DEAPECTRUM

DEAPECTRUM
018. MENJADI PEMBUNUH BAYARAN


__ADS_3

Pukul delapan aku sudah berada di dalam kelas. Cleve dan anak-anak yang sudah sehat juga sudah datang ke kelas. Hanya anak perempuan yang terkilir saja yang masih berada di klinik. Kakinya terkilir sehingga membengkak karena itu dia masih belum boleh keluar klinik.


“Baiklah, untuk mengawalinya mari kita berkenalan satu sama lain.” Seru Wendy yang berada di depan kelas. “Akan ku panggil nama kalian dan sebutkan saja semua tentang diri kalian yang ingin kalian bagikan pada yang lainnya.”


Wendy memanggil satu persatu nama kami dan setiap nama yang di panggil di perbolehkan berbicara sesuka mereka. Ada yang bercerita mengenai hal yang mereka suka, ada juga yang bercerita tentang kehidupan mereka sebelum berada di sini tentunya kehidupan mereka begitu mengenaskan seperti kehidupanku sendiri, dan ada juga yang menyombongkan diri mengenai kemampuan mereka yang sudah mereka pelajari.


“Namaku Tiffany, usiaku sebelas tahun. Aku dapat menembak dan melempar belati tepat sasaran. Aku tidak mengerti kenapa ayah dan ibuku sampai ada di Deapectrum tapi aku senang karena sudah berada di tempat ini dan tidak perlu lagi bertemu mereka.” Ujar Tiffany dengan nada sombong. “Aku benci mereka karena mereka aku harus hidup di Deapectrum.”


“Namaku Cleverlly tapi panggil saja aku Cleve dan usiaku sebelas tahun. Aku sangat sayang ayahku walau karena dia aku harus hidup di Deapectrum, aku juga sayang kakak laki-lakiku yang pergi meninggalkan aku sendiri tetapi aku berdoa agar dia baik-baik saja diluar sana.” Ujar Cleve. “Aku bisa menembak tapi tembakanku masih kacau, aku harap aku bisa seperti mentorku Nem, karena itu aku harus banyak belajar.”


Aku benar-benar suka perkataan Cleve. Aku ingin mengatakan hal seperti itu tetapi aku tidak yakin akan bisa melakukannya. Bahkan sekarangpun aku sudah gemetar walau namaku belum di panggil. Aku hanya menutup mataku karena aku benar-benar gugup melakukannya. Aku tidak bisa berbicara di depan orang banyak, rasanya aku ingin pergi saja ke suatu tempat.


“Klay-Bee,” Akhirnya Wendy menyebut namaku. “Klay-Bee, siapa yang bernama Klay-Bee?” Wendy mengulangnya karena aku tidak langsung bangkit berdiri.


Cleve yang duduk di kursi sebelahku berbisik menyuruhku untuk bangkit berdiri, dengan detak jantung yang berdebar aku segera bangkit berdiri.


“Na—namaku Klay-Bee...” Ucapku tergagap karena gugup.


“Namanya aneh.” Seru Tiffany. “Dari mana nama itu berasal?”


“A—apa? Hmm, nama itu berasal dari tulisan yang ada di pakaian yang dikenakan ibuku ketika melahirkan aku. Namanya memang aneh tapi kalian bisa memanggilku dengan Bee.”


“Bee berarti lebah.” ucap Wendy, “Berapa usiamu, Bee? Katakan apa saja yang ingin kau katakan, tidak perlu gugup.”


“Usiaku sepuluh tahun.” Lanjutku mencoba bersikap santai. “Kehidupanku sama saja seperti kalian semua, setiap hari harus berjuang tanpa tahu kapan akan mendapatkan hidup yang lebih baik. Tapi seseorang pernah berkata padaku kalau dia akan merubah Deapectrum menjadi lebih baik karena itu dia menyuruhku untuk bertahan hidup. Aku harus bertahan hidup agar bisa bertemu lagi dengannya.”

__ADS_1


“Apa dia pacarmu?” Seru seorang anak berkulit hitam. “Aku juga punya pacar di luar sana tapi dia tidak pernah berkata seperti itu kepadaku.” Mendengar kata-kata anak itu kelas menjadi ribut.


“Oke perkenalannya cukup sampai di sini.” Ujar Wendy berjalan lebih mendekat. “Sekarang aku akan bertanya beberapa pertanyaan kepada kalian.” Wendy mengigit bibir bawahnya dan terlihat seperti sedang berpikir. “Apa yang kalian ketahui tentang Gyeld Enn Chourius? Katakan semua yang kalian ketahui.”


“Perguruan yang mengajarkan bagaimana caranya bertahan hidup.” Jawab Cleve.


“Ada yang lain?” Tanya Wendy.


“Satu-satunya tempat dimana kita bisa bertahan hidup.” Kali ini Tiffany yang menjawab. “Disini kita tidak perlu lagi takut mati kelaparan.”


“Apa di antara kalian ada yang sudah pernah membunuh?” Tanya Wendy lagi. “Yang sudah pernah silahkan acungkan tangan.”


