DEAPECTRUM

DEAPECTRUM
037. HUKUMAN HATI


__ADS_3

Bagai rintikan hujan yang turun membasahi bumi dan membuat tanah tergerus rapuh karenanya, diriku merasakan hal yang sama. Seperti ribuan jarum menghujani dan membuat hatiku tergerus oleh jarum-jarum tersebut, itulah yang aku rasakan saat ini.


Tangisan Cleve semakin membuatku merasa kalau hidup ini benar-benar tidak adil untuk kami berdua. Satu persatu kami kehilangan orang-orang yang sangat berharga di hidup kami. Dan parahnya, aku pun merasa kalau semua itu akan terus terjadi serta tidak tahu kapan semuanya berakhir.


Semua yang terjadi membuatku semakin membenci hidup ini.


Mereka mendorong aku dan Cleve masuk ke sebuah ruangan yang dipenuhi oleh cermin. Ruangannya cukup besar namun tak ada apapun kecuali cermin-cermin yang terus memantulkan bayangan kami.


Aku dan Cleve hanya berdiam diri di tempat itu cukup lama. Cleve masih saja menangisi kematian Hansly yang membuatku semakin bingung harus bagaimana.


Namun aku tidak ingin mengganggunya saat ini karena mengerti betapa menyakitkan kehilangan orang yang berharga, terlebih jika orang itu mati di depan matanya sendiri dan demi menolongnya juga.


Pintu terbuka dan muncul sosok yang paling menakutkan di perguruan Gyeld Enn Chourius, Nyonya Margaux atau yang kami panggil dengan sebutan Ibu.


Ibu datang bersama Bu Bianca dan seorang wanita dari perguruan membawa semua barang-barang yang kami tinggalkan dulu. Terdapat juga pedang yang biasa aku bawa.


Ibu terus menatap kami dengan tatapan dinginnya untuk beberapa saat, tanpa mengatakan sepatah kata pun.


“Geledah mereka dan ambil semua benda yang mereka punya!” Seru Ibu.


Wanita yang namanya tidak ku ketahui itu menggeledah Cleve lebih dulu dan mengambil sebuah cincin yang di pakai oleh Cleve. Cleve mencoba merebutnya kembali karena tidak ingin benda itu diambil, namun usahanya sia-sia.


Aku dapat menebak kalau cincin itu adalah pemberian Hansly. Benda itu pasti sangat berharga untuknya.


Kalung itu! Aku teringat dengan kalung milik anak laki-laki dan memegang leherku, namun kalung itu tidak ada di leherku. Aku mencoba mengingat kemana kalungnya namun tidak berhasil mengingat tentang kalung itu. Bahkan setelah wanita itu menggeledah diriku, dia tidak menemukan sesuatu dari diriku.


Apa kalung itu hilang?

__ADS_1


“Bakar semuanya,” ujar Ibu.


Semua barang-barang itu dimasukkan ke dalam sebuah tempat yang terbuat dari almunium dan mereka langsung membakarnya. Semuanya tanpa sisa. Aku memperhatikan sebuah botol dan terkejut ketika sadar kalau itu adalah botol yang menyimpan abu Isbell.


“Lihat diri kalian,” ucap Ibu setelah semua barang milik kami terbakar hingga tak tersisa. “Kalian berdua benar-benar bodoh. Padahal aku sudah berbaik hati untuk memberi kalian kesempatan agar kalian berdua bisa tetap hidup. Tapi apa yang kalian perbuat?” Teriak Ibu dengan wajah yang sangat marah. “Aku memberikan rekomendasi itu untukmu karena ingin memberi kalian berdua kesempatan, tapi kalian malah menghancurkannya.” Ibu menatap Cleve yang hanya tertunduk dan menangis. “Jangan salahkan aku jika nanti hanya salah satu dari kalian yang berhasil hidup. Salahkan diri kalian sendiri!” Lanjut Ibu.


Aku tidak mengerti dengan maksud semua kata-katanya tersebut.


“Bawa dia masuk!” Seru Ibu dengan pancaran mata dingin pada aku dan Cleve.


Pintu terbuka dan masuklah seorang wanita lainnya bersama teman kami Marchi. Marchi terlihat begitu lemah dengan wajahnya yang pucat dan terdapat lebam. Melihat keadaannya membuatku kembali meneteskan air mata.


Marchi melihat padaku dan Cleve dengan tatapan kesedihan. Hal itu yang membuatku sadar kalau kami salah meninggalkannya sendiri di tempat ini.


Mereka mendorong Marchi hingga Marchi berlutut, lalu menodongkan sebuah pistol ke arah kepala teman kami—Marchi.


