DEAPECTRUM

DEAPECTRUM
019. TAMATLAH RIWAYATKU


__ADS_3

Aku sudah memutuskan akan terus berjuang di dalam perguruan ini walaupun nantinya aku akan menjadi seorang pembunuh. Aku harus bertahan hidup, ya, aku harus bertahan hidup dan tidak boleh mati karena aku harus bertemu anak laki-laki itu lagi untuk mengembalikan kalung yang aku curi darinya.


Dan aku harus bertahan hidup karena suatu hari nanti aku akan meninggalkan Deapectrum dan hidup bebas di suatu tempat. Archie Island, aku akan tinggal di tempat itu setelah keluar dari negeri pembuangan ini, karena itu apapun yang harus aku lakukan aku akan tetap bertahan hidup walau harus menjadi seorang pembunuh.


Bersama Cleve, aku mengunjungi anak perempuan yang namanya masih tidak kami ketahui di klinik.


Tampaknya anak itu tidak memiliki teman karena itu aku dan Cleve akan menjadi temannya disini.


Anak bermata sipit itu terlihat senang ketika kami datang. Dia tersenyum pada kami membuat matanya tampak tertutup.


“Bagaimana kakimu?” tanya Cleve yang duduk di sisi ranjang anak perempuan itu.


“Sudah lebih membaik,” jawabnya.


“Oh iya, perkenalkan namaku Cleverlly, tapi panggil saja Cleve, dan ini Bee,” ujar Cleve memperkenalkan diri. “Siapa namamu?”


“Namaku Marchi,” ucapnya dengan senyum.


“Baik Marchi, kau belum punya teman bukan? Kalau begitu kami akan menjadi temanmu,” Cleve tersenyum ramah.


Sekitar pukul tiga sore kami kembali ke asrama. Aku berbaring di ranjangku sedangkan Cleve masih berusaha belajar membaca. Hanya ada beberapa anak di dalam kamar dan sedang melakukan kegiatannya masing-masing sedangkan Tiffany bersama ketiga temannya yang bernama, Kara, Rhoda, dan Svelya entah berada di mana.


Aku berharap mereka tidak memukuli Ian seperti yang mereka lakukan kemarin malam.


“Bee, siapa orang itu?” tanya Cleve membuatku menatapnya yang duduk di samping aku berbaring. “Orang yang berkata akan merubah tempat ini menjadi lebih baik, siapa orang itu?”


“Aku tidak tahu siapa dia,” jawabku dengan tatapan lurus ke atas, ke bawah ranjang yang di tiduri Cleve. “Anak laki-laki itu menolongku yang hampir mati. Dia berkata begitu dengan penuh keyakinan, bahkan dia yakin akan bertemu denganku lagi.”


“Memangnya kemana anak laki-laki itu? Apa dia tidak seperti kita?”


“Tidak. Dia sangat berbeda. Dia tidak perlu takut terbunuh karena banyak penjaga yang menjaganya. Bahkan semua orang mendengarkan kata-katanya. Dia anak dari negeri bebas.”


“Lalu dimana dia sekarang?”


“Ketika aku ingin bertemu dengannya untuk mengembalikan benda ini, dia sudah pergi meninggalkan Deapectrum,” ujarku sambil menunjukan kalung yang aku ambil dari saku celana yang aku pakai.


“Ini kalung anak laki-laki itu?” Cleve mengambil kalung tersebut dan memperhatikannya.


“Gumi melarangku untuk membawa kalung itu ke sini karena takut dengan hukuman hati, tetapi aku tidak bisa meninggalkannya karena benda ini sangat berharga bagiku.” jawabku.


“Ka...kalau begitu cepat sembunyikan dan jangan sampai ada yang melihat!” seru Cleve menyodorkan kalung itu kembali ke tanganku dan aku segera menaruhnya kembali ke saku celana.


Cleve membuang napas panjang dan berbaring di sebelahku. “Bee, apa tidak apa-apa kalau kita membunuh?” tanya Cleve menoleh menatapku. “Aku tidak tahu harus bagaimana, aku tidak ingin menjadi seorang pembunuh tetapi aku tidak ingin keluar dari perguruan dan kembali ke kehidupanku yang dulu. Aku tidak ingin mati kelaparan ataupun di bunuh oleh para penjahat."


Aku menoleh ke arah Cleve yang sedang memandang ke atas.

__ADS_1


“Apa hanya ada dua pilihan untuk hidup disini? Membunuh atau dibunuh?” tanya Cleve tanpa mengubah posisinya.


Keesokan harinya semua murid baru, kembali mengikuti lari pagi namun kali ini hanya beberapa murid saja yang harus ke klinik setelah berlari karena merasa tenaganya terkuras.


Cleve berhasil berlari hingga selesai tanpa merasa kelelahan sedangkan Marchi masih belum mengikuti lari pagi karena kakinya yang terkilir belum boleh banyak bergerak.


Kami memasuki kelas untuk mengikuti pelajaran seperti intruksi Wendy karena hari ini kami akan mulai belajar.


“Untuk pelajaran pertama aku akan mengajarkan bagaimana caranya membaca,” ujar Wendy.


Aku tidak terlalu memperhatikan dia bicara dan melihat ke luar jendela.


Ian bolak-balik sedang membawa ember berisi air. Melihatnya aku kembali mengingat ketika aku harus berjalan jauh dengan membawa air bersih untuk persediaan minum kami.


“Siapa di antara kalian yang sudah bisa membaca?” tanya Wendy.


“Bee...” panggil Cleve tetapi aku masih fokus memperhatikan Ian di luar sana. “Bee kau dengar aku?”


