DEAPECTRUM

DEAPECTRUM
006. PERTEMUAN BERMAKNA


__ADS_3

Mataku berhenti ke sebuah benda yang berada di meja samping kiri ranjang. Aku mendekatinya untuk mengetahui apa benda berkilau tersebut. Ternyata adalah sebuah kalung dengan liontin huruf 'L'.


Aku meletakannya ke genggamanku dan berpikir aku ingin memiliki benda ini. Tanpa pikir panjang aku langsung memasukan kalung itu ke kantong celanaku dan tidak lama kemudian anak laki-laki itu masuk.


Dibawanya sekeranjang penuh berisi roti-roti yang mengeluarkan aroma lezat seperti aroma yang aku cium ketika berada di dapur.


Anak laki-laki itu meletakan sekeranjang roti tersebut ke atas ranjangnya dan memasukannya ke kantong plastik yang juga di bawanya. Aku hanya diam berdiri tanpa mendekatinya.


"Ini makanlah." Anak laki-laki itu menyodorkan sebuah donat kacang yang terlihat sangat menggoda.


Aku menelan salivaku sebelum mengambilnya lalu melahapnya. Benar-benar lezat, belum pernah aku memakan makanan selezat ini. Aku jadi tidak sabar memberikan roti-roti lezat ini pada Jatnera, dia pasti akan menangis karena senang.


"Berapa usiamu?" Tanya anak itu.


"Sepuluh."


"Kita terpaut tiga tahun kalau begitu. Aku punya seorang adik perempuan yang tidak tahu dimana. Mungkin jika bertemu denganmu kalian bisa berteman." Ucap anak laki-laki itu sambil sibuk memasukan roti-roti ke dalam kantong plastik. "Pasti sulit kan tinggal di sini?"


Anak itu menatapku dan aku tetap diam.


"Tenang saja aku akan merubah tempat ini menjadi lebih baik." Dia tersenyum seolah-olah perkataannya itu adalah hal mudah.


Aku memalingkan tubuhku ke arah jendela kamar membelakangi anak laki-laki yang masih sibuk memasukan roti demi roti ke kantong plastik dengan hati-hati. Aku tidak tahu seberapa jauh aku berlari tadi dan aku juga tidak tahu saat ini aku berada di lantai berapa. Namun yang pasti pemandangan dari atas sini terlihat begitu nyaman, rasanya jika aku selalu berada di tempat tinggi aku dapat melihat semuanya sehingga dapat terhindar dari apapun.


Aku memikirkan bagaimana masa depanku kelak hidup di negeri pembuangan ini. Apa setelah keluar dari ruangan mewah ini aku bisa bertahan hidup lebih lama, atau tidak akan ada masa depan di dalam hidupku. Memikirkan hal tersebut membuatku selalu bergidik ketakutan.


"Dan bagaimana setelah ini?" Perkataan anak itu menyadarkan aku dari lamunan.

__ADS_1


Aku menoleh padanya yang berdiri di jarak empat meter dariku. Melihat diri anak itu dari sini membuatku benar-benar iri padanya. Pakaian indah dan berlimpah makanan, dia tidak perlu memikirkan tentang masa depannya ada atau tidak ada.


Apa jika aku membunuhnya dapat menggantikan posisi anak itu? Ah, apa yang aku pikirkan, anak itu sangat baik padaku dan telah menyelamatkan hidupku, rasa iri bukan alasan untuk tidak berterima kasih padanya.


"Sudah hampir jam tujuh, di luar pasti sudah ramai orang."


Oh tidak, bagaimana aku dapat melupakan waktu. Kalau begini bagaimana aku pulang?


"Sebaiknya aku pergi sekarang." Ucapku.


"Tunggu dulu!" Seru anak laki-laki itu. Anak itu membuka lemari pakaiannya dan mengambil sebuah koper besar dari dalam. "Pasti berbahaya jika kau tertangkap. Masuklah ke dalam koper ini dan aku akan menyuruh penjaga untuk menaruhmu di belakang hotel." Ujar anak laki-laki itu dengan tatapan serius. "Tenang saja aku akan menyuruh penjaga itu untuk tidak membuka koper, kau pasti aman. Bagaimana?"


Aku memikirkan ide anak itu dengan konsekuensinya. Aku tidak terlalu yakin kalau penjaga itu tidak akan penasaran dengan isi koper tetapi melihat wajah anak itu yang berkata dengan penuh keyakinan mungkin ini bukan ide yang buruk.


Aku mengangguk menjawabnya.


