
Bruuukkkk
Aku langsung menjatuhkan diri di kasur kesayanganku.
Ah.. Aku sangat merindukannya!
Drrrrtt Drrrrtt
'lo dimana? gue ke kost-an lo kok gak ada?'
Ah.. aku lupa memberitahu sahabatku tentang kepindahanku.
'sorry Rin, gue lupa ngabarin lo. Gue baru pindah dari kost-an'
'apa? terus lo sekarang tinggal dimana?'
'gue disuruh pulang sama Mama..'
'oh, kirain lo pindah kost-an. Kita ketemuan yuk!'
'jam berapa?'
'ntar aja deh jam makan siang, gue ada urusan dulu bentar.'
'lo gak kerja?'
'ini kan hari sabtu sayang..'
'oh ya, gue lupa. Yaudah, see you'
Mama menghampiriku ketika aku berjalan menuruni tangga dengan dandanan yang sudah rapi.
"kamu mau kemana sayang?"
"aku mau ketemuan sama Ririn Ma.."
"kenapa Ririn nya gak diajak kesini aja? Tuh Mama udah masak buat makan siang."
"gitu ya? Bentar deh, tanyain Ririn dulu."
Mama mengangguk dan membawaku duduk di ruang tv. Mama terus tersenyum sambil menatapku, aku jadi merasa tidak nyaman meskipun ditatap sama Mama sendiri.
"kenapa sih Ma liatin aku kayak gitu?"
"gak apa-apa.. Mama bahagia banget, bentar lagi Mama punya menantu baik kayak Keanu."
"ih, Mama apaan sih? Lebay!" aku mendelikkan mata, sambil berbalas pesan dengan Ririn.
"kok lebay sih? Emang kenyataannya gitu kok! Kamu sadar gak sih? Dia itu laki-laki yang sempurna untuk bisa menjadi suami kamu. Mama yakin, dia akan bisa merubah kamu menjadi manusia yang lebih baik lagi."
Aku berdiri dan meraih tangan Mama untuk di cium. "Ma, aku pergi dulu, makan siang bareng nya entar lagi aja ya, Ririn udah berangkat menuju kafe. Dah Mama..!" Aku berlari setelah mencium pipi Mama.
__ADS_1
"ya ampun Clara! Kok buru-buru gitu? Tadi omongan Mama gak di dengerin?" Mama berteriak.
Dan aku juga menjawab dengan teriakan dari pintu. "Aku denger kok Ma, nanti lanjut lagi ngobrolnya ya.." Aku berlari kedepan, karena ojol ku sudah menunggu didepan.
****
"hai.." Kami berdua kompak saling menyapa dan memghamburkan pelukan ketika sama-sama tiba di kafe.
"gue kangen banget.. udah lumayan lama gak dengerin curhatan sahabat gue." Ririn melepas pelukan. "gimana?"
"apanya?"
"ya kisah cinta lo sama Mr. Perfect itu lah.. apa lagi?"
Aku menghela napas sambil menyandarkan punggungku di kursi kafe. "ya.. gitu lah! Gue udah tau semuanya sekarang."
"apa? Tentang Keanu yang anaknya Pak Arman yang mau dijodohin sama lo?" Ririn menatapky antusias.
Aku mengangguk. "jadi itu maksud kata-kata lo yang waktu itu? kejutannya itu? Lo kenapa gak bilang dari awal sama gue sih?"
Ririn tersenyum. "ya.. gue mau lo tau dengan sendirinya. Jadi lo bakalan ngerasa sureprise banget kan?"
"gue waktu itu kayak mimpi Rin. Gak nyangka banget, ternyata gue dijodohin sama orang yang gue cinta.."
Ririn terus menanggapi semua curhatanku. Dia benar-benar sahabat yang bisa di andalkan. Aku merasa kebahagiaanku saat ini benar-benar lengkap. Dan aku rasanya tidak ingin melewati moment-moment seperti ini. Aku ingin terus mengalaminya. Tertawa dan bercanda tiada henti, seakan-akan tidak mempunyai masalah didalam hidup ini.
Tiba-tiba..
Ririn sepertinya terkejut melihat ekspresiku yang seperti itu. "lo kenapa Clar? Ada apa?"
Aku mengangkat tanganku yang bergetar seraya menunjukkan pada Ririn ke arah penglihatanku. "itu.."
Ririn mengikuti arah yang aku tunjukkan. Dan dia juga terlihat sangat terkejut. "itu Mas Keanu kan? Sama siapa dia?"
