
Aku benar-benar tidak mengerti dengan maksud perkataan Ian. Tetapi aku merasa kalau sepertinya Ian tidak suka jika aku terus memikirkan anak laki-laki yang tidak pernah aku temui itu.
“Kalian sudah lama menungguku ya?” Tanya Cleve tiba-tiba duduk di depanku. “Kalian kenapa, apa ada yang terjadi?” Cleve menatap aku dan Ian dengan serius.
“Sudah selesai bermesraannya?” Ujar Ian dengan wajah kesal pada Cleve. “Aku tidak percaya kau dan pria itu berciuman di depan umum. Bahkan kau tidak pulang semalam, pasti kau sudah tidur dengannya, kan?”
“Itu benar, semalam aku tidur bersamanya. Kenapa kau marah seperti itu padaku?” Tanya Cleve dengan nada kesal juga. “Memangnya apa salahku? Kau tidak sedang cemburu padaku, kan?”
“Cemburu? Yang benar saja." Ian semakin kesal hingga suaranya terdengar lebih keras. “Kau tidak seperti seorang wanita di mataku. Aku hanya tidak suka kau tidak menepati janji. Kau bilang akan makan siang bersama kami dan lihat sudah jam berapa sekarang?” Nada suara Ian semakin keras sehingga semua mata pengunjung di rumah makan ini memandang kami.
“Kalau begitu kau iri padaku kan? Kau iri karena tidak bisa menemukan wanita dan bermesraan dengannya. Jangan bilang kalau kau merasa menyesal karena meninggalkan Pulau Poegriye karena kau tidak lagi bisa bermesraan dengan wanita-wanita di sana kan?”
“Kalian berdua diamlah!” Seruku dingin sehingga Ian dan Cleve berhenti bertengkar. “Ian tidak seharusnya kau berkata seperti itu pada Cleve.”
“Nah lihat, Bee, membelaku,” ujar Cleve senang.
“Kau juga Cleve! Kau janji akan makan siang bersama kami tapi kau tidak menepati janjimu,” lanjutku sehingga Ian terlihat senang. “Dan satu hal lagi, jangan pernah menyebut tentang Pulau Poegriye atau perguruan lagi di tempat umum seperti ini.”
“Lihat kan? Bee lebih membelaku!” Ujar Ian sambil menunjuk Cleve dengan senyum senang. “Itu benar jangan sebut tentang masa lalu kita.”
“Aku tahu aku salah,” jawab Cleve. “Maafkan aku, aku janji tidak akan tidak menepati janji lagi,” lanjut Cleve menatapku. “Tapi aku tidak bisa selalu bersama kalian lagi karena aku benar-benar menyukai Hansly. Kalian berdua mengerti, kan?”
Malam berikutnya aku memilih untuk beristirahat di penginapan dan tidak pergi ke pasar gelap.
Cleve masih bersama Hansly, prajurit keamanan yang sudah menjadi kekasihnya dan aku yakin kalau Cleve juga tidak akan pulang malam ini.
Pasar gelap berlangsung hanya selama lima jam, pukul sebelas malam hingga pukul empat pagi. Biasanya sekitar pukul satu atau dua malam kami kembali ke penginapan untuk tidur, namun malam ini Ian belum juga kembali.
Pasti dia bertemu dengan para prajurit keamanan dan mengobrol bersama. Tidak aku kira kalau Ian akan menjadi kepercayaan para prajurit keamanan dengan sangat cepat, bahkan mereka sudah menjadi teman saat ini. Begitu juga dengan mantan kawanan penjahat. Bisa dibilang Ian berhasil mengambil hati mereka semua dengan kepintarannya.
__ADS_1
Aku berusaha untuk memejamkan mata, akan tetapi rasa mengantuk belum juga menyerangku. Padahal sekarang sudah hampir pukul empat pagi. Aku hanya berbaring di ranjang dengan pikiran-pikiran yang masih berputar di kepalaku.
Jika tahu akan seperti ini lebih baik aku ikut ke pasar gelap bersama Ian.
Sudah tiga bulan kami bertiga bersama-sama dan sekarang hanya aku sendiri yang berada di dalam ruangan ini. Aku benar-benar merasa kesepian.
Aku bangkit bangun dari posisi berbaringku dan duduk dengan bersandar di sisi ranjang. Menatap sekeliling kamar dan kembali teringat saat pertama kali kami bertiga datang ke tempat ini.
Kami bertiga merasa bahagia dan tidak pernah terpikirkan olehku jika akhirnya hanya ada aku di dalam ruangan ini.