Cleve membuatku tersadar dan menatapnya dengan tanya.


“Cepat jawab!”


“Jawab apa?” Tanyaku tidak mengerti dengan ucapan Cleve.


“Jadi tidak ada yang bisa membaca?” Sekali lagi Wendy berbicara.


“Benarkah kau bisa membaca, Bee?” Tanya Wendy menatapku. “Benar-benar mengejutkan. Kemarin kau bilang kau pernah membunuh dan sekarang kau bisa membaca. Aku jadi tidak tahu kau yang beruntung mempunyai mentor seperti Gumi, atau Gumi yang beruntung merekomendasikanmu.”


Wendy memulai menulis beberapa huruf di papan berwarna putih dengan sebuah benda yang di sebut spidol oleh Isbell.


Huruf-huruf itu sudah sangat aku kenal sehingga pelajaran ini membuatku sangat bosan. Cleve yang sudah pernah aku ajari belajar membaca masih tampak serius dengan apa yang diajarkan Wendy. Tampaknya Cleve benar-benar ingin cepat belajar membaca.


“Wendy, aku ijin ke toilet,” seruku.


Setelah Wendy mengangguk, aku segera berjalan keluar ruangan. Sebenarnya aku tidak ingin ke toilet, aku hanya bosan berada di kelas.


Aku ingin berkeliling perguruan ini dan memperhatikan murid tingkat lima sedang berlatih menembak di lapangan yang luas di belakang gedung utama, gedung tempat kami belajar.


Beberapa murid menembak tepat ke sasaran yang diletakan di jarak sekitar lima puluh meter dengan menggunakan senjata laras panjang yang terdengar sangat memekakkan telinga.


Setelah merasa puas aku kembali berjalan melihat murid tingkat tiga yang sedang mengadakan pertarungan tangan kosong di aula lapangan dalam.


Sesudah puas memperhatikan mereka aku berniat kembali ke kelas karena khawatir aku akan mendapatkan hukuman jika terlalu lama ijin ke toilet.


Aku berjalan melewati toilet yang berada di ujung gedung utama dan melihat Ian sedang membawa dua buah ember berisi air yang baru saja dia ambil dari toilet.

__ADS_1


Ian melihatku namun membuang pandangan berusaha menyingkir dari jalanku.


“Biar aku bantu,” seruku dengan segera aku mengambil ember yang di bawanya dengan tangan kiri.


Dia menatapku seolah menyuruhku untuk tidak melakukan hal itu.


“Tidak apa-apa, biar aku bantu. Kemana kau akan membawanya?”


Ian menatapku dan segera melangkah. Aku mengikutinya dari belakang menuju gedung kecil yang terletak di samping belakang perguruan Gyeld Enn Chourius.


Ketika sampai di ruangan yang terlihat seperti dapur, Ian menuangkan ember-ember itu ke sebuah tempayan besar.


Tiga orang wanita dan satu orang pria yang berada di ruangan itu menatapku.


Ian berjalan keluar ruangan tersebut dan aku mengikutinya. Dia duduk di sebuah kursi kayu yang berada di depan bangunan yang adalah dapur.


Dengan ragu aku duduk di sampingnya yang tidak terlalu peduli dengan apa yang aku lakukan. Kami hanya terdiam untuk sesaat.


Aku benar-benar bingung apa yang harus aku katakan. Ian itu tidak bisa bicara jadi percuma saja kalau aku berbicara sesuatu karena dia tidak akan menjawabnya. Tetapi aku ingin berteman dengannya karena itu kami harus mengenal satu sama lain.


“Namamu Ian, kan?” Tanyaku sehingga dia menoleh padaku. Dia menatapku dengan mata hijaunya yang besar. “Aku Bee...” lanjutku membuat Ian tersenyum. “Usiaku sepuluh tahun, dan berapa usiamu?”


Aku langsung tersadar kalau bertanya adalah hal mustahil karena dia tidak akan menjawabnya.


“Maaf, seharusnya aku tidak bertanya," ucapku.


Tiba-tiba Ian beranjak dari tempat duduknya mengambil sebatang kayu yang berada di bawah tanah setelah itu dia menggores tanah dengan batang kayu tersebut. Dia membuat angka sembilan di atas pasir dan itu membuatku sangat terkejut.


“Ka...kau bisa menulis?” Tanyaku dengan terkejut dan Ian mengangguk menjawabnya. “Apa kau bisa membaca juga?”


Pertanyaanku sedikit bodoh karena semua orang yang dapat menulis pasti bisa membaca juga.


“Ya ampun ini benar-benar aneh, kenapa mereka malah mengambil anak-anak perempuan yang tidak bisa membaca, sedangkan kau bisa menulis dan membaca,” seruku dengan tersenyum.


“Ian!!” Terdengar suara dari dalam dapur.


Ian melihatku dan setelah itu berlari meninggalkan aku.


Sepeninggalan Ian aku bergegas kembali ke kelas. Sudah sangat lama aku meninggalkan kelas dengan ijin pergi ke toilet. Aku pasti akan mendapatkan hukuman.


Dengan cepat aku berlari menuju perguruan Gyeld Enn Chourius. Ketika hendak masuk ke gerbang perguruan kakiku berhenti berlari ketika melihat Ibu, Bu Bianca dan Wendy berdiri di depan gerbang. Ibu terlihat marah padaku.


Aku yakin aku pasti akan mendapatkan hukuman karena kenakalanku. Aku memang berbuat salah dan pantas di hukum.


Tamatlah riwayatku.

__ADS_1


...@cacing_al.aska...


__ADS_2