
Di tengah malam, aku dan Cleve serta Marchi keluar kamar kami, dan berjalan menuju pintu gerbang. Kami bertiga selalu keluar kamar ketika jam hampir pukul dua belas malam. Namun Marchi tidak selalu ikut karena dia sering sekali merasa sakit sehingga Marchi lebih memilih untuk beristirahat. Kami berjalan perlahan dan hampir tidak mengeluarkan suara langkah kaki. Hal tersebut juga di ajarkan di perguruan ini jadi keahlian itu pula membantu kami keluar malam setiap hari tanpa ketahuan para pengajar.
Ketika kami melewati toilet yang berada di sebelah lorong sempit kami berhenti sejenak karena mendengar suara dari dalam toilet. Cleve mengintip ke dalam toilet melalui pintu masuk yang terbuka sedikit.
“Benar-benar menjijikan si pirang itu,” ucap Cleve.
Aku dan Marchi mencoba mengintip ke dalam toilet karena mendengar ucapan Cleve.
Di dalam ternyata Tiffany bersama Mornage yang juga murid dari kelas kami sedang berciuman. Hal itu membuatku merasa jijik. Aku tidak mengerti kenapa mereka berdua melakukan hal itu padahal mereka berdua adalah seorang wanita.
Mornage memang selalu berpenampilan seperti seorang pria dengan rambutnya yang super pendek tetapi dia tetap saja wanita.
“Ayo kita pergi, lebih lama di sini bisa membuatku mengeluarkan lagi semua makan malamku,” bisik Cleve.
Kami bertiga melanjutkan perjalanan kami keluar pintu gerbang perguruan. Berjalan menuju tempat yang selalu menjadi tempat latihan kami. Berada di dekat dapur dan tidak terlalu jauh dari tempat biasa aku bersama Ibu berlatih.
Ketika hampir sampai kami melihat beberapa orang tidak jauh dari tempat biasa kami berlatih. Aku menarik Cleve dan Marchi untuk bersembunyi di balik pohon. Menunggu dua gadis di perguruanyang mengganggu sahabat kami itu pergi.
“Ada apa Bee?” Cleve menatapku aneh. “Mereka mengganggunya lagi, kenapa kau tidak pernah mau untuk menolongnya?” Tanya Cleve dan aku diam saja.
“Benar Bee, mereka selalu menggodanya. Lihat perbuatan mereka bahkan mereka sampai menciumnya secara bergantian,” ucap Marchi.
“Tapi dia benar-benar payah. Kenapa dia diam saja?” Ujar Cleve yang terus memperhatikan orang-orang di hadapan kami.
“Sudah sebaiknya—”
Cleve tidak mendengarkan apa yang aku katakan bahkan dia langsung keluar dari balik pohon.
“Hey, kalian berhenti sebelum aku mengeluarkan isi kepala kalian!!” Teriak Cleve berjalan mendekati mereka.
Kedua gadis itu langsung berlari ketika melihat Cleve. Mereka berdua adalah murid tingkat tujuh, satu tingkat di bawah kami.
__ADS_1
Cleve terkenal di perguruan karena kemampuan menembaknya dan selalu di peringkat pertama hampir di semua pelajaran kecuali pelajaran pengobatan dan ilmu pedang karena akulah yang ada di peringkat pertama dalam dua hal itu.
Namun karena sifat pemberaninya semua murid di peringkat bawah kami segan padanya, hal itu juga yaang membuat Tiffany yang adalah saingannya tidak suka pada Cleve.
“Yang benar saja, kenapa kau diam saja ketika mereka menggodamu?” Seru Cleve pada pemuda yang berdiri di depannya. “Apa jangan-jangan kau malah menikmatinya ya, bukan begitu?”
“Aku ini kan si bisu...” ucap Ian dengan senyum yang dapat meluluhkan semua makhluk yang ada di perguruan.
Pemuda yang baru saja dicium oleh dua orang gadis dari perguruan adalah Ian. Semua orang di perguruan masih saja mengira kalau Ian tidak bisa bicara meski dia sudah tumbuh menjadi seorang pemuda yang memesona. Bahkan hampir semua gadis di perguruan selalu melakukan hal yang sama seperti kedua gadis tadi pada Ian.
“Mereka masih mengira aku tidak bisa bicara karena itu mereka mengira kalau aku pasti diam saja kalau mereka menciumku seperti tadi.”
