DEAPECTRUM

DEAPECTRUM
008. PETI YANG DICURI


__ADS_3

Merasa sudah membuang waktu aku bergegas kembali ke gubuk. Dengan langkah perlahan aku berjalan karena hari masih gelap, matahari belum juga turun. Ketika aku hampir sampai di tempat tinggalku, aku melewati semak-semak yang cukup tinggi sehingga tidak akan ada yang melihat diriku jika berjalan di tengah-tengahnya.


Aku merasa ada yang aneh karena pintu gubuk terbuka. Tidak biasa Jatnera seteledor ini padahal aku selalu mengingatkannya agar tidak membuka pintu.


Aku berlari dengan sangat cepat. Aku pasti akan memarahinya jika sampai. Namun ketika aku hampir saja sampai tiba-tiba seperti ada seseorang menghadang langkahku dengan kakinya sehingga aku terjatuh. Aku merasa sangat marah ketika melihat Jatnera yang sengaja menghadang langkahku dengan menyandung kakiku. Aku ingin berteriak padanya namun suaraku tertahan ketika melihat seorang pria bertubuh besar keluar dari gubuk kami.


Jatnera meletakan jari telunjuknya ke tengah bibirnya mengisyaratkan padaku untuk diam. Sekarang aku mengerti kenapa pintu gubuk kami terbuka lebar dan Jatnera menyandung kakiku, semua karena gubuk kami di masuki oleh penjahat.


Kami berdua terdiam di semak-semak menunggu para penjahat meninggalkan tempat tinggal kami. Aku cukup terkejut melihat Jatnera yang tidak lagi menangis di saat seperti ini. Aku juga tidak mengerti bagaimana caranya Jatnera bisa tidak tertangkap penjahat-penjahat itu. Namun di luar itu aku merasa lega karena Jatnera baik-baik saja.


Tidak beberapa lama kemudian empat pria bertubuh besar dengan berbagai senjata api dan senjata tajam keluar dari gubuk lalu meninggalkan gubuk dengan berbagai macam barang berharga kami. Sekantong roti pemberian anak laki-laki kemarin dan persediaan minuman kami. Aku dan Jatnera saling menatap karena bingung apa yang harus kami lakukan. Kami menunggu beberapa menit untuk memastikan para penjarah itu tidak kembali.


"Kau tunggu disini dulu. Aku akan periksa ke dalam." Seruku, Jatnera mengangguk. "Jangan meninggalkan tempat ini sebelum aku suruh!!"


Aku memungut sebilah kayu untuk berjaga-jaga. Dengan perlahan aku berjalan menuju pintu gubuk yang terbuka lebar. Tampaknya para penjahat itu tidak akan kembali lagi. Aku memasuki gubuk yang sudah kacau balau karena mereka menghancurkan semua benda.


Abu bertaburan di karpet kumal di dalam gubuk dan sebuah botol pecah disampingnya. Aku baru menyadari kalau botol tersebut adalah abu Isbell setelah melihat botol minuman keras yang pecah. Dengan cepat aku mencari sesuatu untuk mengumpulkan abu tersebut dan menyimpannya.


Apa saja yang dapat aku gunakan, aku mengambil botol obat Jatnera yang isinya sudah habis dan segera memasukan abu tersebut kedalamnya. Setelah itu aku memeriksa apa saja yang mereka curi selain sekantong roti dan persediaan minuman kami.


Aku teringat dengan peti milik Isbell yang aku letakan di bawah meja. Ternyata peti itu raib di curi mereka. Aku menyesal karena tidak menaruhnya di tempat lebih aman atau menguburnya kembali di bawah pohon.


"Mereka mencuri semuanya?" Terdengar suara Jatnera dari arah pintu. Dia membawa beberapa apel di dalam kaosnya yang di gulung.

__ADS_1


"Sudah aku bilang untuk menunggu!" Seruku kesal karena Jatnera tidak mendengarkan kata-kataku yang menyuruhnya tetap bersembunyi dan tidak keluar sebelum aku suruh.


"Ini semua salahku." Tampaknya Jatnera tidak memedulikan kekesalanku. "Aku lupa menutup pintu ketika pergi mengambil apel-apel ini."


Pernyataannya barusan membuatku berjalan mendekatinya. "Apa maksudmu? Kau keluar dari gubuk?" Tanyaku memastikan.


