
Dengan kecepatan kakiku aku berlari meninggalkan gubuk dengan berusaha mengusap air mata yang terus menerus mengalir membasahi pipi. Aku melewati hutan dan beberapa gubuk, aku merasakan ada belasan mata memperhatikanku dari dalam sana. Aku tidak peduli dan terus berlari untuk menemukan jejak para pencuri peti.
Hingga cahaya matahari mulai sirna aku belum menemukan jejak mereka. Aku terus saja berjalan menuju lubang harta, bersembunyi di balik pohon besar dan menutupi diri dengan dedaunan. Menunggu mungkin saja kawanan pencuri tersebut ke tempat ini.
Aku berpikir semua kawanan pencuri pasti akan ke tempat ini untuk menguasai lubang harta.
Tak ada seorangpun yang terlihat di sekitar lubang harta. Perutku mulai mengamuk kelaparan karena sejak pergi meninggalkan gubuk aku belum makan apa-apa.
Aku mengeluarkan satu apel dari karung yang aku bawa. Melahap apel itu hingga mulutku tak berhenti mengunyah sampai apel tersebut hanya menyisahkan bagian tengah yang sangat tipis. Aku membersihkan mulutku dengan bagian kerah kaos yang aku pakai lalu kembali memperhatikan lubang harta yang hanya berjarak sekitar sepuluh meter dari tempat persembunyianku.
Tetap saja tak ada seorangpun yang berada di lubang harta. Hal itu membuatku merasa aneh. Kenapa lubang harta yang memiliki banyak barang-barang berharga selalu sepi. Seharusnya para kawanan penjahat mencoba menguasai tempat tersebut agar tak ada seorangpun mengambil barang-barang di sana namun kenapa tempat ini sama sekali tidak di jaga dan malah di biarkan begitu saja.
Apa para kawanan penjahat tidak ingin menguasai tempat itu karena takut saling bunuh dengan kawanan penjahat lainnya yang juga mencoba menguasai tempat itu? Tetapi seharusnya mereka mencoba menguasai tempat itu karena mereka pasti mendapatkan banyak keuntungan dengannya. Ini benar-benar aneh, biasanya orang-orang yang ke lubang harta hanya mencari beberapa barang setelah merasa puas dengan yang mereka temukan mereka akan langsung meninggalkan tempat ini begitu juga dengan para kawanan penjahat. Sebenarnya ada apa dengan lubang harta? Bahkan para kawanan penjahat yang merampok pria waktu itu tidak ke lubang harta dan lebih memilih merampok pria malang tersebut.
Hari semakin malam namun tak ada tanda-tanda kedatangan orang di lubang harta. Mataku sudah mengantuk dan rasa lelah sudah teramat sangat menguasai tubuhku. Aku mencari posisi nyaman untuk tidur sebentar. Aku bersandar ke pohon raksasa dan menenggelamkan diriku di dedaunan yang sejak tadi aku gunakan untuk kamuflase.
Aku menengadah menatap langit malam yang di penuhi bintang. Sangat indah membuatku melupakan apa yang sedang terjadi di hidupku. Aku tidak tahu siapa yang harus aku salahkan tentang hidupku. Kenapa aku harus terlahir di tempat menyeramkan seperti ini dan kenapa aku tidak dapat berbuat apa-apa untuk mengubahnya? Aku menarik napas panjang membuang semua pikiran itu dari benakku. Jika harus seperti ini maka aku akan mencoba bertahan semampuku, pikirku.
Suara ribut membangunkanku dari tidur. Aku terkejut dan mencari sumber suara gaduh yang semakin lama suaranya semakin keras. Ternyata suara tersebut berasal dari sebuah pesawat berbentuk seperti kapsul obat yang terbang di atas lubang harta. Bagian bawah pesawat terbuka dan meluncur keluar berbagai macam benda ke lubang harta. Aku terus memperhatikan barang-barang yang di buang pesawat tersebut.
Ternyata selain makanan, obat-obatan dan barang-barang yang kami butuhkan sehari-hari, pesawat itu juga membuang berbagai bentuk senjata api. Bahkan sebagian besar benda-benda yang di keluarkan pesawat itu adalah senjata api.
__ADS_1
Tiba-tiba datang dua buah mobil mendekati lubang harta. Keluarlah dari mobil-mobil tersebut empat wanita dengan membawa senjata api juga. Dua di antara wanita itu berlari ke dalam pagar besi dan masuk ke lubang harta ketika pesawat pengirim barang pergi sedangkan yang dua lagi berjaga-jaga. Dua wanita di lubang harta mengambil senjata api tersebut dan menaruhnya di mobil bak milik mereka.
