DEAPECTRUM

DEAPECTRUM
20. HUKUMAN HATI


__ADS_3

Ibu membawaku ke ruangannya. Dia tidak bicara apapun padaku. Aku juga diam saja karena aku yakin pasti akan mendapatkan hukuman. Bu Bianca yang berdiri di samping Ibu juga hanya diam menatap aku.


Tidak berapa lama Wendy yang tadi pergi kembali dengan sesuatu di bawanya. Aku melihat benda berwarna merah itu adalah buku kesayanganku.


Mau apa mereka dengan buku itu? Aku kembali teringat dengan hukuman yang di sebut dengan hukuman hati. Hukuman seperti apa itu?


“Kau sudah dengar kan tentang hukuman hati?” seru Ibu mengambil buku kesayanganku yang di berikan Wendy. “Pasti kau bertanya hukuman seperti apa itu, bukan?” lanjut Ibu. “Hukuman itu adalah hukuman yang akan memusnahkan semua yang kau sayangi.”


Setelah itu Ibu menyulutkan api dari lilin yang menyala ke buku kesayanganku lalu melemparkan buku itu ke sebuah baskom almunium yang ada di atas meja kerjanya.


Aku yang berdiri di hadapannya hanya menangis tanpa berkata apapun melihat buku kesayanganku terbakar api hingga tak tersisa. Buku itu adalah buku kesayanganku yang di dalamnya terdapat tempat impianku dan sekarang sudah habis di lalap api.


“Kau mengerti kan sekarang?” Ujar Ibu. “Jangan melanggar lagi, karena jika kau melanggar kami akan memusnahkan apapun yang lebih kau anggap berharga.”


“Bee, karena kau melanggar jam pelajaran kau juga harus menjalani hukuman selama tiga hari di ruang gelap. Kami juga tidak akan memberimu makanan dan minuman.” Ucap Bu Bianca, “Kau harus memikirkan apa kesalahanmu agar tidak mengulanginya lagi,” lanjut Bu Bianca. “Ayo ikut aku!”


Bu Bianca berjalan keluar ruangan dan Wendy mendorongku untuk mengikutinya. Aku menghapus air mataku di wajahku sebelum keluar ruangan. Semua murid baru ada di luar ruangan ingin mengetahui apa yang terjadi.


Ketika aku berjalan melewati mereka aku melihat Cleve yang terlihat sangat cemas dengan keadaanku. Aku hanya menatapnya tanpa berkata apapun ataupun tersenyum.


Mereka membawa aku ke gedung berwarna hitam yang terdapat beberapa ruangan tanpa jendela. Setelah membuka sebuah ruangan dengan pintu besi Wendy mendorongku masuk ke ruangan itu hingga aku terjatuh.


“Bertahan hiduplah, Bee...” Ucap Wendy setelah itu menutup pintu besi.


Hanya kegelapan yang ada di ruangan ini. Aku tidak dapat melihat apapun di sini karena tak ada setitik cahayapun di dalam ruangan yang sangat berdebu ini.


Aku merangkak dengan instingku ke sudut ruangan dengan air mata yang mengalir deras keluar.


Selama tiga hari aku akan bertahan hidup di sini tanpa makanan dan minuman ataupun cahaya. Aku tidak tahu hukuman seberat ini yang aku dapatkan karena kesalahanku yang pergi dari kelas saat pelajaran. Tetapi hukuman hati yang lebih membuatku sedih. Mereka membakar buku kesayanganku tanpa mempedulikan apa yang aku rasakan jika kehilangannya.

__ADS_1


Aku benar-benar ingin pergi dari tempat ini.


Tidak bertenaga adalah hal yang aku rasakan. Aku menahan rasa lapar dan haus hingga aku tidak bisa bergerak lagi. Bahkan napasku sedikit sesak karena ruangan yang berdebu dan sempit serta di tambah tak ada cahaya.


Aku tidak tahu sudah berapa lama aku berada di dalam ruangan ini. Aku merasa hidupku akan berakhir di tempat ini karena sekarangpun aku tidak bisa berbuat apa-apa.


Hanya rasa penyesalan yang menyerangku. Seharusnya aku tidak membantu Ian, tidak, seharusnya aku tidak ijin ke kamar mandi. Bukan, seharusnya sejak awal aku tidak datang ke tempat ini. Disini mereka mengajari bagaimana caranya membunuh. Aku tidak ingin menjadi pembunuh, karena itu lebih baik jika aku mati saja di sini agar aku tidak membunuh siapapun. Benar, lebih baik aku mati saja disini.


Tanpa aku sadari air mata mengalir deras membasahi pipiku. Aku mengingat kembali perkataan anak laki-laki itu, dan segera mengambil kalung yang aku curi darinya di saku celanaku. Aku menggenggamnya sangat erat karena tidak ingin benda itu jatuh dan membuatku kesulitan mencarinya.


Aku menangis karena merasa kalau aku tidak akan bisa mengembalikan benda ini ke anak itu. Aku benar-benar merasa sedih karena jika aku mati aku tidak akan bertemu lagi dengannya.


