DEAPECTRUM

DEAPECTRUM
012. GADIS PEDANG


__ADS_3

Setiap malam ketika wanita-wanita dari Pulau Poegriye datang Gumi menyuruhku untuk bersembunyi di semak-semak. Aku menurutinya dan lima hari sudah berlalu. Aku sudah berhasil pula mengenai apel tepat di tengahnya dan membelahnya. Gumi juga mengajariku beberapa gerakan dalam berkelahi. Ternyata semuanya sangat sulit dan tidak semudah yang aku pikirkan.


“Kita adalah wanita dan tubuh kita kecil karena itu kita harus lebih cepat dari mereka.” Seru Gumi ketika mengajariku cara berkelahi. “Kecepatan dan kelincahan itu penting dalam berkelahi.”


“Bagaimana caranya agar aku lebih cepat dari musuhku?”


“Pikirkan saja kalau kau lebih cepat dari mereka.” Jawab Gumi. “Sekarang coba serang aku dengan kecepatanmu.”


Aku mengambil ancang-ancang untuk menyerang Gumi namun ketika aku coba memukulnya dengan cepat Gumi menangkalnya dan balik memukulku hingga aku terjatuh ke tanah. Aku bangkit berdiri dan sekali lagi mencoba memukulnya namun sekali lagipun gagal.


Gumi memiliki kecepatan yang luar biasa. Darah sudah keluar dari hidungku dan penglihatanku juga mulai kabur namun aku ingin sekali berhasil memukulnya.


“Sudahlah. Untuk saat ini kau tidak akan bisa memukulku.” Seru Gumi tersenyum seperti biasanya. “Disana aku yang paling memiliki kecepatan jadi pemula sepertimu tidak akan bisa memukulku.”


Tiba-tiba penglihatanku benar-benar gelap dan aku terjatuh ke tanah. Ketika aku bangun hari sudah gelap. Gumi menyandarkan aku di pohon besar dan dia membasuh wajahku yang berkeringat. Kepalaku sangat sakit sekarang.


“Kau baik-baik saja?” Tanya Gumi. “Besok kita hentikan latihannya untuk sementara.”


“Tidak. Aku baik-baik saja.” Jawabku. “Besok kita latihan. Aku ingin bisa sepertimu, memiliki kecepatan dan pukulanmu juga kuat.”


“Bodoh,” Ucap Gumi. “Aku hanya mengajarimu teknik dasar saja karena nanti di perguruan kau akan benar-benar belajar.” Ujar Gumi. “Lagi pula perkelahian tangan kosong sepertinya bukan keahlianmu. Besok aku akan mengajarimu menggunakan pedang.” Gumi tersenyum sambil memperlihatkan sebuah pedang. “Di perguruan selain kecepatan senjataku adalah bumerang.” Gumi mengambil dua benda berbentuk melengkung yang selalu di bawanya di belakang pinggang. “Nem ahli dalam menggunakan senjata api. Bahkan dia mampu menembak burung yang terbang dengan mata tertutup tetapi di perguruan tidak ada yang benar-benar menguasai ilmu pedang.” lanjut Gumi melirik ke arahku. “Aku ingin kau jadi gadis pedang, bagaimana?”


“Gadis pedang?” Tanya ku memastikan karena aku tidak terlalu yakin akan bisa menguasai pedang. Bahkan sampai saat ini saja aku belum pernah memegang benda itu.

__ADS_1


Ketika pagi tiba, aku sudah mulai berlatih. Gumi memberiku sebuah pedang sungguhan. Aku disuruhnya memengang pedang tersebut dan mengangkatnya ke atas dengan tangan kananku dan tidak boleh menurunkannya sebelum aba-aba darinya.


Ternyata pedang sungguhan sangat berat dan tidak ringan seperti yang aku kira karena itu di menit awal walau tanganku yang sudah terbiasa membawa beban berat mulai terasa tidak sanggup lagi mengangkat pedang itu. Aku benar-benar ingin meletakan pedang itu ke bawah namun Gumi selalu berteriak setiap kali aku ingin menurunkannya.


Air mataku sampai mengalir keluar karena merasa kalau aku tidak sanggup lagi mengangkatnya dengan satu tangan. Hampir empat jam aku mengangkat pedang itu dengan tangan kananku dan aku benar-benar kelelahan.


“Baiklah, turunkan pedangnya dan makan ini...” Gumi melemparkan apel padaku dan dengan cepat aku mengambil apel tersebut. “Setelah makan gunakan tangan kirimu untuk mengangkat pedang itu.”