Mereka hanya mengambil senjata-senjata tersebut dan tidak mengambil benda lainnya. Ketika mereka hampir selesai mengangkuti senjata-senjata itu muncul lah empat pria berbadan besar yang tampak tidak asing.
Aku beranjak bangun ketika melihat keempat pria itu adalah kawanan penjahat yang membawa kabur peti Isbell. Kawanan penjahat itu menyuruh para wanita yang di lubang harta keluar. Namun anehnya wanita-wanita itu tidak merasa takut dengan kehadiran kawanan penjahat tersebut.
Aku memperhatikan barang-barang milik kawanan penjahat namun aku tidak melihat peti milik Isbell. Dimana peti itu, kenapa tidak ada?
“Serahkan senjata-senjata itu pada kami atau kami bunuh kalian!” Gertak salah seorang dari kawanan penjahat.
“Apa kita diperbolehkan membunuh mereka?” Tanya seorang wanita yang memegang senjata laras panjang yang berjaga.
“Tidak. Ibu akan memarahi kita karena menggunakan keahlian tanpa bayaran.” jawab wanita lainnya sambil keluar dari pagar besi.
“Kalian meremehkan kami ya.” Geram seorang penjahat.
“Doooorr...!!” Teriak seorang wanita yang membawa senjata. Kawanan penjahat tersebut terkejut hingga seorang penjahat terjatuh ke tanah. Melihat yang terjadi wanita-wanita itu tertawa. “Bodoh.”
“Kalian benar-benar meremehkan kami ya? Akan kami habisi kalian hingga kalian ti....” Tiba-tiba meluncur sebuah benda ke arah penjahat tersebut sebelum penjahat itu mengakhiri kalimatnya dan memotong tangannya yang sedang mengacungkan sebuah senjata tajam.
Tangannya terpotong dan terjatuh ke tanah bersama pedang yang di bawanya. Benda yang memotong telapak tangan penjahat itu meluncur kembali ke arah datangnya dan muncul seorang wanita lainnya dari semak-semak pohon yang tidak jauh dari tempatku.
__ADS_1
Penjahat tersebut menjerit kesakitan sedangkan teman-temannya terlihat ketakutan.
“Maaf ya aku tertidur.” Jawab wanita yang baru muncul dari semak-semak pohon. “Sudah kalian pulang sana biar aku yang mengurus semua ini.”
“Memang itu tugasmu kan.” Jawab wanita lainnya. Ketiga wanita lainnya berjalan menuju mobil mereka dan masuk ke dalam.
“Gumi, bereskan semuanya dengan bersih kalau tidak akan ku beritahu ibu mengenai tidur di saat bertugas.” Teriak wanita yang sudah ada di dalam mobil.
“Ya akan ku bersihkan semua tanpa ada noda yang tertinggal.” Teriak wanita berambut panjang yang memotong tangan salah satu penjahat. “Jangan lupa tutup mulut kalian ya kakak-kakak.” Tidak lama kemudian wanita-wanita lainnya pergi meninggalkannya sendiri bersama para kawanan penjahat.
Wanita itu menatap para kawanan penjahat yang berdiri di hadapannya. Mereka hanya membawa senjata tajam mungkin peluru mereka habis sehingga mereka ke lubang harta untuk mengambil peluru disini.
Satu lawan tiga, siapa yang akan menang? Wanita itu apa para penjahat? Wanita tersebut sama sekali tidak terlihat gugup dan kalau di perhatikan wanita itu dan wanita-wanita tadi bukan orang biasa tapi apa mungkin seorang wanita dapat mengalahkan tiga pria bertubuh raksasa? Dan lagi pria yang tangannya terpotong pasti masih bisa melakukan sesuatu padanya.
“Benar-benar sial nasibku. Hanya karena baru lulus aku di tugaskan membersihkan tempat ini selama sebulan. Kalian tahu berapa lama lagi aku harus di tempat ini?” Seru wanita itu pada para kawanan penjahat. “Masih dua minggu lagi. Betapa menderitanya aku.”
“Berisik!” Sahut salah seorang penjahat. “Beritahu kami kemana kalian membawa senjata-senjata itu, jika kau beritahu, kami akan membiarkanmu hidup.”
“Kau tahu Pulau Poegriye? Mereka membawanya kesana.” Jawab wanita itu.
“Baiklah. Tapi sayangnya sebelum kesana kami akan membalas perbuatanmu yang memotong tangan teman kami.”
__ADS_1
“Ini, ambil saja jika kalian bisa.” Wanita itu menjulurkan tangan kanannya ke arah pria itu tanpa rasa takut.
...@cacing_al.aska...