
Zefanya masuk ke dalam rumahnya, ia melihat Reno yang duduk di ruang tamu, mata Reno langsung tertuju ke arah Zefa saat wanita itu memasuki rumahnya.
“Kemana saja? Kenapa telfon Mas tidak di angkat? Dan kenapa pulang jam segini?” Reno mencecar Zefanya dengan berbagai pertanyaan yang beruntun, Zefanya diam beberapa saat, jangan sampai Reno curiga dengan gerak-gerik nya.
“Maaf Mas, cuaca di sana sangat buruk, hujan sangat deras dan angin kencang, aku terlambat pulang karena mobil Pak Gala terhalang oleh pohon kayu besar yang tumbang.” Jelas Zefanya.
Alasan Zefanya sangat jelas dan masuk akal. Reno berdiri dan mendekati Zefanya, namun wanita itu mundur selangkah ia hanya takut jika Reno tau, pria itu cukup peka.
“Mas Reno, aku harus mandi dulu, baju aku basah kena hujan.” Kata Zefanya.
Zefanya langsung berjalan tergesa menuju kamar nya meninggalkan Reno yang masih berdiri disana. Seharian Reno merasa firasatnya tidak enak, semoga saja itu hanya pemikiran nya saja. Awalnya Reno sedikit ragu membiarkan istrinya itu pergi, namun ia tidak bisa melarang nya karena itu sudah pekerjaan menjadi pekerjaan Zefanya yang harus dilakukan secara profesional.
Zefanya langsung memasukkan pakaian nya ke dalam mesin cuci dan membubuhkan deterjen yang banyak lalu menyalakan mesin nya, semoga sisa aroma tubuh Ken, Arok yang melekat disana hilang. Setelah itu Zefanya masuk ke dalam kamar mandi dan buru-buru membersihkan dirinya.
Zefanya menurunkan handuknya dan mematut tubuh telanjang nya di cermin, Zefanya baru sadar bahwa ia sempurna dan pantas di sukai banyak laki-laki. Zefanya memejamkan matanya mengingat sentuhan Sehun di sekujur tubuh nya, sangat nikmat dan kasar.
Zefanya menatap pantulan dirinya di cermin, ia sudah muak menahan dirinya selama ini, penawaran Gala begitu membuat Zefanya tertantang, tapi bagaimana dengan Reno? Zefanya masih sangat mencintai pria itu, namun sikap Reno yang acuh membuat Zefanya selalu makan hati, ia sudah lelah menahan diri menjadi pribadi palsu, Zefanya lelah menjadi istri yang selalu mengalah kepada pria itu.
“Mas Reno, maafkan aku jika suatu saat nanti aku akan menghianatimu.” Lirih Zefanya.
Zefanya berangkat ke kantor di antar oleh Reno, Zefanya turun dari boncengan dan melepaskan helm nya lalu memberikan kepada suaminya, pria tersenyum dan menerima helm yang di berikan Zefanya.
“Mas, aku masuk dulu ya.” Kata Zefanya.
“Sayang hari ini aku akan menjemput mu.” Ucap Reno.
__ADS_1
Zefanya tersenyum dan mengangguk kemudian masuk ke dalam lobi. Setelah Zefanya masuk, Reno langsung melajukan motor nya, Rania membuat janji bertemu dengan Reno pagi ini, sebelum benar-benar masuk ke dalam Arthayasa grup, Reno harus melakukan persiapan semaksimal mungkin, sampai detik ini ia belum memberitahu Zefanya, Reno ingin memberi kejutan pada wanita itu.
Zefanya duduk di meja nya, seperti biasa ia melakukan pekerjaan nya membuat dokumen, dan memeriksa jadwal Gala hari ini, sejak tadi ia tidak melihat pria itu apakah Gala tidak datang. Pikiran Zefanya melayang kembali kepada kejadian kemarin, Zefanya menutup wajah dengan kedua telapak tangan nya, ia sangat malu saat mengingat kejadian itu lagi. Mau ditaruh dimana muka Zefanya saat bertemu dengan Gala nanti.
“Zefanya..”
Zefanya menyingkirkan tangan nya dan terkejut melihat Gala sudah berdiri di depan meja nya, bahkan ia tidak menyadari pria itu sudah tiba.
