
Dengan langkah cepat aku berlari meninggalkan tempat semulaku. Aku tidak peduli apa aku akan menginjak duri atau paku. Aku juga tidak peduli apa aku akan tebunuh jika menginjak ranjau karena aku sudah berjanji pada Gumi akan lulus ujian masuk. Aku berlari tanpa tahu apa yang ada di depanku namun aku tidak merasakan menginjak apapun.
Aku terus berlari hingga seseorang memegang bahuku dan menyuruhku berhenti. Aku berhenti seperti yang di katakan orang itu. Tidak berapa lama terdengar suara tembakan bertubi-tubi yang di susul dengan teriakan beberapa anak perempuan. Mendengarnya membuat aku bergidik karena aku tidak tahu apa yang terjadi.
Mereka mengikat tangan kami lagi dan membawa aku serta anak-anak lainnya meninggalkan tempat itu masih dengan mata tertutup. Ketika sampai di suatu tempat yang aku tebak adalah ruangan di mana tadi kami di kumpulkan, mereka membuka ikatan tangan dan penutup mata kami.
Aku mengusap-usap mataku untuk membenarkan penglihatan. Beberapa wanita keluar dari ruangan ini setelah membuka ikatan tangan dan penutup mata kami. Aku menghitung hanya tinggal delapan belas anak termasuk diriku yang berada di ruangan, itu berarti sembilan belas anak tidak lulus ujian masuk. Aku mencari sosok Cleve dan mendapatinya berada di pojokan ruangan, dia terlihat masih gemetar hingga tubuhnya seperti menggigil. Aku mendekatinya untuk menenangkannya.
“Kau baik-baik saja Cleve?” Tanyaku memegang kedua pundaknya untuk menghentikan gemetar di tubuhnya. “Kita sudah lulus ujian masuk. Tenanglah...”
“Aku melihatnya Bee,” Ucap Cleve menatapku dengan mata yang memerah. “Mereka menembaki anak-anak itu... mereka menembaki anak-anak yang tidak berlari.” Cleve memelukku. “Sejak awal ikatan yang menutup mataku tidak terikat dengan kencang sehingga aku melihat semuanya. Aku tahu kalau disana tidak ada duri, paku ataupun ranjau seperti yang mereka katakan. Karena itu aku berlari seperti yang mereka suruh. Kau adalah pelari terakhir, dan setelah itu mereka menembaki anak-anak yang tidak berlari.” Ucap Cleve berbisik di telingaku.
Aku benar-benar terkejut dengan perkataan Cleve. Aku teringat perkataan Gumi yang bilang tidak akan ada kesempatan kedua kalinya kalau aku tidak lulus ujian masuk, Gumi juga pernah bilang kalau tak ada orang yang bisa keluar dengan mudah dari Pulau Poegriye.
Aku benar-benar beruntung karena pendengaranku yang tajam. Aku mendengar suara pistol yang di kokang sebelum mereka menembaki anak-anak yang tidak berlari karena itu pula aku langsung berlari. Bahkan aku harus berterima kasih pada Cleve atau anak-anak yang berlari lebih dulu karena dengan mendengar mereka baik-baik saja, aku jadi berani untuk berlari juga.
“Bisa kalian diam sebentar?” Tiba-tiba Ibu dan Bu Bianca masuk ke dalam ruangan. Cleve melepas pelukannya dan kami melihat ke arah Ibu yang berbicara. “Selamat kalian lulus ujian masuk. Dengan ini kalian resmi menjadi murid perguruan Gyeld Enn Chourius, semoga kalian dapat bertahan hidup dan lulus dari sini. Temukan keberuntunganmu dengan membuang rasa takut akan kematian.” Dengan wajah yang datar Ibu berbicara setelah itu segera keluar ruangan.
Bu Bianca mengantar kami ke sebuah ruangan yang terdapat sembilan tempat tidur yang tiap tempat tidur terdapat dua bagian, bagian atas dan bawah. Ini adalah kamar untuk kami murid baru. Aku dan Cleve memilih tempat tidur yang dekat dengan jendela. Aku di bagian bawah sedangkan Cleve bagian atas. Bu Bianca menyuruh kami untuk mandi sebelum ke aula makan untuk makan malam jam tujuh. Namun aku memilih untuk berbaring sebentar.
“Bee, ayo kita mandi.” Cleve turun dari tempat tidurnya yang ada di bagian atas ranjangku lalu duduk di sisi ranjangku. Sedangkan aku lagi sibuk membaca ulang buku favoritku. “Tinggal kita yang belum mandi, semua anak sudah pergi mandi dan sekarang mungkin mereka sedang mengelilingi tiap sudut perguruan ini.”
