DEAPECTRUM

DEAPECTRUM
030. GUBUK LAMAKU


__ADS_3

“Kalian dari mana dan mau kemana? Sepertinya aku tidak pernah bertemu kalian,” tanya prajurit keamanan itu memperhatikan kami bertiga.


“Maaf pak, kami bertiga baru saja dibuang ke Deapectrum jadi kami sedang mencari tempat untuk kami tinggali,” jawab Ian berbohong.


“Bukannya badan organisasi dunia sudah melarang untuk membuang orang ke tempat ini sejak lima tahun yang lalu? Kenapa masih ada negara yang melanggarnya? Memangnya kalian dari negara mana dan kesalahan apa yang kalian buat hingga dibuang ke tempat ini?” Ujar prajurit keamanan itu.


“Ada apa ini?” Tiba-tiba seorang prajurit keamanan lainnya datang menghampiri kami. “Siapa mereka?”


“Mereka bilang kalau mereka adalah orang-orang yang baru dibuang ke tempat ini, "jawab prajurit keamanan yang pertama. “Bukannya sejak lima tahun yang lalu membuang manusia ke tempat ini sudah dilarang?”


“Itu benar,” ucap prajurit keamanan yang kedua.


Cleve terlihat ingin mengeluarkan pistol yang dia sembunyikan di balik kaosnya namun Ian memegang lengan Cleve untuk menahannya.


“Tapi masih saja ada beberapa negara yang tidak mau mendengarkan.”


“Benarkah?” Tanya prajurit keamanan yang pertama.


“Ya. Ada negara-negara yang tidak ingin ambil pusing mengeluarkan sejumlah uang untuk mengurus para pelaku kriminal.”


“Jadi begitu. Baiklah,” ujar prajurit yang pertama. Mendengar ucapannya Cleve menurunkan tangannya dan mengurungkan niatnya untuk mengambil pistol yang dia sembunyikan. “Tapi, benda apa itu?” Tanya prajurit pertama menunjuk benda terbungkus seperei yang dibawa Ian.


“Hey, sudahlah tugas kita adalah menjaga keamanan, jadi selama tidak ada keributan itu bagus kan?” Seru prajurit yang kedua.


“Baiklah, kalian boleh pergi,” ucap prajurit pertama.


Kami bertiga merasa lega dan segera berjalan.


“Tunggu dulu!” Teriaknya lagi.


Kami berhenti dan kembali saling tatap karena merasa harus mengambil ancang-ancang kabur untuk melarikan diri jika saja perajurit keamanan tersebut menyadari apa yang kami bawa.


“Aku hanya ingin memberitahu pada kalian. Saat ini beberapa rumah makan dan penginapan sudah memiliki sertifikat resmi jadi jika kalian ingin hidup sebaiknya kalian bekerja di tempat-tempat bersertifikat resmi karena jika tidak bekerja, kalian tidak akan makan. Saat ini uang juga bisa didapatkan oleh orang-orang pembuangan seperti kalian untuk membeli makanan.”

__ADS_1


“Terima kasih untuk informasinya pak,” ucap Ian.


“Tidak perlu berterima kasih, selain mengamankan itu juga tugasku.”


“Maaf pak, kalau begitu apa aku boleh bertanya?” Tanyaku membuat Ian dan Cleve menatapku. “Apa benar ada organisasi yang akan mendirikan pemerintahan di Deapectrum dan menjadikan negeri ini menjadi negara bebas?”


“Ya, itu benar,” jawab prajurit keamanan bertubuh gempal tersebut. “Karena itu prajurit seperti kami di bawa ke tempat ini untuk membuat kondisi di sini aman.”


“Kalau begitu apakah orang-orang di organisasi itu berada di Deapectrum juga?”


“Kalau masalah itu kami tidak tahu,” jawabnya. “Tapi sepertinya mereka tidak di sini karena pasti akan sangat berbahaya. Kondisi di sini masih sangat kacau karena banyak sekali penjahat berkeliaran. Ya, memang di sini bukannya tempat para pelaku kriminal?”


“Jadi begitu. Terima kasih pak,” ucapku.


“Kalian harus berhati-hati karena aku merasa kalau kalian bukan orang jahat.”


“Kami mengerti pak,” senyum Ian.


Mendengar ucapan prajurit keamanan itu membuatku merasa kecewa. Seharusnya aku berpikir kalau orang-orang di organisasi itu tidak tinggal di tempat ini karena akan sangat berbahaya jika ada yang mencoba mencelakai mereka.


Apakah anak laki-laki itu? Itu tidak mungkin, bahkan aku tidak tahu apakah anak laki-laki itu termasuk dalam organisasi itu atau tidak.