Seharusnya aku tidak mempercayai perkataan anak itu yang yakin kalau kami akan bertemu lagi. Bagaimana cara kami bertemu lagi sedangkan dia sekarang berada di negaranya dan aku terkurung di tempat ini. Seharusnya aku tidak pernah bermimpi untuk keluar dari Deapectrum sedangkan aku tidak bisa berbuat apa-apa saat ini. Aku benar-benar bodoh selalu menyadari semua hal terlambat. Bahkan Jatnera bisa lebih pintar dariku.


Mengingat Jatnera membuatku rindu akan dirinya. Dimana dia sekarang? Semoga saja dia masih hidup dan baik-baik saja di luar sana. Aku yakin sekali kalau dia baik-baik saja sekarang.


Jika aku tidak bisa bertahan hidup maka aku berdoa agar Jatnera dapat pergi dari negeri pembuangan ini suatu hari nanti. Air mataku semakin deras saat memikirkan Jatnera. Aku teringat lagu berjudul Malaikatku yang sering di nyayikan Jatnera yang diajarkan oleh Isbell.


Ketika di bait kedua aku merasa mendengar suara Jatnera bernyanyi bersamaku dan hal itu membuatku menjadi sedikit bersemangat. Bahkan aku seperti mendengar nyata suara Jatnera.


Tiba-tiba pintu besi dibuka dan membangunkan aku dari tidur. Mataku silau karena cahaya yang masuk langsung menyerang mataku.


Sepertinya tiga hari masa kurunganku sudah berakhir, hal itu membuatku senang karena aku masih bisa bertahan hidup. Setidaknya aku masih punya sedikit harapan untuk bertemu anak laki-laki itu dan Jatnera.


Nyanyian Jatnera yang sudah membantuku dan memberikan semangat hidup pada diriku yang sempat berpikiran untuk mati. Aku benar-benar berterima kasih padanya.


“Bee, kau masih hidup kan?” Tiba-tiba Gumi masuk dan langsung menghampiriku ketika pintu besi terbuka lebar.


Wendy, Bu Bianca dan Ibu berada di belakangnya.

__ADS_1


“Kau benar-benar bodoh, Bee!” Gumi tersenyum padaku ketika aku menatapnya dengan susah payah.


Aku di bawa ke klinik dan dibaringkan disana. Mereka langsung memberiku makanan dan minuman. Aku seperti orang kelaparan menyantap semuanya tanpa sisa. Ya, aku memang kelaparan setelah tiga hari tidak makan dan minum.


Gumi bersamaku ketika aku makan dan minum. Aku tidak tahu sejak kapan dia sangat khawatir padaku seperti kakakku. Tapi aku senang ketika melihat dia yang datang tadi.


“Sudahku bilang jangan bawa barang berhargamu kesini," seru Gumi yang duduk di depanku ketika aku selesai menghabiskan makananku di atas tempat tidur. “Untung saja hanya buku itu, bagaimana kalau...” Gumi berhenti berbicara.


“Kalau apa?” tanyaku. Gumi tidak menjawab dan hanya nyengir padaku. “Tapi itu buku kesayanganku. Aku benar-benar sedih ketika melihat buku itu terbakar.”


“Kau tidak boleh melanggar aturan, untung saja kurunganmu hanya tiga hari, bagaimana jika seminggu atau sebulan? Kau pasti mati disana,” ujar Gumi memukul kepalaku dengan bantal. “Aku sudah dapat tugas pertamaku dan besok aku akan pergi. Selama sebulan sampai tiga bulan aku tidak akan pulang. Ibu meminta Nem untuk membantuku dalam tugas pertamaku. Seharusnya tidak usah karena aku yakin dapat menyelesaikan tugas ini.”


“Siapa? Siapa yang akan kau bunuh?” Tanyaku menatap Gumi.


“Jadi mereka sudah memberitahumu tentang hal itu ya?” Gumi balik bertanya. “Aku tidak kenal siapa dia tapi dia orang yang ada di Deapectrum, tampaknya salah satu pengusaha.”


“Bagaimana perasaanmu, Gumi?”


Gumi tidak langsung menjawab pertanyaanku. Dia hanya merubah posisi duduknya dan tidak menatapku lagi.


“Kau sudah biasa membunuhkan?”


Mendengar kata-kataku Gumi menundukan kepalanya. Dia diam saja dan tidak menjawabku.


“Bee, bagaimana keadaanmu?” tiba-tiba Cleve datang. “Aku senang kau baik-baik saja.”


“Apanya yang baik-baik saja. Lihat makannya banyak sekali.” Seru Gumi dengan tawa. “Dia makan seperti orang kelaparan, tapi dia memang kelaparan kan.” Gumi semakin kencang tertawa.


Dasar Gumi, dia langsung melupakan apa yang aku katakan tadi.

__ADS_1


...@cacing_al.aska...


__ADS_2