
Perkataan Ian membuatku menoleh padanya dengan tatapan dingin.
“Aku tidak ingin mencium orang yang tidak akan bersamaku selamanya. Jadi sekarang menyingkirlah!” Seruku dengan penuh penekanan.
Akhirnya Ian mendengarkan kata-kataku dan segera menyingkir. Ian tertawa setelah itu dengan memalingkan wajahnya dariku.
“Ini sangat lucu,” racau Ian.
“Cuci mukamu sekarang,” ucapku.
Ian duduk memunggungiku di sisi ranjang. Aku beranjak bangun menuju pintu keluar namun langkahku terhenti sesaat untuk mengatakan sesuatu pada Ian.
“Aku akan pergi sebentar dan ketika aku kembali aku sudah melupakan kejadian tadi, jadi bersikaplah seperti Ian biasanya,” ujarku.
Setelah berkata seperti itu aku berjalan keluar kamar meninggalkan Ian sendiri di sana.
Di luar kamar, kerongkonganku terasa sangat memanas sehingga aku batuk dan mengeluarkan darah.
Hal ini sudah sering terjadi padaku, dan Ian ataupun Cleve tidak tahu mengenai hal ini karena aku merahasiakannya dari mereka.
“Sampai kapan aku akan seperti ini? Benar-benar mengganggu,” gumamku pada diriku sendiri sambil menghapus noda darah di telapak tanganku dengan sapu tangan.
Sekitar pukul enam pagi aku kembali ke kamar penginapan. Ketika aku masuk Ian sedang tidur di ranjangnya. Aku meletakan segelas susu hangat yang aku beli dari rumah makan yang menyatu dengan penginapan kami.
“Kau sudah kembali?” Ucap Ian yang terbangun ketika aku meletakan segelas susu di meja samping ranjangnya. “Kepalaku sakit sekali.” Ian memegang kepalanya.
“Minum susu hangat itu agar sakit di kepalamu hilang,” ujarku.
Ian langsung mengikuti perkataanku dengan bangun dan menenggak susu hangat yang aku berikan hingga tidak tersisa.
“Apa Cleve belum juga kembali? Dua jam lagi kita harus ke lubang harta untuk mengumpulkan barang-barang tapi aku masih ingin tidur. Kepalaku terasa sangat berat," keluh Ian.
“Biar aku saja yang pergi ke lubang harta,” ujarku menuju jendela untuk membuka tirainya agar udara pagi dan sinar matahari membersihkan kamar ini dengan caranya. “Kau tidur saja!”
“Tidak, jangan dibuka dulu!” Seru Ian kembali berbaring dan menutupi kepalanya dengan selimut karena sinar matahari masuk ke dalam kamar.
Aku kembali menutup tirainya seperti keinginan Ian.
“Jika Cleve kembali aku akan membunuh anak itu,” ujar Ian.
Kami berdua sudah kembali seperti biasanya dan berusaha untuk menganggap kejadian tadi tidak pernah ada. Aku merasa ini bagus karena jika kami menganggap kejadian itu ada, pasti saat ini kami berdua sudah merasa canggung satu sama lain.
Ketika aku bersiap-siap untuk pergi ke lubang harta, tiba-tiba pintu kamar diketuk oleh seseorang, dan aku membukanya. Ternyata seorang pekerja yang bekerja di penginapan ini.
__ADS_1
“Seorang wanita memintaku memberikan ini padamu,” ujar pekerja pria itu memberiku secarik kertas setelah itu pergi.
Aku membuka kertas tersebut dan membaca tulisannya.
CLEVE SUDAH BERSAMA KAMI, KE LUBANG HARTA SEKARANG DAN KAMI AKAN MEMBAWAMU KEMBALI DENGAN HIDUP-HIDUP KE PULAU POEGRIYE.
“Apa Cleve sudah pulang?” Tanya Ian yang masih berbaring.
Suara Ian memecahkan keterkejutanku saat membaca pesan yang diberikan padaku. Aku tahu siapa pengirim pesan tersebut. Ya, tentu saja, orang yang mengirim pesan itu adalah orang-orang dari Gyeld Enn Chourius.
“Belum, banya orang yang salah kamar,” jawabku berjalan masuk.
Aku mengambil pedangku dan hendak bergegas ke lubang harta. Aku harus datang kesana karena orang-orang perguruan sudah menangkap Cleve.
“Ada Apa? Kenapa kau membawa pedangmu?” Tanya Ian melihat padaku. “Kau tidak perlu membawa itu, kan?”
“A—aku hanya ingin membawanya saja. Aku merasa lebih aman jika membawanya,” jawabku mencoba untuk terlihat biasa.
“Tapi jika prajurit keamanan melihatmu membawa senjata mereka akan menangkapmu,” ujar Ian dengan tatapan aneh padaku. “Sebenarnya ada apa?”
“Tidak apa-apa aku akan berusaha agar tidak ketahuan," ucapku sambil membungkus pedang milikku dengan kain berwarna hitam. “Ian...” Aku menatap Ian yang masih berbaring.
“Ada apa?”
“Kau harus tetap bersembunyi dan berusaha agar tidak ada yang mengenalimu kalau kau dulu adalah budak di Pulau Poegriye, kau mengerti?”
“Aku pergi dulu.” ujarku setelah itu berjalan keluar kamar untuk menghindar dari pertanyaan Ian.
Hujan mulai turun rintik-rintik ketika aku hampir sampai di lubang harta. Aku tidak mengira kalau akan turun hujan padahal tadi matahari masih terlihat cerah, terlebih biasanya daerah lubang harta adalah daerah yang jarang dituruni hujan. Ini tidak seperti biasanya.
