DEAPECTRUM

DEAPECTRUM
031. MERESAPI KEBEBASAN


__ADS_3

“Maaf, nona apa itu dompet anda?” Tanya seorang pelayan menunjuk sebuah dompet yang ada di bawah kolong meja tempat wanita itu duduk tadi.


Wanita itu langsung mengambil dompetnya. Tentu saja itu dompet miliknya yang uang di dalamnya sudah aku ambil sebelumnya.


“Maaf nona, aku melihat dompet itu sudah ada di sana dari tadi. Mungkin kau menjatuhkannya ketika akan pergi,” ujar Ian pada wanita itu.


“Ma, maafkan aku. Aku minta maaf,” ucap wanita itu menoleh kembali pada Ian dan Cleve.


“Baiklah kami mengerti,” ujar Ian tersenyum ramah.


Wanita itu langsung pergi meninggalkan restoran dengan terburu-buru tanpa mengecek lagi isi dari dompet miliknya. Aku merasa kasihan padanya. Aku mengambil semua uang miliknya dan dompetnya sudah kosong tanpa dia sadari.


“Silahkan, ini makanan nona-nona dan tuan.” Seorang pelayan pria meletakan makanan yang kami pesan di atas meja kami. “Dan ini tagihan untuk semua yang dipesan.”


Cleve dan Ian menatapku. Dengan perasaan sedikit kesal, aku segera mengambil uang yang aku taruh di dalam tas lalu membayar tagihannya pada pelayan tersebut.


Ian dan Cleve tetap menatapku ketika pelayan itu pergi.


“Kenapa kalian menatapku?” Tanyaku dengan heran. “Dengar ya aku tidak suka jika kalian mencuri lagi.” Aku berusaha berbicara dengan nada pelan agar tak seorangpun mendengar apa yang aku katakan kecuali Ian dan Cleve.


“Bukan kami yang mencurinya,” ucap Ian menatapku. “Yang mengambil uang itu kan kau sendiri, Bee.”


“Apa yang kau katakan?” Seruku dengan kesal hingga suaraku terdengar lebih keras.


“Bukan kami pencurinya,” tambah Ian.


“Jadi kau menuduhku?” Ujarku dengan sangat marah. “Baik kalau begitu aku akan mengembalikannya pada wanita itu dan meminta maaf.”


Mendengar apa yang aku katakan mereka berdua malah tertawa terbahak-bahak sehingga membuatku semakin kesal.


“Kalian berdua ini!” Geramku mencoba menahan amarah yang aku rasakan pada Ian dan Cleve.

__ADS_1


“Kenapa kau selalu menggodanya?” Tanya Cleve sambil tertawa pada Ian.


Ian tidak menjawab apapun, dia hanya berusaha menahan tawanya dengan melirik padaku yang masih terlihat kesal padanya.


Selesai makan, kami meninggalkan restoran di mana tanah bangunan tersebut adalah gubuk yang dulu aku tinggali bersama dengan Isbell dan Jatnera.


"Kita akan tinggal di mana sekarang?" Tanya Cleve dengan menghela napas.


"Kita harus mencari tempat tinggal sebelum matahari tenggelam," sahut Ian. "Bee, sisa berapa uang itu?" Ian menoleh padaku yang berdiri di belakang dirinya dan Cleve.


Aku mengeluarkan sisa uang yang tadi kami curi. Ternyata semua uang yang kami curi itu jumlahnya sangat banyak. Wanita itu pasti orang yang sangat kaya sehingga dia membawa uang tunai sebanyak itu. Aku tidak heran, itu sebabnya dia datang ke Deapectrum. Ian menebak kalau wanita itu adalah seorang investor yang sengaja datang ke ke tempat ini untuk membuka sebuah tempat usaha.


"Aku rasa ini masih cukup untuk kita tinggal sementara di suatu tempat," jawabku setelah teringat akan sesuatu.


Aku mengajak Cleve dan Ian untuk tinggal sementara di Pond Jae tempat dulu Isbell menjadi budak.