Bahkan jika dia termasuk di dalam organisasi itu, hal apa yang dapat dia lakukan sedangkan dia masih sangat muda. Tidak mungkin kalau orang yang akan dibunuh Gumi adalah dia.


Akan tetapi aku masih mencari alasan kenapa anak laki-laki itu datang ke Deapectrum delapan tahun yang lalu? Usianya saat ini sekitar dua puluh satu tahun. Namun aku yakin kalau dia termasuk dalam organisasi itu dan itu pula alasannya dia datang ke tempat pembuangan ini delapan tahun lalu, dulu ketika aku bertemu dengannya.


Ketika sampai di tempat seharusnya gubukku berada aku merasa bingung karena sudah ada beberapa bangunan megah berdiri dan bukan gubukku. Sebuah restoran sudah berdiri di tempat gubukku dulu berada. Aku benar-benar bingung sekarang.


Delapan tahun berlalu dan Deapectrum berubah begitu cepat hingga menghilangkan tempat dulu aku tinggal. Aku jadi teringat pada Gumi, dia bilang dia akan tinggal di gubukku saat berada di sini, tapi kenapa dia tidak memberitahuku tentang masalah ini?


“Kenapa Gumi tidak memberitahuku kalau gubukku sudah terkena gusur?” Tanyaku dengan perasaan kesal pada Gumi. “Ya ampun, ingin sekali aku memukul kepalanya saat ini. Gumi benar-benar membuatku kesal.”


Mendengar ucapanku Ian dan Cleve malah tertawa.

__ADS_1


“Jadi kau bisa merasa kesal juga ya?” Tanya Ian menggodaku.


“Jadi sekarang kita akan tinggal di mana?” Aku menatap Ian dan Cleve.


“Perutku lapar, ayo kita makan dulu!” Seru Cleve berjalan masuk ke dalam restoran dan Ian mengikutinya.


Apa yang dilakukan mereka? Bahkan kita tidak memiliki uang sepeserpun untuk membeli makanan. Sebelum makan bukannya kita harus bekerja seperti kata prajurit keamanan tadi? Lalu dengan apa kita akan membayar makanan kita?


“Kalian berdua ini, kita tidak punya uang sepeserpun,” bisikku ketika Cleve dan Ian selesai memesan makanan pada pelayan. “Restoran ini mewah, pasti sangat mahal. Kita harus bekerja dulu untuk mendapatkan uang setelah itu kita ke sini.”


“Bekerja?” Cleve menatapku. “Ian ayo kita bekerja.” Cleve tersenyum pada Ian dan Ian membalas senyumnya.


Cleve langsung berdiri dan keluar dari kursinya namun dia bertabrakan dengan seorang wanita berpakaian mewah berwarna merah muda lengkap dengan topi bulunya ketika wanita itu ingin berjalan meninggalkan mejanya juga.


Wanita itu kehilangan keseimbangan dan akan jatuh namun Ian yang duduk di dekat wanita itu menggapainya.


Cleve terus berjalan ke arah toilet dan tidak menghiraukan wanita itu. Ian dengan cepat melemparkan sesuatu padaku. Aku melihat kalau itu sebuah dompet. Dompet wanita itu.


Selagi Ian menanyakan kondisi wanita itu dan sedikit berbasa-basi, dengan cepat aku membuka dompet itu dan mengambil semua uang tunai yang jumlahnya cukup banyak lalu melemparnya dari bawah ke arah meja wanita yang tadi dia duduki, lalu memasukan semua uang yang aku ambil ke dalam tas yang aku letakan di sebelah kursi dengan hati-hati.


“Dompetku?” Wanita itu langsung menyadari kalau dompetnya hilang ketika Ian selesai menanyakan kondisinya. “Dimana dompetku?”


“Ada apa nona?” Tanya Ian dengan ramah.


“Kau mencuri dompetku, kan?” Wajah wanita itu terlihat memerah karena marah. “Kau teman wanita yang menabrakku, kan? Kalian berdua pasti yang mencuri dompetku. Kembalikan sekarang juga!” Teriak wanita itu.


Mendengar teriakannya, semua pelayan menghampiri kami.


"Dia sudah mencuri dompetku!” Serunya pada pelayan yang menanyakan apa yang terjadi.


“Maaf, maksud nona apa?” Ian bangkit berdiri.


“Ada apa ini?” Cleve yang kembali dari arah toilet, bertanya dengan wajah pura-pura tidak mengerti dengan apa yang terjadi. “Nona aku minta maaf, tadi aku sangat ingin buang air kecil sampai menabrakmu.”

__ADS_1


“Kau kan yang mencuri dompetku? Kembalikan dompetku sekarang!” Geram si wanita dengan wajah yang benar-benar terlihat sangat marah pada Cleve.


...@cacing_al.aska...


__ADS_2