
Kami memutuskan untuk singgah sebentar di villa milik keluarga Keanu untuk menunaikan Shalat Maghrib. Lalu kami beranjak untuk pulang, tetapi Keanu terlebih dahulu mengajakku untuk makan malam di sebuah restaurant yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumahku. Dan setelahnya, dia mengantarku pulang.
Keanu memberhentikan mobilnya, dan aku beranjak turun dari mobil. Tetapi Keanu juga mengikutiku turun dari mobil.
"ya sudah, aku masuk dulu ya.." ucapku, seraya membalikkan badan untuk memasuki rumah, tetapi Keanu menghentikan langkahku.
"tunggu!"
Aku berbalik menghadapnya lagi. "kenapa Mas?"
"aku ikut masuk dulu, soalnya gak enak sama Mama kamu, tadi aku mengajakmu pergi tapi tidak meminta izin dari orangtua mu dulu."
Aku mengangguk. "baiklah.. Ayo!"
Aku dan Keanu masuk, dan mendapati Mama sedang menonton bersama Papa di ruang TV. Mereka menyapa kami dan Keanu meminta maaf kepada Mama dan Papa karena mengajakku keluar tanpa meminta izin mereka.
"ya sudah nak, tidak apa-apa yang penting sekarang kamu sudah mengantarkan Clara dalam keadaan selamat." imbuh Mama sambil tersenyum.
"terimakasih Tante."
"oh ya, Keanu.. Tadi Mama kamu nelpon Tante, katanya besok dia akan datang kesini untuk membahas soal acara pertunangan kamu dan Clara."
Keanu tersenyum, tetapi dengan ekspresi yang agak malu. "oh.. begitu ya Tan?"
"iya, memangnya Mama kamu tidak bilang?"
Keanu menggeleng. "belum Tan."
Papa yang biasanya hanya menyimak perbincangan kami, namun saat ini beliau angkat bicara kepada Keanu. "Nak.. sebentar lagi kalian akan segera meresmikan hubungan kalian. Om harap, kamu sudah siap menerima Clara sebagai istrimu, dengan segala kekurangannya." Papa memegang bahu Keanu, dan Keanu hanya menunduk dan menganggukkan kepalanya mendengar perkataan Papa.
"Om percaya padamu, kau pasti akan bisa menjadi imam yang baik untuk anak Om. Pinta Om, kau jangan pernah lelah untuk membimbingnya menjadi orang yang lebih baik lagi dan kau harus selalu menjaganya. Sebentar lagi kehidupannya akan menjadi tanggungjawabmu. Om mempercayakan semuanya padamu." Papa menepuk-nepuk bahu Keanu. Tetapi Keanu masih menunduk, dan tangannya mulai naik, menyentuh kedua sudut matanya.
"iya Om, saya berjanji akan menjaganya, dan kami akan sama-sama belajar untuk menjalani kehidupan yang lebih baik lagi." jawab Keanu dengan suara yang sedikit bergetar. Sepertinya dia sedang menahan air matanya yang akan terjatuh.
Tetapi berbeda denganku. Seketika aku langsung menghampiri Papa, dan memeluknya dari samping dengan air mata yang sudah deras mengalir.
"Papa.. Terimakasih atas segalanya.. aku minta maaf karena selama ini aku belum bisa menjadi anak yang baik. Aku selalu mengecewakan dan menyusahkan Papa dan Mama.. Maafkan aku Pa.." isakan terdengar disela-sela perkataanku.
Papa mengelus lembut rambutku. "Clara.. Papa dan Mama sangat menyayangimu, kami tidak pernah merasa kau menyusahkan, justru kau adalah sumber kebahagiaan kami."
__ADS_1
"benar kata Papa mu, sayang.. Justru Mama minta maaf sama kamu, karena waktu itu sudah memaksamu untuk dijodohkan. Mama sangat menyesal ketika kamu memutuskan untuk pergi dari rumah. Sebenarnya waktu itu Mama selalu mengikutimu bahkan ketempat jualanmu. Mama memperhatikanmu dari jauh."
Aku perlahan melepaskan pelukanku dari Papa, dan mengusap airmata yang jatuh dipipiku. "apa? Jadi selama ini Mama tau semuanya?"
Mama mengangguk. "tadinya Mama akan menjemputmu untuk pulang, tapi setelah Mama tau kalau kamu berjualan disebelah toko nya Keanu, Mama mengurungkan niat Mama." Mama tersenyum. "Waktu itu Mama berharap kalian bisa dekat dengan sendirinya, dan ternyata harapan Mama jadi kenyataan. Mama sungguh bahagia. Ternyata Tuhan sudah merencanakan pertemuan kalian dengan cara yang lebih baik."