“Tapi kau memang diam saja,” ujar Cleve meletakan semua pistol beserta senjata yang dia bawa ke tanah. “Selama delapan tahun kita selalu berlatih bersama dan kemampuanmu sama hebatnya dengan aku dan Bee, jadi kau bisa mengalahkan wanita-wanita itu kan?”
“Bukan begitu, dia hanya tidak ingin kalau mengecewakan wanita-wanita itu,” seru Marchi berjalan meninggalkan aku yang masih berada di balik pohon.
“Kau ikut juga, Marchi?” Tanya Ian. “Di mana Bee? Apa dia tidak ikut?”
“Dia bersembunyi seperti biasanya.” ucap Cleve yang melempar belati itu ke arahku. “Keluarlah, Bee!”
“Ada apa denganmu?” Aku terkejut mendengar pertanyaan Ian yang berada dekat di sampingku. “Kau cemburu atau iri ingin aku cium juga?”
Seperti biasanya Ian menggodaku. Aku tidak menyangka kalau sifatnya yang pendiam dulu bisa berubah drastis seperti sekarang ini. Dia sudah tumbuh menjadi seorang pemuda yang tampan dengan tubuh kuat yang terbentuk karena kerja kerasnya sebagai budak.
“Apa aku terlihat seperti ingin kau cium?” Tatapku dingin.
“Berhentilah menggodanya! Bee bukan tipe orang yang bisa di ajak bercanda,” seru Cleve yang sedang membidik sesuatu dengan senjata laras pajang yang di bawanya.
“Karena itu aku suka menggodanya...” ujar Ian dengan tawa kecil sambil berjalan di belakangku. “Latihan apa lagi hari ini? Oh iya apa yang kalian pelajari tadi?”
“Cara merias wajah, apa kau ingin kami ajarkan juga?”
__ADS_1
Cleve masih sibuk dengan senjata laras panjang miliknya. Dia membidik jauh di dalam kegelapan, dan menarik pelatuknya.
“Ya ampun, karena melihat si pirang bodoh itu aku jadi tidak konsentrasi. Jangan ganggu aku dulu, aku akan mencoba lebih fokus lagi.”
“Memangnya apa yang di lihat?” Tanya Ian pada Marchi yang berdiri disampingnya memperhatikan Cleve yang terus membidik.
Sedangkan aku hanya duduk di belakang mereka sambil memperhatikan pedang yang selalu aku bawa kemanapun.
“Tadi kami melihat Tiffany berciuman dengan Mornage di toilet,” jawab Marchi.
“Benarkah? Ya ampun padahal jika dia minta, aku pasti mau menciumnya,” ucap Ian.
“Aku benar-benar ingin segera lulus dan keluar dari tempat ini,” seru Cleve berjalan mendekati Ian. “Aku tidak ingin seperti si pirang bodoh itu.”
“Tidak. Kau bisa memintaku menciummu kalau kau ingin,” ujar Ian. “Kita ini kan sahabat. Bukan begitu, Bee?” Ian menoleh ke arahku yang ada di belakangnya.
“Bagaimana ayahmu? Apa dia sudah sembuh?” Aku balik bertanya.
“Aku rasa penyakitnya tidak akan sembuh,” jawab Ian duduk di sampingku. “Bahkan sekarang dia tidak bisa bicara.”
“Tenang saja nanti ayahmu juga akan sembuh.” timpal Cleve sambil mengambil pistol.
“Tapi kenapa ayahmu tidak di rawat di klinik perguran, Ian?” Kali ini Marchi bertanya.
“Tidak mungkin budak seperti kami mendapatkan perawatan,” jawab Ian menatap Marchi. “Tidak apa-apa aku juga sudah rela jika dia mati.”
“Kau sudah memberinya semua tanaman yang aku berikan daftarnya padamu, kan?” Aku menoleh ke arah Ian yang duduk di sebelah kananku dan Ian mengangguk menjawabnya. “Kau harus memberinya secara rutin tiga kali sehari.”
“Ayo kita latihan sekarang. Cepat bangun dan ambil senjata kalian. Kalian tidak ingin kan latihan belum selesai ketika matahari terbit!” seru Cleve. “Dan kau Ian, dua jam lagi kau harus bekerja di dapur. Ibu membiarkan kami berlatih saat malam, tapi dia tidak mengijinkan kami berlatih bersama seorang budak. Jadi sebaiknya kita latihan sekarang.”
...@cacing_al.aska...
__ADS_1