Dia membuka koper dan menatapku membuatku mau tidak mau masuk ke dalam koper besar berwarna biru dongker itu.


"Ini roti milikmu." Anak itu memberikan sekantong besar roti padaku. "Hhm, tidak ada yang ingin kau katakan?" Pertanyaannya membuatku bingung. "Memang seharusnya aku tidak meminta tetapi di semua negeri merdeka akan membalas kebaikan seseorang..."


"Terima kasih." Ucapku. "Disini memang tidak ada sekolah ataupun pelajaran tata krama, tapi nenekku mengajarkannya padaku." Perkataanku membuatnya tersenyum.


"Bukannya aku tidak senang tapi di negeriku berasal kata terima kasih selalu diiringi dengan sebuah ciuman."


Aku menatapnya dengan bingung karena aku tidak mengerti dengan arti kata 'Ciuman'. Isbell tidak mengajariku tentang kata itu.


"Sudahlah tidak perlu dipikirkan." Senyum anak itu. "Bertahanlah hidup, aku yakin suatu saat pasti bisa bertemu denganmu lagi."

__ADS_1


Seusai anak itu berkata demikian, dia menyuruhku berbaring di dalam koper, meletakan sekantong besar roti pemberiannya di sampingku lalu menutup koper.


Setelah itu dia keluar kamar dan masuk kembali bersama penjaga yang tadi. Anak itu memerintahkan penjaga untuk membuang koper di belakang hotel seperti ucapannya tadi. Dia juga mengancam agar penjaga tersebut tidak membuka koper.


Entah kenapa penjaga tersebut tidak banyak tanya mendengar perintah aneh anak laki-laki itu. Tidak lama kemudian aku yang berada di dalam koper terasa melayang, si penjaga pasti sudah mengangkat koper yang di dalamnya adalah aku.


Sangat gelap dan sulit bernapas itu yang aku rasakan sekarang. Di dalam koper yang ukurannya sangat pas dengan diriku membuat aku tidak bisa bergerak dan hanya bisa meringkuk saja.


Tubuhku juga terasa sakit karena beberapa kali si penjaga menurunkan kopernya sehingga aku yang berada di dalam koper terbentur sesuatu. Walaupun begitu aku terus menutup mulutku dan berusaha untuk tidak meringis kesakitan.


Tidak berapa lama kemudian aku merasa tubuhku berhenti bergerak setelah koper di letakan.


Apa sekarang aku sudah sampai di belakang hotel? Aku menunggu beberapa menit untuk mengetahui hal itu namun tidak ada pergerakan lagi. Aku juga sudah tidak kuat dan ingin menghirup udara segar karena di dalam koper sangat menyesakan.


Setelah itu aku berusaha mencari retsleting koper ini dengan pisau yang di berikan anak laki-laki yang tidak aku tahu namanya itu. Aku mencari cahaya dari celah retsleting tersebut dan mencongkelnya dengan pisau namun gagal.


Tanganku terasa pegal dan keadaan di dalam koper benar-benar membuatku tidak bertenaga. Tetapi aku harus keluar dari koper ini kalau tidak aku akan mati karena sesak napas. Aku mengambil napas panjang dan menahannya, kemudian mencongkel kembali retsleting koper.


Hampir gagal untuk kedua kalinya tapi dengan cepat aku memasukan jari telunjukku ke celah retseleting dan mendorong retsleting dengan jari. Jariku terasa sakit tetapi usahaku tidak sia-sia. Aku berhasil membuat celah lebar. Lalu aku memasukan telapak tanganku dan mendorong kembali retsleting dengan sekuat tenaga hingga koper terbuka seutuhnya.


Aku keluar dengan cepat dan menghirup udara segar. Terduduk di tanah dengan napas terengah-engah. Aku pasti akan mati jika tidak berhasil membuka koper.


Betapa beruntungnya diriku hari ini. Semua berkat anak itu, kalau tidak ada dia pasti aku sudah tertangkap dua budak yang mengejarku dan mereka pasti akan segera membunuhku. Aku mengambil sekantong roti di dalam koper.


Betapa bahagianya aku hari ini karena mendapatkan makanan lezat yang cukup untuk dua minggu. Sebaiknya aku segera pulang dan memberikan roti-roti ini pada Jatnera pasti dia akan sangat senang. Aku bangkit berdiri dan membenarkan posisi pistol yang aku simpan di balik kaosku setelah itu langsung berjalan pulang.


...@cacing_al.aska...

__ADS_1


__ADS_2