"Aku memetik apel-apel ini di pohon belakang. Sudah lama aku menantikan kematangannya tapi hari ini baru matang."


Tiga buah apel merah ada di kaos Jatnera. Tampaknya apel-apel itu memang baru saja di petiknya, masih terlihat segar.


"Seharusnya aku tidak memetik apel-apel ini." Jatnera mulai mengeluarkan air mata.


Sebenarnya aku sangat marah pada Jatnera tapi peti milik Isbell harus aku dapatkan kembali. Ya aku harus merebutnya dari mereka walau aku tahu itu tidak mudah bahkan bisa saja aku mati terbunuh. Namun aku harus mencobanya, peti itu di kubur Isbell tanpa sepengetahuan siapapun berarti di dalamnya pasti benda-benda yang sangat berharga. Aku harus mengejar para penjahat itu.


Aku teringat akan pistol yang aku simpan. Aku berjalan mendekati laci dan membuka laci kedua dan mengeluarkan buku-buku yang aku gunakan untuk menutupi pistol genggam tersebut. Para penjahat itu tidak menemukan pistol genggam tersebut. Mereka pasti orang-orang bodoh yang anti pada buku sehingga mereka tidak mengutik laci ini. Dengan cepat aku mengambil pistol genggam tersebut dan memasukannya ke balik kaosku. Pistol ini pasti akan berguna.


"Aku harus mengambil peti milik nenek."


"Jangan! Kau pasti mati."


"Tetapi itu benda berharga. Siapa tahu di dalamnya terdapat sesuatu mengenai kita."


"Aku ikut denganmu." Jatnera menatapku dengan tatapan pamungkasnya, mata kucing yang berbinar.

__ADS_1


Ku pejamkan mataku dan membelakanginya. "Tidak. Ini berbahaya. Kalau aku mati, kau harus tetap hidup."


"Kalau kau mati biar aku mati juga. Hidup di sini sangat menakutkan. Tidak ada masa depan, Bee." Sekali lagi Jatnera tampak seperti seorang dewasa. Apa yang di katakannya memang benar.


Aku membalikan badan dan menatapnya. "Tidak! Suatu saat tempat ini akan berubah menjadi lebih baik. Seseorang akan merubah tempat ini menjadi lebih baik." Aku teringat dengan ucapan anak laki-laki itu. Aku berusaha mempercayai perkataannya agar kami bertahan hidup. "Akan ada masa depan di tempat ini karena itu kau harus tetap hidup! Percayalah!"


Jatnera memelukku. Memeluk sangat erat karena kami tidak tahu apakah kami akan bertemu lagi atau tidak setelah ini. Namun jika di antara kami yang harus mati, itu adalah aku. Jatnera pasti akan bertahan hidup karena dia anak yang pintar bahkan dia mengingat apel yang ada di sekitar kami sedangkan setiap hari aku kebingungan untuk mendapatkan makanan.


"Jangan keluar sampai aku benar-benar tidak datang. Mengerti?" Perintahku.


"Ambil ini." Jatnera memberiku dua buah apel merah dari tiga apel yang di petiknya.


"Satu saja." Aku mengembalikan satu apel pada Jatnera.


"Tidak. Aku bisa memetiknya lagi nanti. Kau bawa saja." Jatnera tersenyum.


Aku mengusap-usap kepalanya dengan sebuah perasaan yang bercampur aduk. Entah kenapa aku merasa kami tidak akan bertemu lagi. Jika aku terbunuh bagaimana nasib Jatnera nanti. Semakin hari Jatnera semakin pintar, dia pasti bisa menjaga dirinya. Ya dia bisa tinggal di gubuk ini dengan memetik apel-apel untuk makanannya. Dia pasti bisa bertahan hidup.


"Jaga dirimu! Aku pasti akan datang menemuimu lagi." Ucapku pada Jatnera.


Setelah itu aku pergi keluar gubuk dengan membawa dua buah apel pemberian Jatnera yang aku masukan ke dalam kain karung yang aku lilitkan ke pinggangku dan sebuah pistol genggam yang tersimpan aman di balik kaos usang yang sudah berhari-hari aku kenakan.


Tangisan Jatnera membuatku juga menangis ketika melangkah keluar gubuk.

__ADS_1


Meninggalkannya sendiri memang keputusan yang berat namun aku harus mengambil kembali peti Isbell dari tangan para penjahat. Itu adalah keputusanku.


...@cacing_al.aska...


__ADS_2