Sekitar tiga kawanan penjahat yang sedang bertugas di lubang harta sudah terkapar dan bersimbah darah ketika aku sampai.
Tiga wanita dari perguruan Gyeld Enn Chourius bersama Bu Bianca berada di lubang harta dengan Cleve yang tangannya sudah terikat. Bahkan Hansly juga berada di lubang harta dengan wajah bersimbah darah yang keluar dari kepalanya.
Pria itu tetap berusaha berdiri walaupun itu sulit baginya. Dia pasti membela Cleve dan tidak ingin jika Cleve dibawa oleh orang-orang perguruan.
Aku baru benar-benar sadar kalau Hansly adalah pria yang baik untuk Cleve.
Segera aku keluar dari balik pohon dan berjalan menuju rombongan yang berasal dari Pulau Poegriye. Mereka menatap kehadiranku.
Kakiku benar-benar gemetar karena aku tahu, ini adalah akhir dari pelarian kami, aku dan Cleve.
Aku tidak akan bisa mengalahkan mereka semua jadi aku tidak akan mencoba melawan. Di surat itu bilang kalau kami akan dibawa hidup-hidup ke Pulau Poegriye jadi sebaiknya aku tidak berusaha melawan, karena jika itu terjadi pasti mereka langsung akan membunuh kami berdua.
__ADS_1
“Kenapa kau datang, Bee?” Teriak Cleve dengan nada kesal.
Aku tidak menjawab Cleve dan terus berjalan ke arah Bu Bianca yang menatapku. Ketika sampai di hadapannya, dia menamparku keras dengan punggung telapak tangannya hingga darah keluar dari hidungku dan pedang yang ku bawa terjatuh ke tanah.
“Kalian berdua benar-benar bodoh!” Seru Bu Bianca.
“Aku mohon, jangan bunuh dia,” ucapku memohon untuk keselamatan Hansly, walaupun aku tahu kalau akhirnya mereka juga pasti akan membunuhnya. “Aku mohon, biarkan dia hidup.” Aku menatap Bu Bianca dengan air mata mengalir, sekali lagi dia menamparku dengan keras dan kali ini darah keluar dari sisi bibirku.
“Dimana budak itu? Kalian bersamanya, kan?” Tanya Bu Bianca.
“Kami tidak berhasil menemukannya,” jawabku.
“Apa maksudmu?” Tanya Bu Bianca lagi dengan nada suara yang meninggi.
“Aku dan Cleve mencoba menangkap budak yang kabur, karena itu kami sampai keluar dari Pulau Poegriye. Kami kira kami bisa menangkapnya tetapi budak itu ternyata berhasil melarikan diri dari kami,” ujarku dengan mengarang cerita.
“Benarkah begitu?” Tanya Bu Bianca pada seorang wanita yang berasal dari perguruan.
Aku yakin kalau wanita itu adalah lulusan baru sehingga dia bertugas menjaga lubang harta selama sebulan. Itu sebabnya mereka dapat menemukan kami, karena hampir setiap hari kami bertiga datang ke lubang harta.
Aku benar-benar lupa kalau ujian akhir tahun ini sudah berakhir dan lulusan baru akan menjaga lubang harta. Bagaimana bisa aku melupakan hal penting seperti itu.
“Apa kau tidak melihat budak itu dengan mereka?”
“Sejujurnya aku tidak tahu bagaimana rupa budak itu, tetapi aku yakin kalau mereka bersama seorang pria lainnya,” jawab wanita itu pada Bu Bianca.
“Dia bukan budak itu. Aku bertemu dengannya dan kami menjalin hubungan juga,” ucapku dengan mengarang cerita lagi. “Sebenarnya kami ingin kembali ke pulau tetapi kami tidak yakin apakah kami masih akan diterima atau tidak.”
Sekali lagi Bu Bianca menampar wajahku hingga aku terjatuh. Kerongkonganku terasa panas dan aku batuk beberapa kali hingga mengeluarkan darah.
Ketika aku mencoba bangun aku melihat Ian berada di balik pohon yang jaraknya lumayan jauh sedang memperhatikan kami.
Aku menatapnya dan mencoba untuk melarangnya muncul dengan tatapanku. Aku tidak ingin dia tertangkap karena mereka pasti akan langsung membunuhnya.
“Ikat dia juga dan kita harus segera kembali ke perguruan!” Seru Bu Bianca. “Cepat! jangan buang-buang waktu.”
Aku melirik ke arah Ian yang bersembunyi dan tampak dia ingin menembak dengan pistol yang di bawanya. Namun tiba-tiba Hansly bangun dan mencoba menyerang Bu Bianca. Akan tetapi salah seorang dari mereka menembak Hansly tepat di kepalanya dan hal itu membuat Cleve berteriak karena melihat orang yang di cintainya mati tepat di depan matanya.
Melihat sahabatku menangis karena kematian kekasihnya, membuatku juga menangis. Aku menengadah dan merasakan air hujan yang semakin deras turun ke bumi. Inilah akhir dari segalanya.
“Cepat bawa mereka, kita harus segera sampai ke Pulau Poegriye.” Bu Bianca berjalan ke arah mobil dan masuk kedalam.
Aku menoleh pada Ian yang masih tetap bersembunyi dan mencoba menggelengkan kepalaku untuk melarangnya. Aku dapat melihat kalau saat ini Ian merasa sangat sedih karena air mata keluar dari matanya.
__ADS_1
Ini mungkin adalah pertemuan kami yang terakhir kalinya, tetapi aku senang karena dia tidak tertangkap. Dia bisa menjalani hidupnya dengan baik tanpa harus menjadi seorang budak lagi.
...@cacing_al.aska...