
Kami kembali ke kamar kami setelah makan malam untuk tidur. Besok kami harus bangun jam lima pagi untuk berlari mengelilingi pulau. Aku berbaring di ranjangku dengan kelegaan dapat tidur nyenyak malam ini. Aku bersyukur akan hal itu. Aku jadi tidak perlu khawatir akan kawanan penjahat yang bisa saja datang ketika kami sedang tertidur. Aku mencoba menutup mata ku dan beristirahat.
“Bee, kau belum tidur kan?” Seru Cleve, kepalanya menjulur dari atas melihatku. Aku membuka mata melihatnya. “Jadi mentormu adalah Gumi?” Setelah berbicara begitu Cleve turun dari ranjangnya dan naik ke ranjangku. “Itu hebat. Gumi adalah lulusan termuda di perguruan ini. Dan sifatnya juga menyenangkan, begitu yang di ceritakan Nem.”
“Mentormu Nem?” Tanyaku bangun dari posisi tidur.
“Ya. Nem menemukan aku ketika aku sedang menangis di hutan karena kakak laki-lakiku pergi meninggalkan aku dua bulan yang lalu.” Ujar Cleve. “Saat itu Nem memang sedang mencari anak perempuan yang akan di daftarkan ke perguruan ini. Selama dua bulan aku belajar menembak seperti keahlian Nem.”
“Jadi kau bisa menembak? Itu hebat.” Ujarku. “Di mana ayahmu?” Tanyaku. Aku mengingat saat tadi Cleve bercerita kalau ayahnya adalah orang yang lucu.
“Sehari sebelum kakak laki-lakiku pergi dia pergi ke lubang harta namun tidak pernah kembali lagi. Kakakku bilang dia terbunuh oleh kawanan penjahat yang menembaknya berkali-kali.” Jawab Cleve dengan raut wajah yang terlihat bersedih.
Aku teringat dengan seorang pria yang ditembaki oleh kawanan penjahat ketika aku pergi ke lubang harta. Pria itu memberiku roti yang di sembunyikannya di balik baju. Jangan-jangan dia adalah ayah Cleve.
“Ayo ceritakan tentang kehidupanmu Bee.” Pinta Cleve dengan memegang lenganku.
“Aku di rawat oleh seorang nenek bernama Isbell, dan aku punya seorang adik bernama Jatnera yang dipungut Isbell. Usianya lebih muda tiga tahun dariku. Setelah Isbell meninggal aku kehilangan Jatnera karena kebodohanku. Saat itu juga aku bertemu Gumi di lubang harta. Aku meminta Gumi mengajariku cara menjaga diri.”
“Apa yang kau pelajari dari Gumi?” Tanya Cleve. “Gumi hebat dalam perkelahian tangan kosong karena memiliki kecepatan yang luar biasa dan sangat mahir menggunakan bumerang”
“Itu benar, karena itu aku tidak bisa mengalahkannya.” Ucapku. “Gumi menyuruhku untuk mempelajari ilmu pedang karena di perguruan ini belum ada yang benar-benar menguasainya.”
“Pedang? Itu hebat Bee. Jadi kau bisa menggunakan pedang?”
__ADS_1
“Bisa tidak kalian diam? Kami ingin tidur bodoh.” Seru Tiffany yang tidur di selang dua tempat tidur dari kami.
Aku dan Cleve hanya tertawa kecil menanggapinya.
“Bee, ayo ajari aku membaca.” Ujar Cleve. “Ini buku tentang apa?” Cleve mengambil buku favoritku yang berjudul Keindahan Dunia yang berada di sampingku.
“Ini buku tentang keindahan dunia. Di dalamnya terdapat beberapa tempat yang sangat indah di seluruh dunia. Ayo ku ajari kau caranya membaca.”
Pukul lima pagi kami murid-murid baru berkumpul di lapangan untuk lari pagi. Sebenarnya aku masih merasa mengantuk dan masih ingin tidur karena semalam aku benar-benar tidur dengan nyaman. Kalau Cleve tidak membangunkan aku mungkin aku masih tertidur dan mendapatkan hukuman karena tidak mematuhi jadwal.
Kami murid baru berjumlah delapan belas orang sudah siap memakai pakaian olah raga kami. Aku dan Cleve memilih duduk karena guru yang akan memimpin kami belum datang.
