
Malam selanjutnya datang begitu cepat. Malam ini aku bersama Cleve dan Ian berencana untuk melarikan diri dari perguruan, keluar dari Pulau Poegriye.
Aku tidak menyangka kalau aku akan kabur dari tempat ini. Akan tetapi aku benar-benar senang jika akan pergi meninggalkan pulau Poegriye.
Sudah lama aku merasa ingin keluar dari perguruan yang lebih tepatnya disebut sebuah penjara. Dan lagi aku ingin keluar karena berniat mencari anak laki-laki itu, anak laki-laki yang kalungnya aku curi. Aku ingin mengembalikan kalung itu padanya. Tidak, bukan hanya itu saja, aku juga ingin bertemu dengannya untuk kedua kalinya.
Setelah pertemuan kami yang pertama, aku selalu ingin bertemu dengannya sekali lagi. Entah perasaan apa yang membuatku seperti itu.
Secara diam-diam aku dan Cleve merapikan semua benda-benda yang ingin kami bawa.
Marchi yang tahu rencana kami membantu kami mengemasi barang-barang. Hanya beberapa pakaian dan senjata yang kami bawa. Tak ada lagi barang berharga milik kami berdua karena beberapa kali kami terkena hukuman hati karena tidak mematuhi peraturan.
Tetapi kalung milik anak laki-laki itu masih aman ku simpan karena sekalipun aku tidak pernah menunjukan pada siapapun kecuali Cleve. Setiap kali terjadi pemeriksaan aku selalu berhasil menyembunyikannya di tempat yang aman sehingga tidak dapat mereka temui. Aku tidak akan tahu bagaimana jadinya jika kalung itu juga diambil mereka.
“Aku tidak menyangka jika akan berpisah dengan kalian,” ucap Marchi dengan suara perlahan. “Sebaiknya kalian berhati-hati.”
“Kami mengerti Marchi,” ujar Cleve. “Sebenarnya aku ingin kau ikut dengan kami, tapi aku tidak akan memaksamu.”
“Marchi kau harus tetap hidup hingga lulus. Aku yakin kita akan bertemu lagi.” Aku mencoba tersenyum namun wajahku kaku seperti biasanya.
Marchi mengantar kami hingga keluar pintu gerbang perguruan. Di luar, Ian sudah menunggu kami dengan membawa barang-barang miliknya yang dia masukkan ke dalam seperai yang sudah kehilangan kecerahan warnanya. Aku yakin pasti Ian tidak memiliki sebuah tas, karena itu dia menggunakan seperai untuk membawa barang-barangnya.
“Kalian sudah siap?” Tanya Ian sambil mengambil dua buah pistol yang disodorkan oleh Cleve padanya dan dia selipkan ke celananya di balik kaos cokelat yang dia pakai. “Apa kalian sudah yakin untuk ikut bersamaku?”
“Tidak usah bicara lagi. Sebaiknya kita pergi sekarang!” Seru Cleve.
“Benar, sebaiknya kalian cepat pergi sebelum ada yang melihat,” ujar Marchi.
“Marchi jaga dirimu ya,” ucapku menatap Marchi.
“Itu benar, kau harus jaga dirimu karena Tiffany pasti akan mengganggumu.” Tangan kiri Cleve memegang telapak tangan Marchi.
“Marchi, terima kasih untuk segalanya dan jaga kesehatanmu.” Kali ini Ian menyampaikan pesan terakhirnya pada Marchi.
“Aku mengerti teman-teman,” senyum Marchi. “Kalian harus terus bersembunyi karena pasti semua orang disini akan mencari kalian, terlebih kau Ian. Mereka akan langsung membunuhmu jika kau tertangkap."
__ADS_1
“Kami pergi dulu,” ujar Cleve setelah itu berjalan pergi bersama aku dan Ian, menjauh dari Marchi. “Jaga dirimu, Marchi.” Cleve melambaikan tangannya membalas lambaian tangan Marchi.
Kami menaiki perahu yang sama ketika aku datang ke Pulau Poegriye. Perjalanan melewati sungai sekitar enam puluh menit.
Aku jadi teringat ketika aku bersama Gumi menaiki perahu ini, saat aku akan mengikuti ujian masuk perguruan. Waktu itu Ian yang bersama ayahnya Pak Ekman menatapku terus hingga aku merasakan perasaan yang tidak enak.
Aku tidak menyangka jika akhirnya aku dan Ian bisa berteman dekat. Bahkan kali ini aku memiliki tujuan yang sama dengannya, melarikan diri dari Pulau Poegriye.
“Kenapa melihatku?” Suara Ian memecahkan lamunanku. Tanpa sadar dari tadi aku memperhatikan dirinya yang duduk di hadapanku dan sedang mendayung. “Apa ada sesuatu di wajahku?”
Aku mencari topik pembicaraan untuk tidak menanggapi perkataan Ian.
