DEAPECTRUM

DEAPECTRUM
028. RENCANA MELARIKAN DIRI


__ADS_3

Latihan pedang bersama Ibu sudah aku lalui hampir depalan tahun. Selama itu aku mempelajari banyak ilmu pedang darinya, bahkan aku mampu menggunakan dua pedang dengan kedua tanganku.


Aku tidak menyangka kalau Ibu adalah seorang pendekar pedang dulunya. Padahal Gumi bilang di perguruan Gyeld Enn Chourius ini tidak ada yang menguasai ilmu pedang. Mungkin karena sebelumnya ibu tidak menunjukan ilmu pedangnya pada murid karena dia bukan seorang pengajar makanya Gumi tidak tahu kalau Ibu menguasai banyak ilmu pedang. Sebenarnya aku merasa beruntung karena Ibu mau mengajariku.


Setiap latihan berlangsung Ibu yang selalu bersikap dingin hanya sedikit berbicara padaku. Bahkan tidak ada percakapan di luar apa yang dia ajarkan padaku mengenai pedang.


Dia melatihku sangat keras bahkan tidak segan-segan dia memukulku dengan sarung pedang ketika aku kalah berduel dengannya. Aku tidak pernah sekalipun mampu membuatnya tersudut ketika beradu pedang. Dia yang sudah tua tetap lincah dan kuat, kemampuannya tidak tertelan oleh waktu. Hal itu pula yang membuatku begitu segan padanya.


Latihan kali inipun dia membuatku terjatuh ketika memukul punggungku dengan sarung pedang yang dia gunakan ketika berduel. Jika saja dia menggunakan sebuah pedang dan bukan sarung pedang dan lagi jika saja ini bukanlah suatu latihan aku pasti sudah mati tertusuk pedang ribuan kali olehnya.


“Baiklah cukup sampai disini,” seru Ibu melempar sarung pedang yang di gunakannya saat berduel ke arahku.


Aku memungut sarung tersebut dan memasukan pedangku ke dalamnya. “Maaf Ibu, bolehkah aku bertanya sesuatu?” aku memberanikan diri berbicara ketika Ibu hendak berjalan meninggalkan aku.


“Bertanya tentang apa?” Ibu menatapku yang berdiri di jarak lima meter darinya.


“Aku tahu kau tidak akan menjawabnya, tapi aku benar-benar ingin tahu mengenai ujian akhir. Tapi yang ingin aku tanyakan adalah, bagaimana menurut Ibu, apa sebaiknya Cleve menerima rekomendasi itu atau tidak?”


“Kau sudah bertanya pada Gumi kan?” Ujar Ibu dan aku mengangguk menjawabnya. “Jadi kau sudah tahu jawabanku.”


Setelah berkata demikian Ibu berjalan meninggalkan aku.


Jadi maksud Ibu dia juga akan menjawab kalau Cleve sebaiknya menerima rekomendasi itu? Sebenarnya ada apa ini? Aku merasa sesuatu yang buruk jika memikirkan ujian akhir.


Cleve ingin lulus bersamaku dan jika dia memilih untuk menerima rekomendasi itu, berarti dia akan lebih dulu lulus. Aku tidak masalah jika Cleve lulus lebih dulu dariku dengan begitu dia akan memberitahuku mengenai ujian akhir untuk membantuku, akan tetapi apa jika dia lulus lebih dulu dia akan memberitahuku? Dia pasti akan di larang untuk bicara mengenai ujian akhir padaku seperti Gumi dan lainnya.


Tapi sebaiknya jika Cleve tetap menerima rekomendasi itu karena aku merasa akan lebih baik jika begitu.


“Bee...” tiba-tiba Cleve berlari menghampiriku ketika aku hendak masuk ke dalam perguruan seusai latihan bersama Ibu. “Ini gawat.”

__ADS_1


“Ada apa? Apa yang gawat?” tanyaku bingung karena Cleve terlihat sangat cemas.


“Pak Ekman, ayah Ian meninggal dunia tadi siang.” jawab Cleve mencoba mengatur napasnya yang terdengar terengah-engah karena berlari. “Aku dengar ketika beberapa budak membicarakannya saat mereka membersihkan toilet. Kita harus menemui Ian.”


Aku dan Cleve berlari menuju pemukiman budak yang ada di dekat dapur. Kami berdua menuju sebuah gubuk yang hanya terbuat dari kayu yang selama ini menjadi tempat tinggal Ian dan ayahnya. Ketika sampai di gubuk kami tidak melihat siapapun disana. Ketika kami berbalik hendak mencari ke tempat lain tiba-tiba Ian muncul.


“Ka...kami baru dengar kalau ayahmu...” Cleve berhenti bicara ketika melihat raut wajah Ian yang terlihat sangat sedih walau tidak ada air mata yang mengalir keluar. Cleve segera memeluknya. “Ian, kau baik-baik saja kan?” tanya Cleve menatap Ian.


“Aku baru saja selesai membakar jasadnya.” ucap Ian.


Mendengar ucapannya membuat aku kembali teringat ketika aku membakar jasad Isbell yang meninggal. Waktu itu aku merasa kalau hari di saat aku membakar jasad Isbell adalah hari yang paling menyedihkan untukku. Dan sekarang pasti hari ini adalah hari yang paling menyedihkan untuk Ian karena selama ini dia hanya hidup bersama ayahnya setelah ibunya meninggal sepuluh tahun yang lalu. Maksudku hari ini juga salah satu hari terburuk bagi Ian selain hari ketika dia harus menembak ibunya sendiri.


“Bee, katakan sesuatu padanya.” Cleve menatapku membuatku tersadar dari lamunanku.


