
Zefanya sungguh malas masuk ke dalam ruangan Arya itu, hadiah dari Arya tidak Zefanya pakai, ia rencana akan memberikan untuk Davira saja. Namun kali ini Zefanya datang untuk mengantar laporan keuangan yang telah di buatnya, Zefanya juga tidak enak karena terkesan terus menghindari atasan nya. Akhirnya Zefanya pun mengetuk pintu ruangan itu.
"Masuk"
Zefanya akhirnya masuk sambil memeluk map coklat berisi laporan yang telah di buat. Arya tersenyum melihat kehadiran Zefanya, ia sungguh serius tertarik pada karyawan nya itu. Bukan karena kecantikan Zefa, tetapi karena kecerdasan wanita itu.
"Zefa akhirnya kamu datang juga" ujar Arya tersenyum senang.
Zefanya tersenyum dan meletakkan map nya di atas meja Arya.
"Pak Arya ini laporan yang anda suruh selesaikan, silahkan di tanda tangan."
Arya tersenyum sambil memandang wajah Zefanya, hal itu tentu saja membuat Zefanya malu, pria itu terlalu terang-terangan.
"Bagaimana ini, aku memiliki syarat agar menandatangi laporan mu."
"Maksud Pak Arya apa?" tanya Zefanya tidak mengerti.
"Temani aku makan siang, maka aku akan menandatangi nya sekarang."
Zefanya terlihat bingung, jika laporan nya tidak di tanda tangani maka gaji nya akan di tahan, jika ia ikut makan siang bersama, bagaimana dengan suaminya? Ia takut jika Reno bisa marah.
"Bagaimana? Kamu terlihat berfikir dengan keras." tanya lagi.
"Maaf, tapi saya tidak bisa." tolak Zefanya dengan halus.
Arya menatap Zefanya dengan tatapan datar. "Kenapa? Apa kamu takut suami mu akan marah?"
Zefanya menggelengkan kepalanya pelan sepertinya ia harus memberikan pernyataan tegas.
"Maaf sebelumnya Pak, saya hanya ingin mengatakan jangan memberikan barang-barang seperti itu lagi, dan saya juga sudah punya suami, hal itu sebenarnya membuat saya tidak enak hati di lihat oleh karyawan lain."
__ADS_1
Arya diam dan tidak menjawab pertanyaan Zefanya namun kemudian pria itu tersenyum. Arya mengerti maksud perkataan wanita cantik itu, mendekati wanita seperti Zefanya memanglah sangat sulit.
"Aku tau, dan aku hanya ingin memberikan mu hadiah, maaf membuat mu tidak nyaman, lain kali akan ku berikan secara diam-diam." jawab Arya, dan Zefanya menganggukkan kepala nya.
"Baiklah saya permisi dulu." ujar Zefanya.
"Tunggu, jika kamu menolak makan siang setidaknya biar aku mengantar mu pulang, jika kamu menghormati atasan mu maka jangan menolak." ujar Arya sebelum Zefanya meninggalkan ruangannya.
Zefanya memejamkan matanya sejenak, sepertinya yang kali ini ia tidak bisa menolak.
"Baiklah Pak."
Arya tersenyum lalu menandatangani laporan Zefanya, alasan ia bertahan menjadi manager bagian keuangan agar selalu bisa mendekati bawahan nya itu. Padahal Arya sendiri sudah mendapat promosi menjadi manager utama, namun pria itu bersikeras berada di departemen keuangan.
*****
zefanya akhirnya pulang bersama Arya, hal itu cukup menjadi tontonan karyawan kantor karena Zefanya masuk ke dalam mobil sport hitam itu tepat di depan gedung kantor, jangan salahkan dirinya salahkan lah Arya yang bersikap seenaknya. Zefanya harus siap-siap akan menjadi bahan gunjingan karyawati seisi kantor besok. Apalagi Arya Biantara adalah manager departemen keuangan yang sangat populer seisi kantor, tidak hanya wajah nya yang menawan pria itu juga memiliki attitude yang lembut, murah senyum dan idaman.
"Ingin aku pakaikan seatbelt nya?" tanya Arya.
"Saya bisa sendiri" sahut Zefanya.
Zefanya langsung buru-buru memakai seatbelt nya. Arya kemudian menjalankan mobil nya dengan kecepatan standar, untuk pertama kalinya Zefanya duduk di dalam mobil semewah ini, kursi nya sangat empuk dan nyaman, ia merasa kaku, maklum saja Zefanya bukan berasal dari kalangan atas.
