
Selama hampir sebulan kami melarikan diri dari perguruan Gyeld Enn Chourius dan Pulau Poegriye. Tepatnya sudah dua puluh tiga hari. Selama itu kami tinggal di Pond Jae dengan uang yang kami dapat dari mencuri.
Kami mencuri orang-orang kaya yang berada di Deapectrum, dan mereka bukanlah orang-orang pembuangan melainkan orang-orang dari negara bebas yang khusus datang ke Deapectrum untuk membuka usaha di tempat ini.
Kami memutuskan untuk pergi dari Pond Jae karena merasa tidak cukup nyaman tinggal di tempat yang sama dalam waktu yang terlalu lama. Orang-orang di perguruan saat ini pasti sedang mencari kami, karena itu kami harus segera pindah agar tidak meninggalkan jejak.
Sebenarnya aku enggan untuk keluar dari Pond Jae karena dengan tinggal disana aku pasti dapat bertemu dengan anak laki-laki itu. Namun setelah rombongan itu pergi meninggalkan Deapectrum, mereka belum kembali lagi.
“Sekarang mau kemana kita?” Tanya Cleve di tengah perjalanan.
“Kita harus mencari tempat untuk tinggal,” ucap Ian.
“Sebaiknya kita mencari beberapa pakaian,” seruku. “Tapi aku belum melihat ada toko pakaian di Deapectrum.”
“Pakaian?” Cleve menatapku. “Baiklah, sekarang waktunya kita pergi berbelanja.” Cleve menatapku dan tersenyum sehingga aku tahu maksud dari kata berbelanja yang diucapkannya.
“Berbelanja? Dimana kita akan berbelanja?” Tanya Ian bingung.
“Ayo ikut saja dengan kami!” Seru Cleve mulai berjalan.
Ketika mendengar kata berbelanja yang terpikirkan olehku adalah lubang harta. Di tempat itu biasanya terdapat benda-benda yang masih bagus karena benda-benda itu juga sengaja di buang ke tempat ini bersama senjata-senjata yang di ambil oleh perguruan Gyeld Enn Chourius.
Saat ini masih pukul jam sembilan pagi sedangkan orang-orang dari perguruan akan datang ke lubang harta untuk mengambil senjata-senjata yang di buang tengah malam.
Kalau begitu masih banyak waktu untuk berada di lubang harta. Dan lagi lubang harta saat ini tidak di jaga karena biasanya hanya lulusan baru saja yang menjaga lubang harta, sedangkan ujian akhir akan di adakan sebulan lagi. Kalau begitu kami tidak perlu khawatir saat di lubang harta.
Kami tidak akan lama disana, apa lagi sampai tengah malam. Kami hanya mengambil beberapa pakaian untuk kami dan benda yang menurut kami penting lainnya, setelah itu pergi mencari tempat untuk kami tinggal sebelum malam datang.
Kami melewati daerah bebatuan dan memasuki hutan gersang dimana lubang harta berada.
Ketika sampai di dekat lubang harta, aku jadi kembali teringat delapan tahun yang lalu ketika aku mencari obat untuk Jatnera dan ketika aku berlatih bersama Gumi di dekat sini.
Lubang harta tetap tidak berubah. Pagar besi yang sudah rusak masih saja berdiri mengelilinginya walau hampir di semua bagiannya sudah rusak sehingga siapa saja dapat masuk sesuka hati ke dalam lubang harta.
__ADS_1
Tak ada siapa pun ketika kami sampai, bahkan tak ada prajurit keamanan. Pasti semua itu karena lubang harta berada di tengah-tengah hutan sehingga tidak dijaga. Kalau begitu pasti kawanan penjahat berada di tempat ini.
“Jadi ini yang di sebut lubang harta itu?” Ucap Ian memandang ke lubang harta.
“Kalian berdua lihat ini!” Teriak Cleve yang sudah masuk ke dalam pagar besi.
Aku dan Ian segera menghampirinya dan melihat beberapa bercak darah.
“Sebaiknya kita berhati-hati karena sepertinya banyak kawanan penjahat di dekat sini.”
“Kalau begitu biar aku berjaga-jaga dan kalian silahkan berbelanja,” ujar Ian sambil berjalan keluar pagar besi dengan dua pistol di tangannya.
Bersama dengan Cleve aku terus mencari apapun yang kami perlukan di lubang harta. Beberapa pakaian yang terlihat masih layak untuk kami pakai dan obat-obatan.
Aku sadar kalau benda-benda di lubang harta tidak sebanyak dulu. Entah karena benda-benda itu sudah diambil oleh orang-orang yang datang sebelum kami, atau karena sudah adanya larangan mengirim benda-benda ke Deapectrum.
“Kalian berdua cepatlah, kita masih harus mencari penginapan yang dekat dengan tempat ini. Tidak mau kan jika kita bermalam di hutan?!” Seru Ian yang mondar-mandir di luar pagar besi.
“Sepertinya kita kedatangan tamu,” ucap Ian.
