
Kami masuk ke dalam ruangan yang di dalamnya terdapan seorang wanita cantik walau sudah berumur. Aku tebak usia wanita itu sekitar lima puluh tahun namun dia masih terlihat sehat dan cantik.
Wanita itu duduk di kursi di belakang meja. Gumi berdiri di sampingku sedangkan bu Bianca berdiri di dekat wanita itu. Aku menebak dialah yang di sebut 'Ibu', kepala di perguruan Gyeld Enn Chourius.
Aku memperhatikan sebuah buku yang berada di atas meja. Aku juga memiliki buku yang sama dan sudah membaca habis buku itu. Bahkan itu adalah buku favoritku karena buku itu membahas tempat-tempat indah di seluruh negeri. Buku itu berjudul Keindahan Dunia. Karena buku itu juga yang membuatku sangat ingin keluar dari Deapectrum dan mengunjungi tempat-tempat indah itu.
“Bagaimana kabar ibu?” Tanya Gumi mencoba memecahkan suasana karena sejenak keheningan menyelimuti ruangan ini. “Ibu tetap saja terlihat cantik.”
“Bagaimana dengan tugasmu, Gumi?” Seru ibu menatap Gumi dengan pancaran mata yang datar. “Kau belum membuat laporannya bukan?”
“Begini bu, aku akan membuat laporannya nanti.” Jawab Gumi terlihat gugup. “Sebenarnya tujuanku kemari untuk mengantarkan anak perempuan ini.”
“Gumi ingin anak ini mengikuti ujian masuk.” Tambah Bu Bianca.
“Kau tahu kan peraturannya?” Seru Ibu dengan nada tinggi. “Kau baru lulus dan kau belum bisa merekomendasikan atau membawa anak untuk mengikuti ujian masuk. Lagi pula tahun ini kita sudah memiliki tiga puluh enam anak yang akan mengikuti ujian dan itu sudah terlalu banyak. Kau mengerti kan?”
“Tapi bu, tolong bantu...”
“Aku mohon nyonya, ijinkan aku mengikuti ujian masuk...” Ujarku memotong perkataan Gumi. “Aku ingin benar-benar belajar di perguruan ini.”
Ibu menatap Gumi setelah mendengar perkataanku lalu mengalihkan pandangannya kembali padaku. “Apa alasanmu ingin bergabung di sini?”
“Aku ingin... aku ingin hidup,” Jawabku menatap matanya. “Aku ingin bertahan hidup dan tidak ingin hidup dalam ketakutan.” Aku mencoba meyakinkannya kalau aku bersungguh-sungguh ingin mengikuti ujian masuk. “Suatu saat nanti aku ingin mengunjungi satu tempat bernama Archie Island di negara Fansidokia yang di bahas di buku itu.” Aku menunjuk buku yang ada di hadapan Ibu.
“Kau pernah membaca buku ini?” Ibu mengambil buku yang bersampul warna merah yang di tulis oleh orang bernama Angel L. White.
“Ya, aku juga punya buku itu.” Dengan segera aku mengambil buku yang sama dari tas yang aku bawa dan memperlihatkannya. “Dari semua tempat yang ada di buku ini aku sangat ingin ke tempat itu. Archie Island yang berada di puncak gunung Evertnes yang memiliki pemandangan yang begitu indah.”
__ADS_1
“Jadi kau bisa membaca, Bee?” Tanya Gumi tampak terkejut ketika menatapku. “Kenapa kau tidak pernah memberitahuku?”
“Kau tidak pernah bertanya. Isbell yang merawatku adalah seorang guru sebelum di buang ke Deapectrum dan dia yang mengajariku membaca.”
“Bagaimana bu, ini hebat kan?” Seru Gumi menatap Ibu yang masih memperhatikan aku. “Bahkan semua anak yang datang ke tempat ini belum bisa membaca. Dengan ini kita tidak perlu mengajarinya membaca lagi.”
“Baiklah.” Ucap Ibu sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Tetapi kau harus tetap mengikuti ujian masuk. Aku tidak akan membiarkanmu masuk begitu saja hanya karena kau bisa membaca. Bu Bianca, tolong antar anak ini ke ruangannya bersama anak perempuan lainnya.”
“Baik Ibu.” Jawab Bu Bianca.
“Tapi bu, seharusnya Bee tidak perlu mengikuti ujian masuk lagi. Dia bisa membaca sedangkan anak lainnya—”
“Tidak apa-apa Gumi, aku akan mengikuti ujian masuk.” Timpalku. “Tenang saja, aku yakin aku akan lulus ujian masuk.” lanjutku menatap Gumi.
“Baiklah Bee, ayo ikut denganku.” Seru Bu Bianca.