Dulu, aku bersama Isbell dan Jatnera juga selalu bersama di dalam gubuk kami yang sangat sempit dan akhirnya Isbell pergi meninggalkan aku, lalu aku kehilangan Jatnera.
Sampai sekarang aku tidak tahu keberadaan Jatnera. Bahkan aku tidak yakin lagi apakah Jatnera masih hidup atau tidak. Jika dia masih hidup, aku yakin Jatnera sudah tumbuh menjadi wanita yang cantik.
Air mata mulai keluar dari kedua sisi mataku ketika merasakan kesepian yang pernah aku alami dulu lagi.
Walaupun aku tahu suatu saat kami bertiga harus berpisah, namun aku tidak ingin kalau saat itu datang terlalu cepat.
Dengan wajah tampan dan kepintarannya, tidak akan sulit Ian menemukan wanita, bahkan aku yakin kalau Ian bisa memikat wanita yang bukan seorang pembuangan.
Ini benar-benar menyedihkan, hanya aku yang pada akhirnya akan merasa kesepian seperti saat ini. Aku tidak tertarik pada siapapun dan hanya ingin bertemu dengan anak laki-laki itu.
Aku melepaskan kalung milik anak laki-laki itu dari leherku. Selama ini aku mengenakannya di leher agar jika siapa saja yang kenal dengan anak laki-laki itu dan kalung miliknya ini, dia bisa memberitahukan keberadaan anak itu padaku.
Tapi sudah tiga bulan aku di sini namun masih tidak dapat menemukannya.
Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk. Pasti itu adalah Ian. Aku meletakan kalung tersebut di meja samping tempat tidur dan beranjak ke pintu.
Ketika aku membuka pintu, Ian tersenyum menatapku dan bau minuman keras menyerbak tercium dari tubuhnya. Pasti dia baru saja minum-minum bersama teman-teman barunya hingga mabuk sekarang.
__ADS_1
“Aku senang kau menungguku dan tidak pergi seperti sahabatmu itu,” ujar Ian tersenyum dengan wajah mabuk.
“Berapa gelas kau minum? Pergilah dan kembali ketika kau sudah tidak mabuk. Aku tidak ingin ruangan ini berbau alkohol,” ucapku dengan sedikit kesal.
“Kenapa kau galak sekali, Bee?” Tatap Ian dengan matanya yang memerah. “Kau cantik, tapi kecantikanmu hilang kalau kau terus berwajah galak seperti itu.”
“Berhenti mengoceh, kau mabuk, dengar?” Seruku. “Pergilah!”
Ketika aku ingin menutup pintu Ian menahannya dengan tangan, itu membuatku tambah kesal.
“Kau membuat kesabaranku habis, Ian—”
Tiba-tiba Ian menjatuhkan dirinya padaku, sekuat tenaga aku menahannya agar kami berdua tidak terjatuh namun Ian mendorongku hingga kami terjatuh di atas ranjang.
Ian menimpaku dengan tubuhnya hingga aku tidak bisa bergerak dan aroma minuman keras semakin tercium dari tubuhnya.
“Cepat bangun sebelum aku ambil pedangku dan memenggal kepalamu," ancamku.
“Apa kau bisa melakukannya jika seperti ini?” Tanya Ian mengangkat kepalanya hingga wajahnya tepat di hadapanku namun matanya tidak menatapku. “Kau hanya seorang wanita,” ucap Ian mengarahkan tatapannya ke mataku.
Aku kembali teringat ketika dia berkata pada Cleve, kalau dirinya tidak melihat Cleve seperti seorang wanita, namun dia berkata hal sebaliknya padaku. Apa arti kata-katanya?
Ian tersenyum, “Aku hanya minum dua gelas dan itu tidak membuatku mabuk.” Tatapan kami berdua begitu dingin. “Kita akan selalu bersama kan, Bee?”
Aku tidak menjawab dan hanya menatapnya saja. Tiba-tiba Ian mendekatkan wajahnya ke wajahku, dia ingin menciumku, namun aku menggerakan kepala menoleh ke kanan menghindar dari ciumannya.
“Bahkan kau tidak ingin ku cium.” Ian tertawa kecil. “Berhentilah memikirkan siapapun yang tidak ada di hadapanmu!” Teriak Ian dengan kesal.
“Kau mabuk!” Ucapku dingin.
__ADS_1
“Yang benar saja, kau tetap dingin ketika keadaan sudah seperti ini,” ujar Ian. “Setidaknya biarkan aku menciummu!” Geram Ian.
...@cacing_al.aska...