
Sudah hampir lima jam aku berlutut dan tidak bergerak. Tiba-tiba terdengar suara pesawat seperti kemarin. Pasti itu adalah pesawat yang mengantarkan barang-barang ke lubang harta. Aku menoleh ke arah lubang harta untuk melihat pesawat itu yang sudah ada di atas lubang harta. Namun tanpa aku sadari aku merasakan sesuatu datang bertubi-tubi ke arahku. Telingaku berdengung ketika benda-benda itu mendekatiku.
Ternyata saat ini aku sedang di tembaki oleh seseorang yang berada di dalam pesawat. Aku ingin menghindari tembakan-tembakan itu dan berlari mencari tempat yang aman namun kakiku yang kram tidak dapat di gerakan. Tiba-tiba seseorang datang dan berdiri membelakangiku.
Dia adalah wanita kemarin. Dia berdiri dan mengacungkan suatu benda ke arah pesawat. Benda itu terbuat dari logam. Melihat wanita itu seketika orang di dalam pesawat berhenti menembak. Setelah membuang benda-benda ke lubang harta pesawat itu terbang kembali meninggalkan tempat ini.
Aku terjatuh lemas ke tanah karena benar-benar merasa kalau aku akan mati tertembak tadi. Keringat dingin keluar dari sekujur tubuhku.
“Kau tidak apa-apa?” Wanita itu menatapku namun lidahku kelu dan tidak dapat menjawabnya.
Tidak lama kemudian datang dua mobil seperti tiga hari yang lalu. Keluar empat wanita kemarin. Wanita berambut pendek mendekati aku dan wanita yang menolongku sedangkan ketiga wanita lainnya mengambil senjata-senjata api yang di buang oleh pesawat tadi.
“Ada apa, Gumi?” Tanya wanita berambut pendek pada wanita yang menyelamatkan aku. “Siapa anak ini?”
“Tidak apa-apa. Akan aku urus anak ini.” Wanita bernama Gumi tersenyum seolah-olah tak terjadi apa-apa barusan. “Oh iya Nem, ngomong-ngomong kapan sekolah akan di mulai kembali?”
“Ibu bilang sebulan lagi. Ada apa?”
“Ah tidak.” Jawab Gumi.
“Baiklah. Kami pulang ya...” Nem berjalan menuju mobil ketika ketiga wanita lainnya selesai mengambil senjata api tersebut.
“Nem, bilang pada ibu aku merindukannya.” Teriak Gumi dan Nem hanya melambaikan tangannya sambil menyetir mobil meninggalkan tempat ini. “Hah, aku benar-benar ingin pulang. Sudah tidak tahan lagi aku berada di tempat ini. Aku harus mencari makan sendiri dan seluruh badanku gatal di gigit nyamuk.” Keluh Gumi dan aku hanya menatapnya saja.
Tiba-tiba Gumi memukul kepalaku hingga aku terkejut. “Kau bodoh sekali, untuk apa berlutut lama di situ?” seru Gumi. “Kalau ingin mati jangan mati di depanku. Kau ini bodoh atau sudah bosan hidup hah?” Wanita bernama Gumi itu bangkit berdiri dan berjalan menjauhiku.
“Aku mohon ajari aku.” teriakku dan kembali berlutut. “Tolong ajari aku dan jadikan aku muridmu.”
Gumi membalikan badannya. “Jangan membuatku bingung. Aku bukan seorang guru.”
__ADS_1
“Aku mohon... bagaimana pun caranya aku ingin sepertimu.”
“Dengar ya, kau tidak akan mau hidup sepertiku. Untuk mendapat kemampuan seperti yang aku miliki ini semuanya tidak gratis.”
“Aku tahu. Aku akan membayarnya dengan apapun suatu hari nanti.” Tatapku.
“Berapa harga nyawamu?” Gumi mendekatiku dan memegang pundak kiriku dengan tangan kanannya. “Seberapa berharga nyawamu saat ini?” Mendengar pertanyaannya aku hanya diam karena tidak tahu harus jawab apa. “Sembilan tahun yang lalu aku seperti dirimu, setiap hari harus berjuang hidup di tempat ini. Hingga aku menjual nyawaku di tempat itu.”
“Pulau Poegriye?” Ucapku. “Apa di tempat itu kau mendapatkan kemampuanmu?”
Gumi tertawa mendengar ucapanku. “Tiga hari yang lalu aku tahu kau terus bersembunyi di balik pohon besar itu. Aku tidak tahu apa yang kau incar dari balik pohon itu.”
“Apa harus dengan nyawaku untuk mendapatkan kemampuan itu?”