Aku memperhatikan kamar yang ukurannya sangat panjang ini dan memang benar tidak ada siapapun disini kecuali aku dan Cleve.
“Ayo mandi, sekarang sudah jam enam sedangkan jam tujuh kita harus sudah ada di aula makan untuk makan malam.” Tambah Cleve.
__ADS_1
Aku melirik jam dinding yang tergantung di tengah-tengah ruangan, baru kali ini aku melihat bentuk jam yang sesungguhnya. Benda itu memiliki tiga jarum yang berbeda ukuran dan fungsi, dan lingkarannya di kelilingi angka, mulai angka satu hingga angka dua belas. Aku tidak mengerti cara baca jam tersebut.
“Ada apa? Kau belum pernah lihat jam ya?” Tanya Cleve seperti tahu isi pikiranku. “Aku akan mengajarimu cara membaca jam, tapi sebagai gantinya ajari aku cara membaca. Bagaimana?” Senyum Cleve.
“Baik.” Senyumku.
Tepat jam tujuh aku bersama Cleve berjalan menuju aula makan yang berada di bangunan khusus yang berada di sebelah timur. Kami bersendagurau dan tertawa dengan lelucon yang di lontarkan Cleve, aku berusaha tertawa mendengar teka-teki yang dia ajukan dan dia sendiri yang menjawab karena aku tidak dapat menebaknya, dan itu membuat kami tertawa.
“Kenapa kelinci makan wortel?” Tanya Cleve, aku menggeleng karena tidak tahu. “Karena jika kelinci makan nasi, apa yang akan kita makan?”
Aku tertawa mendengarnya, begitu juga dengan Cleve.
“Dari mana kau dapat teka-teki itu?” Tanyaku.
“Dari ayahku. Dia orang yang lucu dan selalu membuat aku dan kakak laki-lakiku tertawa.” Ucap Cleve.
“Hey, kalian tidak boleh memukuli orang seperti itu!” Seru Cleve sehingga murid-murid baru itu berhenti melakukan perbuatan tercela mereka.
Ternyata yang mereka pukuli adalah Ian, anak laki-laki bisu yang ada di perahu tadi siang.
“Apa yang kalian lakukan padanya?” Ujar Cleve.
“Kau tidak apa-apa?” Tanyaku memegang bahu Ian namun dia menghindar.
“Kami bertanya padanya di mana aula makan tetapi dia diam saja, sepertinya dia sengaja mengejek kami.” Ujar seorang anak perempuan berambut pirang. “Dasar budak tidak berguna.”
__ADS_1
“Tarik perkataanmu!” Seru Cleve dengan berani. “Kau pikir siapa dirimu sebelum ada di tempat ini?”
“Diam kau! Tidak penting siapa kami dulu.” Protes anak berambut pirang itu tidak mau kalah. “Budak tetap saja budak. Anak laki-laki memang tidak berguna. Ayo teman-teman!” Setelah berkata demikian anak perempuan angkuh itu pergi bersama ketiga temannya.
“Anak bernama Tiffany itu benar-benar sangat sombong.” Ucap Cleve.
Setelah itu Ian langsung beranjak berdiri dan berlari meninggalkan kami berdua.
“Ya ampun, kenapa dia tidak mengucapkan terimakasih setelah kita tolong?”
“Cleve, anak itu tidak bisa bicara.” Ucapku mendekati Cleve.
“Maksudmu dia bisu?” Cleve terlihat tidak percaya dengan ucapanku. “Anak laki-laki memang malang.”
Aku dan Cleve makan bersama di aula. Tiffany dan ketiga temannya memperhatikan kami terus dengan pandangan mengancam. Aku dan Cleve berusaha terlihat biasa saja dan tidak ingin menanggapinya.
Aku menikmati makanan yang ada di hadapanku. Sangat enak dan benar-benar lezat. Aku senang tidak perlu khawatir lagi mati kelaparan, tetapi aku merasa sedih karena tidak tahu kabar Jatnera, apakah dia sudah makan atau belum saat ini.
“Bee,” Panggil Gumi yang baru masuk aula dan berlari menghampiriku di belakangnya Nem berjalan mengikutinya. “Selamat ya akhirnya kau bisa lulus ujian.” Senyum Gumi sambil mengelus kasar kepalaku. “Tidak percuma aku mengajarimu. Selamat datang di rumah baru. Hahaa...”
“Gumi kecilkan suaramu!” Seruku merasa malu dengan tingkah Gumi yang selalu tidak menghiraukan keadaan sekitar.
“Selamat ya...” Ucap Nem melihat ke arah Cleve.
“Terima kasih.” Jawab Cleve.
__ADS_1
...@cacing_al.aska...