Yang dimaksud Ian adalah beberapa penjahat yang muncul membawa senjata tajam. Mereka sekitar enam orang dengan tubuh besar dan wajah yang sangat mengerikan.
“Kalian berdua tidak perlu khawatir, teruslah berbelanja!" Seru Ian pada kami berdua.
“Berikan kami uang maka kami akan membiarkan kalian mengambil benda sesuka kalian!” Teriak seorang penjahat bertubuh gemuk dengan jenggot panjang. Penjahat itu membawa sebuah kapak yang sangat besar. “Kalian dengar kan? Kami tahu kalian punya uang. Berikan pada kami sekarang juga!”
“Yang benar saja,” gumam Ian.
Mendengar penjahat itu membuatku sadar kalau uang sudah merubah Deapectrum saat ini. Dulu para penjahat tidak pernah meminta uang karena uang tidak terlalu diperlukan di negeri ini.
Penjahat akan langsung membunuh siapapun yang mengambil barang-barang di lubang harta. Tetapi tampaknya sekarang uang adalah benda yang paling mereka inginkan.
“Aku hanya butuh waktu tidak sampai sepuluh detik untuk semua ini,” ucap Ian melirik pada aku dan Cleve. “Cleve, mulailah berhitung sekarang.”
__ADS_1
Cleve mulai berhitung, sedangkan Ian mengeluarkan pistol yang disembunyikannya di balik kaos. Para penjahat itu tampak terkejut melihat pistol yang dikeluarkan Ian.
Para penjahat itu mencoba kabur karena takut melihat pistol yang dibawa Ian. Tanpa ampun Ian menarik enam kali pelatuk dan menyarangkan peluru-peluru ke kepala para penjahat itu. Aku mengalihkan pandanganku dan memilih untuk tidak melihatnya.
“Yang benar saja, aku kira kau akan mengabisi mereka dengan tangan kosong,” oceh Cleve sambil berjalan keluar lubang harta dengan beberapa benda yang berhasil dia temukan. “Kalau begitu aku bisa menyelesaikannya dengan lima detik.”
“Tapi kau tidak lihat, aku menembak tepat di kepala mereka,” ujar Ian tidak mau kalah. “Kau tidak lihat, mereka semua berlari tapi aku berhasil menembak di sasaranku.”
“Sebaiknya kita tidak menggunakan pistol untuk hal macam ini,” ucapku berjalan keluar lubang harta dan mendekati Cleve dan Ian. “Kita tidak memiliki banyak peluru jadi kita hanya menggunakan senjata api jika keadaan benar-benar genting.”
“Itu benar. Aku setuju denganmu, Bee.” Cleve memegang bahuku.
“Iya aku mengerti,” jawab Ian memandangku. “Kalau begitu ayo kita pergi dari sini.”
“Tidak.” Perkataanku membuat langkah Ian terhenti. “Kita harus membersihkan mayat-mayat ini. Membunuh di Deapectrum memang adalah hal yang biasa tetapi tak ada orang yang membiarkan mayat tegeletak begitu saja di sini, sekalipun itu penjahat.” lanjutku sambil menyeret salah satu mayat mendekat ke mayat lainnya. “Dan lagi jika kita meninggalkannya begitu saja, orang-orang perguruan yang datang mengambil senjata nanti malam pasti akan tahu kalau kita yang membunuh mereka karena penjahat di sini jarang yang menggunakan senjata api. Sedangkan pistol dan peluru itu berasal dari perguruan. Jadi pasti mereka akan tahu kalau kita ke sini.”
“Jadi kita harus membakar mereka?” Tanya Ian.
“Itu benar. Sudah jangan banyak bicara cepat bantu kami agar cepat selesai!” Seru Cleve yang membantuku mengumpulkan mayat-mayat itu.
“Iya, baiklah,” jawab Ian dengan nada enggan. “Tapi senjata-senjata ini kita bisa menggunakannya?” Ian mengambil kapak milik para penjahat. “Aku punya ide.” Senyumnya.
Kami mencari sebuah penginapan yang murah dan dekat dengan lubang harta seperti keinginan Ian. Ian mendapatkan sebuah ide untuk mencari uang tanpa perlu mencuri lagi.
Ian hanya menyuruh aku dan Cleve mengikuti keinginannya saja tanpa bertanya karena dia yang akan mengurus semuanya, dan dia berjanji akan memberitahu kami mengenai idenya tersebut jika semuanya berjalan dengan keinginannya.
Ketika malam hari Ian keluar penginapan entah melakukan apa dan pulang ketika matahari hampir terbit. Aku dan Cleve tidak ingin bertanya karena kami ingin mempercayainya.
“Hari ini kita ke lubang harta lagi.” ucap Ian pada aku dan Cleve.
Mendengarnya membuatku berpikir apa rencana yang hendak dilakukan Ian. Dia sama sekali belum mengatakannya pada kami sehingga membuatku menjadi sangat penasaran.
...@cacing_al.aska...
__ADS_1