"Kenapa hadiah yang aku berikan tidak di pakai?" tanya Arya membuka suara.
Zefanya langsung menoleh ke arah Arya saat pria itu menanyakan perihal hadiah pemberian nya.
"Saya tidak bisa memakainya, jadi lebih baik saya simpan saja." ucap Zefanya.
Mobil Arya tiba di depan gang sempit, ia tidak melihat rumah kecuali di dalam gang, mobil nya tidak muat untuk masuk ke dalam sana. Melihat rupa wajah Zefanya, ia tidak percaya gadis itu tinggal di lingkungan yang tidak layak.
__ADS_1
"Freya jadi kamu tinggal disini?" tanya Arya.
"Bapak pasti terkejut, saya memang tinggal disini."
"Sebaiknya kamu pindah rumah, di dekat kantor banyak apartemen dan perumahan bagus, aku bisa membelikan nya untuk mu, wanita seperti mu tidak cocok tinggal di tempat seperti itu."
Zefanya tersenyum kecil, ia memang kurang mampu. "Terimakasih atas kebaikan Pak Arya, tapi saya lebih baik tinggal di rumah jelek saya sendiri, daripada rumah mewah tapi pemberian orang lain."
Zefanya hanya berusaha mengangkat derajat nya sekarang. Arya tersenyum, ia semakin menyukai Zefanya, terlebih karena sifat nya sekarang wanita itu sangat berbeda dengan wanita lainnya di luar sana.
"Terimakasih atas tumpangan."
Arya mengangguk, Zefanya keluar dari mobil kemudian Arya mulai menjalankan mobilnya meninggalkan kediaman Zefanya, wanita itu menghela nafas kasar dan mulai berjalan kaki memasuki gang kecil tersebut, Zefanya tinggal di sebuah perumahan yang kurang layak, karena biaya sewa setiap bulannya cukup murah, Zefanya harus bisa berhemat karena ia berasal dari keluarga yang miskin.
Ia adalah seorang Yatim piatu yang merantau ke kota ini, Zefanya kuliah karena beasiswa dan lulus tepat waktu, yang membiayai sekolah nya hingga ke jenjang SMA adalah ibu nya seorang, ayahnya sudah lama meninggal. Hingga tahun lalu ibu nya juga meninggal karena sakit, Zefanya hanya sebatang kara namun ia tetap bertekad hidup dengan baik.
Zefanya beruntung bertemu dengan Reno yang sangat baik padanya, alasan Zefanya tidak bisa meninggalkan Reno adalah karena ia tidak memiliki siapa-siapa lagi selain suaminya itu, walaupun harus hidup sulit.
Zefanya masuk ke dalam rumah kecil nya, ia melihat ada sendal Reno disana, berarti pria itu ada di dalam. Benar saja saat Zefanya masuk ia melihat Reno duduk di Sofa sambil memainkan laptop nya, pria itu terlihat serius dengan pekerjaan kantornya.
"Mas Reno."
Zefanya tersenyum dan langsung menghampiri Reno lalu memeluk pria itu dari belakang dengan erat, hal itu membuat Reno terkejut dan menoleh, pria berkulit tan itu tersenyum dan menyentuh tangan Zefanya yang berada di leher nya.
"Sayang kamu sudah pulang?"
Zefanya mengangguk, ia turun dan beralih duduk di atas pangkuan Reno. Reno menyentuh rambut Zefanya dan mendaratkan kecupan di kening istrinya itu.
Reno fokus kepada Zefanya dan menyentuh tangan wanita itu di pipi nya dan mengecup nya pelan.
"Karena sifat manja mu ini aku jadi makin cinta sama kamu."
__ADS_1
Reno tersenyum lalu mendaratkan ciuman di bibir Zefanya, kemudian Zefanya memejamkan matanya membalas ciuman itu dan mengalungkan tangan nya melingkar di leher Reno. Bibir tebal dan lembut itu menyesap bibir Zefanya secara bergantian, dan Zefanya sangat larut dalam ciuman tersebut, Reno adalah segalanya bagi Zefanya, pria itu adalah tempat nya bersandar dan berkeluh kesah selama ini, Zefanya tidak akan berpaling dari Reno, pria yang paling di cintai nya.