
Sesampainya di belakang hotel mewah tersebut aku diam sejenak untuk memikirkan bagaimana caraku masuk ke dalam dengan diam-diam karena banyak sekali orang berseragam hitam dan bersenjata di tiap pintu masuk. Aku menyusuri jalan disamping pagar masuk hotel dan melihat lubang disemak-semak seukuran tubuhku. Aku berpikir mungkin ini jalan masuk buatku karena tubuhku pasti bisa melewati semak-semak sempit itu.
Tapi bagaimana saat aku masuk di dalam sana sudah ada penjaga yang menjaga daerah itu. Aku mengambil sebuah batu lalu melemparkannya ke dalam melewati pagar setinggi tiga meter yang di penuhi semak-semak.
Tidak ada pergerakan di dalam sana, itu berarti tidak ada siapapun di sana. Dengan bergerak cepat aku merangkak masuk ke dalam halaman hotel melewati semak-semak tumbuhan sepanjang dua meter.
Tubuhku sakit karena tertusuk duri dari semak-semak tersebut namun aku keluar dengan selamat.
Ternyata memang tidak ada penjaga di dalam sini. Aku kembali mengamati sekelilingku untuk mencari pintu masuk ke bangunan yang berdiri megah di hadapanku ini. Di jarak dua puluh meter terlihat sebuah pintu putih yang hanya terbuat dari kayu biasa. Itu pasti pintu masuk untuk para budak.
Tanpa berpikir lagi aku menuju pintu itu dengan pergerakan cepat namun tak mengeluarkan suara sedikitpun. Aku benar-benar beruntung karena pintu tersebut tidak terkunci. Entah karena sengaja tidak di kunci atau karena keteledoran seseorang yang tidak menguncinya tetapi yang pasti aku benar-benar beruntung, pasti Isbell lah yang sudah membuka pintu tersebut untukku.
Aku melongokan kepalaku ke dalam ruangan lewat pintu itu, ternyata pintu ini langsung mengarah ke dapur, dan tak ada siapapun di sana, aku benar-benar beruntung. Dengan cepat aku masuk ke dalam dapur dan mencari makanan disana.
Aroma lezat berasal dari sebuah oven membuatku langsung tergiur namun aku tidak bisa mengambilnya karena aku tidak mengerti bagaimana membuka benda itu. Lalu aku menoleh ke sebuah tempat sampah berukuran besar dan menemukan banyak sekali roti dengan berbagai macam bentuk serta rasa di tempat kotor itu. Aku langsung menggapai sebuah kantong plastik dan memasukan roti-roti tersebut ke dalamnya. Belum semua aku masukan tiba-tiba terdengar langkah kaki dua orang.
"Kenapa pintunya terbuka?" Suara seorang wanita membuatku berhenti dari kegiatanku. "Kau tidak menutupnya ya?"
"Tadi aku menutupnya." Jawab seorang pria yang masuk bersama wanita itu.
Bodoh sekali aku, seharusnya aku tahu kalau para budak sudah mulai datang di hari sepagi ini. Seharusnya pintu yang tidak terkunci dan oven yang memanggang roti sudah cukup buatku untuk berhati-hati. Aku pasti ketahuan dan mereka pasti membunuhku. Apa yang harus aku lakukan sekarang?
Tidak, mungkin kedua budak itu pasti berkenan memberikan sampah-sampah ini padaku.
"Siapa kau?" Tanya budak pria. Kedua budak itu menemukan aku yang malah terdiam mematung.
__ADS_1
"Pasti kau ingin mencuri kan?" Ujar budak wanita.
"Aku hanya ingin mengambil—"
"Cepat tangkap dia!" Seru budak wanita tidak mempedulikan apa yang ingin aku katakan. "Jika mereka tahu ada pencuri masuk, mereka pasti membunuh kita! Tangkap dan bunuh anak itu sebelum para penjaga tahu!"
Mendengar perkataan budak wanita itu aku langsung berlari tanpa arah, yang penting aku harus menghindar dari kedua budak itu karena mereka akan membunuhku.
Mereka mengejarku dengan membawa pisau yang mereka ambil dari dapur. Aku terus berlari menaiki tangga berharap mereka akan kelelahan. Walaupun lariku cepat tetapi sepertinya mereka berdua pantang menyerah mungkin juga karena mereka takut jika penjaga tahu keteledoran mereka sehingga keberadaanku mengancam nyawa mereka.
