, pasti tante Riana juga ngerti kok."
"gitu ya Ma?"
Mama mengangguk.
"baiklah.. kapan Tante Riana ngajakin ketemunya?"
"katanya sih, besok."
"oh.." aku mengangguk.
Ahh.. untung saja bukan hari ini. Nanti siang kan aku akan menjemput Keisya ke sekolah nya.
Tetapi aku langsung menyuruh Mama pulang saja ketika aku sudah turun dari mobil. Mama memasang wajah kecewa, dan lalu menyuruh supir untuk menjalankan mobilnya.
Meskipun mungkin sebenarnya Mama sangat ingin melihat bagaimana aku berjualan.
Aku melihat toko Keanu belum buka, padahal ini sudah jam hampir jam 9.
Tetapi tidak lama setelah aku selesai membuka dan membereskan bahan-bahan sop buah ku, terlihat motor Keanu berhenti didepan toko nya.
"selamat pagi pacar.." sapa nya setelah membuka helm dan turun dari motor.
Aku tersenyum. "selamat pagi.. tumben baru datang?"
"iya, soalnya tadi aku nganterin Keisya dulu ke sekolah."
"oh.. emang gak sama Mama kamu?"
"nggak, Mama lagi ada urusan di butiknya. Aku mau buka toko dulu ya.."
Aku mengangguk.
Aduh, kenapa aku jadi deg-degan begini? Setelah menemput Keisya, pasti Keisya mau aku ikut nganter ke rumahnya! Bagaimana jika aku bertemu orang tua Keanu? Dan bagaimana jika mereka tidak menyukaiku? Aku benar-benar khawatir dan juga sangat gugup.
Harapanku sekarang hanyalah, semoga nanti ketika aku mengantar Keisya pulang, orangtua Keanu sedang tidak ada di rumah.
Uhh.. Apa aku terlihat seperti seorang pengecut sekarang?
Entahlah apapun sebutannya sekarang. Yang pasti, aku malah merasa semakin gugup saat ini.
__ADS_1
Dan yang bisa aku lakukan adalah menarik napas panjang, lalu menghembuskannya.
Aku melakukannya berulang-ulang, sehingga sekarang kegugupan ku mulai terasa berkurang dan semoga saja nanti bisa hilang.
Aku berterima kasih pada pelanggan-pelangganku, karena berkat kesibukan ku untuk melayani mereka, hatiku jadi lebih tenang.
****
Drrrrrrrrrrrrrrrrrttt Drrrrrrrrrrrrrrrrrrrrttt
'halo Rin?'
'lo lagi apa Clar? jualan gak?'
'jualan, emang kenapa?'
'kita ketemuan nanti di jam makan siang yuk!'
'aduh sorry Rin, kalo hari ini gue gak bisa..'
'emangnya kenapa?'
'nanti gue mau jemput Keisya ke sekolah..'
'cieeee, yang udah jadi Mama.. Sekarang kerjaannya jadi antar jemput sekolah nihh? Sampe gak punya waktu buat gue.. '
'bukan gitu, soalnya gue udah terlanjur janji sama Keisya semalam..'
'iya, iya.. gue percaya! ya udah deh, gue balik kerja lagi ya.. bye..'
'iya, sorry ya.. bye..'
Aku mematikan sambungan telepon, dan ketika berbalik sudah ada 3 orang pembeli yang menunggu.
***
Seperti kemarin, Keanu membantu ku untuk menutup rolling door.
"udah?" tanya Keanu setelah aku mengunci rolling door nya.
Aku mengangguk dan mengikuti Keanu berjalan menuju motor. Lalu kami memakai helm dan naik. Tetapi setelah kami naik, Keanu tidak kunjung menjalankan motornya.
"kenapa belum jalan?" tanyaku.
Keanu menoleku ke belakang. "kamu ini, kemarin kan udah di contohin, kok malah diem aja?"
"apa?" tanyaku sambil memajukan dan memiringkan kepala.
Dia menarik kedua tanganku lalu melingkarkan di perut nya. "kamu pura-pura lupa ya? atau malu?"
Aku memukul lengan atas Keanu, tetapi kembali memeluknya. Dan dia tersenyum.
Ihh.. tidak tau apa? aku sangat malu di buat seperti itu. Mungkin dia sudah biasa melakukan itu bersama wanita lain sebelum mengenalku, terutama Mama nya Keisya. Mereka tentu saja sudah melakukan hal yang jauh lebih intim, sehingga bisa lahir Keisya. Iya kan?
Ya ampun.. apa aku sedang merasa cemburu sekarang? Tapi itu sebenarnya tidak perlu kan? Mama nya Keisya sudah meninggal, dan aku tidak perlu merasa cemburu.
Eh, tetapi.. jika.. Mama nya Keisya belum meninggal, maka aku tidak akan pernah bisa seperti ini dengan Keanu.
Benar tidak?
__ADS_1
Ahh.. Sudahlah..