
Jatnera langsung keluar gubuk saat aku sudah hampir sampai. Pasti Jatnera sudah menunggu lama kehadiranku. Aku langsung memberikan sekantong roti padanya dan menyuruhnya untuk segera masuk ke dalam gubuk.
"Wow. Dari mana kau dapat semua ini Bee?" Tanya Jatnera saat melihat isi kantong yang ku berikan. Dia langsung memakannya dengan lahap beberapa potong roti. "Sangat lezat, belum pernah aku makan makanan selezat ini. Kau mendapatkannya dari lubang harta?"
Aku tidak menjawab karena berusaha mengeluarkan pistol yang ku simpan di balik kaosku ke dalam laci di lemari yang tingginya sepinggangku.
"Bee, dengar tidak?"
"Iya aku dengar." Jawabku langsung duduk di sampingnya. "Aku ke hotel tempat nenek. Tidak mungkin kan ada makanan seperti ini di lubang harta." Lanjutku setelah itu mengambil sepotong roti dan melahapnya.
"Pantas saja kau pulang sesiang ini. Orang-orang di Pond Jae ternyata sangat baik kalau begitu kita bisa meminta makanan dari sana setelah ini." Senyum Jatnera.
"Tidak." Seruku membuat Jatnera menatapku. "Mereka hampir membunuhku kalau tidak ada anak laki-laki itu."
"Anak laki-laki? Apa dia yang memberikan semua ini?"
Aku mengangguk.
"Apa anak laki-laki itu berbeda dari kita?"
"Ya, sangat berbeda." Ucapku. "Semua orang mendengarkan kata-katanya dan dia tidak perlu takut kehabisan makanan seperti kita."
"Bee, apa kita bisa seperti anak itu?"
"Tidak tahu."
Karena merasa lelah aku memilih tidur. Aku berbaring dengan alas seadanya setiap hari, hanya menggunakan sehelai kain dan bantal yang terbuat dari kain-kain yang tidak terpakai. Bantal itu terasa begitu keras namun aku selalu suka semua karya buatan Isbell.
Walau badan terasa lelah tetapi mata ini tidak juga terpejam mungkin rasa mengantukku sudah terkalahkan dengan rasa ingin tahu tentang anak laki-laki itu.
Entah kapan aku bisa bertemu lagi dengannya. Apa mungkin jika aku pergi ke Pond Jae kami bisa bertemu? Tetapi itu sangat berbahaya sekali. Bisa saja aku tertangkap lebih dulu sebelum bertemu dengannya.
Padahal anak itu bilang kalau dia yakin akan bisa bertemu denganku lagi, apa itu berarti dia merasa ingin bertemu denganku lagi? Namun yang pasti seumur hidupku aku tidak akan melupakan anak sebaik dia.
Jatnera mulai bernyanyi sebuah lagu yang diajarkan Isbell pada kami, akan tetapi hanya Jatnera yang sering menyanyikannya. Mungkin bernyanyi adalah hobinya.
Ketimbang bernyanyi aku lebih suka mendengarkan Jatnera bernyanyi. Suaranya yang ringan sangat enak di dengar. Bahkan ketika mendengar Jatnera bernyanyi semua beban di benakku sekejap hilang begitu saja.
Entah mengapa setiap kali perasaanku seperti di terpa rasa cemas dia akan bernyanyi seolah-olah dia tahu apa yang ku rasakan. Lagu itu berjudul Malaikatku.
“Kau selalu ada di dekatku
__ADS_1
Tak pernah sekalipun menjauh
Dirimu tersenyum padaku
Membuat hatiku melambung jauh
Tak ada kata yang tak pernah kau ucapkan
Tak ada lagu yang tak kau nyanyikan untukku
Kau selalu di hati, kau selalu di jiwaku
Selamanya
Warnamu yang suci menggetarkan hatiku
Takkan penah ku melupakanmu
Oh Malaikatku.”
Aku terbangun ketika Jatnera menggoyangkan tubuhku. Aku pasti tertidur setelah mendengarkannya bernyanyi.
Mata bulat Jatnera langsung menatapku seperti ada sebuah pertanyaan yang ingin di ajukannya. Aku mengusap-usap mataku membenarkan penglihatanku yang hilang karena lelap tertidur.
"Sekitar jam lima sore." Jawab Jatnera.
Aku langsung bergerak melihat keluar melalui lubang di dinding gubuk. Matahari sudah hampir tenggelam. Isbell mengajari kami mengenai penghitungan waktu. Kami akan melihat posisi matahari dan kami akan tahu pukul berapa sekarang. Jika malam kami berpatokan pada langit malam yang warnanya selalu tampak berbeda setiap jamnya.
Sedangkan saat hujan kami akan merasakan kemana arah angin bertiup dan menggunakan insting kami dalam menebak waktu. Awalnya memang sulit tetapi aku dan Jatnera sudah terbiasa dan mahir melakukannya.
"Bee, milik siapa ini?" Jatnera menunjukan sesuatu yang di pegangnya tepat ke hadapanku.