“Pak Gala, anda sudah datang?” tanya Zefanya basa-basi berusaha melupakan rasa malunya.
Gala tersenyum dan mengangguk, ia ingin berlama-lama melihat wajah cantik itu bahkan enggan masuk ke dalam ruangannya, bahkan semalaman Gala tidak bisa tidur karena mengingat Zefanya sambil memutar video di ponsel nya berkali-kali. Sepertinya Gala ada rencana membuat meja Zefanya berada di dalam ruangan nya juga.
“Pak, 30 menit lagi anda ada rapat dengan dewan direksi departemen pemasaran.” Ucap Zefanya.
Gala mengangguk, kemudian masuk ke dalam ruangan nya, Zefanya bernafas lega karena Gala tidak mengungkit soal kemarin, karena kemarin iblis tersembunyi dalam jiwa nya sedang memberontak, sehingga ia hampir saja tidak waras.
“Zefa, cepat keruangan saya sekarang.” Ujar Gala di seberang sana.
“Baik Pak.” Jawab Zefanya.
Zefanya kemudian melangkah masuk ke dalam ruangan Gala, ia merasa heran tidak melihat Gala di mejanya kemana pria itu. Detik kemudian Zefanya merasa terkejut saat merasakan seseorang memeluknya dari belakang, bahkan telapak tangan itu merengkuh pinggul nya dengan erat.
“P-pak.” Lirih Zefanya merasakan tubuh Gala merapatkan ke tubuhnya.
“Saya terus saja memikirkan mu Zefa, kamu sudah merusak tidur saya semalam.” Bisik Gala sambil mengigit pelan daun telinga Zefanya, Zefanya memejamkan matanya mencoba melepaskan pelukan Gala.
__ADS_1
“P-pak Gala, ini di kantor.” Peringat Zefanya, namun Gala malah mengabaikan ucapan wanita itu.
Gala membalikkan tubuh Zefanya menghadapnya, ia benar-benar gila terhadap Zefanya sekarang, ia ingin bercinta lagi dengan sekretarisnya itu, ia ingin Zefanya selalu berada di ranjang nya dan memuaskan nya, ia ingin Zefanya selalu ada untuknya kapan pun itu.
Gala tidak menjawab ucapan Zefanya, ia malah membungkam bibir tebal itu dengan ciuman panas nya, Gala ******* habis bibir Zefanya dan membuat wanita itu memejamkan matanya, tubuh Zefanya terdorong sampai menubruk meja Gala, pria itu mengangkat tubuh Zefanya ke atas meja dan melanjutkan ciuman panas nya.
Zefanya menahan tangan pria itu, hal itu membuat wajah Gala kesal ia tidak bisa menahan hasrat nya lagi.
“Hei kenapa?” tanya Gala berusaha menahan emosinya karena Zefanya menggagalkan niatnya.
“Pak, sebentar lagi rapat saya tidak mau melakukan nya sekarang, nanti pasti semua orang curiga.” Jelas Zefanya.
“Tapi saya sudah tidak tahan.” Desis Gala.
“Sabar sebentar, 10 menit lagi rapat akan di mulai setelah itu terserah anda mau melakukan apa saja, dan bukankah saya sudah bilang kemarin adalah yang pertama dan terakhir.”
Gala tersenyum dan mendekatkan wajah nya ke arah Zefanya. Ia menyentuh bibir tebal itu.
“Bagaimana bisa kamu bilang kemarin pertama dan terakhir, di saat bibir ini masih meneriakan nama saya Zefanya Eleanor?" ucap Gala sambil menekan bibir Zefanya.
“Kamu membuat ku tidak bisa berhenti Zefa, menurut mu siapa yang bersalah hem? Nama kamu selalu berputar di kepala saya Zefa.” Cetus Gala menjauhkan tubuhnya dari tubuh Zefanya.
“Maafkan saya Pak, bukannya anda yang memulai semua ini? Jadi itu salah anda sendiri.” Desis Zefa.
Gala menyeringai ucapan Zefanya.” Memang benar saya yang memulai, jadi bukankah seharusnya saya juga yang harus mengakhirinya sesuka hati saya?” tanya Gala.
__ADS_1
Setelahnya pria itu berjalan lebih dulu menuju ruang rapat, karena rapat kali ini begitu penting untuk kemajuan perusahaannya.