
****
Aku masih memutar otak memikirkan cara untuk mengusir si penjual duren.
Otakku yang lumayan cerdas ini benar-benar sudah kehilangan ide satupun.
Mungkin ini karena aku terlalu panik. Jadi, apa sebaiknya aku tidak terlalu memikirkannya?
Ahh.. untung saja hari ini jualanku laris manis, jadi aku nggak terlalu bete! Setidaknya.. sedikit terobati lah..
Mending aku membereskan meja yang penuh dengan mangkuk dan gelas yang berserakan.
Ya! ini adalah ulah dari para pelangganku. Dan aku tahu, ini resikonya saat aku berjualan..
Aku sangat fokus berberes, sampai-sampai aku tidak sempat menoleh saat aku sadar ada suara sepeda motor yang berhenti tepat di depan etalase ku, sepertinya.
"permisi.. Permisi mbak.. Saya mau pesan sop buahnya" terdengar suara seorang pria.
"ya?" jawabku sambil menoleh pada akhirnya. "mau berapa bungkus mas?"
Tetapi aku tidak mendengar jawaban dari pria itu.. Malah dia memiringkan kepalanya dan mengerutkan dahi. "Clara..? kamu Clara kan?"
"i..iya..!" jawabku bingung. " mas siapa ya? Apa kita saling mengenal?"
"ini aku, Aldo. Kakak kelas kamu waktu SMA. Kamu masih inget nggak?"
Aldo? kakak kelas?
ohh ya! kak Aldo! Aku hampir tidak mengenalinya karena, dengan potongan rambut yang berbeda, dan kulit yang lebih putih, wajar lah kalau aku tidak mengenalinya setelah kami tidak bertemu selama bertahun-tahun.
"oh iya.. Kak Aldo.. aku inget! Maaf kalo aku hampir tidak mengenali kakak."
"iya, gapapa.. itu cukup wajar, karena sudah hampir 6 tahun kita tidak betemu.."
Aku tersenyum, " oh ya.. sop buahnya mau berapa bungkus?"
"tiga bungkus aja!" jawabnya. "eh, tapi.. itu kamu kenapa pake penjepit di hidung kamu?"
"oh, ini.. karena itu!" aku menunjuk ke toko duren di sebelahku. "aku tidak bisa mencium bau durian, atau aku bisa mual seharian."
"tapi memangnya gak sakit?"
"ya.. sebenarnya lumayan sakit sih."
"wah.. kamu kasian banget..!" ucapnya, sambil mengelus rambut panjang ku yang kali ini aku biarkan terurai begitu saja.
Apa ini? Perasaan, aku gak se-akrab itu dengannya. Bahkan waktu dulu di SMA!
Tapi kenapa? kenapa sekarang dia berani pegang-pegang? Dan terlebih, ini baru pertama kalinya aku bertemu dengannya setelah bertahun-tahun.
Ish..
Aku berusaha memundurkan kepala ku agar tangannya segera terlepas dari rambutku. "gapapa kok kak, aku udah biasa."
Akhirnya dia melepaskan tangannya.
"Clar.. kamu kenapa jualan disini?"
__ADS_1
"emangnya kenapa kak? Gak boleh?"
"bukan gitu, tapi aku nggak nyangka aja, seorang Clara gitu mau jualan kayak gini? Maksudku.. Kamu nggak gengsi? Apalagi kan orang tua kamu kaya raya!"
"kenapa harus gengsi? Jualan itu kan cara yang halal untuk menghasilkan uang." Aku menghela napas. "Aku cuma mau mandiri.."
"iya, itu memang bener.." jeda " aku kagum sama kamu."
"gak usah lebay kak,, orang biasa aja kok!"
Aku meneruskan membuat sop buah pesanan nya. Sampai aku tersadar, sepertinya ada yang menatapku dengan begitu lekat.
Aku reflex meraba-raba wajahku.
"kenapa Clar?"
"Apa ada yang aneh di wajahku ya kak? kok kak Aldo ngeliatin aku kayak gitu?"
"oh, itu.. gak ada yang aneh kok, justru kamu terlihat sangat cantik, bahkan lebih cantik dari waktu SMA dulu."
"kak Aldo lagi ngegombal ya? Sorry ya kak, aku gak bakalan mempan digombalin kayak gitu.."
"Aku serius kok!" jawabnya sambil terus menatapku, yang terlihat dari sudut mataku.
"Aku mau sering main kesini, boleh kan?"