“Dari mana kau belajar menembak?” Tanya Gumi lagi. “Kemarin itu benar-benar suatu kebetulan kan?”
“Tolong bawa aku ke Pulau Poegriye. Aku tidak punya apa-apa lagi sekarang. Tetapi aku harus tetap hidup.”
“Namaku Bee dan usiaku sepuluh tahun.” Jawabku. “Apa kau akan membawaku ke Pulau Poegriye.”
“Semua tergantung pada kesiapanmu.” Senyum Gumi.
Gumi berkata padaku kalau aku akan di bawanya ke Pulau Poegriye untuk belajar ilmu bela diri. Akan tetapi sebelum di terima di perguruan Gyeld Enn Chourius aku harus lulus ujian masuk yang di adakan tiap tahun. Dia bilang untuk masuk ke perguruan itu tidaklah mudah karena tidak akan ada kesempatan untuk kedua kalinya. Semua orang yang datang ke Pulau Poegriye harus lulus di perguruan itu kalau tidak mereka tidak akan keluar hidup-hidup.
Ketika matahari kembali bersinar Gumi mengajariku menggunakan belati. Dia menyuruhku melempar belati tersebut ke arah apel yang dia letakan di atas batu besar di jarak lima belas meter. Aku melemparnya dengan tidak yakin akan mengenai tepat sasaran.
Ternyata sangat sulit melakukannya. Puluhan kali aku mencoba tetap saja tidak mengenai apel. Aku membuang napasku karena kesal pada diriku yang tidak bisa apa-apa.
“Ini makan dulu.” Gumi memberikan sebuah apel padaku. “Istirahat dulu. Semua orang tidak akan mungkin berhasil di hari pertama mereka mencobanya.” Ucap Gumi duduk di tanah.
__ADS_1
“Apa kau juga begitu?” Tanyaku menghampirinya.
“Tidak.” Senyum Gumi. “Aku selalu bisa melakukannya dengan cepat. Karena itu aku lulus di usia delapan belas tahun.” Nada bicara Gumi terdengar sombong. “Lihat tanda ini...” Gumi mengibaskan rambut dari punggungnya dan memperlihatkan sebuah tanda yang ada di bawah leher belakangnya. Sebuah gambar berbentuk segitiga dan di dalamnya terdapat seekor ular yang hanya memiliki satu mata. “Kau melihatnya kan?”
“Tanda apa itu?” Tanyaku.
“Jika kau lulus mereka akan memahatmu di bagian ini dengan gambar itu.” Jawab Gumi menatapku. “Gambar ini adalah tanda kalau kau resmi sebagai anggota Gyeld Enn Chourius.” Lanjut Gumi menerangkan. “Kau harus lulus dari tempat itu tapi tampaknya tidak akan mudah untukmu.”
“Apa aku memang payah dan tidak bisa apa-apa?” tanyaku patah semangat.
“Siapa nama adikmu?”
“Jatnera. Kenapa kau bertanya?”
“Aku hanya ingin tahu saja.” Ujar Gumi merebahkan tubuhnya sambil menggigit apel miliknya.
“Gumi, bagaimana caranya agar aku dapat diterima di perguruan Gyeld Enn Chourius? Aku harus masuk ke perguruan itu bagaimanapun caranya.”
“Tidak seharusnya yang kau pikirkan caranya untuk keluar dari sana. Kalau tidak lulus kau tidak akan bisa meninggalkan tempat itu hidup-hidup. Kalau itu sampai terjadi percuma saja kau bisa masuk kesana.” Terang Gumi menatapku. Tatapannya benar-benar serius kali ini. “Lihat ini.” Gumi mengeluarkan sebuah benda berkilau dari balik bajunya.
Benda itu adalah logam yang di acungkannya ke arah pesawat tadi malam.
“Jika kau lulus dari sana kau juga akan mendapatkan benda ini. Dengan ini kau bisa keluar dari Deapectrum.”
Aku mengambil benda logam tersebut dan mengamatinya. Logam sepanjang kira-kira lima belas kali sepuluh sentimeter itu terdapat ukiran segitiga dan di tengahnya terukir juga gambar ular bermata satu.
Gambar itu adalah gambar yang sama seperti yang ada di bawah leher belakang Gumi. Dengan benda ini aku bisa keluar dari tempat terkutuk ini. Dalam sekejap semangatku bangkit kembali. Aku pasti akan lulus untuk mendapatkan benda itu dan sesegera mungkin keluar dari sini.
Aku menyerahkan logam itu pada Gumi lalu bangkit berdiri. Mengambil belati yang terjatuh di tanah dan mencoba kembali melemparkannya ke apel berkali-kali. Aku terus mencoba walau gagal.
__ADS_1
...@cacing_al.aska...