“Sebaiknya kita menyembunyikan senjata-senjata kita karena di sana sudah banyak sekali prajurit keamanan. Kita berusaha agar tidak tertangkap mereka,” ucapku berhasil menemukan bahan pembicaraan yang masuk akal.
“Itu benar, kita jangan sampai tertangkap prajurit keamanan,” sahut Cleve yang duduk di sebelahku. “Serahkan barang-barangmu Ian.”
“Kenapa?” Tanya Ian sambil memberikan barang-barangnya pada Cleve.
“Aku akan menaruh barang-barangmu ke tas kami dan menyembunyikan senjata-senjata yang mencolok di balik seperei milikmu.” jawab Cleve sibuk memasukan barang-barang Ian ke dalam tasnya. “Berikan pedangmu, Bee.”
Aku mengambil dua pedang yang selalu ku sandangkan di punggung dan memberikannya pada Cleve.
“Semoga saja mereka tidak meminta kita untuk menunjukan isi seperei ini,” ujar Cleve sambil membungkus kedua pedangku dan senjata laras panjang miliknya. “Kalian berdua membawa senjata apa lagi?”
“Hanya dua buah pistol yang kau berikan padaku ini,” jawab Ian menunjukan kedua pistol yang dia ambil dari balik bajunya.
“Aku membawa pistol ini dan tiga belati,” ujarku menunjukannya.
“Ambil ini Ian.” Cleve memberikan sebuah belati pada Ian. “Aku memiliki dua buah pistol dan dua buah belati. Sebaiknya kita simpan senjata-senjata ini di tempat yang tidak terlihat dan tidak mencolok.”
Aku menyembunyikan pistol di balik pakaianku seperti yang dilakukan Ian dan menaruh kedua belati di masing-masing sepatu karena hanya di tempat itulah yang paling nyaman.
Di perguruan mereka juga mengajari kami agar selalu menaruh belati di sepatu karena itu Cleve dan Ian juga menaruhnya di sepatu seperti diriku.
“Lalu kita akan tinggal dimana?” Tanya Ian.
__ADS_1
“Kita bisa tinggal di gubukku dulu,” jawabku. “Aku harap gubuk itu masih ada.”
“Baiklah,” senyum Cleve.
Tidak berapa lama kami sampai di daratan dan segera keluar dari perahu. Kami bertiga segera berjalan melewati lembah Sraet yang suhunya sangat dingin.
Aku menggigil, padahal aku sudah mengeluarkan pakaian hangatku dari tas dan memakainya. Kami bertiga merasa sangat menggigil meskipun aku dan Cleve sudah dilatih untuk bertahan di suhu yang dingin dengan menceburkan diri ke sungai selama berjam-jam, namun kami berdua merasa lembah Sraet berkali-kali lipat terasa dingin.
Bagaimana dengan Ian yang tidak menjalani latihan itu? Pasti saat ini dia lebih merasa kedinginan.
“Malam hari suhu di lembah ini berkali-kali lipat dinginnya,” ucap Cleve.
“Mendekat padaku agar tidak terlalu dingin!” Seru Ian, dan Cleve segera berjalan di samping Ian, merangkulnya. “Bee?” Ian menatapku.
Aku segera mendekat pada Ian dan Ian merangkulku. Aku sedikit merasa lebih hangat sekarang.
“Jika seperti ini kita akan membagi kehangatan tubuh kita masing-masing,” ucap Ian yang ada di antara aku dan Cleve. “Apa benar di tempat ini kau tidak akan bisa mengeluarkan air mata?”
Sekitar dua jam kami berjalan keluar dari lembah Sraet. Matahari sudah hampir terbit sekarang.
Saat ini pasti jam empat pagi. Kami bertiga berjalan menuju tempat gubukku berada.
Aku sangat terkejut ketika melihat Deapectrum sudah sangat berubah. Padahal baru delapan tahun aku meninggalkannya tapi sudah banyak gedung-gedung baru berdiri.
Dan sekarang banyak sekali orang berkeliaran, berjalan di jalanan dan tidak perlu takut seperti dulu. Dulu kami harus tetap bersembunyi agar penjahat tidak melihat keberadaan kami.
Matahari semakin memperlihatkan wujudnya dan Deapectrum semakin ramai. Kami memperhatikan beberapa pria berseragam hitam yang membawa senjata laras panjang berkeliaran di sekitar kami.
Mereka memperhatikan orang-orang yang lalu lalang. Mereka pasti prajurit keamanan.
Kami berusaha berjalan biasa karena tidak ingin mencolok perhatian mereka. Menghindari kontak mata dengan orang-orang yang ada, dan berusaha sedikit membaur ketika berjalan.
Kami berjalan menuju gubukku dulu. Letak gubukku sekitar satu jam lagi.
“Kalian bertiga tunggu dulu!” tiba-tiba seorang prajurit keamanan menghampiri kami.
__ADS_1
Aku, Clave dan Ian menjadi saling tatap karena merasa terkejut.
...@cacing_al.aska...