“Kalian tahu apa maksud dari hukuman hati?” Tanya Ibu, akan tetapi kami berdua tidak menjawab. “Hukuman itu ada untuk membuat kalian merasa selalu menyalahkan diri kalian sendiri karena kehilangan sesuatu yang berharga bagi diri kalian. Bukan hanya benda-benda berharga saja yang akan dimusnahkan bahkan sesuatu yang tidak akan bisa tergantikan oleh apapun.”


“Sudah lama hukuman hati seperti ini tidak di lakukan, tetapi aku selalu ingin melakukannya," lanjut ibu.


“A—apa yang akan kau lakukan?” Bibirku gemetar saat mengatakan pertanyaan itu karena dipikiranku langsung terbersit sesuatu hal yang menakutkan setelah mendengar perkataan Ibu.


“Walaupun dia tidak membuka mulutnya tapi aku tahu kalian selalu berlatih dengan budak itu setiap malam. Aku tidak akan meminta kalian untuk memberitahu di mana budak itu karena itu tidaklah penting lagi. Aku yakin suatu saat akan menemukannya,” seru Ibu. “Salahkan diri kalian untuk apa yang terjadi saat ini.”


Tiba-tiba Ibu mengambil pistol yang ditodongkan pada Marchi dan langsung meletuskan sebuah tembakan ke arah kepala Marchi.


Air mataku deras keluar melihat teman kami mati di hadapan kami dan itu semua adalah salah kami.

__ADS_1


Aku kembali teringat saat-saat kebersamaan diriku dengan Marchi. Marchi yang selalu tampak tidak sehat namun selalu bersama dengan kami berdua.


Dia adalah gadis baik hati yang sangat malang. Ini semua salah kami, ya salah kami karena melibatkannya untuk semua yang kami lakukan.


“Kurung mereka di ruangan gelap selama waktu yang tidak ditentukan. Aku ingin tahu seberapa kuat mereka bertahan hidup!” Seru Ibu.


Hanya kegelapan yang terlihat di mataku ketika berada di ruangan tanpa cahaya ini. Tak ada apapun suara yang terdengar kecuali isakan tangis Cleve. Bahkan aku pun tidak bisa melihat Cleve karena sangat gelap di ruangan ini.


Cleve terus menangis dan tidak pernah berkata apapun setelah kematian Hansly. Jika mengingat kematian Marchi membuatku terus mengeluarkan air mata. Dan kami sekarang berada di ruangan gelap tanpa tahu kapan akan di keluarkan.


Apakah kami berdua akan mati di tempat ini karena kesalahan yang kami perbuat? Jika harus mati sekarang aku rela. Aku sudah merasa putus asa karena semua yang aku lakukan percuma. Tak ada apapun yang menjadi alasan aku hidup sekarang.


Selama tiga bulan hidup di Deapectrum, aku tidak menemukan Jatnera ataupun anak laki-laki yang menolong hidupku dulu. Bahkan sekarangpun aku kehilangan kalung miliknya, benda yang selama ini menjadi alasanku bertahan hidup karena ingin mengembalikan benda itu kepada pemiliknya.


Semuanya lenyap seketika, ditambah rasa bersalahku akan kematian Marchi. Aku rela jika harus mati sekarang.


“Cleve, apa kita akan mati disini?” Tanyaku pada Cleve yang berada di sampingku. Cleve tidak menjawab dan terus terisak karena tangisannya. “Kematian Hansly dan kematian Marchi... kita berdua pantas untuk mati.”


Aku teringat ketika dulu aku dihukum di ruangan gelap seperti sekarang ini. Saat itu juga aku merasa kalau aku akan mati.


Aku mulai menyanyikan lagu yang dulu juga aku nyanyikan ketika berada di ruangan gelap ini. Lagu yang selalu dinyanyikan Jatnera, lagu itu adalah lagu yang diajarkan Isbell pada kami, lagu yang berjudul Malaikatku.


Jika Jatnera masih hidup aku harap saat ini juga dia bernyanyi denganku. Aku ingin mendengar suara lugunya yang menyanyikan lagu kesukaannya itu.


Aku terus menyanyi walau dengan napas terengah-engah dan di tambah isakan tangis yang mencekik leherku.


Cleve berhenti menangis ketika aku bernyanyi. Hal itu membuatku semakin deras mengeluarkan air mata.

__ADS_1


Aku sangat merasakan kesedihan yang sangat besar saat ini. Rasanya, aku tidak mampu menanggungnya lebih lama lagi.


...@cacing_al.aska...


__ADS_2