“Perkenalkan aku adalah penanggung jawab kelas baru ini. Namaku Wendy.”
Datang seorang wanita berambut merah dan ikal panjang sebahu. Wanita itu masih muda dan usianya pasti sekitar tiga puluh sampai tiga puluh lima tahun.
“Baiklah Wendy, apa yang harus kami lakukan sekarang? Berlari?” Tanya Cleve yang langsung berdiri ketika Wendy datang.
“Oke agar tidak buang-buang waktu lagi mari kita berlari.” Seru Wendy. “Kalian diwajibkan berlari tiap pagi mengelilingi pulau ini. Jangan lupa jam delapan nanti kalian akan masuk kelas jadi usahakan kalian berlari di belakang ku agar tidak tertinggal masuk ke kelas.”
Kami semua berlari mengikuti Wendy. Aku tidak tahu seberapa besar Pulau Poegriye sampai kami harus berlari mengitarinya. Namun setelah berlari hampir satu jam lebih aku mulai merasa lelah. Beberapa anak juga sudah tertinggal jauh di belakang. Aku mencari Cleve yang ada di belakangku. Cleve sedang bersama seorang anak perempuan yang sedang terjatuh. Aku berlari mundur menghampiri mereka.
“Ada apa, Cleve?” Tanyaku.
__ADS_1
“Kakinya terkilir kita tidak bisa meninggalkannya.” Jawab Cleve sambil membantu anak perempuan bermata sipit itu berdiri. “Ayo bantu aku, Bee...”
Aku langsung memapah anak perempuan itu di sebelah kiri sedangkan Cleve di sebelah kanan. Setelah itu kami berlari mencoba mengejar yang lainnya. Namun jarak masih terlalu jauh bahkan aku tidak tahu berapa lama lagi akan berlari.
Aku sudah merasa lelah namun Cleve lebih terlihat kelelahan. Aku sudah terbiasa berlari dengan menempuh jarak jauh. Sebaiknya biar aku saja yang memapah anak perempuan yang terkilir ini dan membiarkan Cleve berlari tanpa harus memapah. Cleve benar-benar sudah terlihat kelelahan.
“Cleve, biar aku yang memapahnya. Kau berlari saja. Wajahmu sudah pucat.” Ucapku.
“Tidak apa-apa, Bee, aku masih kuat.” Jawab Cleve.
Aku berhenti berlari dan berpindah posisi. Aku berada di tengah antara Cleve dan anak perempuan yang kakinya terkilir, aku akan memapah mereka berdua sekaligus. Cleve hanya tersenyum melihat apa yang aku lakukan.
Setelah berlari hampir dua jam akhirnya kami sampai kembali di perguruan. Beberapa anak masih tertinggal di belakang kami. Wendy menyuruh kami yang terluka untuk pergi ke klinik.
Secepatnya aku membawa Cleve dan anak perempuan yang namanya belum aku ketahui itu ke klinik. Ternyata empat anak lainnya juga sudah berada di klinik dan Tiffany salah satunya.
Dengan segera aku membaringkan Cleve dan anak perempuan yang kakinya terkilir. Dua wanita berpakaian putih terlihat sangat sibuk karena pasien dadakan mereka. Aku memilih untuk keluar ruangan untuk langsung pergi ke kelas walau kelas di mulai satu jam lagi.
Tiga orang anak yang terlihat pucat di papah oleh anak perempuan lainnya masuk ke klinik ketika aku keluar. Aku berjalan melewati lorong sambil memperhatikan beberapa kelas yang di dalamnya murid-murid tingkat atas yang sedang memperhatikan guru mereka.
Tenggorokanku terasa panas karena berlari. Aku harus segera minum kalau tidak aku akan terkena radang tenggorokan.
Tiba-tiba Ian berjalan ke arahku dengan sebuah botol minuman. Dia menatapku dan segera menyodorkan botol tersebut padaku.
__ADS_1
Sejenak aku menatap Ian yang berdiri dihadaoanku. Dia pun semakin menyodorkan botol minuman yang dibawanya padaku. Aku mengambilnya, setelah itu dia langsung pergi sebelum aku sempat mengucapkan terimakasih.
...@cacing_al.aska...