“A...aku tidak tahu harus bilang apa padamu.” ucapku menatap Ian. “Tapi jangan menyerah untuk tetap hidup.” aku memegang lengan kiri Ian dengan tangan kananku.


Aku berbaring di ranjangku ketika jam makan malam. Aku lebih memilih untuk beristirahat dan tidak makan malam. Kematian ayah Ian mengganggu pikiranku saat ini. Ian pasti merasa sangat sedih dan tidak tahu harus berbuat apa setelah ayahnya tidak ada. Hal itu juga yang aku alami ketika kehilangan Isbell. Setelah ini apa Ian akan tetap menjadi budak di pulau ini? Aku merasa kalau saja Ian bukan seorang budak pasti akan lebih baik untuknya. Dia bisa meninggalkan pulau ini dan pergi keluar sana. Apalagi sekarang Deapectrum sudah tidak menakutkan seperti dulu karena saat ini sudah ada prajurit keamanan yang mengamankan Deapectrum, itu berarti semuanya akan berjalan lebih baik di luar sana.


“Tidak ada. Aku hanya melamun saja.”


Aku, Cleve dan Marchi pergi keluar perguruan untuk ke tempat biasa kami latihan bersama Ian namun tidak seperti biasanya Ian tidak ada di tempat itu. Biasanya Ian selalu datang lebih dulu dan menunggu kami tapi malam ini dia tidak datang. Kami berpikir untuk pergi ke gubuknya karena merasa sepertinya Ian tidak ingin latihan malam ini. Hari ini ayahnya meninggal dan sepertinya dia masih merasa bersedih hingga tidak ingin berlatih bersama kami.


Kami bertiga sampai di gubuk Ian. Ketika Cleve mengetuk pintu Ian menyuruh kami masuk. Kami bertiga tanpa berpikir lama segera masuk ke dalam gubuknya. Di dalam Ian sedang sibuk mengumpulkan semua barang-barangnya di atas meja kayu. Dia tidak mempedulikan kehadiran kami dan masih sibuk mencari sesuatu di lemari pakaiannya.


“Ada apa, Ian?” tanya Cleve. “Kau mau kemana?” Cleve memperhatikan beberapa pakaian yang di letakan Ian di atas meja. “Jangan bilang kau ingin kabur.” Perkataan Cleve tidak di hiraukan Ian, dia maih saja sibuk mengelilingi rumahnya untuk mencari sesuatu. “Jawab aku, Ian!!” teriak Cleve.


“Ya, aku ingin pergi dari sini.” jawab Ian berhenti dari kegiatannya dan menatap kami.


“Kau ingin pergi kemana?” tanya Marchi.

__ADS_1


“Tidak tahu. Aku hanya tidak ingin berada di tempat ini lagi.” ujar Ian, terlihat kesedihan dari sorotan matanya. “Setelah tidak ada siapapun disini aku ingin pergi dan tidak ingin hidup menjadi seorang budak. Aku akan melarikan diri.”


“Mereka akan membunuh budak yang mencoba kabur,” ucapku.


“Aku tahu,” timpal Ian menatapku. “Tapi aku akan tetap pergi. Aku ingin hidup bebas dan tidak menjadi budak.”


“Kau masih memiliki kami di sini, bodoh!” Teriak Cleve penuh emosi. “Kau ingin pergi meninggalkan kami?” Tanya Cleve, kali ini nada bicaranya melemah.


“Maaf, aku tidak ingin lebih lama berada di sini...”


“Aku ikut denganmu,” ucapku menyambar perkataan Ian. Semua mata menatapku setelah apa yang aku katakan. “Aku juga ingin keluar dari tempat ini.”


“Bee, kau bicara apa?” Cleve menatapku dengan tatapan tidak percaya.


“Aku dengar di luar sana sudah di bentuk prajurit keamanan karena sepertinya sebuah organisasi ingin membentuk pemerintahan di negeri ini,” ujarku mencoba membuat Cleve yakin dengan perkataanku. “Dan aku ingin menemui anak itu karena aku yakin dia ada di Deapectrum saat ini.” Aku menatap Cleve.


“Kalau begitu kita akan pergi bersama.l,” jawab Cleve. “Aku juga akan pergi bersama kalian.” tambah Cleve menatapku lalu menatap ke arah Ian.


“Tidak kau tidak usah ikut. Kau harus menerima rekomendasi itu dan mengikuti ujian akhir tahun ini, Cleve,” seruku. “Mereka pasti akan membunuhmu jika kau kabur.”


“Mereka juga akan membunuhmu, bodoh,” ujar Cleve. “Kita pergi bersama atau aku tidak akan mengijinkan kalian pergi?”


“Tunggu dulu, apa maksudnya ini?” Ian terlihat kebingungan. “Kalian hanya bercanda kan dan tidak sungguh-sungguh pergi dari tempat ini?”


“Sebaiknya jangan malam ini.”


“Itu benar, lebih baik besok malam kita akan pergi dari pulau ini,” lanjut Cleve menambahkan ucapanku. “Bagaimana kau setuju kan?” Cleve memegang bahu kanan Ian dengan tangan kiri. “Sebenarnya sudah lama aku ingin pergi karena takut tertular penyakit si pirang itu.”


“Kalian ini, yang benar saja... aku tidak percaya kalau akan jadi seperti ini,” ucap Ian.

__ADS_1


“Jadi kalian bertiga akan pergi dari Pulau Poegriye?” Tanya Marchi menatap kami bertiga. “Baiklah kalau begitu. Aku akan tinggal disini dan aku tidak akan bicara apapun pada mereka,” lanjut Marchi dengan di akhiri sebuah senyuman yang membuat matanya tampak tertutup karena menyipit.


...@cacing_al.aska...


__ADS_2