Dengan ragu aku mengacungkan tangan. Akulah satu-satunya yang mengacungkan tangan. Hal itu membuat semua anak terkejut begitu juga dengan Cleve.


“Se–sebenarnya aku tidak bermaksud membunuhnya. Aku melihat Gumi sedang berkelahi dengan tiga pria raksasa di lubang harta dan satu orang yang tangannya sudah dipotong Gumi mencoba menyerang Gumi ketika dia sedang lengah, lalu tanpa pikir panjang aku yang bersembunyi mengambil pistol yang aku ambil dari kawanan penjahat yang sudah mati lalu menembak orang itu tepat di kepalanya.” Ucapku merasa malu karena sepertinya membunuh bukanlah hal yang patut dibanggakan.


“Benarkah?” Tanya Wendy. “Itu hebat sekali. Ayo beri tepuk tangan pada Bee.”


Serentak semua anak bertepuk tangan untukku kecuali Cleve yang menatapku. Aku merasa aneh dengan semua ini. Kenapa aku yang membunuh mendapatkan tepukan tangan? Apa karena aku menyelamatkan Gumi?


“Akan aku beritahu kalian satu hal keuntungan hidup di negeri pembuangan ini yaitu kalian tidak akan dihukum karena melakukan kejahatan termasuk membunuh.” Wendy berjalan mendekatiku dan memegang pundakku. “Itu hebat kan, Bee?” Wendy menatapku. “Mengenai pertanyaan pertamaku jawaban kalian tidak sepenuhnya salah tetapi lebih tepatnya perguruan ini adalah...” Wendy berjalan kembali menuju depan kelas. “Perguruan Gyeld Enn Chourius ini adalah tempat dimana kau dapat belajar caranya membunuh.”


Perkataan Wendy membuat aku dan Cleve saling tatap. Aku tidak mengerti benar arti dari perkataan Wendy.


“Setelah lulus kalian akan menjalankan sebuah tugas yang imbalannya sangat besar.”

__ADS_1


“Tugas seperti apa?” Tanya Cleve.


“Membunuh.” Jawab Wendy menatap Cleve yang tampak terkejut.


Seluruh anak saling berbisik mendengar ucapan Wendy.


“Disini kalian akan diajari caranya membunuh tentu untuk membunuh. Tapi tenang saja karena kalian akan mendapat imbalan yang sangat banyak.”


Aku bergidik mendengarnya. Isbell mengajariku untuk tidak melakukan kejahatan dan sekarang aku akan belajar bagaimana caranya membunuh. Air mataku ingin mengalir keluar namun aku menahannya sehingga penglihatanku terlihat samar-samar. Aku sudah berada disini dan tidak bisa keluar karena mereka pasti akan membunuhku seperti mereka membunuh anak-anak perempuan yang tidak berlari. Apa yang harus aku lakukan sekarang?


“Bee...” Cleve memegang tanganku, dia tahu kalau aku ketakutan. “Jangan berpikir apapun. Kita sudah disini dan kita harus menjalani semuanya. Kau mengerti kan?”


Aku mengangguk.


“Setiap tahun perguruan mencari anak berusia sembilan sampai duabelas tahun untuk mengikuti ujian masuk. Ada sepuluh tingkatan di perguruan ini dan di tingkat sepuluh kau akan mengikuti ujian kelulusan. Hanya yang terbaik yang akan lulus. Namun jika kalian merasa yakin bisa mengikuti ujian kelulusan sebelum tingkat sepuluh kalian bisa mendapatkan rekomendasi.” Terang Wendy sambil berjalan mengelilingi kelas. “Tetapi sayangnya baru satu orang saja yang dapat lulus dan sekarang ini dia adalah lulusan termuda perguruan ini yang lulus tahun kemarin. Kalian tahu kan siapa dia?”


“Boleh aku bertanya?” Ucapku menatap Wendy, dan Wendy mengangguk. “Kenapa hanya anak perempuan saja?”


“Karena perempuan memiliki kelemahan.” Jawab Wendy duduk di salah satu meja anak lain. “Tapi kelemahan itu pula yang selalu dijadikan senjata. Menangislah disaat kau terpojok, dan tersenyumlah disaat mereka mencurigaimu.” Lanjut Wendy tersenyum. “Baiklah untuk saat ini cukup sampai di sini. Kita akan mulai belajar besok tapi ingat untuk bersungguh-sungguh belajar karena kami hanya mencari murid terbaik di tiap tahunnya. Dan satu hal ingat motto kita. Temukan keberuntunganmu dengan membuang rasa takut akan kematian.” Senyum Wendy setelah itu meninggalkan ruangan.


“Bagaimana sekarang, Bee?” tanya Cleve menatapku.


“Temukan keberuntunganmu dengan membuang rasa takut akan kematian.” Jawabku. “Aku sudah memutuskan untuk tetap mengikuti pelajaran karena aku harus hidup.”


...@cacing_al.aska...

__ADS_1


__ADS_2