Aku saling berpandangan dengan Keanu. Aku terkejut dengan apa yang Mama katakan. Dan itu membuat aku menyadari, bahwa garis jodoh sudah ditetapkan Tuhan bahkan sejak masih didalam kandungan. Bagaimanapun cara kita kita untuk menghindar, tetapi jika kita memang ditakdirkan untuk berjodoh, pasti akan menemukan jalannya sendiri.
Aku baru pertamakali melihat mata Papa berkaca-kaca seperti ini. Aku sungguh merasa terharu dengan apa yang terjadi saat ini. Dan air mataku pun berganti menjadi air mata kebahagiaan.
****
Ting tong .. Ting tong
Aku sedang membantu Mama memasak di dapur bersama Bi Ani ( salah satuART di rumah kami) , untuk menyambut kedatangan keluarga Keanu.
"nyonya, saya permisi sebentar mau membuka pintu." kata Bi Ani.
Tapi aku menghentikannya. "biar aku aja Bi.." kataku, sambil membuka apron.
Kreeeekkk
Terlihat dibalik pintu ada 4 orang yang berdiri. Yaitu Tante Riana, Om Arman, Keanu, dan Keisya. Aku langsung menyalami mereka.
"Keisya, setiap hari kan kamu ketemu sama Mama Clara, masa masih kangen?" Tante Riana menundukkan tubuhnya melihat wajah Keisya.
"tapi aku tetep kangen sama Mama.."
"Mama juga kangen sama Keisya." Aku tersenyum, lalu melepaskan pelukannya. "ya udah, kita masuk yuk! Mari masuk Tan, Om, Mas..!" Ajakku. "silahkan duduk..! Aku panggil Mama dulu di dapur.."
Aku berjalan menuju dapur, tapi Mama sudah terlihat berjalan kearahku. "mereka sudah datang?"
"iya Ma.. ayo!"
Tanganku bergelayutan menggandeng tangan Mama dan berjalan menuju ruang tamu.
"hai..!" Mama berpelukan dan cipika-cipiki berasama Tante Riana.
"mana Mas Yusuf?" Tante Riana terlihat mengedarkan pandangannya.
__ADS_1
"Papa nya Clara sedang mensurvei pabrik." jawab Mama.
"wah, benar-benar sangat sibuk Yusuf, sampai hari minggu pun dia tetap kerja." Om Arman menanggapi perkataan Mama.
Mama tersenyum. "hanya sebentar kok Mas, tadi katanya ada sedikit masalah di pabrik."
Tidak lama kemudian terdengar suara mesin mobil dan berhenti.
"nah.. itu Papanya Clara udah datang." kata Mama sambil beranjak untuk membukakan pintu.
"Assalamu'alaikum.."
"wa'alaikumsalaam.." kami menjawab dengan kompak.
"eh, tamu istimewa sudah datang?" Papa tersenyum sambil berjalan menuju arah kami dan diikuti oleh Mama.
Perbincangan pun dimulai dari pembicaraan yang ringan terlebih dahulu. Bisa dibilang, sebagai pemanasan. Sampai pada akhirnya, tiba pada pembicaraan serius yang telah direncanakan, yaitu menentukan hari pertunangan.
"kami sangat senang sekali, akhirnya anak-anak menyetujui rencana kita." kata Tante Riana. Lalu Tante Riana menggenggam tanganku. "bagaimana kalau pertunangannya kita lakukan minggu depan?"
"minggu depan? Apa gak terlalu cepet Tan?"
"sayang, lebih cepat kan lebih baik. Memangnya kamu tidak mau cepat-cepat tunangan dengan Keanu?"
"bukan gitu Tan. Maksud aku, kan kita butuh persiapan untuk melangsungkan acara seperti itu."
"kalau masalah itu, kamu tenang aja! Tante punya sahabat di bidang Even Organizer, dan sudah sangat profesional bahkan untuk acara dadakan."
"oh gitu ya Tan? Ya udah, kalau gitu terserah Tante, aku ikut aja.." aku tersenyum.
"tapi kamu gak terpaksa kan?"
"ya nggak dong Tan, aku malah seneng kalau Tante bener-bener merhatiin acara buat kami."
"ah.. sayang..!" Tante Riana memelukku.
Aku merasa sangat beruntung memiliki calon mertua yang sangat baik seperti Tante Riana dan Om Arman. Mereka menganggapku seperti anak kandungnya sendiri.
DEAR READER..
__ADS_1
JANGAN LUPA KASIH LIKE NYA YA..
AUTHOR SANGAT BERTERIMAKASIH, KARENA ITU MERUPAKAN PENYEMANGAT UNTUK AUTHOR UP TERUS EPISODENYA.