
Zefanya menjelaskan semuanya dengan tepat, tanpa membuang banyak waktu dan bertele-tele hingga akhirnya selesai dalam waktu 10 menit saja.
“Terimakasih, saya rasa apa yang saya sampaikan sudah cukup jelas bagi dewan direksi sekalian, dan tentu nya bagu Pak Gala juga.” Ujar Zefanya mengakhirinya.
Gala menatap Zefanya dengan seringai kecil, ia tidak bisa mencari kesalahan dari Zefanya , ternyata gadis itu cukup pintar. Tapi bukan ini yang Gala inginkan.
“Rapat hari ini selesai semua bisa bubar, kecuali nona Zefanya Eleanor.” Ujar Gala.
Zefanya merasa mati kutu di tempat, satu per satu dewan direksi keluar dari ruangan mereka juga heran baru rapat 15 menit langsung di akhiri, Bagas menatap ke arah Zefanya , ia tidak bisa berbuat banyak selain membiarkan wanita itu berada disana. Bian juga keluar dari sana, dan kini hanya tinggal Gala dan Zefanya di dalam ruangan tersebut.
Zefanya merasa perasaan nya tidak enak, aura ruangan tersebut seolah berubah menjadi sangat mengerikan. Zefanya berdiri sambil memainkan telapak tangannya yang sudah basah oleh keringat itu, sungguh Zefanya dibuat gugup karena hanya berduaan dengan Gala.
“Zefanya sampai kapan kamu terus menunduk?” suara itu terdengar datar, Zefanya akhirnya memberanikan diri menatap Gala yang berdiri di depannya, wajah tampan itu terlihat semakin jelas dari dekat. Gala tersenyum miring saat wanita itu mau menatapnya.
“Kamu tau apa aku menahan mu disini?” tanya Gala menundukkan kepalanya agar bisa bersitatap dengan Zefanya .
Zefanya mengangguk. “Pasti karena laporan itu, saya paham tapi anda terlihat seperti ingin memojokkan saya.”
Gala tertawa singkat kemudian beralih ke arah Zefanya , ia melangkah mendekati wanita itu, hingga jarak mereka saat ini begitu dekat.
“Lihatlah, apakah seperti ini cara mu mengucapkan terimakasih.”
Zefanya merasa heran, apakah pria itu juga mengingat nya.
“Jas, aku rasa kamu tidak lupa.” Ujar Gala dengan datar.
Zefanya mendadak resah, dugaan nya sama sekali tidak salah, pria yang tampan yang menolong nya tempo lalu ada atasan di perusahaan nya, bahkan pria itu sudah melihat tubuh setengah telanjang nya membuat Zefanya malu dibuatnya.
“M-maaf saya ingat, dan saya tidak tau bahwa anda pemilik jas itu.”
__ADS_1
Gala tersenyum, ia menyentuh dagu Zefanya dengan telunjuknya hingga mereka saling bertatapan.
“Bukannya kamu harus mengucapkan terimakasih hem?” desis Gala tepat di depan wajah Zefanya , sampai wanita itu bisa merasakan deru nafas pria itu. Gala menekan bibir bawah Zefanya dengan ibu jari nya.
“Terimakasih... Pak Gala nanti saya akan mengembalikan jas anda, saya permisi.” Zefanya melangkah mundur, ia kemudian berlalu pergi meninggalkan Gala sendirian disana.
Gala menyeringai ia menatap ibu jari nya yang tertinggal jejak lipstik Zefanya yang berwarna merah muda itu, Gala tersenyum dan mengigit pelan ibu jari nya, ia merasa semakin tertarik kepada Zefanya .
“Manis, aku suka dengan warna bibirmu.” Guman Gala.
Gala berdiri di dekat dinding kaca, ruangannya berada di lantai paling atas, ia memutuskan kembali ke dalam ruangan nya setelah Zefanya pergi. Gala menatap ke bawah sana ia melihat Zefanya yang keluar dari kantor dan menemui pria yang sudah menunggu di atas motor, keduanya terlihat ceria dan romantis, Gala melihat pria itu memasangkan helm di kepala Zefanya kemudian mereka berdua berangkat dengan Zefanya yang memeluk tubuh pria itu dari belakang. Sudah jelas mereka pasangan suami istri.