Hotel itu juga adalah tempat di mana aku bertemu dengan anak laki-laki yang pernah menolongku. Jadi aku berpikir jika ada di Deapectrum dia pasti tinggal di hotel mewah itu. Kami memesan satu kamar yang termurah dengan uang yang kami curi.


Kami bertiga masuk ke dalam kamar hotel yang kami sewa. Tempatnya tidak terlalu besar jika di bandingkan dengan kamar hotel yang di tempati oleh anak laki-laki dulu.


“Jadi begini rasanya hidup bebas,” ucap Ian yang berada di depan jendela.


Dia pasti sedang memandang keluar jendela saat ini dengan meresapi kebebasannya.


“Deapectrum akan menjadi negeri bebas, kedengarannya itu bagus,” seru Cleve berbaring di ranjang. “Dengan begitu tidak akan ada lagi takut kelaparan atau takut dibunuh oleh penjahat.”


“Ya itu benar,” ucap Ian membalikkan tubuhnya.


Aku hanya berdiri menatap mereka berdua karena bingung harus berbuat apa saat ini.


“Tidak akan ada lagi perbudakan," lanjut Ian.

__ADS_1


“Bagaimana denganmu Bee? Kau setuju atau tidak jika Deapectrum menjadi negara bebas?” Tanya Cleve duduk di atas ranjang dengan menoleh padaku.


“Kenapa tidak dari dulu mereka datang?” Ucapku masih tetap berdiri. “Jika mereka datang lebih cepat maka tidak akan sesulit ini.”


“Apa maksudmu?” Ian menatapku.


“Jika saja kondisi Deapectrum saat ini terjadi delapan tahun yang lalu, maka aku tidak akan mengalami semua ini,” jawabku menatap Ian. “Aku pasti tidak kehilangan nenek yang membesarkan aku. Dan juga tidak berpisah dengan adikku. Selain itu, aku tidak perlu masuk ke perguruan yang akan menjadikan aku seorang pembunuh,” lanjutku. “Kenapa baru sekarang kondisi ini terjadi?”


“Jangan memikirkan hal yang sudah terjadi, Bee!” Seru Cleve menghampiriku. “Yang harus kita lakukan sekarang hanya membiarkan kondisi yang baik ini terjadi untuk Deapectrum, karena masa lalu tidaklah penting lagi sebab semuanya sudah lama berlalu. Yang sangat penting itu adalah masa depan yang akan kita jalani nanti.” Cleve memelukku sambil menepuk-nepuk bahuku.


...***...


Aku berdiri memandang ke luar jendela saat malam tiba. Cleve dan Ian sedang pergi keluar untuk mencari makanan, sedangkan aku hanya sendiri di kamar hotel.


Deapectrum benar-benar sudah berubah. Dulu jika malam tiba kegelapan menyelimuti sepanjang negeri namun sekarang hal itu tidak lagi.


Saat ini bangunan-bangunan mewah nan megah sudah berdiri tegak dengan berbagai kilauan lampu berwarna-warni, sehingga terlihat begitu indah.


Orang-orang juga dapat berjalan tanpa rasa takut dengan kawanan penjahat karena sampai malam haripun beberapa prajurit keamanan masih tetap berjaga.


Melihat semua hal terjadi di Deapectrum membuatku merasa begitu senang hingga meneteskan air mata.


Siapa orang-orang yang mampu merubah keadaan Deapectrum menjadi seperti sekarang ini?


Aku mengambil kalung dengan liontin huruf L milik anak laki-laki itu dari saku celana panjang yang aku pakai.


Setiap kali melihat kalung ini aku jadi merasakan sebuah harapan baru.


Siapa anak laki-laki itu? Sudah delapan tahun berlalu, namun aku tidak melupakan anak laki-laki baik hati itu sedikitpun. Padahal aku tidak tahu siapa namanya. Satu-satunya hal yang tersisa darinya hanya kalung ini.


Apakah dia termasuk dari organisasi yang sudah membuat Deapectrum seperti sekarang ini?

__ADS_1


“Aku tidak tahu kau punya benda yang terlihat mahal ini.” Tiba-tiba Ian datang dan langsung mengambil kalung tersebut dari tanganku.


...@cacing_al.aska...


__ADS_2