
Seorang wanita cantik berlari dengan cepat menuju halte bus untuk mengejar bus terakhir. Wanita bernama Zefanya Eleanor itu berlari dengan kencang walaupun paha nya di balut dengan rok span dan kaki nya di bungkus oleh heels, rambut coklat panjang itu tetap terikat dengan rapi walaupun terus bergoyang.
Akhirnya Zefanya berhasil menghentikan bus terakhir nya, nafas nya terengah, ia menarik nafas lega mulai masuk dan memilih bangku paling ujung yang tersisa, Zefanya tersenyum ramah kepada Siswa Sekolah menengah yang duduk di samping nya, hingga membuat siswa lelaki itu salah tingkah, semua orang memperhatikan nya saat ini dan Zefanya sadar akan hal itu, ia sudah terbiasa menjadi pusat perhatian.
"Cantik sekali" puji seseorang.
"Kamu lihat dia cantik sekali" sahut yang lainnya juga.
"Aku jadi ingin punya pacar seperti dia sangat cantik"
Zefanya mendengar bisik-bisikan itu namun ia tidak ambil pusing, karena Zefanya merasa ia masih biasa saja, hari ini ia terpaksa naik bus karena Reno tidak bisa mengantarkannya.
15 menit berlalu akhirnya Zefanya turun di halte yang dekat dengan kantor nya yaitu Madava grup. Gedung pencakar langit paling tinggi di jakarta itu adalah perusahaan tempat nya bekerja, bahkan tulisan Madava grup terpampang besar dan jelas disana, perusahaan itu bergerak di bidang keuangan dan sudah banyak memiliki cabang dan anak perusahaan. Zefanya baru-baru saja di terima menjadi karyawan di Madava, ia berhasil lolos di antara ribuan manusia yang mendaftarkan diri, seleksi yang dilaksanakan juga sangat ketat, Zefanya baru bekerja 4 bulan di perusahaan tersebut.
Zefanya masuk ke dalam gedung besar itu melewati lobi dan menjadi pusat perhatian, sudah bukan rahasia lagi jika Zefanya Eleanor memang cukup terkenal di kalangan karyawan, bahkan nama nya juga berhembus dengan cepat ke bagian dewan direksi, direktur bahkan orang-orang penting di perusahaan tersebut, padahal Zefanya tidak mengenal mereka.
Zefanya di juluki dengan bidadari Madava, yaitu bidadarinya perusahaan Madava grup, tentu karena wanita itu sangat cantik, menawan dan sempurna, di tambah attitude dan daya tarik serta tekun dalam pekerjaan. Bahkan Zefanya hampir di promosikan jadi manajer dalam waktu singkat namun ia menolak hal itu dengan halus, tutur kata yang baik, sopan dan lembut menjadi nilai tersendiri bagi Zefanya.
Zefanya tiba di ruangan nya dan tersenyum kepada semua orang yang ada disana. Zefanya duduk di sebelah Davira , meja mereka hanya di batasi oleh penyekat.
"Ya ampun Zefanya, bagaimana bisa kamu terlambat, untung saja semua yang ada disini sayang sama kamu." tutur Davira dengan heboh.
Zefanya menghela nafas nya. "Mas Reno tidak bisa mengantarkan aku, jadi aku terpaksa berangkat sendiri naik bus angkutan umum."
"Ya ampun bus? Kamu sama sekali tidak cocok naik bus, kenapa tidak suruh suami kamu beli mobil aja sih, aku lihat dia selalu menjemput kamu naik motor."
Zefanya tersenyum kecil, ia sudah terbiasa dengan penyataan seperti itu dari banyak orang. Bukannya tidak mau, tetapi Reno belum mampu untuk membeli mobil.
"Tapi aku sudah terbiasa, lagian aku suka naik motor lebih romantis." jawab Zefanya terdengar memuakkan.
Davira menggelengkan kepala nya, ia tidak tau entah Zefanya tidak bisa memanfaatkan wajah nya atau bagaimana. Jika dipikir-pikir banyak orang yang menyukai Zefanya, baik dari kalangan atas ataupun menengah, tapi yang Davira heran adalah Zefanya selalu setia dengan suami yang tidak bisa membahagiakannya itu.