Mendengar instruksi darinya aku merasa kesal. Ingin sekali aku membantahnya namun aku berpikir ulang. Gumi pasti memiliki alasan khusus kenapa aku harus melakukan hal itu.


Selesai menghabiskan apelku, aku kembali mengangkat pedang itu dengan tangan kiriku. Selama sekitar tiga jam aku mengangkatnya dengan tangan kiri. Pedang itu terjatuh ke tanah karena aku tidak sanggup lagi mengangkatnya dengan tangan kiriku. Untung saja pedang itu terjatuh langsung ke tanah dan tidak mengenai diriku, kalau tidak aku bisa mati tertusuk.


“Bee, tangkap ini!!” Gumi berteriak sambil melemparkan sebatang kayu ke arahku.


“Bagaimana kalau kayu itu adalah pedang? Kau pasti sudah mati tertusuk.” Seru Gumi menghampiriku dan memungut batang kayu yang tadi mengenai kepalaku. “Lempar kayu ini ke atas dan cobalah menangkapnya di ujung yang ini.” Gumi menunjukan di ujung batang kayu yang terbalut kain.


“Kenapa aku harus melakukannya?”


“Lakukan saja sampai kau berhasil melakukannya dan usahakan tengah malam ini kau berhasil sebelum pesawat datang karena besok kau akan mulai menggunakan pedang.”


“A...apa?” Tanyaku bingung.


“Kau harus bisa menangkap pedang dengan kedua tanganmu.” Ucap Gumi tersenyum seperti mengejek. “Aku tidak peduli apa malam ini kau berhasil menangkap batang kayu itu dengan benar atau tidak, karena besok aku akan langsung menyuruhmu menangkap pedang. Kau tahu kan konsekuensinya jika gagal menangkap pedang?”

__ADS_1


Berkali-kali aku melempar batang kayu itu ke atas lalu mencoba menangkapnya dengan benar namun berkali-kali pula aku gagal. Ratusan kali aku coba kalau batang kayu itu tidak mengenaiku maka dia pasti terjatuh ke tanah karena aku menghindarinya.


Gumi hanya tertawa melihatku dan itu membuatku kesal padanya. Beberapa kali aku berhasil menangkap batang kayu itu namun di sisi yang salah dan Gumi selalu berteriak.


“Tanganmu akan terpotong kalau menangkap pedang sungguhan di sisi itu!"


Gumi tertidur dengan pulas namun aku masih terus berlatih menangkap batang kayu hingga larut malam. Sebentar lagi pesawat pengirim barang lubang harta akan datang karena itu aku harus berhasil. Aku hampir berhasil menangkapnya dengan benar. Aku terus mencobanya dan mencobanya sekali lagi hingga aku benar-benar berhasil menangkap batang kayu itu disisi yang seharusnya.


Sebelum melempar batang kayu itu aku menarik napas dan membuangnya. Ini adalah lemparan terakhirku dan aku harus berhasil. Setelah itu aku melemparnya dan bersiap-siap menangkap batang kayu itu. Aku terus berkonsentrasi dan ternyata aku berhasil menangkapnya.


Aku tersenyum senang setelah akhirnya aku berhasil menangkapnya. Aku melihat ke arah Gumi yang tertidur.


Lihat aku berhasil kan, batinku.


Tiba-tiba terdengar suara pesawat dan aku pun segera bersembunyi. Aku bersandar di pohon setelah merasa puas dengan kerja kerasku. Aku yakin besok aku pasti akan membuat Gumi terkagum-kagum padaku. Ya, akulah si Gadis Pedang.


Kicauan burung membangunkan aku. Aku membuka mata dan merasa sinar matahari begitu menyilaukan. Aku mengusap mataku dan membenarkan pandanganku.


“Kau sudah siap menangkap pedang?” Teriak Gumi yang berada di jarak dua puluh meter dariku. Dia membawa dua buah pedang di tangannya. “Cepat bangun atau kau ingin aku melempar pedang ini ke arahmu?”


Mendengar perkataannya aku langsung bangkit berdiri dan berjalan ke arahnya. “Apa harus sekarang juga? Aku masih ingin tidur.” Keluhku.


Tanpa menghiraukan perkataanku Gumi melempar pedang ke arahku. Aku terkejut melihat pedang itu datang padaku.

__ADS_1


......@cacing_al.aska......


__ADS_2