Tanpa menjawab pertanyaan Ririn, aku langsung melepaskan tanganku yang menggenggam tangan Ririn, dan beranjak pergi ke toilet. Ririn mengikutiku dengan segera kesana.
"Clar.. lo tenang ya!" Ririn memelukku.
"gimana mau tenang Rin? Sedangkan gue baru aja ngeliat cowok yang gue cinta dipeluk mesra sama cewek lain kayak gitu?!"
"ini bisa diomongin baik-baik. Lo samperin dia sekarang! Dan minta dia jelasin apa yang sebenernya terjadi! Siapa tau, ini gak seperti yang lo liat.." Ririn sangat berusaha menenangkanku. "gue yakin, Mas Keanu orangnya gak gitu Clar.."
"gak gitu gimana Rin? Gue lebih percaya sama yang gue lihat." air mataku sungguh tidak bisa berhenti mengalir. Aku tidak tau, kenapa rasanya bisa sesakit ini? Padahal sebelumnya aku tidak pernah seperti ini.
Ririn benar. Mungkin ini tidak seperti apa yang aku pikirkan. Tapi tetap saja, tidak bisa menghentikan air mataku.
Ririn menghapus air mataku. "udah Clar.. lo tenang dulu.. lo yang sabar ya.. gue yakin Mas Keanu gak kayak gitu." Ririn menghela napas. "sekarang jawab gue! Lo mau nemuin dia disana atau nggak?"
Aku menggeleng. "gue takut gak bisa nahan diri kalo berhadapan langsung sama mereka."
"yaudah kalo gitu, gimana kalo lo coba chat Keanu sekarang! Tanya, dia lagi dimana dan ngapain? Gue mau liat, dia jujur apa nggak."
__ADS_1
Aku mengangguk cepat. "oke, gue chat sekarang." dan air mataku ternyata sudah berhenti mengalir, tinggal isakan dan mata sembabnya saja yang masih ada.
'Mas, kamu lagi dimana?'
"gimana? dia bales gak?"
Aku menggeleng. "ceklis." Aku memperlihatkan ponselku pada Ririn. "gue harus gimana sekarang?"
"ayo kita keluar! Tanya langsung sama dia.." Ririn menarik tanganku, tapi aku segera melepaskannya.
"gue nggak bisa.. gue takut semakin emosional kalo berhadapan langsung."
"yaudah, kita pulang aja. Lewat belakang."
Aku mengangguk dan mengikuti Ririn.
Ririn mengantarku pulang, kebetulan dia membawa mobil pribadinya.
Sepanjang perjalanan aku hanya menatap keluar kaca mobil. Sudut mataku menangkap tolehan Ririn. Sepertinya dia ingin mengajakku bicara, tapi mungkin dia ragu, karena keadaanku yang seperti ini.
Tanpa terasa, Ririn sudah membelokkan mobilnya menuju pekarangan rumahku. Hatiku benar-benar terasa kosong, tidak tau apa yang harus aku lakukan.
Ririn mengantarku masuk ke rumah.
"eh, kalian udah pulang?" tanya Mama yang sedang asyik menonton tv.
Aku tidak menjawab pertanyaan Mama dan langsung menaiki tangga menuju kamarku. Sepertinya Mama betanya sesuatu pada Ririn, tapi aku tidak memdengar percakapan mereka.
Tok tok tok
"Clara.. buka pintunya sayang.."
"Aku lagi pengen sendiri Ma, biarin aku sendiri dulu!" Aku agak berteriak dari dalam kamar.
"baiklah kalo gitu. Kamu boleh cerita sama Mama kalo kamu sudah lebih tenang."
Aku tidak menjawab pertanyaan Mama, dan sepertinya Mama langsung pergi setelah berbicara kalimat terakhirnya.
Aku terus menatap layar ponsel. Berharap Keanu membalas pesan ku, dan dia akan menjelaskan semua ini. Yang aku harap, semuanya hanya salah paham.
Tapi sampai larut malam, dia tidak juga membalas pesanku. Bahkan membacanya saja tidak. Dan tanpa terasa, aku sudah bermain di mimpiku sekarang. Tapi disana juga tidak ada dia. Keanu..
Hahh..
DEAR READER.. KALAU KALIAN SUKA NOVEL KU, BOLEH DONG MINTA LIKE, KOMEN DAN VOTE NYA..
SATU KLIK JEMPOL KALIAN SANGAT BERARTI..
BOLEH KASIH SARAN DAN KRITIKAN JUGA YA..
MAKASIH..
__ADS_1