Aku dapat menjauh dari kejaran mereka meskipun mereka masih mengejar. Aku menelusuri lorong panjang ketika di arah berlawanan aku mendengar suara langkah kaki seseorang sedangkan kedua budak tadi masih mengejarku di arah yang berlawanan.
Aku bersembunyi di samping tembok yang condong ke depan sehingga kedua budak itu tidak melihatku dan terdapat sebuah guci mahal di sebelahku. Guci itu menutupi diriku dari penglihatan si penjaga, namun kedua budak itu pasti akan menemukanku dan membunuhku. Tamatlah riwayatku sekarang. Jatnera maafkan aku.
"Ada yang bisa aku bantu?" Tiba-tiba pintu di belakangku terbuka dan muncul seorang anak laki-laki yang wajahnya tidak asing.
Anak laki-laki itu melongok ke kedua arah lorong yang di satu arah kedua budak sudah mulai terlihat, kedua budak itu berjalan pelan dan menyembunyikan pisau yang di bawanya karena di arah yang berlawanan muncul seorang penjaga membawa senapan sedang berjalan.
Tiba-tiba anak laki-laki itu menarikku masuk ke dalam kamarnya. Aku berdiri di balik pintu di dalam kamar anak laki-laki itu dengan perasaan lega walaupun masih sedikit was-was.
"Tuan muda apa anda melihat seorang anak perempuan?" Terdengar suara budak wanita di depan pintu.
"Ada apa ini? Apa yang terjadi tuan muda?" Terdengar suara yang baru aku dengar, ku tebak itu adalah suara si pria bersenjata. "Ingat status kalian!! Di larang bebicara..."
"Tidak apa-apa, aku lapar dan aku berniat meminta makanan ke dapur tapi kebetulan mereka lewat." Ucap anak laki-laki itu terdengar sangat tenang seperti tidak ada yang dia sembunyikan.
__ADS_1
"Oh kalau begitu akan kami siapkan tuan muda." Jawab budak pria.
"Cepat sana pergi! Tunggu apa lagi kalian!?" Gertak si penjaga dengan garang.
Setelah itu anak laki-laki yang baru saja menyelamatkan nyawaku menutup pintu. Dia menatapku tanpa bersuara membuatku sedikit salah tingkah karena tidak mengerti dengan maksud tatapannya.
Mungkin sebaiknya aku pergi sekarang karena aku tidak ingin membuat Jatnera mengkhawatirkan aku. Namun di hadapan anak laki-laki bermata biru dan rambut warna karamel tersebut aku tidak mampu bergerak walau hanya mengedipkan mata.
"Kau si gadis pohon kan?" Seru anak itu membuatku sedikit terkejut.
Aku mengernyitkan dahiku karena tidak mengerti maksud kata-katanya. Apa itu gadis pohon? Tiba-tiba aku teringat hari ketika aku melihatnya.
Malam itu dia membuka kaca jendela mobil dan menatap ke arahku. Tidak aku sangka ternyata dia sebenarnya melihatku. Padahal jika di lihat dari ekspresi datarnya waktu itu, dia seperti tidak melihat keberadaanku.
Pantas saja tadi dia dapat berkata-kata seperti tidak ada yang disembunyikannya pada kedua budak dan penjaga. Mungkin itulah bakatnya.
"Apa yang kau bawa?" Anak itu merebut kantong plastik berisi roti yang ku pungut dari tong sampah tadi. Dia mengambil sebuah donat yang sudah berdebu dan tidak utuh dari dalam kantong, lalu berjalan mendekati tempat sampah dan memasukan makananku itu ke tempat sampah.
Melihat apa yang di lakukannya membuatku terkejut dan ingin berteriak melarangnya namun senyum anak itu mengurungkan niatku.
"Akan aku ambilkan makanan baru untukmu."
Setelah berkata demikian anak itu keluar kamar meninggalkan aku sendirian. Aku yang sendirian di dalam kamar mengamati ke sekeliling, tiap sudut kamar ini. Benar-benar mewah. Tidak pernah aku berada di tempat yang bagai surga ini sebelumnya.
Anak itu benar-benar beruntung andai aku bisa menggantikan posisinya.
__ADS_1
...@cacing_al.aska...