Bu Bianca menyuruhku duduk di satu kursi di bagian paling belakang, setelah itu dia keluar ruangan. Aku hanya menundukan kepala karena tidak ingin melihat beberapa anak perempuan yang memandang ke arahku. Bahkan beberapa anak berbisik tentang diriku.
Membicarakan mengenai rambut hitam panjangku yang di kepang menjadi satu dan ada juga yang meledek kalau aku terlihat sangat kusam karena kaos yang aku kenakan sudah terlihat begitu kotor.
“Namaku Cleverlly, siapa namamu?” Tiba-tiba seorang anak yang duduk di sampingku menyapa. Aku mengangkat kepalaku dan melihat ke sebelah kanan dimana anak perempuan itu duduk. “Panggil saja aku Cleve, usiaku sebelas tahun. siapa namamu dan berapa usiamu?”
Sejenak aku memperhatikan anak perempuan yang menyapaku. Anak itu memiliki kulit yang putih dan berambut hitam pendek. Dia tersenyum padaku sehingga memperlihatkan gigi kelincinya. Anak itu terlihat sangat manis.
“Aku Klay-Bee, tapi aku di panggil Bee, usiaku sepuluh tahun.”
Anak perempuan bernama Cleverlly menggeser kursinya mendekat denganku. “Aku harap kita bisa berteman.” ujarnya.
__ADS_1
Mendengarnya aku kembali teringat perkataan Gumi yang melarangku berteman dengan siapapun disini.
“Kau mau kan?”
“Iya.” jawabku dengan berusaha tersenyum.
“Semoga saja kita berdua lulus ujian masuk,” Ucap Cleve. “Kira-kira ujian masuknya seperti apa ya? Apa kau tahu, Bee?”
Aku menggeleng.
Setelah menunggu hampir dua jam kami di bawa ke sebuah tempat dengan mata tertutup dan tangan terikat. Tubuhku gemetaran karena merasa takut dengan ujian masuk. Ujian seperti apa yang akan kami ikuti?
Aku dan anak perempuan lainnya diperintahkan untuk berdiri tanpa tahu dimana kami berada. Deruan angin terasa begitu kencang menerpaku. Aku hanya berdiri tanpa tahu harus bagaimana. Mereka membuka ikatan tangan kami. Cleve memanggil namaku dan setelah itu aku dapat merasakan tangannya memegang tanganku. Dengan berpegangan tangan, aku merasa lebih baik.
“Ujian masuk akan segera di mulai,” Terdengar suara Bu Bianca. Cleve semakin erat menggenggam tanganku. “Peraturannya mudah, kalian hanya perlu berlari sampai seseorang menghentikan langkahmu, masalahnya saat berlari kalian harus menghindar dari berbagai macam benda yang ada di hadapan kalian.”
“Sekedar info, benda-benda itu adalah duri, paku, bahkan ada beberapa ranjau yang akan meledak jika kalian injak.” Kali ini terdengar suara Ibu. “Jadi faktor keberuntunganlah yang diuji di sini.”
“Ingat kalian hanya perlu berlari setelah terdengar suara tembakan. Namun kalian tidak akan bisa berlari lagi setelah mendengar berkali-kali suara tembakan dan kami tidak akan memberitahumu kapan kami akan menembak berkali-kali itu.” Bu Bianca kembali menjelaskan. “Ingat berlari saja, dan temukan keberuntunganmu dengan membuang rasa takut akan kematian.”
Tidak beberapa lama kemudian keadaan kembali sunyi. Aku dan Cleve masih berpegangan tangan. Kami hanya terdiam sambil menunggu bunyi tembakan, aba-aba untuk kami berlari. Keringat dingin keluar dan membuat tubuhku semakin gemetaran.
Tiba-tiba terdengar suara tembakan berbunyi. Sesaat keadaan masih sunyi karena aku tidak mendengar langkah kaki. Cleve menarik tangannya dari genggamanku dan itu membuatku semakin gugup. Lalu aku mendengar langkah kaki yang aku yakini adalah langkah kaki Cleve. Setelah itu mulai terdengar beberapa langkah kaki sedangkan aku masih diam saja.
Aku bingung harus bagaimana karena aku tidak ingin mati karena menginjak ranjau namun aku juga tidak ingin gagal di ujian masuk ini. Aku harus segera berlari karena aku tidak tahu kapan tembakan berkali-kali itu di mulai. Aku diam sejenak dan mendengar keadaan sekitar. Aku tidak mendengar suara anak-anak yang kesakitan menginjak duri ataupun paku, dan aku juga tidak mendengar suara ledakan ranjau.
Tiba-tiba aku mendengar sebuah suara, suara yang berasal dari kokangan pistol. Itu berarti tidak lama lagi tembakan berkali-kali itu akan di mulai. Aku sudah bertekat untuk masuk ke perguruan Gyeld Enn Chourius dan aku tidak mau gagal di ujian masuk.
__ADS_1
...@cacing_al.aska...