__ADS_1
"Zefanya sebaiknya kamu cari suami baru saja, disini banyak yang menyukai mu, atau jadi sugar baby saja wajah mu mendukung, atau ingin ku carikan? Kau bisa kaya dalam sekejap." tutur Davira membuat mata Zefanya sukses melotot. Zefanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kamu apa-apaan sih Vir, mana mau aku cari suami baru atau jadi gitu, aku suka jadi sederhana." jawab Zefanya memutar bola matanya jengah.
"Zefa jangan dengarkan, itu ajaran sesat" ucap Raka yang datang dan meletakkan sebuah cup kopi di depan Zefanya, gadis itu tersenyum dan meraih cup kopi tersebut.
"Terimakasih Ka." ujar Zefanya dengan ramah.
Pria tampan bernama Raka itu tersenyum dan duduk di meja nya. Davira menghela nafas nya kasar saat Raka hanya memberikan kopi hanya untuk Zefanya.
"Hanya untuk Zefa saja? Untuk ku mana?" tanya Davira kesal. Raka menunjuk ke arah pintu keluar.
Davira berdehem dan mendengus sebal. Kemudian ia membuka tas nya dan mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu dan menjadikan nya sebagai kipas.
"Kamu yakin tidak mau belikan..." ujar Davira memamerkan uangnya.
__ADS_1
"AKU BELI SEKARANG!!!" Pekik Raka.
Raka langsung menyambar semua uang dari tangan Davira dan berlari keluar untuk membelikan gadis itu kopi. Zefanya dan Davira hanya tertawa melihat tingkah Raka.
"Dasar pria mata duitan" cibir Davira sambil tertawa.
"Vira, kamu sepertinya banyak sekali uangnya?" tanya Zefanya melihat uang yang tadi di sambar Raka dengan cuma-cuma.
Davira tersenyum dan kembali berbisik di telinga Zefanya. "Sudah ku katakan cari sugar daddy, maka hidup mu akan terjamin." ujar Davira.
Zefanya menggelengkan kepalanya. "Tidak, tidak aku lebih bahagia bersama Mas Reno"
Davira menghela nafas nya kasar. Ia ingin menggegerkan otak gadis di depan nya ini, ia merasa gemas jika ada wanita yang tidak bisa memanfaatkan wajah cantik nya di jaman sekarang. Jika ia menjadi Zefanya, maka ia akan mengencani pria dari keluarga kaya raya dan menikah, lalu hidup enak dan bahagia, urusan tampang belakangan. Sedangkan Zefanya, wanita itu terlihat tidak memikirkan masa depan nya, selalu saja berhemat hanya karena suami nya yang tidak seberapa itu.
Zefanya tersenyum dan fokus kepada layar komputer ia memeriksa laporan yang di kerjakan nya kemarin.
"Ya udah, nikmati aja hidup susah mu itu, jika kamu mau hidup enak nanti, jangan lupa hubungi aku Zefa, aku pasti akan mengenalkan mu dengan berbagai pria dari kalangan atas ataupun menengah."
__ADS_1
"Aku tidak akan pernah Vir, bagiku uang bukan segalanya, tapi kesetiaan lebih utama, aku yakin suatu saat nanti Mas Reno bisa membahagiakan aku, lagian kita juga menikah baru beberapa tahun, aku rasa aku bisa disebut menemaninya dari nol, aku akan jadi penyemangat untuk Mass Reza hingga nanti saatnya dia bisa sukses."
"Simpan aja hayalan kamu ya, aku rasa kamu terlalu bucin hingga mau dibodohi terus sama suami kamu, kalau aku jadi kamu, aku bakal memanfaatkan kecantikan aku ini untuk membuat hidupku bergelimang harta, sekarang cinta aja nggak cukup, semua kehidupan butuh uang dan pengorbanan, dan aku sudah memilih jalan yang benar." ujar Davira kemudian mengerjakan tugasnya.