Aku memperhatikan benda yang di maksudnya. Sebuah kalung yang ku kenal. Itu kalung yang ada di kamar anak laki-laki itu. Kenapa ada di Jatnera. Aku kembali teringat kalau aku memasukan kalung itu ke kantong celanaku.
"Kenapa kau mengambilnya di kantong celanaku?" Seruku dengan nada marah.
"Dari mana kau mendapatkannya?" Tanya Jatnera, nada bicaranya mengingatkan aku pada Isbell. Setiap kali aku melakukan kesalahan Isbell akan bertanya dengan nada seperti itu. "Kau mencuri kan?"
"Aku mengambilnya dari ruangan anak laki-laki itu." Jawabku.
"Tidak. Kau mencurinya!"
__ADS_1
"Apa bedanya mengambil dan mencuri?" Protesku. "Kalau tidak melakukan itu kita tidak akan dapat makanan untuk hidup di tempat mengenaskan ini."
"Tapi nenek mengingatkan kita kalau kita boleh mengambil sesuatu yang kita butuhkan, bukan mencuri seperti yang kau lakukan." Ujar Jatnera menasihatiku. "Lagi pula anak laki-laki itu sudah memberikan kita sekantong roti tapi kau malah mencuri kalung yang tidak berguna buat kita ini, benda ini pasti sangat berharga untuknya."
Mendengar kata-kata Jatnera aku terdiam. Semua yang di katakan Jatnera memang benar. Aku merasa malu karena tidak berpikir seperti dirinya yang masih berusia tujuh tahun.
Hidup di tempat seperti ini sudah membuatnya berpikir dewasa sangat cepat. Dan pasti benar kalung itu adalah benda berharga anak laki-laki itu. Dia sudah menolongku tetapi malah begini balasanku kepadanya. Aku benar-benar malu pada Jatnera.
"Aku akan mengembalikannya." Ucapku.
Jatnera mengembalikan kalung itu kepadaku dan bergegas ke bawah meja kayu mengambil sekantong persediaan makanan kami dan memakan sebuah donat dengan lahap.
Sekitar pukul empat pagi aku bergegas meninggalkan tempat tinggal kami menuju Pond Jae. Aku akan mengembalikan kalung ini pada anak itu dan aku akan minta maaf padanya karena telah mencurinya.
Entah bagaimana tanggapannya setelah ini padaku, aku sudah rela jika dia membenciku dan aku memang pantas untuk di benci. Satu hal lagi, keputusanku pergi ke Pond Jae juga karena aku ingin bertemu dengannya.
Di tengah perjalanan tiba-tiba iring-iringan mobil melaju ke arahku. Aku bingung harus bagaimana. Dengan cepat aku memanjat sebuah pohon dan menunggu sampai iring-ringan mobil yang jumlahnya sangat banyak itu lewat.
Namun ketika sebuah mobil yang berada di tengah-tengah iringan itu melewatiku, aku melihat sosok yang ingin aku temui.
Anak laki-laki itu duduk di dalam mobil dengan pandangan kedepan. Aku berharap dia membuka jendela mobilnya dan melihat keberadaanku seperti waktu itu.
Namun itu mustahil, saat ini aku berada di atas pohon tidak mungkin dia bisa melihatku dan lagi jendela mobilnya tertutup rapat. Tanpa pikir panjang aku langsung turun dari atas pohon agar anak itu dapat melihatku akan tetapi apa yang ku lakukan sia-sia. Bahkan tak satupun orang di dalam mobil melihat ke arahku. Mungkin karena langit masih gelap karena matahari belum terbit.
Anak laki-laki dan iring-iringan mobilnya sudah lenyap dari pandanganku. Bahkan aku tidak tahu siapa nama anak laki-laki itu. Aku duduk bersandar ke sebuah pohon besar dengan menggenggam kalung yang ingin ku kembalikan pada pemiliknya.
Apa anak itu akan kembali ke negara asalnya? Apa dia akan kembali lagi ke negeri buangan ini? Tapi itu mustahil, jika menjadi dirinya aku tidak akan kembali ke tempat neraka ini.
Jika benar kami pasti tidak akan pernah bertemu lagi seperti yang di ucapkannya kemarin. Memikirkan hal itu entah mengapa hatiku terasa sakit.
Aku benar-benar ingin bertemu dengannya lagi suatu hari nanti. Walau aku tidak yakin tetapi saat mengingat kembali kata-katanya tentang pertemuan kami lagi, aku merasa kalau suatu hari nanti kami memang akan bertemu untuk yang kedua kalinya.
–NATZSIMO–
Yuk kasih dukungan dengan komentar apapun dan beri rate yang bagus juga dengan kata-kata panjang yaa. Ehehehehe...
Tanpa merendahkan pihak manapun, author meminta maaf jika ada kalimat yang kurang berkenan dihati para pembaca.
Semoga karya ini menghibur.
Jangan lupa main ke platform biru NT dan baca karya author lainnya di sana.
__ADS_1
...@cacing_al.aska...