"buat apa?"
"ya, main aja, nengokin kamu!"
"emangnya kak Aldo gak sibuk? Gak kerja gitu?"
"ya.. kalo gitu sih terserah kakak, aku gak bisa ngelarang karena ini tempat umum. Siapa aja boleh dateng kesini."
"oke kalo gitu.."
"eh, tapi.. Kalo gak penting-penting amat sih mending gak usah keseringan, kan pekerjaan kakak lebih penting. Itu buat masa depan kak Aldo sendiri.."
Sebisa mungkin aku mencegahnya untuk sering datang kesini. Aku sebenarnya kurang merasa nyaman kalau ada yang 'mengganggu'. Apalagi aku lagi kerja.
"iya sih.. tapi kan.. kamu juga calon masa depanku.."
Apa? Apa yang dia katakan?
Fix! dia stress! Bisa-bisanya bicara seperti itu!
Aku tidak menanggapi yang dia katakan, aku lebih memilih mengalihkan pandanganku.
"hahaha.. aku sedang tidak bercanda, dan jangan kamu anggap ucapanku tidak serius!"
Apa-apaan ini? Dia bilang sedang tidak bercanda, tapi dia terus tertawa seperti itu. Aku masih tidak merespon perkataannya.
"yaudah kalo gitu, aku balik dulu!"katanya, dan aku menoleh. " jadi berapa semuanya?"
"24 ribu" setidaknya hanya kata itu yang bisa keluar dari mulutku.
"ini.." dia menyodorkan selembar uang setatus ribu, lalu dia menuju motornya.
__ADS_1
Aku mengambil kembalian yang ada didalam laci, tapi saat aku mau memberikannya, dia sudah berlalu begitu saja.
"kak Aldo! Kak!!"aku berusaha mengejarnya, tapi dia tidak bisa dikejar.
****
Setelah sampai rumah, aku menelepon Ririn, dan menceritakan kejadian tadi.
Sudah bisa ditebak, Ririn sangat kaget. Dan dia sangat antusias ketika mendengar nama Aldo, soalnya dulu pas SMA Ririn sempat menyukainya..
Ririn ingin aku mempertemukan dia dan kak Aldo. Aku tidak bisa menolak permintaan sahabatku yang sedari kecil menemaniku.
Waktu sudah menunjukan pukul 20.30 dan aku mulai merebahkan tubuhku di ranjang.
Eh? Bau apa ini? Sepertinya aku kenal.
Ya! tebakan kalian tepat sekali. Aku mencium bau duren yang entah dari mna datangnya.
Kenapa siih duren itu selalu mencampuri urusanku? kenapa dia selalu ada disekitaranku?
Ini sangat melelahkan!
Aku berusaha menghindarinya, tapi entah kenapa dia selalu mengikutiku kemanapun aku pergi?
Apa hidupku memang semalang ini?
Aku memutuskan untuk mencari tahu asal bau durian itu. Tidak lupa dengan penjepit di hidungku.
Dan begitu keluar, aku melihat ada kulit durian ditempat sampah kost-an, tepatnya di depan kamar sebelahku.
Wahh ini dia! Aku harus melabraknya, atau aku tidak bisa tidur semalaman.
Tok tok tok
Aku mengetuk kamar tetanggaku, dan ada yang membuka pintu.
kreekkk..
"siapa? Ada apa?"tanya seorang gadis seusia ku membuka pintu dengan jalan yang agak sempoyongan.
"aku Clara, tetangga kamu." aku memegang lengannya karena dia hampir terjatuh. "kamu kenapa?"
"kayaknya aku mabuk deh, kebanyakan makan duren!" katanya dengan mata yang setengah terbuka.
"apa masih ada kulitnya?" kataku. Lalu dia menunjuk ke arah meja yang terdapat kulit durian disana.
Aku mengambil air dengan wadah kulit durian, dan memberikannya pada perempuan itu.
"ini minum!"
slurrrpppp ahhh..
"wah, ini terasa segar! Sepertinya mabukku langsung berkurang. Oh ya, namaku Nadia. Makasih ya, kamu udah bantuin aku."
"sama-sama. Tapi kalau bisa kamu jangan buang kulitnya di tempat sampah depan ya..! Aku nggak kuat cium bau durian.."
"oh, oke.."
__ADS_1
Dia langsung membungkusnya dengan kantong kresek, dan membuangnya di tempat sampah umum.
Akhirnya.. Malam ini aku bisa tidur dengam tenang!!