“Selera yang buruk.” Desis Gala sambil menyeringai, Gala bisa menilai Zefanya cerdas namun gadis itu sangat naif.
“Astaga Gala apa lo gila? Lo mau ngeluarin Zefanya dari departemennya hah!!” Bian masuk dan langsung marah-marah kepada Gala, jalan pikiran pria itu sulit di tebak dan seenaknya, Gala membalikkan tubuh nya menghadap Bian .
“Dia tidak cocok disana Yud.”
Gala tersenyum. “Lo lupa siapa gue di sini?”
Hal itu membuat Bian terdiam, bahkan semua aset hingga properti perusahaan merupakan milik Gala semata.
“Iya tapi apa lo nggak kasihan sama dia?”
Gala menyeringai. “Dia keluar dari departemen, karena lebih cocok kerja sama gue.” Bian mengernyitkan dahinya tidak mengerti atas ucapan gila Gala.
“Maksud lo apa ?”
“Gue mau Zefanya jadi sekretaris gue, kebetulan gue belum punya sekertaris, jadi gue mau dia di keluarkan dari sana dan jadi sekertaris gue.”
__ADS_1
Bian merasa terkejut, ia memicingkan matanya ke arah Gala dengan tatapan curiga.
“Bego, dasar hidung belang, bilang aja kalau lo suka sama dia kan?” pekik Bian tidak percaya.
Gala mengedikkan bahunya, Bian memang sudah sangat mengenal tabiat Gala, sudah lama mereka berteman dekat. Gala berjalan kemudian kembali duduk di kursi kebesarannya.
“Sebaiknya lakukan apa yang gue mau.”
“Dasar, ingat Gal, Lo udah punya Claudia, jangan hianatin dia.”
“Cukup Yud, berhenti menyebut namanya gue muak.” Ucap Gala sambil mendengus sebal. Bian meringis dengan sikap Gala yang sering bertindak tanpa perasaan.
Gala duduk bersantai di kursinya, dan menaikkan kedua kaki nya di atas meja, kemudian menyeringai. Gala bukanlah orang baik, dia sangat licik jika menyangkut sesuatu hal yang di inginkan.
Gala berjalan menuju lobi, tentu wajah Gala sangat asing untuk karyawan baru. Gala memakai kacamata hitamnya dan berlalu begitu saja tanpa memperdulikan karyawan wanita yang menatapnya dengan tatapan memuja termasuk Davira , ia hampir tidak bisa berkedip saat melihat Gala melewatinya.
“Astaga, gila kenapa ada manusia setampan itu”.
Davira terperangah melihat ketampanan Gala. Gala berjalan keluar dari lobi dan kebetulan ia berpapasan dengan Zefanya yang sepertinya baru selesai makan siang. Gala tersenyum miring, sedangkan Zefanya hanya menunduk dan melewati Gala begitu saja.
“Ya, kamu udah balik? Aku nggak ada temen makan siang karena kamu pergi sama suami kamu.”
Zefanya tersenyum saat Davira mendumel kesal, Zefanya memang pergi bersama suaminya karena Reno yang mengajaknya makan siang bersama.
“Maaf Ra, kenapa nggak pergi sama Raka aja.”
“Dia mana mau pergi sama aku, kerjaannya nggak jelas kemana.”
Davira berlari menyamakan langkah nya dengan Zefanya , Davira ingin Zefanya maju dan jangan berfikiran dangkal, jaman sekarang semua butuh uang, hidup pakai uang bukan cinta, bahkan cinta bisa memudar dan hilang jika tidak ada uang, Davira tidak mau jika Zefanya terus terbebani dengan pria seperti Reno yang sudah jelas berharap kepada Zefanya .
__ADS_1
Terkadang Davira merasa prihatin kepada Zefanya yang menahan diri agar tidak membeli sesuatu yang di inginkan demi menabung, untuk hal yang tidak masuk akal, zaman semakin maju nilai mata uang semakin meningkat, jika uang hanya di tabung saja dan tidak di putar, maka tidak akan menjadi sesuatu yang berharga.